Out of Time
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu paling enak didengar di album ini adalah lagu tentang kematian
Ada trik yang sangat licik di "Out of Time", dan hampir semua orang termakan trik itu pada pendengaran pertama.
Yang kamu dengar adalah bass yang empuk, synth berkilau seperti lampu kota dari kaca mobil, dan suara Abel Tesfaye yang lembut hampir berbisik. Semuanya terasa hangat, nyaman, cocok untuk diputar sambil berkendara malam-malam di jalan tol dalam kota. Ini jenis lagu yang bikin kamu ikut bergoyang pelan sebelum sempat memikirkan artinya.
Lalu kamu sadar apa yang sebenarnya diceritakan. Seorang laki-laki bicara pada perempuan yang dulu ia miliki dan ia sia-siakan. Ia tahu perempuan itu sudah bersama orang lain sekarang. Ia tetap bicara. Ia mengakui bahwa dulu ia terlalu sibuk, terlalu egois, terlalu larut dalam dirinya sendiri untuk mencintainya dengan benar. Dan yang paling menyakitkan: ia mengakui semua itu bukan untuk memenangkan perempuan itu kembali, tapi karena ia sudah tidak punya kesempatan lagi.
Judulnya bukan kiasan. Dalam konteks album induknya, Dawn FM, "Out of Time" dinyanyikan oleh seseorang yang secara harfiah sudah kehabisan waktu — sebuah jiwa yang sedang terjebak di ruang antara hidup dan mati, memutar ulang penyesalannya sambil mendengarkan siaran radio yang tidak pernah berhenti.
Itu sebabnya lagu ini terasa aneh. Ia enak, tapi ada sesuatu yang dingin di dalamnya. Seperti pesta di gedung yang lampunya sudah mulai dimatikan satu per satu.
Radio yang mengantar jiwa ke cahaya
Untuk memahami "Out of Time", kamu perlu tahu situasi The Weeknd saat album ini lahir.
Abel Tesfaye — lahir 1990 di Scarborough, pinggiran Toronto, dari orang tua imigran Ethiopia — baru saja melewati dua tahun paling gila dalam kariernya. Album After Hours (2020) dan singel "Blinding Lights" mengubahnya dari bintang R&B jadi salah satu artis terbesar di planet ini. Lalu datang kontroversi Grammy: album itu tidak mendapat satu nominasi pun, sesuatu yang memicu perdebatan besar di industri musik. Beberapa bulan kemudian, ia tampil di panggung paruh waktu Super Bowl LV — panggung paling besar yang bisa didapat musisi Amerika.
Alih-alih membuat album kemenangan, ia membuat album tentang purgatorium.
Dawn FM, dirilis Januari 2022, dibangun sebagai satu siaran radio utuh. Konsepnya: kamu terjebak di dalam terowongan panjang, macet total, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur — dan satu-satunya yang menemani adalah stasiun radio bernama 103.5 Dawn FM. Terowongan itu adalah kematian. Radio itu adalah proses menuju cahaya. Penyiarnya, dengan suara ramah dan sedikit menyeramkan, adalah Jim Carrey — ya, aktor komedi legendaris itu — yang kebetulan bertetangga dengan Abel dan menjadi sahabatnya di kehidupan nyata.
"Out of Time" duduk di tengah siaran itu, dan Jim Carrey muncul di akhir lagu dengan monolog pendek yang mengingatkan pendengar bahwa mereka sudah terlalu lama terjebak di masa lalu dan sudah waktunya melepaskan. Efeknya luar biasa: lagu galau berakhir bukan dengan fade out, tapi dengan seseorang yang dengan lembut memberitahumu bahwa waktu untuk menyesal sudah habis.
Produksinya digarap bersama Max Martin dan Oscar Holter — dua nama Swedia yang juga ada di balik "Blinding Lights" — dengan Daniel Lopatin (Oneohtrix Point Never) sebagai arsitek suasana album secara keseluruhan. Kombinasi itu menjelaskan kenapa lagu ini bisa terdengar sangat pop dan sangat asing pada saat yang sama.
Titik temu yang bikin pendengar Indonesia langsung nyambung
Dan di sinilah "Out of Time" punya hubungan istimewa dengan telinga Asia Tenggara.
Fondasi musik lagu ini adalah sampel dari "Midnight Pretenders", lagu tahun 1983 karya penyanyi Jepang Tomoko Aran, dari album Fuyū Kūkan. Lagu itu ditulis bersama Tsugutoshi Gotō dan merupakan contoh murni dari genre yang sekarang kita kenal sebagai city pop — musik pop Jepang era 80-an yang mewah, berkilau, penuh bass melodius dan synth, lahir dari Jepang di puncak kemakmuran ekonominya.
Buat pendengar Indonesia, city pop bukan genre asing. Justru sebaliknya. Sejak akhir 2010-an, algoritma YouTube menyebarkan "Plastic Love" milik Mariya Takeuchi ke seluruh dunia, dan Indonesia termasuk salah satu wilayah dengan basis penggemar city pop yang paling antusias. Nama-nama seperti Anri, Tatsuro Yamashita, dan Junko Ohashi masuk ke playlist anak-anak muda di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Bahkan Indonesia punya band city pop sendiri — Ikkubaru, dari Bandung, yang justru mendapat sambutan hangat di Jepang.
Jadi ketika The Weeknd, salah satu artis paling besar di dunia, membangun singel besarnya di atas kerangka lagu city pop yang sebelumnya cuma dikenal kolektor vinyl dan penjelajah YouTube, itu bukan sekadar pilihan produksi. Itu momen ketika selera underground Asia yang sudah lama dirayakan diam-diam di kamar-kamar anak muda tiba-tiba naik ke panggung paling terang di dunia. Banyak pendengar Indonesia mengenali sampel itu sebelum media Barat sempat menjelaskannya.
Apa yang sebenarnya ia katakan
Kalau kita bongkar isinya perlahan, "Out of Time" bergerak dalam tiga lapisan.
Lapisan pertama: pengakuan yang terlambat. Narator menyapa seseorang yang sudah bahagia dengan orang lain. Ia tidak memohon, tidak mengancam, tidak menyalahkan siapa pun. Ia cuma mengakui bahwa ia dulu tidak hadir sepenuhnya — bahwa ia menghabiskan waktu untuk hal-hal lain, untuk dirinya sendiri, untuk kehidupan malam yang tidak pernah selesai — dan sekarang harus menerima bahwa orang yang ia sakiti sudah menemukan ketenangan tanpa dirinya. Ada rasa pahit yang jujur di sana: ia berharap orang itu diperlakukan lebih baik, sekaligus tidak bisa menahan pikiran bahwa seharusnya dirinyalah yang melakukan itu.
Lapisan kedua: kesadaran bahwa kesempatan itu memang sudah tertutup. Ini yang membedakan "Out of Time" dari ribuan lagu penyesalan lainnya. Lagu ini tidak berakhir dengan harapan bahwa mungkin suatu hari mereka bisa bertemu lagi. Narator menyatakan dengan tenang bahwa pintunya sudah tertutup. Ia menyesal, tapi ia juga tahu penyesalan itu tidak berguna. Itu bukan lagu untuk mengetuk pintu mantan; itu lagu untuk duduk sendirian setelah menyadari pintunya sudah dibongkar dan dindingnya sudah dicat ulang.
Lapisan ketiga: kematian. Di dalam narasi Dawn FM, semua penyesalan di album ini dinyanyikan dari sisi lain kehidupan. Kalau kamu mendengarkan "Out of Time" sebagai bagian dari siaran radio purgatorium itu, kalimat "kehabisan waktu" berhenti jadi metafora romantis. Ia berubah jadi laporan status. Orang ini tidak sedang menunggu momen yang tepat untuk minta maaf — ia sudah tidak punya momen sama sekali. Dan monolog Jim Carrey di akhir lagu berfungsi seperti petugas yang menepuk pundakmu dengan sopan dan berkata bahwa jam kunjungan sudah habis.
Struktur musiknya memperkuat semua itu. Groove-nya nyaman, hampir menenangkan, seperti sesuatu yang sudah selesai dan tinggal diputar ulang. Tidak ada klimaks besar, tidak ada teriakan. Cuma seseorang yang berbicara dengan suara pelan di ruangan yang sudah kosong.
Ini juga salah satu vokal paling terkendali dalam katalog The Weeknd. Di banyak lagunya yang lain, ia menggunakan falsetto sebagai senjata untuk memukul — di sini ia menggunakannya seperti orang yang tidak ingin membangunkan siapa pun.
Dari sampel yang terlupakan jadi fenomena global
Umur "Out of Time" di dunia nyata ternyata lebih panjang dari yang diperkirakan siapa pun.
Titik ledaknya datang Februari 2022, ketika lagu ini dipakai di episode penutup musim kedua serial HBO Euphoria. Penempatannya sangat kejam — momen paling emosional dalam serial itu ditempeli lagu tentang seseorang yang menyesal terlalu terlambat — dan efeknya langsung terasa. Streaming melonjak, lagu itu naik di berbagai chart, dan di Amerika ia dilaporkan menembus jajaran atas Billboard Hot 100 meski bukan singel utama album. Video musiknya, dirilis beberapa waktu kemudian dengan estetika hotel bergaya Jepang dan penampilan singkat Jim Carrey, memperpanjang umur lagu ini lebih jauh lagi.
Tapi warisan yang paling menarik justru terjadi di sisi Jepang.
"Midnight Pretenders" milik Tomoko Aran, yang selama hampir empat dekade hidup tenang sebagai lagu kesayangan penggemar city pop, mendadak dicari jutaan orang. Rilisan lamanya dicetak ulang dan diburu kolektor. Dilaporkan bahwa Aran sendiri menyambut hal ini dengan gembira dan terkejut — seorang musisi yang lagunya dibuat di era kaset tiba-tiba menemukan generasi pendengar baru lewat artis yang belum lahir ketika lagu itu direkam.
Ini bagian dari pola yang lebih besar. Sepanjang dekade 2020-an, city pop terus dipanen oleh musisi Barat, dan "Out of Time" adalah contoh paling besar dan paling terhormat: sampelnya diproses dengan hati-hati, kreditnya jelas, dan hasilnya bukan sekadar tempelan nostalgia melainkan fondasi emosional lagu itu. Kehangatan tahun 80-an Jepang dipakai untuk membungkus cerita paling dingin di album — dan justru kontras itu yang membuatnya bekerja.
Dawn FM sendiri diterima sebagai salah satu album terbaik The Weeknd. Bukan album yang paling banyak menghasilkan hit, tapi album yang paling utuh sebagai karya. Dan "Out of Time" adalah pintu masuk paling ramah ke dalamnya: kamu masuk karena grooves-nya enak, lalu tersadar bahwa kamu sudah berada di dalam gedung yang membicarakan kematian.
Kenapa lagu ini masih menempel
Karena hampir semua orang punya versi kecil dari cerita ini.
Bukan soal kematian. Soal keterlambatan. Soal orang yang kita anggap akan selalu ada, sampai suatu hari mereka tidak ada lagi — bukan karena bertengkar hebat, tapi karena kita terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu yakin bahwa masih ada waktu nanti. Lalu "nanti" itu habis tanpa pemberitahuan.
"Out of Time" menangkap momen sangat spesifik dalam kehidupan emosional manusia: bukan saat putus, bukan saat marah, tapi berbulan-bulan sesudahnya, ketika kamu melihat kabar bahwa orang itu baik-baik saja dan kamu menyadari bahwa kebahagiaannya sekarang tidak ada hubungannya denganmu. Rasa itu tidak dramatis. Ia sunyi. Dan lagu ini menyanyikannya persis dengan volume yang tepat.
Di Indonesia, di mana budaya menunda percakapan sulit sangat kuat — kita cenderung menghindari konfrontasi, memilih diam, berharap keadaan membaik sendiri — pesan lagu ini terasa sangat dekat. Banyak hubungan di sini tidak putus karena satu peristiwa besar, melainkan mati perlahan karena tidak pernah dibicarakan tepat waktu.
Dan ada satu hal lagi. Album ini secara halus mengajukan pertanyaan yang lebih besar: kalau kamu tahu waktumu terbatas, apa yang akan kamu ubah hari ini? "Out of Time" tidak menjawab pertanyaan itu. Ia cuma menunjukkan seperti apa rupa orang yang sudah tidak punya kesempatan untuk menjawabnya, lalu membiarkanmu memutar lagunya sekali lagi sambil memikirkan siapa yang belum kamu hubungi.
Itulah kenapa lagu berbalut synth Jepang tahun 1983 ini terasa seperti alarm yang dibunyikan dengan sangat sopan.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Larut dalam suaranya
- Dawn FM — The Weeknd — Dengarkan "Out of Time" pada posisi aslinya di dalam album, bukan sebagai lagu lepas di playlist. Transisi antar lagu di Dawn FM dibuat menyambung seperti siaran radio sungguhan, dan monolog Jim Carrey baru terasa menusuk kalau kamu sudah "terjebak di terowongan" selama beberapa lagu sebelumnya.
- Tomoko Aran — Fuyu Kukan / Midnight Pretenders — Sumber sampelnya, dari tahun 1983. Mendengarkan aslinya dulu lalu kembali ke "Out of Time" adalah salah satu pengalaman paling menyenangkan buat penggemar city pop; kamu akan langsung mengenali bass dan synth yang jadi tulang punggung lagu The Weeknd.
- Kompilasi city pop Jepang era 80-an — Kalau "Midnight Pretenders" membuatmu penasaran, ini pintu masuk ke seluruh dunia itu: Anri, Junko Ohashi, Tatsuro Yamashita, dan teman-temannya. Genre yang sangat dicintai pendengar Indonesia, dan sekarang kamu punya alasan tambahan untuk menelusurinya.
📚 Ikuti ceritanya
- Buku dan biografi tentang The Weeknd — Perjalanan dari anak imigran Ethiopia di pinggiran Toronto yang mengunggah lagu anonim ke YouTube, sampai jadi salah satu artis terbesar dunia. Konteks itu menjelaskan kenapa tema kesepian dan kehidupan malam terus muncul di seluruh diskografinya.
- Buku tentang sejarah city pop dan musik Jepang era bubble economy — City pop lahir dari Jepang yang sedang kaya raya dan penuh percaya diri, lalu dihidupkan kembali puluhan tahun kemudian oleh algoritma internet. Cerita di baliknya sama menariknya dengan musiknya sendiri.
- Buku tentang seni sampling dalam musik modern — "Out of Time" adalah studi kasus bagus tentang sampling yang dilakukan dengan hormat: bukan menempel nostalgia, tapi memakai emosi lagu lama untuk menceritakan sesuatu yang sama sekali baru.
🌍 Kunjungi tempatnya
- Panduan perjalanan Toronto — Kota asal Abel Tesfaye, dan kota yang secara diam-diam membentuk suara "malam" dalam musiknya: dingin, luas, dan penuh jarak antar manusia. Scarborough, tempat ia besar, adalah salah satu wilayah paling multikultural di Amerika Utara.
- Panduan perjalanan Tokyo — Kota tempat city pop lahir. Berjalan di distrik-distrik lamanya sambil mendengarkan "Midnight Pretenders" adalah pengalaman yang dikejar banyak penggemar musik dari Asia Tenggara.
- Buku foto Jepang era 1980-an — Estetika visual yang menghasilkan suara itu: lampu neon, jalan tol layang, interior hotel yang mengkilap. Melihatnya membantu memahami kenapa musik dari era itu terdengar semewah itu.
🎸 Rasakan sendiri
- Synthesizer untuk pemula bergaya 80-an — Suara khas lagu ini datang dari pad synth hangat dan bass yang bulat. Dengan synth entry-level, kamu bisa mencoba merekonstruksi lapisan-lapisan itu sendiri dan langsung paham kenapa era 80-an terdengar begitu spesifik.
- Bass gitar untuk pemula — City pop adalah genre yang dibangun di atas garis bass melodius, bukan sekadar pengiring. Belajar memainkan pola bass sederhana bergaya 80-an akan mengubah cara kamu mendengar lagu ini selamanya.
- Software produksi musik dan MIDI controller — Kalau kamu ingin mencoba membuat sesuatu di atas sampel, ini titik masuk paling praktis. Banyak produser muda Indonesia memulai persis dari sini, dengan meniru groove favorit mereka sampai menemukan suara sendiri.
-
Apakah "Out of Time" benar-benar lagu tentang kematian, atau itu cuma tafsiran penggemar?
Sebagai lagu berdiri sendiri, ia terdengar sepenuhnya seperti lagu penyesalan cinta biasa. Tapi di dalam konsep Dawn FM — sebuah siaran radio yang menemani jiwa-jiwa yang terjebak antara hidup dan mati — kalimat "kehabisan waktu" berubah makna, dan monolog Jim Carrey di akhir lagu yang menyuruh pendengar berhenti terpaku pada masa lalu memperkuat pembacaan itu. Dua tafsiran ini sengaja dibiarkan hidup berdampingan. -
Kenapa banyak pendengar Asia langsung mengenali lagu ini saat pertama kali dengar?
Karena fondasinya adalah sampel dari "Midnight Pretenders" (1983) karya Tomoko Aran, salah satu lagu city pop Jepang yang sangat dicintai penggemar genre itu, termasuk di Indonesia. Setelah kebangkitan city pop lewat YouTube dan media sosial di akhir 2010-an, ribuan pendengar sudah sangat akrab dengan bass dan synth-nya jauh sebelum The Weeknd memakainya. -
Apa yang membuat lagu ini meledak padahal bukan singel utama Dawn FM?
Momen besarnya datang ketika lagu ini dipakai di penutup musim kedua serial Euphoria pada Februari 2022, yang langsung melonjakkan streaming dan mendorongnya naik chart. Setelah itu video musiknya, yang berestetika hotel bergaya Jepang dan menampilkan Jim Carrey, membuat lagu ini bertahan lama di percakapan publik jauh melewati siklus rilis album.