SONGFABLE · 2011

House of Balloons / Glass Table Girls

THE WEEKND · 2011 · PARKDALE, TORONTO, CANADA

TL;DR: Lagu ini bukan undangan ke pesta, melainkan surat pengakuan dari dalam pesta yang tidak pernah berhenti. The Weeknd memakai sampel lagu post-punk tentang kebahagiaan palsu untuk menceritakan sebuah apartemen di Toronto tempat semua orang tertawa keras justru karena tidak ada yang berani pulang ke dirinya sendiri.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Rumah yang namanya manis, isinya tidak

Ada tipu daya kecil yang bekerja sempurna di lagu ini: judulnya terdengar seperti tempat ulang tahun anak-anak. Balon. Rumah. Kata-kata yang seharusnya hangat. Tapi begitu bagian kedua masuk dan berubah menjadi "Glass Table Girls", kita sadar balon itu bukan dekorasi pesta ulang tahun, dan meja kacanya bukan tempat menaruh kue.

Yang membuat lagu ini istimewa bukan sekadar temanya yang gelap. Musik pop penuh lagu tentang malam yang kebablasan. Yang jarang adalah sudut pandangnya. The Weeknd tidak menyanyikan pesta itu dari luar sebagai peringatan moral, dan tidak juga merayakannya sebagai gaya hidup keren. Ia bernyanyi dari dalam, dengan suara falsetto yang indah menyakitkan, seperti tuan rumah yang tahu persis apa yang ia tawarkan kepada tamunya, tahu bahwa itu merusak, dan tetap membuka pintu. Kesadaran itulah racun sesungguhnya dalam lagu ini.

Dan trik paling brilian ada di lapisan paling dasar. Bagian pertama lagu ini dibangun di atas sampel "Happy House" milik Siouxsie and the Banshees, sebuah lagu post-punk Inggris tahun 1980 yang justru bercerita tentang keluarga yang berpura-pura bahagia di balik pintu tertutup. Abel Tesfaye mengambil lagu tentang kebohongan rumah tangga, lalu memindahkannya ke apartemen anak-anak muda di Toronto. Kebohongannya sama. Hanya alamatnya yang berubah.

Anak Scarborough yang tidak mau memperlihatkan wajahnya

Abel Tesfaye lahir tahun 1990 di Toronto, dari orang tua imigran asal Ethiopia. Ia besar di Scarborough, kawasan pinggiran Toronto yang sangat multikultural, dan kabarnya sempat lebih dulu fasih berbahasa Amhara sebelum bahasa Inggris karena diasuh neneknya. Ia berhenti sekolah pada usia sekitar tujuh belas tahun, pergi dari rumah bersama sahabatnya La Mar Taylor, dan tinggal berpindah-pindah di apartemen sewaan murah di kawasan Parkdale, Toronto. Salah satu apartemen itulah yang kemudian dijuluki "house of balloons" oleh lingkaran pertemanan mereka, tempat pesta digelar terus-menerus dengan uang yang nyaris tidak ada.

Cara ia muncul ke dunia sama anehnya dengan musiknya. Akhir tahun 2010, beberapa lagu diunggah ke YouTube lewat akun tanpa identitas yang jelas, tanpa foto, tanpa wajah, tanpa wawancara. Nama "The Weeknd" saja tidak jelas milik satu orang atau satu kelompok. Yang beredar hanya suara. Drake, yang saat itu sudah menjadi bintang besar dan sesama orang Toronto, ikut menyebarkannya lewat blog October's Very Own, dan mesin rasa penasaran pun berputar.

Pada 21 Maret 2011, mixtape House of Balloons dirilis. Gratis. Diunduh siapa saja. Sembilan lagu, diproduseri terutama oleh Illangelo dan Doc McKinney, dengan estetika suara yang terasa seperti klub yang lampunya baru saja dinyalakan pukul empat pagi. Lagu penutup mixtape inilah, "House of Balloons / Glass Table Girls", yang menjadi jantung sekaligus tesis dari seluruh proyek itu.

Buat pendengar Indonesia, ada satu hal yang membuat cerita ini terasa dekat. Tahun 2011 adalah era ketika musik luar negeri sampai ke telinga kita bukan lewat playlist algoritmik, melainkan lewat blog, forum, dan tautan unduhan yang dibagikan dari teman ke teman. Mixtape gratis adalah format yang sangat cocok dengan cara Indonesia menemukan musik saat itu. Banyak pendengar di sini mengenal The Weeknd bukan lewat radio atau televisi, tapi lewat file yang muncul di laptop kos-kosan, tanpa sampul resmi, tanpa penjelasan siapa penyanyinya. Ironisnya, misteri itu justru bagian dari daya tariknya. Dan satu dekade kemudian, ketika "Blinding Lights" memenuhi setiap kafe di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, banyak pendengar baru menelusuri balik katalognya dan terkejut menemukan bahwa sang bintang stadion pernah menjadi hantu tanpa wajah dengan lagu-lagu segelap ini.

Dua lagu, dua wajah dari malam yang sama

Secara struktur, ini sebenarnya dua komposisi yang dijahit menjadi satu, dan jahitannya sengaja dibiarkan terlihat.

Bagian pertama, "House of Balloons", berjalan di atas gitar sampel yang berputar riang. Nada dasarnya justru terdengar cerah, hampir seperti lagu pesta sungguhan. Di atasnya, Abel bernyanyi dengan nada seorang tuan rumah yang menenangkan tamunya. Isinya kira-kira begini: ia meyakinkan seseorang, kemungkinan besar perempuan muda yang datang malam itu, bahwa di dalam ruangan ini semua orang sedang bersenang-senang, bahwa tidak ada yang perlu dipikirkan, bahwa air mata boleh ditinggalkan di luar pintu. Nada bicaranya lembut dan meyakinkan. Justru itu yang bikin merinding, karena kita tahu ia sedang menawarkan pelarian, bukan penyembuhan.

Kalimat kunci lagu ini, tanpa perlu dikutip, kira-kira menyampaikan gagasan bahwa rumah ini adalah rumah bahagia, dan bahwa semua orang di dalamnya sedang berpura-pura. Kedua hal itu diucapkan hampir bersamaan. Kebahagiaan dan kepura-puraan tidak dipisahkan sebagai kebenaran versus kebohongan, tapi dijadikan satu paket. Di sinilah sampel Siouxsie bekerja secara konseptual, bukan sekadar sebagai bahan enak untuk didengar.

Lalu musiknya runtuh. Beat berhenti, ada jeda, dan bagian kedua masuk seperti pintu ruangan lain yang terbuka. "Glass Table Girls" jauh lebih dingin, lebih lambat, lebih pekat, dengan bass yang terasa seperti tekanan di dada. Judulnya merujuk pada meja kaca, perabot ruang tamu yang di konteks lagu ini punya fungsi lain yang mudah ditebak: permukaan tempat kokain dibariskan. Vokalnya berubah. Kelembutan tuan rumah menghilang, digantikan nada datar seseorang yang sudah terlalu sering mengulang malam yang sama.

Isi bagian kedua adalah katalog kejenuhan: obat-obatan yang disebut nyaris seperti daftar belanja, tubuh-tubuh yang datang dan pergi, uang yang habis untuk hal-hal yang tidak menyisakan apa pun. Yang menonjol adalah nada suaranya yang sama sekali tidak bangga. Tidak ada perayaan di sana. Ada semacam pengakuan bahwa dirinya sudah menjadi bagian dari mesin itu, dan bahwa perempuan-perempuan yang ia sebut juga sedang lari dari sesuatu yang tidak pernah dijelaskan. Semua orang di ruangan itu adalah korban sekaligus penyelenggara.

Kalau bagian pertama adalah undangan, bagian kedua adalah tagihan. Dan Abel menempatkannya berurutan supaya tidak ada pendengar yang bisa menikmati yang satu tanpa menelan yang lain.

Kenapa 2011 berubah setelah mixtape ini

Untuk memahami dampaknya, ingat seperti apa R&B arus utama terdengar pada awal 2010-an. Sebagian besar didorong ke arah klub, tempo tinggi, produksi mengilap ala EDM, dengan lirik tentang keberhasilan dan pesta yang menyenangkan. House of Balloons datang dari arah berlawanan sepenuhnya: tempo lambat, ruang kosong yang banyak, gema panjang, sampel dari band indie dan post-punk kulit putih, dan lirik yang membicarakan kesenangan sebagai gejala, bukan tujuan.

Para kritikus menyambutnya cepat. Mixtape ini mendapat pujian luas dan sering disebut sebagai salah satu rilisan paling berpengaruh dekade itu. Media mulai memakai istilah seperti alternative R&B, atau label yang lebih canggung, PBR&B, untuk menamai gelombang yang kemudian mencakup Frank Ocean, Jhené Aiko, dan banyak nama lain. Pengaruhnya bahkan terasa langsung di album Take Care milik Drake pada akhir 2011, yang mengadopsi nuansa dingin serupa dan melibatkan The Weeknd di dalamnya.

Ada juga sisi praktis yang ikut membentuk sejarah. Karena dirilis gratis, sampel-sampel di dalamnya awalnya tidak melewati proses lisensi normal. Selain Siouxsie and the Banshees, mixtape ini juga memakai materi dari Beach House dan Aaliyah. Dikabarkan tidak semua pihak yang di-sample merasa senang dengan penggunaan karyanya. Ketika The Weeknd menandatangani kontrak dengan label besar dan merilis kompilasi Trilogy pada 2012, sejumlah sampel harus diurus ulang, dan beberapa versi lagu terdengar sedikit berbeda dari versi mixtape aslinya. Bagi penggemar lama, versi 2011 tetap dianggap versi yang benar, dengan segala ketidaksempurnaannya.

Nama apartemen itu sendiri akhirnya menjadi mitologi. Alamat di kawasan Parkdale, Toronto, yang tadinya hanya tempat sewa murah anak-anak muda tanpa rencana, berubah menjadi titik ziarah kecil bagi penggemar. Toronto, yang selama bertahun-tahun berada di bayang-bayang New York dan Los Angeles dalam peta musik Amerika Utara, mendadak punya dua suara yang mendefinisikan dekade: Drake yang bicara soal ambisi dan gengsi, dan The Weeknd yang bicara soal ongkos yang dibayar setelahnya.

Kenapa masih terasa relevan hari ini

Lima belas tahun kemudian, lagu ini justru terdengar makin akurat, dan alasannya agak tidak nyaman.

Pertama, soal kebahagiaan yang dipertunjukkan. Inti "House of Balloons" adalah ruangan penuh orang yang sepakat berpura-pura senang. Kalau di tahun 2011 itu adalah gambaran apartemen tertentu, hari ini itu adalah deskripsi cukup akurat tentang linimasa media sosial kita. Semua orang mengunggah versi paling cerah dari malamnya. Nyaris tidak ada yang mengunggah pukul empat pagi setelah semua tamu pulang. Lagu ini pada dasarnya adalah rekaman dari jam empat pagi itu.

Kedua, soal cara kita mengonsumsi pelarian. Bagian "Glass Table Girls" menggambarkan pola yang sangat modern: mengulang stimulus yang sama berkali-kali sambil merasakan efeknya makin menipis. Tidak harus soal obat-obatan. Pola yang sama berlaku untuk scrolling tanpa henti, belanja impulsif, atau hubungan yang dijaga bukan karena sayang tapi karena takut sepi. Abel menuliskannya sebelum kata "doomscrolling" ada di kamus siapa pun.

Ketiga, soal kejujuran yang tidak meminta maaf. Lagu ini tidak berakhir dengan pertobatan. Tidak ada bait penutup tentang bangkit dan berubah. Itu terasa jujur karena hidup memang jarang menyediakan penutup rapi seperti itu. Bagi pendengar muda yang lelah dengan konten motivasional, kejujuran tanpa solusi kadang lebih menenangkan daripada nasihat.

Dan terakhir, ada nilai historis yang tidak bisa dilepaskan. Ini adalah rekaman seorang anak umur dua puluh tahun, tanpa label, tanpa wajah, tanpa jaminan apa pun, yang mengunggah kegelapannya ke internet dan berharap ada yang mendengarkan. Lelaki yang sama kemudian tampil di panggung Super Bowl. Jarak antara dua titik itu adalah salah satu cerita paling luar biasa dalam musik populer abad ini, dan "House of Balloons / Glass Table Girls" adalah tempat cerita itu dimulai.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Merasakannya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s