SONGFABLE · 2018

a lot

21 SAVAGE · 2018 · ATLANTA, USA

TL;DR: Di balik beat yang gelap dan hook yang catchy, "a lot" sebenarnya adalah surat pengakuan seorang pria yang punya uang, ketenaran, dan trauma dalam jumlah yang sama banyak — sebuah lagu tentang bertahan hidup, kehilangan orang-orang terdekat, dan menyadari bahwa kekayaan tidak pernah menghapus luka masa lalu.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Ketika "banyak" berarti terlalu banyak

Kebanyakan orang mendengar "a lot" pertama kali sebagai lagu yang enak dipakai kepala mengangguk. Hook-nya sederhana, hampir seperti mantra, dan gampang nyangkut di kepala. Tapi kalau kamu benar-benar duduk dan menyimak apa yang dikatakan 21 Savage, kamu akan sadar bahwa lagu ini bukan perayaan — melainkan sebuah audit kehidupan yang jujur dan menyakitkan.

Inti kejutannya begini: judul "a lot" bukan cuma tentang punya banyak uang atau banyak masalah. 21 Savage memakai frasa itu sebagai timbangan. Di satu sisi timbangan ada semua hal yang orang iri padanya — mobil, perhiasan, ketenaran. Di sisi lain ada semua yang harus ia bayar untuk mendapatkannya — teman yang meninggal, keluarga yang dipenjara, ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Lagu ini bertanya secara diam-diam: apakah "banyak" hal baik itu sepadan dengan "banyak" hal buruk yang menyertainya?

Buat pendengar Indonesia yang terbiasa dengan hip-hop Amerika sebagai musik pesta dan flexing, "a lot" menawarkan pintu masuk ke sisi lain rap Atlanta — sisi yang reflektif, murung, dan sangat manusiawi. Ini bukan lagu yang menyombongkan diri; ini lagu yang menghitung ongkos.

Anak imigran London yang jadi suara jalanan Atlanta

Untuk mengerti "a lot", kamu harus mengerti pria di baliknya. 21 Savage — nama aslinya She'yaa Bin Abraham-Joseph — sebenarnya lahir di London, Inggris, pada 1992, sebelum pindah ke Atlanta, Georgia, sewaktu masih kecil. Fakta ini baru menjadi berita besar di seluruh dunia pada awal 2019, hanya beberapa minggu setelah album ini rilis, ketika ia ditahan oleh otoritas imigrasi Amerika karena status keimigrasiannya. Momen itu mengubah cara publik mendengar seluruh album — tiba-tiba lirik tentang rasa tidak aman dan sistem yang tidak adil terasa jauh lebih literal.

"a lot" adalah lagu pembuka dari album keduanya, i am > i was, yang dirilis pada Desember 2018 dan langsung melesat ke puncak tangga Billboard 200 di Amerika. Lagu ini konon diproduseri oleh DJ Dahi dan menampilkan verse dari J. Cole, salah satu rapper paling dihormati generasinya. Sample-nya dilaporkan diambil dari lagu soul lawas "I Guess" oleh East of Underground, memberi nuansa hangat dan melankolis yang kontras dengan lirik-lirik berat 21 Savage.

Masa muda 21 Savage di Atlanta penuh kekerasan. Ia dikeluarkan dari sekolah, terlibat kehidupan jalanan, dan konon selamat dari penembakan di hari ulang tahunnya sendiri yang menewaskan sahabat baiknya. Pengalaman-pengalaman inilah yang menjadi bahan bakar musiknya. Kalau banyak rapper "memerankan" citra jalanan, gaya datar dan dingin 21 Savage justru terdengar seperti orang yang benar-benar lelah — bukan berpose, melainkan bercerita.

Ada benang budaya menarik untuk pendengar Indonesia di sini. Kisah 21 Savage — anak imigran yang tumbuh di antara dua identitas, London dan Atlanta, lalu tetap dianggap "orang luar" oleh negara tempat ia dibesarkan — adalah cerita yang bergema dengan pengalaman banyak diaspora dan perantau di mana pun. Di Indonesia, di mana konsep merantau dan mencari nafkah jauh dari kampung halaman begitu lekat, gagasan tentang seseorang yang harus membuktikan diri di tanah asing sambil membawa beban masa lalu terasa akrab. 21 Savage kemudian juga dikenal sebagai sosok yang serius memperjuangkan literasi keuangan bagi anak-anak muda kurang mampu — sebuah dimensi yang jarang orang duga dari citranya yang keras.

Membaca timbangan: apa yang sebenarnya diceritakan

Verse-verse "a lot" bergerak seperti seseorang yang membuka lemari lama dan menghitung isinya satu per satu. 21 Savage berbicara tentang kekayaan yang ia miliki sekarang, tapi setiap kali ia menyebut sesuatu yang mewah, ia langsung menyandingkannya dengan harga yang dibayar. Ada nada curiga di sepanjang lagu — kesadaran bahwa orang-orang di sekitarnya mungkin mendekat bukan karena tulus, melainkan karena uangnya. Ia menggambarkan betapa sulit membedakan teman sejati dari orang yang cuma mau ikut menikmati.

Yang paling menusuk adalah cara ia berbicara tentang kehilangan. Tanpa mendramatisasi, ia menyinggung teman-teman yang sudah tiada dan kerabat yang mendekam di penjara. Ia tidak menangis di dalam lagu; nada suaranya tetap tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya menghancurkan — seperti seseorang yang sudah terlalu sering berduka sampai air matanya habis. Dalam salah satu bagian yang paling dibicarakan penggemar, ia merenungkan tragedi-tragedi nyata yang menimpa komunitas kulit hitam Amerika, menautkan penderitaan pribadinya dengan penderitaan yang lebih luas.

Verse J. Cole menambahkan lapisan lain. Cole membawa perspektif seorang seniman yang sudah "berhasil" tapi tetap gelisah, berbicara tentang godaan, tekanan industri, dan bagaimana kesuksesan bisa mengasingkan seseorang dari dirinya sendiri. Ia menyentuh isu-isu yang lebih besar — dari kekerasan senjata sampai keresahan sosial — dengan cara yang membuat lagu ini terasa seperti percakapan antara dua orang yang sama-sama lelah tapi masih berpikir.

Refrain yang berulang, dengan pertanyaan "berapa banyak" yang dilempar terus-menerus, berfungsi seperti detak yang tak berhenti. Setiap pengulangan menumpuk makna. Pada akhirnya, "banyak" bukan lagi soal jumlah harta — melainkan soal berapa banyak beban yang bisa ditanggung satu orang sebelum semuanya terasa kosong.

Sebuah album yang berubah makna dalam semalam

"a lot" tidak bisa dilepaskan dari konteks dramatis yang mengelilinginya. Ketika 21 Savage dilaporkan ditahan ICE pada Februari 2019 — hanya beberapa pekan setelah ia tampil membawakan lagu ini di televisi nasional Amerika — seluruh dunia musik bereaksi. Rapper-rapper besar, aktivis, dan penggemar berbondong-bondong membelanya. Yang menarik, konon ia sempat mengubah salah satu bagian lirik saat penampilan televisi tersebut untuk secara langsung mengomentari kebijakan penahanan anak imigran di perbatasan Amerika — dan penampilan itu diyakini menjadi salah satu alasan ia menjadi sorotan otoritas.

Kejadian ini mengubah "a lot" dari lagu personal menjadi simbol. Lirik tentang ketakutan, ketidakpastian, dan sistem yang tidak berpihak tiba-tiba terbaca sebagai ramalan. Lagu ini kemudian memenangkan Grammy untuk Best Rap Song pada 2020 — sebuah pengakuan yang jarang diberikan pada rapper bergaya "trap" seperti 21 Savage, dan menegaskan bahwa penulisan liriknya jauh lebih dalam daripada yang diakui banyak orang selama ini.

Dalam sejarah hip-hop Atlanta, "a lot" menandai momen pendewasaan. Atlanta lama dikenal sebagai pusat trap music — musik yang energik, agresif, sering tentang bertahan hidup di jalanan. 21 Savage mengambil estetika suara itu tapi mengarahkannya ke dalam, menjadikannya alat introspeksi. Ia membuktikan bahwa flow yang datar dan dingin bisa membawa emosi sedalam nyanyian yang penuh air mata.

Kenapa lagu ini masih menempel sampai sekarang

Beberapa tahun setelah rilis, "a lot" tetap relevan karena ia menyentuh sesuatu yang universal: kegelisahan orang yang "sudah berhasil" tapi tidak merasa aman. Di era media sosial di mana semua orang memamerkan kehidupan yang tampak sempurna, lagu ini adalah pengingat bahwa di balik flexing sering ada kehampaan dan trauma yang tidak diunggah ke Instagram.

Buat pendengar muda di Indonesia yang tumbuh dengan tekanan untuk sukses, punya barang bagus, dan terlihat "berhasil", pesan diam-diam "a lot" terasa dekat. Lagu ini tidak menyuruhmu berhenti bermimpi — ia hanya bertanya, dengan jujur, apakah kamu tahu harga dari mimpi itu. Ada kedewasaan emosional dalam lagu ini yang jarang ditemukan dalam musik pop mainstream.

Dan yang membuatnya bertahan adalah kejujurannya. 21 Savage tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia tidak menawarkan solusi mudah. Ia hanya meletakkan hidupnya di atas meja dan membiarkanmu menimbangnya sendiri. Dalam dunia yang penuh kepura-puraan, kejujuran seperti itu justru terasa mewah — mungkin, ironisnya, itulah "banyak" yang paling berharga dari semuanya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Cara terbaik memahami "a lot" adalah mendengarkannya dalam konteks album utuhnya, di mana setiap lagu saling menjelaskan.

📚 Ikuti kisahnya

Cerita hidup 21 Savage dan konteks sosial di baliknya membuat lagu ini jauh lebih kaya.

🌍 Kunjungi tempatnya

Atlanta adalah karakter tak terlihat dalam musik 21 Savage — kota yang membentuknya sekaligus melukainya.

🎸 Rasakan sendiri

Ingin lebih dekat dengan proses kreatif di balik lagu seperti ini? Coba masuki dunia produksinya.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s