SONGFABLE · 2022

Out of Time

THE WEEKND · 2022

TL;DR: "Out of Time" terdengar seperti lagu penyesalan cinta yang manis dan berkilau, padahal ia sebenarnya lagu tentang kehabisan waktu dalam arti paling harfiah — tentang seseorang yang sudah mati dan baru sadar bahwa penyesalannya tidak bisa diperbaiki lagi. Dan fondasi musiknya diambil dari sebuah lagu city pop Jepang tahun 1983 yang nyaris terlupakan.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu paling enak didengar di album ini adalah lagu tentang kematian

Ada trik yang sangat licik di "Out of Time", dan hampir semua orang termakan trik itu pada pendengaran pertama.

Yang kamu dengar adalah bass yang empuk, synth berkilau seperti lampu kota dari kaca mobil, dan suara Abel Tesfaye yang lembut hampir berbisik. Semuanya terasa hangat, nyaman, cocok untuk diputar sambil berkendara malam-malam di jalan tol dalam kota. Ini jenis lagu yang bikin kamu ikut bergoyang pelan sebelum sempat memikirkan artinya.

Lalu kamu sadar apa yang sebenarnya diceritakan. Seorang laki-laki bicara pada perempuan yang dulu ia miliki dan ia sia-siakan. Ia tahu perempuan itu sudah bersama orang lain sekarang. Ia tetap bicara. Ia mengakui bahwa dulu ia terlalu sibuk, terlalu egois, terlalu larut dalam dirinya sendiri untuk mencintainya dengan benar. Dan yang paling menyakitkan: ia mengakui semua itu bukan untuk memenangkan perempuan itu kembali, tapi karena ia sudah tidak punya kesempatan lagi.

Judulnya bukan kiasan. Dalam konteks album induknya, Dawn FM, "Out of Time" dinyanyikan oleh seseorang yang secara harfiah sudah kehabisan waktu — sebuah jiwa yang sedang terjebak di ruang antara hidup dan mati, memutar ulang penyesalannya sambil mendengarkan siaran radio yang tidak pernah berhenti.

Itu sebabnya lagu ini terasa aneh. Ia enak, tapi ada sesuatu yang dingin di dalamnya. Seperti pesta di gedung yang lampunya sudah mulai dimatikan satu per satu.

Radio yang mengantar jiwa ke cahaya

Untuk memahami "Out of Time", kamu perlu tahu situasi The Weeknd saat album ini lahir.

Abel Tesfaye — lahir 1990 di Scarborough, pinggiran Toronto, dari orang tua imigran Ethiopia — baru saja melewati dua tahun paling gila dalam kariernya. Album After Hours (2020) dan singel "Blinding Lights" mengubahnya dari bintang R&B jadi salah satu artis terbesar di planet ini. Lalu datang kontroversi Grammy: album itu tidak mendapat satu nominasi pun, sesuatu yang memicu perdebatan besar di industri musik. Beberapa bulan kemudian, ia tampil di panggung paruh waktu Super Bowl LV — panggung paling besar yang bisa didapat musisi Amerika.

Alih-alih membuat album kemenangan, ia membuat album tentang purgatorium.

Dawn FM, dirilis Januari 2022, dibangun sebagai satu siaran radio utuh. Konsepnya: kamu terjebak di dalam terowongan panjang, macet total, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur — dan satu-satunya yang menemani adalah stasiun radio bernama 103.5 Dawn FM. Terowongan itu adalah kematian. Radio itu adalah proses menuju cahaya. Penyiarnya, dengan suara ramah dan sedikit menyeramkan, adalah Jim Carrey — ya, aktor komedi legendaris itu — yang kebetulan bertetangga dengan Abel dan menjadi sahabatnya di kehidupan nyata.

"Out of Time" duduk di tengah siaran itu, dan Jim Carrey muncul di akhir lagu dengan monolog pendek yang mengingatkan pendengar bahwa mereka sudah terlalu lama terjebak di masa lalu dan sudah waktunya melepaskan. Efeknya luar biasa: lagu galau berakhir bukan dengan fade out, tapi dengan seseorang yang dengan lembut memberitahumu bahwa waktu untuk menyesal sudah habis.

Produksinya digarap bersama Max Martin dan Oscar Holter — dua nama Swedia yang juga ada di balik "Blinding Lights" — dengan Daniel Lopatin (Oneohtrix Point Never) sebagai arsitek suasana album secara keseluruhan. Kombinasi itu menjelaskan kenapa lagu ini bisa terdengar sangat pop dan sangat asing pada saat yang sama.

Titik temu yang bikin pendengar Indonesia langsung nyambung

Dan di sinilah "Out of Time" punya hubungan istimewa dengan telinga Asia Tenggara.

Fondasi musik lagu ini adalah sampel dari "Midnight Pretenders", lagu tahun 1983 karya penyanyi Jepang Tomoko Aran, dari album Fuyū Kūkan. Lagu itu ditulis bersama Tsugutoshi Gotō dan merupakan contoh murni dari genre yang sekarang kita kenal sebagai city pop — musik pop Jepang era 80-an yang mewah, berkilau, penuh bass melodius dan synth, lahir dari Jepang di puncak kemakmuran ekonominya.

Buat pendengar Indonesia, city pop bukan genre asing. Justru sebaliknya. Sejak akhir 2010-an, algoritma YouTube menyebarkan "Plastic Love" milik Mariya Takeuchi ke seluruh dunia, dan Indonesia termasuk salah satu wilayah dengan basis penggemar city pop yang paling antusias. Nama-nama seperti Anri, Tatsuro Yamashita, dan Junko Ohashi masuk ke playlist anak-anak muda di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Bahkan Indonesia punya band city pop sendiri — Ikkubaru, dari Bandung, yang justru mendapat sambutan hangat di Jepang.

Jadi ketika The Weeknd, salah satu artis paling besar di dunia, membangun singel besarnya di atas kerangka lagu city pop yang sebelumnya cuma dikenal kolektor vinyl dan penjelajah YouTube, itu bukan sekadar pilihan produksi. Itu momen ketika selera underground Asia yang sudah lama dirayakan diam-diam di kamar-kamar anak muda tiba-tiba naik ke panggung paling terang di dunia. Banyak pendengar Indonesia mengenali sampel itu sebelum media Barat sempat menjelaskannya.

Apa yang sebenarnya ia katakan

Kalau kita bongkar isinya perlahan, "Out of Time" bergerak dalam tiga lapisan.

Lapisan pertama: pengakuan yang terlambat. Narator menyapa seseorang yang sudah bahagia dengan orang lain. Ia tidak memohon, tidak mengancam, tidak menyalahkan siapa pun. Ia cuma mengakui bahwa ia dulu tidak hadir sepenuhnya — bahwa ia menghabiskan waktu untuk hal-hal lain, untuk dirinya sendiri, untuk kehidupan malam yang tidak pernah selesai — dan sekarang harus menerima bahwa orang yang ia sakiti sudah menemukan ketenangan tanpa dirinya. Ada rasa pahit yang jujur di sana: ia berharap orang itu diperlakukan lebih baik, sekaligus tidak bisa menahan pikiran bahwa seharusnya dirinyalah yang melakukan itu.

Lapisan kedua: kesadaran bahwa kesempatan itu memang sudah tertutup. Ini yang membedakan "Out of Time" dari ribuan lagu penyesalan lainnya. Lagu ini tidak berakhir dengan harapan bahwa mungkin suatu hari mereka bisa bertemu lagi. Narator menyatakan dengan tenang bahwa pintunya sudah tertutup. Ia menyesal, tapi ia juga tahu penyesalan itu tidak berguna. Itu bukan lagu untuk mengetuk pintu mantan; itu lagu untuk duduk sendirian setelah menyadari pintunya sudah dibongkar dan dindingnya sudah dicat ulang.

Lapisan ketiga: kematian. Di dalam narasi Dawn FM, semua penyesalan di album ini dinyanyikan dari sisi lain kehidupan. Kalau kamu mendengarkan "Out of Time" sebagai bagian dari siaran radio purgatorium itu, kalimat "kehabisan waktu" berhenti jadi metafora romantis. Ia berubah jadi laporan status. Orang ini tidak sedang menunggu momen yang tepat untuk minta maaf — ia sudah tidak punya momen sama sekali. Dan monolog Jim Carrey di akhir lagu berfungsi seperti petugas yang menepuk pundakmu dengan sopan dan berkata bahwa jam kunjungan sudah habis.

Struktur musiknya memperkuat semua itu. Groove-nya nyaman, hampir menenangkan, seperti sesuatu yang sudah selesai dan tinggal diputar ulang. Tidak ada klimaks besar, tidak ada teriakan. Cuma seseorang yang berbicara dengan suara pelan di ruangan yang sudah kosong.

Ini juga salah satu vokal paling terkendali dalam katalog The Weeknd. Di banyak lagunya yang lain, ia menggunakan falsetto sebagai senjata untuk memukul — di sini ia menggunakannya seperti orang yang tidak ingin membangunkan siapa pun.

Dari sampel yang terlupakan jadi fenomena global

Umur "Out of Time" di dunia nyata ternyata lebih panjang dari yang diperkirakan siapa pun.

Titik ledaknya datang Februari 2022, ketika lagu ini dipakai di episode penutup musim kedua serial HBO Euphoria. Penempatannya sangat kejam — momen paling emosional dalam serial itu ditempeli lagu tentang seseorang yang menyesal terlalu terlambat — dan efeknya langsung terasa. Streaming melonjak, lagu itu naik di berbagai chart, dan di Amerika ia dilaporkan menembus jajaran atas Billboard Hot 100 meski bukan singel utama album. Video musiknya, dirilis beberapa waktu kemudian dengan estetika hotel bergaya Jepang dan penampilan singkat Jim Carrey, memperpanjang umur lagu ini lebih jauh lagi.

Tapi warisan yang paling menarik justru terjadi di sisi Jepang.

"Midnight Pretenders" milik Tomoko Aran, yang selama hampir empat dekade hidup tenang sebagai lagu kesayangan penggemar city pop, mendadak dicari jutaan orang. Rilisan lamanya dicetak ulang dan diburu kolektor. Dilaporkan bahwa Aran sendiri menyambut hal ini dengan gembira dan terkejut — seorang musisi yang lagunya dibuat di era kaset tiba-tiba menemukan generasi pendengar baru lewat artis yang belum lahir ketika lagu itu direkam.

Ini bagian dari pola yang lebih besar. Sepanjang dekade 2020-an, city pop terus dipanen oleh musisi Barat, dan "Out of Time" adalah contoh paling besar dan paling terhormat: sampelnya diproses dengan hati-hati, kreditnya jelas, dan hasilnya bukan sekadar tempelan nostalgia melainkan fondasi emosional lagu itu. Kehangatan tahun 80-an Jepang dipakai untuk membungkus cerita paling dingin di album — dan justru kontras itu yang membuatnya bekerja.

Dawn FM sendiri diterima sebagai salah satu album terbaik The Weeknd. Bukan album yang paling banyak menghasilkan hit, tapi album yang paling utuh sebagai karya. Dan "Out of Time" adalah pintu masuk paling ramah ke dalamnya: kamu masuk karena grooves-nya enak, lalu tersadar bahwa kamu sudah berada di dalam gedung yang membicarakan kematian.

Kenapa lagu ini masih menempel

Karena hampir semua orang punya versi kecil dari cerita ini.

Bukan soal kematian. Soal keterlambatan. Soal orang yang kita anggap akan selalu ada, sampai suatu hari mereka tidak ada lagi — bukan karena bertengkar hebat, tapi karena kita terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu yakin bahwa masih ada waktu nanti. Lalu "nanti" itu habis tanpa pemberitahuan.

"Out of Time" menangkap momen sangat spesifik dalam kehidupan emosional manusia: bukan saat putus, bukan saat marah, tapi berbulan-bulan sesudahnya, ketika kamu melihat kabar bahwa orang itu baik-baik saja dan kamu menyadari bahwa kebahagiaannya sekarang tidak ada hubungannya denganmu. Rasa itu tidak dramatis. Ia sunyi. Dan lagu ini menyanyikannya persis dengan volume yang tepat.

Di Indonesia, di mana budaya menunda percakapan sulit sangat kuat — kita cenderung menghindari konfrontasi, memilih diam, berharap keadaan membaik sendiri — pesan lagu ini terasa sangat dekat. Banyak hubungan di sini tidak putus karena satu peristiwa besar, melainkan mati perlahan karena tidak pernah dibicarakan tepat waktu.

Dan ada satu hal lagi. Album ini secara halus mengajukan pertanyaan yang lebih besar: kalau kamu tahu waktumu terbatas, apa yang akan kamu ubah hari ini? "Out of Time" tidak menjawab pertanyaan itu. Ia cuma menunjukkan seperti apa rupa orang yang sudah tidak punya kesempatan untuk menjawabnya, lalu membiarkanmu memutar lagunya sekali lagi sambil memikirkan siapa yang belum kamu hubungi.

Itulah kenapa lagu berbalut synth Jepang tahun 1983 ini terasa seperti alarm yang dibunyikan dengan sangat sopan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti ceritanya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s