SONGFABLE · 2018

Sicko Mode

TRAVIS SCOTT · 2018

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sicko Mode - Travis Scott (2018)

TL;DR: "Sicko Mode" sebenarnya bukan satu lagu, melainkan tiga lagu pendek yang dijahit jadi satu — sebuah eksperimen struktur berani tentang ambisi, kesetiaan pada akar, dan kemenangan seorang anak Houston yang menolak mengikuti aturan main industri musik.

Sebuah Lagu yang Sebenarnya Tiga Lagu

Coba dengarkan "Sicko Mode" sekali lagi, dan perhatikan baik-baik kapan Anda merasa "Lho, kok berubah?" Itu bukan kesalahan pendengaran Anda. Lagu ini sengaja dibangun seperti rumah yang punya tiga ruangan dengan suasana yang sama sekali berbeda, lalu pintunya dibanting tiba-tiba supaya Anda terjengkang dari satu ruangan ke ruangan lain.

Bagian pembuka yang lambat dan penuh suara Drake terasa seperti intro yang lembut, hampir seperti pemanasan. Lalu, tanpa peringatan, beatnya runtuh dan berganti total menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih cepat, lebih liar — dan di situlah Travis Scott benar-benar mengambil alih. Tidak lama kemudian, lagu berganti wajah lagi menjadi groove yang lebih santai dan mengayun. Tiga bagian, tiga energi, satu judul.

Yang membuat ini terasa "sakit" (dalam arti gila-gilaan, bukan negatif — itulah makna slang "sicko") adalah keberanian untuk melanggar aturan baku pop modern. Lagu hits biasanya punya formula yang aman: intro, verse, chorus yang gampang diingat, lalu diulang. "Sicko Mode" justru hampir tidak punya chorus konvensional. Ia menolak diprediksi. Dan anehnya, justru karena pemberontakan struktural inilah lagu ini meledak menjadi salah satu single paling ikonik akhir dekade 2010-an.

Anak Houston yang Menamai Diri dari Robot Anime

Untuk mengerti "Sicko Mode," kita harus mengerti dulu siapa Travis Scott. Lahir dengan nama Jacques Bermon Webster II di Houston, Texas, pada tahun 1991, ia tumbuh di pinggiran kota dan, konon, sempat tinggal bersama neneknya di lingkungan yang lebih keras sebelum keluarganya pindah ke daerah yang lebih nyaman. Nama panggung "Travis" katanya diambil dari paman favoritnya, sementara "Scott" dikabarkan terinspirasi salah satu idolanya, Kid Cudi.

Houston punya warisan hip-hop yang sangat khas — budaya "chopped and screwed," mobil yang dimodifikasi, dan tempo yang sengaja diperlambat hingga terasa seperti melayang. DNA kota itu meresap ke dalam musik Travis. Ia bukan rapper yang mengandalkan lirik teknis berlapis-lapis; kekuatannya ada pada atmosfer, tekstur suara, dan kemampuan membangun dunia sonik yang terasa seperti masuk ke pesta yang setengah mimpi setengah mimpi buruk.

"Sicko Mode" muncul di album Astroworld (2018), sebuah album yang ia beri nama dari taman hiburan legendaris di Houston, Six Flags AstroWorld, yang ditutup pada 2005 saat Travis masih remaja. Album itu adalah surat cinta sekaligus ratapan untuk masa kecil yang sudah dirobohkan. Bagi penggemar musik di Indonesia, ada resonansi yang akrab di sini: siapa pun yang pernah merasa kehilangan tempat bermain masa kecil — entah Taman Ria, bioskop tua di kota kecil, atau warnet langganan yang sudah jadi minimarket — bisa merasakan kerinduan yang sama. Astroworld adalah upaya membangun kembali taman hiburan itu lewat suara.

Lagu ini melibatkan banyak tangan. Drake, salah satu nama terbesar di musik dunia, mengisi bagian pembuka dan beberapa sentuhan lain. Yang menarik, dikabarkan bagian-bagian lagu ini awalnya adalah potongan-potongan terpisah yang kemudian disambung saat proses produksi. Sejumlah produser ternama terlibat, dan rumor di balik layar menyebut bahwa transisi-transisi tajam itu lahir dari keputusan editing yang nekat, bukan dari satu cetak biru yang rapi sejak awal. Itulah kenapa terasa seperti tiga lagu — karena memang berakar dari potongan yang berbeda.

Membongkar Maknanya: Ambisi, Akar, dan Kemenangan

Kalau Anda mencari "pesan moral" dalam "Sicko Mode," Anda mungkin akan kecewa — dan itu memang bukan tujuannya. Lagu ini lebih seperti potret diri yang penuh kepercayaan diri, dirangkai dari kilasan-kilasan ingatan, kebanggaan, dan deklarasi keberhasilan.

Inti emosionalnya bisa diringkas begini: ini adalah cerita seorang pria yang dulu bukan siapa-siapa di Houston dan kini menjadi salah satu nama paling panas di musik dunia, dan ia ingin Anda tahu betul perjalanan itu. Travis melukiskan adegan-adegan tentang kekayaan baru, mobil mewah, perhiasan, dan gaya hidup yang dulu hanya bisa ia tonton dari kejauhan. Tapi yang menarik, ia terus-menerus menautkan kemewahan itu kembali ke asal-usulnya. Ada rasa setia pada akar — penyebutan tempat, kenangan masa muda, orang-orang yang ada sejak awal sebelum ketenaran datang.

Bagian Drake di awal berfungsi seperti narator tamu yang memuji dan memperkuat status Travis, semacam pengakuan dari sesama bintang besar bahwa anak Houston ini sudah resmi masuk lingkaran atas. Lalu ketika Travis mengambil alih, nadanya berubah jadi lebih agresif dan personal — di sinilah ia benar-benar bercerita tentang dirinya, tentang naik dari bawah, tentang mengubah keadaan, tentang masuk ke kondisi "sicko mode": mode di mana ia tidak terbendung, fokus penuh, dan bekerja tanpa rem demi mencapai puncak.

Frasa "sicko mode" sendiri adalah slang yang kira-kira berarti "masuk ke kondisi liar yang ekstrem" — mode tergila, terhebat, tanpa kendali. Bayangkan seperti karakter game yang mengaktifkan jurus pamungkas. Itulah suasana batin yang ingin disampaikan: ketika seseorang sudah begitu terbenam dalam ambisinya sampai realitas terasa kabur. Karena lagu ini menolak dikutip baris demi baris di sini, cukup pahami bahwa benang merahnya adalah deklarasi: aku datang dari ketiadaan, aku tidak akan berhenti, dan aku tetap ingat dari mana aku berasal.

Konteks Budaya dan Warisan yang Ditinggalkan

Ketika "Sicko Mode" dirilis, lagu ini melakukan sesuatu yang langka di era musik instan: ia memaksa orang mendengarkan dengan cara yang berbeda. Di zaman ketika orang sering melompati lagu setelah 15 detik pertama, "Sicko Mode" justru menghukum pendengar yang tidak sabar — Anda harus bertahan melewati transisi-transisi mendadak untuk benar-benar "mengerti" lagu ini. Dan jutaan orang melakukannya.

Lagu ini akhirnya menjadi nomor satu di tangga lagu Amerika Serikat, sebuah pencapaian besar mengingat strukturnya yang sama sekali tidak ramah radio. Bahwa sebuah lagu tanpa chorus konvensional, dengan beat yang ganti tiga kali, bisa mendominasi, mengirim sinyal jelas ke seluruh industri: pendengar generasi streaming siap menerima eksperimen yang lebih liar. Banyak yang menyebut "Sicko Mode" sebagai salah satu tonggak yang ikut mengubah cara lagu hip-hop dirancang setelahnya.

Di luar angka penjualan, lagu ini menjadi fenomena budaya. Ia meledak di TikTok dan media sosial, terutama momen transisi dramatis yang menjadi bahan meme dan tantangan tak terhitung jumlahnya. Konser Travis Scott — yang ia sebut "rage," semacam pesta penuh energi liar di mana penonton melompat seperti kerasukan — menjadi legendaris sebagian besar berkat lagu seperti ini. Bagi banyak anak muda, termasuk di Indonesia, "Sicko Mode" adalah pintu masuk ke dunia Travis Scott yang lebih luas: kolaborasinya dengan merek olahraga, sepatu rilisan terbatas yang diburu kolektor, hingga konser virtual di dalam game yang ditonton jutaan orang.

Penting juga dicatat bahwa warisan Astroworld punya sisi gelap. Konser festival bernama sama pada tahun 2021 berakhir tragis dengan jatuhnya korban jiwa akibat desakan massa. Peristiwa itu mengubah cara banyak orang memandang energi "rage" yang dulu dipuja, dan menjadi pengingat serius tentang tanggung jawab di balik atmosfer liar yang dibangun musik ini. Sejarah lagu ini, mau tak mau, kini tak bisa dilepaskan dari konteks tersebut.

Kenapa Lagu Ini Masih Terasa Relevan

Sudah beberapa tahun berlalu, tapi "Sicko Mode" tetap diputar di pesta, klub, dan playlist olahraga di seluruh dunia, termasuk di kafe dan tongkrongan di Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Kenapa ia awet?

Pertama, karena energinya universal. Tidak perlu paham setiap referensi Houston untuk merasakan dorongan adrenalin saat beat pertama runtuh dan berganti. Ada sesuatu yang sangat manusiawi tentang sensasi "masuk ke mode tergila" — momen ketika kita memutuskan untuk all-out, entah saat ngebut menyelesaikan skripsi semalam suntuk, mengejar target kerja, atau menatap mimpi yang dulu terasa mustahil. "Sicko Mode" adalah soundtrack untuk perasaan itu.

Kedua, struktur ganjilnya justru membuatnya tahan bosan. Lagu pop biasa akan terasa usang setelah diputar ratusan kali, tapi lagu yang berganti wajah tiga kali selalu menyimpan kejutan kecil. Otak kita tidak pernah benar-benar bisa memprediksinya sepenuhnya, dan itu membuatnya tetap segar.

Ketiga, ada kisah underdog yang abadi di dalamnya. Cerita anak pinggiran kota yang menolak menyerah pada keadaan, lalu naik ke puncak tanpa mengkhianati akarnya — itu cerita yang akan selalu menemukan pendengar baru di setiap generasi dan setiap negara. Bagi pendengar muda di Indonesia yang sedang membangun mimpinya sendiri, ada semangat yang sangat mudah ditangkap di balik kebisingan "Sicko Mode": jangan biarkan dari mana kamu berasal membatasi seberapa jauh kamu bisa pergi.

Dan mungkin yang paling penting, "Sicko Mode" adalah bukti bahwa berani berbeda bisa menang. Di dunia yang sering memaksa kita mengikuti formula yang aman, lagu ini berdiri sebagai monumen kecil bagi keberanian melanggar aturan — dan justru karena itulah ia dikenang.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Album lengkap Astroworld adalah pengalaman yang jauh lebih kaya daripada satu lagu saja — anggap "Sicko Mode" sebagai pintu masuknya, lalu album ini adalah seluruh taman hiburannya. Mendengarkannya dari awal sampai akhir membuat Anda paham obsesi Travis pada nostalgia dan atmosfer.

Kalau Anda ingin merasakan dentuman bass dan transisi tajam lagu ini sebagaimana mestinya, kualitas perangkat dengar sangat menentukan. Headphone dengan respons bass yang baik akan mengungkap detail produksi yang hilang di speaker ponsel.

📚 Menelusuri kisahnya

Untuk memahami dunia hip-hop Houston yang membentuk Travis Scott, buku-buku tentang sejarah scene rap Selatan AS memberi konteks budaya "chopped and screwed" dan warisan kota itu. Ini membuat lagu terasa lebih hidup begitu Anda tahu akarnya.

Buku tentang bisnis dan budaya musik modern juga membantu menjelaskan kenapa lagu eksperimental seperti ini bisa mendominasi di era streaming.

🌍 Mengunjungi tempatnya

Houston, Texas, adalah jantung dari segala referensi dalam Astroworld. Buku panduan wisata kota ini bisa membantu Anda merencanakan ziarah ke kota yang melahirkan begitu banyak musik berpengaruh.

Karena taman aslinya, Six Flags AstroWorld, sudah lama tutup, buku-buku foto tentang taman hiburan Amerika yang sudah punah menawarkan nostalgia yang serupa dengan semangat album ini.

🎸 Mengalaminya sendiri

Travis Scott terkenal membangun beat dan lagunya lapis demi lapis. Kalau Anda penasaran bagaimana lagu seperti "Sicko Mode" dirakit, perangkat produksi musik untuk pemula adalah titik awal yang menyenangkan untuk bereksperimen sendiri.

Bagi yang ingin mendalami seni produksi beat hip-hop secara serius, buku panduan dan controller drum pad bisa membuka pintu untuk menciptakan transisi liar Anda sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
10s