SONGFABLE · 2019

Blinding Lights

THE WEEKND · 2019

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Blinding Lights - The Weeknd (2019)

TL;DR: Di balik beat synth-pop yang terdengar penuh euforia dan cocok untuk lari malam, "Blinding Lights" sebenarnya adalah jeritan kesepian seorang pria yang ngebut sendirian di tengah kota demi merasa hidup, karena hanya cinta dari satu orang yang bisa membuatnya merasa tidak hampa.

Lagu paling "bahagia" yang isinya patah hati

Coba perhatikan sebentar. Setiap kali "Blinding Lights" mulai diputar di kafe, di mal, atau di playlist gym, hampir semua orang reflek menggerakkan kepala. Beat-nya cepat, synth-nya berkilau seperti lampu neon, dan rasanya seperti lagu untuk merayakan sesuatu. Tapi inilah triknya: lagu yang terdengar seperti pesta itu sebenarnya bercerita tentang seseorang yang sangat kesepian.

The Weeknd, atau Abel Tesfaye, menyamarkan rasa sakit di dalam bungkus yang berkilau. Tokoh dalam lagu ini sedang mengemudi cepat menembus kota di malam hari, dikelilingi lampu-lampu yang menyilaukan, bukan karena dia sedang senang, tapi karena dia mencoba lari dari kekosongan. Dia mabuk, dia sendirian, dan dia hanya bisa merasa benar-benar hidup ketika bersama satu orang yang dia rindukan. Itulah ironi besar lagu ini. Anda mungkin sudah ratusan kali mendengarnya tanpa sadar bahwa Anda sedang berjoget mengikuti lagu tentang seseorang yang sedang hancur.

Justru kontras inilah yang membuat "Blinding Lights" begitu jenius. The Weeknd paham betul bahwa kesedihan yang paling dalam sering kali dibungkus dengan senyuman dan musik yang ceria. Dan ketika sebuah lagu sedih bisa membuat Anda menari, ia menempel jauh lebih lama di kepala.

Dari kamar gelap di Toronto ke nostalgia tahun 80-an

Untuk memahami lagu ini, kita perlu mundur ke awal karier Abel Tesfaye. Lahir di Scarborough, sebuah area di Toronto, Kanada, dari keluarga imigran Ethiopia, ia memulai karier secara anonim sekitar tahun 2010 dengan mengunggah lagu-lagu gelap dan misterius ke YouTube. Musiknya saat itu kelam, penuh tema soal narkoba, kesepian, dan hubungan yang rusak. Tidak ada yang tahu wajahnya. Nama "The Weeknd" sendiri konon diambil dari kenangan saat ia putus sekolah dan pergi dari rumah pada suatu akhir pekan, lalu tidak pernah kembali.

Selama hampir satu dekade, ia membangun reputasi sebagai bintang R&B yang murung. Tapi pada album "After Hours" (2020), tempat "Blinding Lights" bernaung, ia mengambil belokan tajam. Ia memutuskan untuk berkolaborasi dengan produser asal Swedia, Max Martin, sosok legendaris di balik banyak hit raksasa pop dunia, beserta Oscar Holter. Hasilnya adalah suara yang sangat berbeda: synthwave dengan nuansa tahun 1980-an yang kental, mengingatkan kita pada era Michael Jackson di lagu "Thriller" atau a-ha dengan "Take On Me".

Pilihan estetika retro ini bukan kebetulan. The Weeknd sengaja membangun seluruh dunia visual album "After Hours" di sekitar sosok pria berjas merah dengan wajah penuh perban, mengembara di kota Las Vegas yang dingin dan penuh lampu. Nostalgia 80-an itu menjadi semacam topeng indah untuk menyembunyikan luka.

Bagi pendengar musik Barat di Indonesia, ada hubungan budaya yang menarik di sini. Sound synthwave dan estetika neon 80-an yang dibawa "Blinding Lights" terasa familiar karena gelombang nostalgia retro yang sama juga sangat populer di sini, dari poster film hingga desain kafe dan studio foto bergaya vintage di Jakarta dan Bandung. Ketika lagu ini meledak, banyak anak muda Indonesia langsung menjadikannya soundtrack untuk konten media sosial mereka. Lebih dari itu, tema kesepian di tengah keramaian kota terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup di kota-kota besar Indonesia yang ramai namun kadang membuat seseorang merasa terasing. The Weeknd sendiri akhirnya tampil di Indonesia dalam tur "After Hours til Dawn", yang membuktikan betapa kuatnya ikatan penggemar di sini.

Membaca makna di balik lampu-lampu yang menyilaukan

Mari kita bedah apa yang sebenarnya diceritakan lagu ini, tanpa mengutip satu baris pun liriknya. Inti dari "Blinding Lights" adalah perasaan terjebak dalam siklus kesepian yang menyakitkan setelah sebuah hubungan berakhir atau menjadi rumit.

Tokoh utamanya sudah lama tidak merasakan sentuhan atau kedekatan emosional dari seseorang. Ia menggambarkan dirinya menyendiri terlalu lama hingga rasa kesepian itu mulai mengubah caranya berpikir. Untuk mengatasi kekosongan itu, ia keluar di malam hari, masuk ke mobilnya, dan mengemudi dengan kecepatan tinggi menembus jalanan kota. Lampu-lampu kota yang berkilauan, yang seharusnya indah, justru terasa menyilaukan dan membutakan. Lampu-lampu itu menjadi metafora untuk gangguan, untuk hal-hal artifisial yang mencoba ia gunakan untuk mengisi kehampaan, padahal semua itu palsu.

Pesan emosional yang paling menohok adalah pengakuannya bahwa hanya satu orang inilah yang bisa membuatnya merasa benar-benar hidup. Tanpa kehadiran orang itu, segala kemewahan, kecepatan, dan gemerlap kota menjadi tidak berarti. Ada juga lapisan ketergantungan yang gelap di dalamnya, semacam kebutuhan obsesif. Ia tidak sedang merayakan kebebasan; ia sedang berlari dalam lingkaran, mencari sesuatu yang sebenarnya tahu tidak akan ia temukan di jalanan kosong itu.

Inilah yang membuat liriknya begitu cerdas. Di permukaan, ada energi dan adrenalin. Tapi di bawahnya, ada keputusasaan, pengaruh alkohol, dan keinginan untuk dicintai kembali. The Weeknd tidak pernah menjadi sosok pahlawan dalam ceritanya sendiri. Ia selalu menggambarkan dirinya sebagai orang yang kacau, dan kejujuran yang menyakitkan inilah yang membuat banyak pendengar merasa terwakili.

Rekor dunia dan fenomena yang tak terhentikan

"Blinding Lights" bukan sekadar lagu hit biasa. Ia menjelma menjadi salah satu fenomena terbesar dalam sejarah musik modern. Dirilis pada akhir 2019 dan meledak sepanjang 2020, lagu ini mencapai puncak tangga lagu di puluhan negara.

Pencapaian paling fenomenalnya: lagu ini tercatat sebagai lagu yang paling lama bertahan di tangga lagu Billboard Hot 100 di Amerika Serikat, bertahan di sana selama lebih dari delapan puluh minggu. Billboard bahkan akhirnya menobatkannya sebagai lagu nomor satu sepanjang masa dalam peringkat Hot 100 mereka, sebuah gelar yang luar biasa mengingat usia tangga lagu tersebut yang sudah puluhan tahun. Di platform streaming Spotify, "Blinding Lights" menjadi salah satu lagu yang paling banyak diputar dalam sejarah platform tersebut, menembus angka miliaran kali putar.

Timing rilisnya juga ikut berperan. Lagu ini meledak tepat saat dunia memasuki masa pandemi dan banyak orang terkurung di rumah. Energi lagu ini menjadi pelarian. Di TikTok, muncul tantangan menari yang viral secara global, di mana banyak keluarga ikut berjoget bersama di ruang tamu mereka selama masa karantina. Ironis sekali: lagu tentang kesepian justru menjadi alat untuk merasa terhubung saat semua orang terisolasi.

Ada juga momen kontroversial yang membuat lagu ini makin legendaris. Meski sukses besar, "Blinding Lights" dan seluruh album "After Hours" sama sekali tidak mendapat nominasi di ajang Grammy Awards. The Weeknd marah besar dan secara terbuka mengkritik Grammy sebagai ajang yang korup, lalu memutuskan untuk memboikotnya. Kontroversi ini justru memicu diskusi luas soal transparansi industri musik. Sebagai gantinya, ia membuktikan kekuatannya dengan tampil sebagai bintang utama di pertunjukan paruh waktu Super Bowl pada tahun 2021, salah satu panggung paling bergengsi di dunia.

Kenapa lagu ini masih terngiang sampai sekarang

Bertahun-tahun setelah rilis, "Blinding Lights" tetap tidak terasa usang. Salah satu alasannya adalah karena ia berhasil memadukan dua hal yang seharusnya bertolak belakang: kesenangan dan kesedihan, dalam satu paket yang sempurna. Lagu ini bisa diputar di pesta dansa, tapi juga bisa Anda dengarkan sendirian dengan headphone sambil merenung. Ia melayani dua kebutuhan emosional sekaligus.

Tema yang diangkatnya juga abadi. Perasaan kesepian di tengah kota yang sibuk, kerinduan akan koneksi yang tulus, dan kebiasaan menutupi luka dengan kesibukan atau hiburan, semua ini adalah pengalaman manusia yang tidak lekang oleh waktu. Di era media sosial di mana semua orang tampak bahagia di permukaan, pesan The Weeknd tentang kehampaan di balik gemerlap terasa makin relevan.

Selain itu, kualitas produksinya yang nyaris sempurna membuatnya terdengar segar di telinga generasi baru. Sentuhan retro 80-an justru membuatnya terasa di luar zaman, tidak terikat pada tren satu periode tertentu. Bagi penggemar musik Barat di Indonesia, "Blinding Lights" sering menjadi pintu masuk untuk menjelajahi katalog The Weeknd yang lebih gelap dan lebih dalam, atau bahkan untuk menyelami seluruh genre synthwave dan musik 80-an. Lagu ini adalah bukti bahwa karya pop terbaik bukanlah yang paling sederhana, melainkan yang menyembunyikan kompleksitas di balik melodi yang mudah dinikmati.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Untuk benar-benar merasakan dunia "Blinding Lights", dengarkan album lengkapnya yang menjadi rumah lagu ini. Album ini menyatukan kegelapan khas The Weeknd dengan gemerlap synth 80-an dalam satu perjalanan utuh.

📚 Ikuti kisahnya

Cerita di balik The Weeknd dan transformasinya dari musisi anonim menjadi bintang global sama menariknya dengan musiknya. Buku dan majalah bisa membantu Anda memahami perjalanannya.

🌍 Kunjungi tempatnya

Dunia "Blinding Lights" sangat terikat pada lanskap kota malam, dari Toronto sampai Las Vegas yang penuh lampu. Menjelajah tempat-tempat ini menambah dimensi pada pengalaman mendengarkan.

🎸 Rasakan sendiri

Ingin lebih dari sekadar mendengar? Anda bisa membawa pengalaman synthwave ini ke dalam ruang dan rutinitas Anda sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih banyak:

Tags
10s