SONGFABLE · 2015

90210

TRAVIS SCOTT · 2015 · BEVERLY HILLS, USA

TL;DR: Di balik judul yang cuma berupa lima angka kode pos Beverly Hills, "90210" sebenarnya bercerita tentang seseorang yang menjual mimpinya demi kilau Hollywood — dan tentang harga yang harus dibayar ketika ambisi bertabrakan dengan cinta, keluarga, dan jati diri.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Angka yang Ternyata Sebuah Alamat Impian

Coba bayangkan sebuah lagu yang judulnya bukan kata sama sekali, melainkan lima angka: 90210. Bagi telinga yang belum tahu, itu terdengar seperti kode acak. Tapi bagi siapa pun yang pernah menonton serial televisi Amerika atau bermimpi tentang gemerlap kota bintang, angka itu langsung punya arti. 90210 adalah kode pos Beverly Hills — kawasan super-mewah di Los Angeles tempat rumah-rumah selebritas, palem tinggi, dan mobil-mobil mahal berjejer. Judulnya saja sudah jadi simbol: bukan sekadar tempat, melainkan sebuah gagasan tentang "kalau kamu berhasil, kamu tinggal di sini."

Yang membuat lagu ini menarik adalah bahwa Travis Scott tidak menjadikan angka itu sebagai perayaan. Sebaliknya, ia menjadikannya semacam cermin yang retak. Lagu ini bukan lagu pesta yang membanggakan kekayaan. Ini adalah renungan gelap tentang apa yang terjadi ketika seseorang begitu terobsesi mengejar kode pos impian itu sampai ia lupa siapa yang ia tinggalkan di belakang. Di situlah letak kejutannya: sebuah lagu berjudul lambang kemewahan justru bercerita tentang kehampaan di baliknya.

Anak Texas yang Mengejar Cahaya California

Untuk memahami "90210", ada baiknya kita kenali dulu sosok di baliknya. Travis Scott — nama aslinya Jacques Bermon Webster II — lahir dan besar di Missouri City, sebuah pinggiran kota Houston, Texas. Ia bukan anak jalanan yang tumbuh dalam kemiskinan ekstrem; kakeknya konon seorang akademisi dan ayahnya seorang musisi. Tapi seperti banyak anak muda dengan mimpi besar, ia merasa Houston terlalu sempit untuk ambisinya. Ia nekat pindah ke Los Angeles dan kemudian New York, kadang tidur di lantai apartemen teman, demi mengejar karier musik.

"90210" muncul di album debut studionya, Rodeo, yang dirilis pada 2015. Album ini adalah momen ketika Travis Scott berubah dari produser dan penyanyi latar yang menjanjikan menjadi bintang penuh. Sebelumnya ia sempat bekerja di lingkaran Kanye West dan menimba banyak dari estetika produksi yang megah dan berlapis. Di Rodeo, ia menyempurnakan gaya yang kelak jadi ciri khasnya: suara yang penuh gema, atmosfer yang seperti kabut, auto-tune yang dipakai bukan untuk menutupi kekurangan melainkan sebagai kuas warna emosional.

Lagu ini dibangun bersama Kacy Hill, seorang penyanyi yang saat itu masih relatif baru dan pernah menjadi penari latar dalam tur Kanye West. Suaranya yang lembut dan melankolis membuka lagu dengan bagian yang terasa seperti fajar yang dingin, sebelum Travis masuk dan mengubah suasananya. Struktur dua bagian inilah yang membuat "90210" terasa seperti dua lagu yang dijahit jadi satu — sebuah perjalanan, bukan sekadar satu suasana hati.

Buat pendengar di Indonesia, ada jembatan budaya yang cukup terasa di sini. Kisah anak muda yang meninggalkan kampung halaman untuk mengejar mimpi di kota besar bukan cerita asing. Bayangkan seseorang dari kota kecil di Jawa atau Sumatra yang merantau ke Jakarta, tergoda gemerlap ibu kota, lalu perlahan merasakan jarak yang tumbuh antara dirinya dan keluarga yang ditinggalkan. "90210" berbicara dalam bahasa universal itu — tarikan magnet kota impian dan ongkos diam-diam yang menyertainya. Belum lagi, popularitas Travis Scott di kalangan penggemar hip-hop dan musik Barat di Indonesia sangat kuat; nama seperti Astroworld dan kolaborasinya dengan merek besar sudah jadi bahasa sehari-hari anak muda urban di sini.

Membedah Makna: Dua Sisi dari Satu Mimpi

Lagu ini terbagi jelas menjadi dua babak yang punya nuansa berbeda, dan di sinilah cerita sesungguhnya terungkap.

Babak pertama, yang dibawakan bersama Kacy Hill, terasa dingin dan penuh kerinduan. Nuansanya menggambarkan seseorang — bisa jadi kekasih atau sosok perempuan dalam hidup sang narator — yang menyaksikan orang yang ia cintai berubah oleh ambisi. Ada gambaran tentang menunggu, tentang perasaan ditinggalkan demi sesuatu yang lebih besar dan lebih berkilau. Alih-alih menuduh secara langsung, bagian ini melukiskan kesedihan yang tertahan: cinta yang perlahan dikalahkan oleh dorongan untuk terkenal dan kaya. Kode pos 90210 di sini menjelma jadi "wanita simpanan" metaforis — sesuatu yang menarik sang tokoh menjauh dari hubungan yang nyata.

Lalu masuklah Travis Scott di babak kedua, dan energinya berbalik total. Beat-nya lebih agresif, vokalnya lebih penuh percaya diri, dan ia menuturkan kisah pendakiannya sendiri. Ia merefleksikan masa-masa sulit sebelum sukses, hari-hari ketika ia berjuang tanpa jaminan apa pun, dan bagaimana kini ia berdiri di ambang segala yang ia impikan. Namun nadanya tidak murni penuh kemenangan. Ada lapisan kesadaran pahit di sana — pengakuan bahwa untuk mencapai "90210", ia harus mengorbankan banyak hal: hubungan, ketenangan, mungkin bahkan sebagian jati dirinya. Ia menyinggung godaan-godaan yang datang bersama ketenaran, tentang orang-orang yang tiba-tiba mendekat ketika uang mulai mengalir, dan tentang betapa sepinya puncak itu sebenarnya.

Kalau kita rangkai kedua babak itu, muncul potret yang utuh dan getir. Bagian pertama adalah suara dari mereka yang ditinggalkan; bagian kedua adalah suara dari orang yang meninggalkan. Keduanya bicara tentang harga dari mimpi yang sama. Travis Scott tidak sedang menghakimi apakah pendakian itu sepadan — ia justru membiarkan ambiguitas itu menggantung. Itulah kejujuran yang membuat lagu ini bertahan: ia tidak berpura-pura bahwa sukses itu murni indah, tetapi juga tidak menyangkal betapa memabukkannya godaan itu.

Penting dicatat, banyak penafsiran atas lirik lagu rap sifatnya cair, dan Travis Scott sendiri jarang menjelaskan maknanya secara gamblang. Tapi benang merah tentang ambisi, pengorbanan, dan sisi gelap ketenaran cukup konsisten dirasakan oleh para pendengar dan kritikus sejak lagu ini rilis.

Konteks Budaya: Ketika Kode Pos Menjadi Bahasa

Angka 90210 punya sejarah panjang dalam budaya pop Amerika jauh sebelum Travis Scott menyentuhnya. Serial televisi Beverly Hills, 90210 yang tayang sejak awal 1990-an membuat kode pos itu jadi ikon global — sinonim untuk kekayaan, drama remaja kaya, dan mimpi Amerika versi berkilau. Dengan meminjam angka itu sebagai judul, Travis Scott langsung menanamkan seluruh beban makna budaya tersebut ke dalam lagunya tanpa perlu menjelaskan apa pun. Ini contoh cerdas bagaimana seorang seniman memanfaatkan simbol yang sudah dipahami bersama.

Di dalam lanskap hip-hop, Rodeo dan khususnya "90210" menandai pergeseran estetika yang cukup berpengaruh. Travis Scott membantu mempopulerkan gaya rap yang lebih atmosferik dan "berkabut" — di mana suasana dan tekstur suara sama pentingnya dengan lirik. Pendekatan ini kelak mewarnai satu generasi musisi. Cara ia memakai auto-tune sebagai instrumen emosional, membangun lagu berlapis seperti film pendek, dan mengaburkan batas antara nyanyian dan rap menjadi cetak biru yang banyak ditiru.

Lagu ini juga bagian dari percakapan yang lebih besar dalam musik Amerika tentang harga dari "the American Dream". Sepanjang sejarah, dari blues hingga hip-hop modern, ada tradisi seniman yang mempertanyakan apakah kesuksesan materi benar-benar membawa kebahagiaan. "90210" berdiri di garis keturunan itu — hanya saja dibungkus dengan produksi masa kini yang megah dan cocok diputar keras di dalam mobil maupun lewat headphone tengah malam.

Kenapa Lagu Ini Masih Menggema Hari Ini

Lebih dari satu dekade setelah rilis, "90210" masih sering disebut sebagai salah satu lagu terbaik dan paling personal dari Travis Scott. Alasannya sederhana: temanya tidak pernah kedaluwarsa. Selama masih ada anak muda yang bermimpi besar dan merasakan tarikan antara ambisi dan hal-hal yang mereka cintai, lagu ini akan terus relevan.

Di era media sosial, pesan lagu ini bahkan terasa makin tajam. Sekarang siapa pun bisa memamerkan kehidupan "90210" versi mereka lewat unggahan — mobil, liburan, gaya hidup mewah — sering kali tanpa memperlihatkan pengorbanan di baliknya. Lagu Travis Scott justru menarik tirai itu dan menunjukkan bagian yang biasanya disembunyikan: kesepian, jarak dengan orang terdekat, dan pertanyaan yang menghantui apakah semua ini sepadan. Dalam dunia yang terobsesi dengan pencitraan sukses, kejujuran seperti ini terasa menyegarkan sekaligus menusuk.

Bagi pendengar Indonesia yang tumbuh di tengah budaya "hustle" dan mimpi merantau ke kota besar, resonansinya nyata. Perjalanan dari kampung ke Jakarta, dari kamar kos sempit ke ambisi yang tinggi, dari keluarga yang ditinggalkan ke lingkaran baru yang berkilau — semua itu punya gema di dalam "90210". Lagu ini seolah berbisik bahwa mengejar impian itu wajar dan manusiawi, tapi ada baiknya kita sesekali menoleh ke belakang dan bertanya apa yang kita korbankan dalam perjalanan.

Dan mungkin di situlah kekuatan abadi lagu ini: ia tidak memberi jawaban mudah. Ia tidak menyuruhmu berhenti bermimpi, tapi juga tidak berpura-pura mimpi itu gratis. Ia hanya menyalakan cahaya redup di sudut yang biasanya kita hindari, dan membiarkan kita merenung sendiri.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Album Rodeo adalah pintu masuk terbaik untuk memahami dunia sonik Travis Scott. Dengarkan bagaimana "90210" mengalir di antara lagu-lagu lain yang sama-sama megah dan berkabut — ini bukan sekadar kumpulan single, melainkan sebuah perjalanan utuh dari awal sampai akhir.

Untuk benar-benar menangkap lapisan produksi lagu ini — gema, sub-bass, dan tekstur auto-tune yang dipakai sebagai warna emosi — kamu butuh headphone yang jujur di nada rendah. Putar di tengah malam, matikan lampu, dan biarkan atmosfernya membungkusmu.

📚 Ikuti kisahnya

Karier dan pemikiran Travis Scott punya cerita yang lebih dalam dari sekadar lagu-lagunya. Menyelami buku dan majalah tentang budaya hip-hop modern akan membantumu memahami dari mana estetikanya berasal dan mengapa gayanya begitu berpengaruh.

Membaca tentang lingkungan kreatif tempat Rodeo lahir — termasuk pengaruh Kanye West dan gelombang produser muda pertengahan 2010-an — akan membuatmu mendengar "90210" dengan telinga yang jauh lebih kaya. Konteks selalu mengubah cara sebuah lagu terdengar.

🌍 Kunjungi tempatnya

Beverly Hills dan kawasan Los Angeles yang lebih luas adalah panggung nyata di balik simbol lagu ini. Kalau kamu ingin merasakan mengapa kode pos 90210 begitu memikat imajinasi dunia, ada baiknya menjelajahi kota impian itu — entah lewat perjalanan sungguhan atau lewat halaman buku.

Berjalan menyusuri jalan-jalan berpalem tinggi di Beverly Hills, melihat kemewahan yang seolah tak berujung, akan membuatmu paham betapa memabukkannya tarikan tempat itu. Sekaligus, mungkin kamu juga akan merasakan sedikit kekosongan yang justru diangkat Travis Scott dalam lagunya.

🎸 Rasakan sendiri

Estetika Travis Scott sangat visual dan taktil — bukan cuma tentang mendengar, tapi tentang menciptakan suasana. Kalau kamu ingin bereksperimen membuat musik atmosferik ala Rodeo sendiri, alat yang tepat bisa jadi titik awal.

Banyak produser besar hari ini memulai justru dari kamar tidur dengan perlengkapan sederhana, persis seperti generasi yang membentuk suara pertengahan 2010-an. Mencoba menata lapisan gema dan bereksperimen dengan auto-tune sebagai kuas emosi bisa membuatmu memahami betapa disengaja setiap detail dalam lagu seperti "90210".


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s