Gasoline
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu ini dibuka dengan suara yang bukan suaranya
Kalau Anda memutar "Gasoline" untuk pertama kali tanpa melihat layar, kemungkinan besar Anda tidak akan sadar sedang mendengarkan The Weeknd. Suara yang muncul di detik-detik awal terdengar berat, datar, hampir seperti orang Inggris yang sedang bergumam di ruang bawah tanah. Tidak ada falsetto melengking yang selama ini menjadi tanda tangannya. Baru ketika bagian reff datang, suara aslinya meledak keluar seperti seseorang yang akhirnya berhasil naik ke permukaan air.
Trik vokal itu bukan iseng. Abel Tesfaye sengaja menurunkan register suaranya jauh ke bawah, dan banyak pendengar langsung menangkap gemanya: nuansa new wave dan post-punk tahun 80-an, sesuatu yang mengingatkan pada Billy Idol atau Depeche Mode. Efeknya adalah lagu ini terasa seperti dinyanyikan oleh dua orang berbeda — atau lebih tepatnya, oleh dua sisi dari orang yang sama. Ada sisi yang sudah pasrah, dingin, dan sinis. Ada sisi lain yang masih berteriak minta tolong.
Dan di situlah kejutannya. Kalau Anda dengar sekilas, "Gasoline" terdengar seperti lagu klub yang cocok diputar tengah malam. Tapi isinya adalah instruksi soal apa yang harus dilakukan terhadap tubuhnya setelah ia mati. Tidak banyak lagu pop besar yang berani memulai dari titik itu.
Sebuah radio di ruang tunggu antara hidup dan mati
Untuk memahami "Gasoline", kita perlu memahami rumah tempat lagu ini tinggal: album "Dawn FM", yang dirilis pada awal Januari 2022 dengan pengumuman yang sangat mendadak — hanya beberapa hari sebelum perilisan. The Weeknd praktis menjatuhkan album ini ke dunia tanpa banyak peringatan.
Konsepnya termasuk yang paling ambisius di karier Abel. Seluruh album disusun seperti siaran sebuah stasiun radio bernama 103.5 Dawn FM, lengkap dengan jeda iklan dan penyiar yang berbicara di antara lagu-lagu. Penyiarnya diperankan oleh Jim Carrey, aktor yang wajahnya kemungkinan besar sudah Anda kenal sejak kecil dari film-film komedi yang sering diputar di televisi Indonesia. Di sini Carrey tidak melucu sama sekali. Suaranya tenang, hangat, dan justru karena itu terasa menyeramkan.
Premisnya begini: pendengar dibayangkan sedang terjebak macet di dalam terowongan gelap yang panjang, dan di ujung sana ada cahaya. Radio ini menemani perjalanan itu. Dengan kata lain, "Dawn FM" adalah album tentang purgatorium — ruang tunggu antara kehidupan dan kematian. Musiknya berkilau, penuh synth 80-an, tapi semuanya dinyanyikan oleh seseorang yang sedang berjalan menuju akhir. Sampul albumnya pun menampilkan Abel yang didandani menjadi pria tua dengan janggut putih dan wajah keriput, seolah ia sudah melompati puluhan tahun hidupnya dalam semalam.
"Gasoline" duduk di urutan kedua dalam album itu, tepat setelah pembukaan. Ia menjadi lagu pertama yang benar-benar bernyanyi, dan langsung menetapkan nadanya: gelap, elegan, dan tidak takut bicara soal kematian. Produksinya dilaporkan melibatkan kolaborator lama Abel seperti Max Martin dan Oscar Holter, sementara arah sonik album secara keseluruhan disebut-sebut banyak dipengaruhi oleh Daniel Lopatin, produser eksperimental yang dikenal dengan nama Oneohtrix Point Never. Perpaduan itulah yang membuat "Gasoline" terdengar seperti lagu pop raksasa yang dibuat oleh orang-orang yang juga menyukai musik aneh.
Bagi pendengar musik Barat di Indonesia, ada beberapa titik sambung yang menarik. Pertama, estetika new wave dan synth 80-an yang menjadi tulang punggung album ini punya akar kuat di sini — generasi orang tua kita tumbuh dengan musik era itu, dan gelombang nostalgia retro belakangan ini kembali hidup lewat kafe, studio foto, dan playlist "city pop" yang ramai di kalangan anak muda Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Kedua, dan ini yang lebih dalam: seluruh album berputar di sekitar waktu fajar. Di Indonesia, jam-jam menjelang subuh punya bobot spiritual yang tidak dimiliki banyak budaya lain. Itu jam ketika azan pertama terdengar, ketika kota masih sunyi, ketika orang-orang yang begadang semalaman berpapasan dengan orang-orang yang baru bangun untuk beribadah. "Gasoline" secara harfiah berlatar di jam itu. Bagi banyak pendengar di sini, suasana yang dibangun lagu ini terasa sangat akrab, walaupun isinya jauh lebih gelap.
Pukul lima pagi, dan orang yang bertugas menjagamu
Mari kita bongkar isi lagunya tanpa mengutip satu baris pun.
Inti "Gasoline" adalah percakapan sepihak antara seorang pria yang sedang menghancurkan dirinya sendiri dan seseorang yang mencintainya. Bukan percakapan romantis. Lebih seperti daftar instruksi yang diberikan dengan nada datar.
Ia bicara soal jam lima pagi, waktu ketika ia biasanya sudah dalam kondisi paling kacau setelah semalaman memakai sesuatu untuk mematikan perasaannya. Ia meminta orang itu untuk membangunkannya di jam tersebut — atau setidaknya memastikan ia masih bernapas. Ada gambaran yang sangat gamblang tentang seseorang yang tergeletak, dan orang lain yang harus mengecek apakah ia masih hidup. Rutinitas itu digambarkan seolah sudah biasa terjadi, dan justru itu yang membuatnya menusuk.
Lalu datang bagian yang paling terkenal. Ia meminta, kalau suatu saat nanti ia benar-benar tidak bangun lagi, jangan repot-repot mengurus jasadnya secara normal. Siram saja dengan bensin dan bakar. Judul lagu ini bukan metafora yang samar; ia adalah permintaan kremasi yang diucapkan sambil setengah tertawa. Di dalamnya tersimpan dua hal sekaligus: sikap tidak peduli terhadap nasib tubuhnya sendiri, dan sebuah upaya untuk membebaskan orang yang ia cintai dari beban merawat kekacauan yang ia ciptakan.
Ada juga lapisan pengakuan yang jujur dan tidak nyaman: ia tahu ia dicintai, tapi ia tidak yakin ia pantas dicintai. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang sudah terlalu jauh, yang kebiasaan buruknya sudah terlalu mengakar untuk diperbaiki oleh siapa pun. Permintaannya agar tidak diselamatkan bukan sikap sombong — itu lebih mirip rasa bersalah. Seseorang yang lelah menjadi proyek perbaikan orang lain.
Yang membuat lagu ini secara struktur begitu cerdas adalah bagaimana kedua suara Abel bekerja. Suara berat di bait-bait awal adalah topeng: dingin, terkendali, seolah semua ini tidak penting. Falsetto di reff adalah wajah aslinya: rapuh, panik, dan sangat manusia. Ketika ia berpindah dari satu ke yang lain, Anda sebenarnya sedang mendengarkan seseorang gagal berpura-pura baik-baik saja.
Dan jangan lupa konteks albumnya. Kalau seluruh "Dawn FM" adalah perjalanan menuju cahaya di ujung terowongan, maka "Gasoline" adalah momen ketika sang tokoh masih menolak cahaya itu. Ia belum siap. Ia masih ingin membakar dirinya lebih dulu.
Kematian sebagai gaya, dan kenapa itu bukan hal baru
The Weeknd tidak menciptakan tema ini dari nol. Sepanjang kariernya, sejak mixtape-mixtape anonim yang ia unggah dari Toronto sekitar tahun 2010, Abel selalu menulis tentang narkoba, kekosongan, dan hubungan yang rusak. Bedanya, di era awal ia menulis seperti orang yang sedang berada di tengah badai. Di "Gasoline", ia menulis seperti orang yang sudah melihat akhir cerita dan sedang mengurus administrasinya.
Perpindahan itu penting. Album "After Hours" (2020) menampilkan sosok pria berjas merah dengan wajah berdarah yang mengembara di Las Vegas — figur yang penuh amarah dan penyangkalan. "Dawn FM" adalah kelanjutannya, tapi dengan suasana yang lebih pasrah. Banyak yang membaca kedua album ini sebagai bagian dari satu trilogi besar, dengan "Gasoline" sebagai salah satu titik paling jujurnya. Abel sendiri dilaporkan menggambarkan album ini sebagai proses menerima kematian dan berjalan menuju cahaya, bukan melarikan diri darinya.
Secara musikal, keputusan menggunakan register rendah ala new wave juga bukan sekadar gimmick. Musik 80-an yang gelap — Depeche Mode, New Order, Billy Idol, Soft Cell — punya tradisi menyanyikan hal-hal mengerikan di atas beat yang bisa didansakan. The Weeknd meneruskan tradisi itu dan memodernkannya. Ia paham bahwa lagu tentang kematian akan lebih menempel kalau tubuh Anda ikut bergerak saat mendengarnya.
Video musiknya memperkuat semua ini. Alih-alih tampil sebagai bintang pop yang glamor, Abel muncul dengan riasan prostetik sebagai pria tua yang sama seperti di sampul album, bergerak di antara sosok-sosok yang menari dalam suasana surreal dan sedikit menyeramkan. Ia mempertaruhkan citranya sebagai simbol seks pop global demi sebuah gagasan. Itu keputusan artistik yang berani untuk musisi sebesar dia.
Secara komersial, "Dawn FM" tetap sukses besar dan memuncaki tangga lagu di banyak negara, meski karakternya jauh lebih eksperimental daripada "After Hours". "Gasoline" sendiri tidak pernah menjadi hit radio sebesar "Blinding Lights", tapi justru menjadi favorit di kalangan penggemar berat — lagu yang selalu disebut ketika orang berdebat soal mana karya terbaik The Weeknd. Album ini juga sempat dihadirkan dalam bentuk pengalaman audiovisual khusus, memperkuat kesan bahwa ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan satu karya utuh.
Kenapa lagu ini masih menghantui sampai hari ini
Ada alasan kenapa "Gasoline" tidak menua. Yang pertama adalah kejujurannya soal hubungan yang timpang. Banyak orang pernah berada di salah satu dari dua posisi dalam lagu ini: menjadi orang yang hancur, atau menjadi orang yang bertugas menjaga orang yang hancur. Lagu ini tidak menghakimi keduanya. Ia hanya menunjukkan betapa melelahkannya situasi itu bagi semua pihak.
Yang kedua adalah relevansi temanya dengan cara kita hidup sekarang. Kita berada di era ketika kelelahan, insomnia, dan kebiasaan menumpulkan perasaan lewat berbagai cara — entah zat, layar, atau kerja berlebihan — menjadi hal yang sangat lumrah. Jam lima pagi dalam lagu ini bukan cuma milik bintang pop di Los Angeles. Itu juga jam yang dikenal oleh siapa pun yang pernah begadang sampai kepala berat lalu mendengar suara adzan subuh dari kejauhan, sambil bertanya-tanya kapan hidupnya berubah menjadi seperti ini.
Yang ketiga adalah kualitas produksinya. Synth-nya dingin dan presisi, bass-nya bergerak seperti mobil yang melaju pelan di terowongan, dan susunan vokalnya membuat lagu ini terasa sinematik. Anda bisa memutarnya saat berkendara malam, saat menulis, atau saat sedang merasa terlalu banyak berpikir. Ia berfungsi sebagai musik latar sekaligus sebagai cerita yang bisa Anda selami dalam-dalam.
Dan mungkin yang paling penting: "Gasoline" mengingatkan bahwa musik pop tidak harus selalu menghibur untuk menjadi indah. The Weeknd mengambil topik paling tabu — keinginan untuk berhenti, rasa bersalah karena menjadi beban, dan kematian yang dibicarakan tanpa drama — lalu membungkusnya dalam kemasan yang begitu memikat sampai jutaan orang menyanyikannya tanpa sadar sedang menyanyikan sesuatu yang sangat gelap. Itu bukan manipulasi. Itu keahlian.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Selami suaranya
Suara "Gasoline" adalah percampuran antara synth 80-an yang dingin dan produksi pop modern yang sangat presisi. Mendengarkannya lewat perangkat yang tepat akan mengungkap detail-detail yang hilang di speaker ponsel.
- The Weeknd Dawn FM album — "Gasoline" dirancang sebagai bagian dari satu siaran radio utuh, jadi mendengarkan albumnya dari awal hingga akhir memberi konteks yang benar-benar mengubah cara Anda memahami lagu ini.
- The Weeknd vinyl record — Nuansa retro album ini terasa makin pas lewat piringan hitam, karena kehangatan analognya cocok dengan estetika era 80-an yang menjadi rujukan utamanya.
- 80s new wave synth pop compilation — Suara berat di bait pembuka lagu ini berutang banyak pada new wave era Billy Idol dan Depeche Mode, dan kompilasi semacam ini akan menunjukkan dari mana semua itu berasal.
📚 Ikuti kisahnya
Perjalanan Abel Tesfaye dari pengunggah lagu anonim di YouTube menjadi salah satu artis terbesar dunia adalah cerita yang layak dibaca, terutama karena lukanya selalu terlihat di setiap karyanya.
- The Weeknd biography book — Biografi yang menelusuri masa kecilnya di Scarborough, Toronto, sampai puncak karier globalnya membantu menjelaskan kenapa tema kehancuran diri terus muncul di musiknya.
- addiction and recovery memoir — Kisah nyata orang-orang yang pernah berada di titik terendah memberi bobot manusiawi pada permintaan gelap yang disampaikan dalam lagu ini.
- Jim Carrey memoir book — Sosok yang menjadi penyiar di album "Dawn FM" ini punya perjalanan hidup yang mengejutkan, dan membacanya membuat pilihan casting-nya terasa jauh lebih masuk akal.
🌍 Kunjungi tempatnya
Dunia lagu ini terikat pada dua hal: kota asal The Weeknd yang dingin, dan lanskap malam Amerika yang dipenuhi jalan tol serta lampu buatan.
- Toronto Canada travel guide — Kota tempat Abel tumbuh besar sebagai anak imigran Ethiopia inilah yang membentuk nada dingin dan urban yang selalu terdengar dalam musiknya.
- Los Angeles at night photography book — Jam lima pagi yang digambarkan dalam lagu ini adalah jam khas kota besar Amerika, dan buku foto malam hari menangkap kesepian yang menjadi latarnya.
- road trip highway travel guide USA — Album "Dawn FM" dibangun di sekitar gambaran terjebak di terowongan menuju cahaya, dan perjalanan darat lintas Amerika adalah cara paling nyata merasakan metafora itu.
🎸 Rasakan sendiri
Kalau Anda ingin lebih dari sekadar mendengarkan, ada beberapa cara untuk membawa dunia "Gasoline" ke dalam ruang Anda sendiri.
- analog synthesizer for beginners — Karakter dingin lagu ini lahir dari synthesizer, dan mencoba memainkan sendiri satu bass line sederhana akan membuat Anda paham kenapa suaranya terasa begitu menekan.
- studio microphone home recording — Trik utama lagu ini ada pada perpindahan register vokal, dan merekam suara Anda sendiri di rumah adalah cara paling seru untuk menghargai betapa sulitnya melakukan itu.
- retro 80s leather jacket sunglasses — Estetika visual era "Dawn FM" sangat kental dengan gaya retro yang elegan dan sedikit misterius, dan mengadopsinya adalah cara menyenangkan untuk masuk ke dunianya.
-
Kenapa suara The Weeknd di awal "Gasoline" terdengar sangat berbeda dari biasanya?
Abel sengaja menurunkan register vokalnya jauh ke bawah sehingga terdengar berat dan datar, sangat berbeda dari falsetto yang menjadi ciri khasnya. Banyak pendengar mendengar gema new wave dan post-punk era 80-an di sana, khususnya nuansa ala Billy Idol atau Depeche Mode. Perpindahan mendadak ke falsetto di bagian reff membuat lagu ini terasa seperti dinyanyikan oleh dua sisi dari orang yang sama: satu yang berpura-pura tidak peduli, satu lagi yang sebenarnya panik. -
Apa sebenarnya konsep album "Dawn FM" dan bagaimana "Gasoline" masuk ke dalamnya?
"Dawn FM" disusun seperti siaran stasiun radio fiktif bernama 103.5 Dawn FM, dengan Jim Carrey berperan sebagai penyiarnya, dan pendengar dibayangkan sedang terjebak di terowongan gelap menuju cahaya — sebuah gambaran purgatorium antara hidup dan mati. "Gasoline" adalah lagu penuh pertama dalam album itu dan langsung menetapkan nadanya yang gelap dan pasrah. Dalam kerangka cerita album, lagu ini adalah momen ketika tokohnya masih menolak berjalan menuju cahaya tersebut. -
Apakah "Gasoline" masih terhubung dengan album "After Hours"?
Banyak yang membaca "After Hours" (2020) dan "Dawn FM" (2022) sebagai bagian dari satu rangkaian cerita yang sama, dengan karakter yang terus berkembang. Kalau "After Hours" penuh amarah, penyangkalan, dan pelarian lewat gemerlap kota, "Dawn FM" terasa jauh lebih tenang dan pasrah, seperti orang yang sudah melihat akhir ceritanya. "Gasoline" berdiri di titik peralihan itu, ketika sang tokoh mulai bicara soal kematiannya sendiri dengan nada yang hampir sehari-hari.