Wicked Games
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu paling seksi yang sebenarnya adalah teriakan minta tolong
Coba dengarkan "Wicked Games" tanpa memperhatikan liriknya. Yang kamu dapat adalah petikan gitar bernuansa Spanyol yang berputar-putar, ruang gema yang sangat luas, drum yang malas dan berat, dan sebuah suara falsetto yang begitu halus sampai terasa seperti dibisikkan tepat di telingamu. Semua elemennya berteriak "lagu untuk jam dua pagi". Tidak heran lagu ini jadi salah satu lagu yang paling sering dipakai orang untuk menciptakan suasana romantis selama lebih dari satu dekade.
Sekarang dengarkan lagi sambil memperhatikan apa yang sebenarnya ia minta. Narator lagu ini tidak sedang merayu seseorang yang ia cintai. Ia sedang meminta seorang perempuan — yang jelas-jelas bukan kekasihnya, dan kemungkinan besar dibayar — untuk berpura-pura mencintainya. Ia minta dibohongi dengan sadar. Ia tahu itu palsu, ia tahu pagi harinya semuanya akan hilang, dan ia tetap memilihnya karena alternatifnya adalah berhadapan sendirian dengan kehampaan di kepalanya.
Itulah trik besar "Wicked Games": ia membungkus keputusasaan dengan produksi yang terdengar mewah. Banyak orang memutarnya bertahun-tahun sebagai lagu bercinta tanpa sadar bahwa mereka sedang mendengarkan seseorang yang sedang menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan, dengan sopan, sambil tersenyum.
Anak Scarborough yang menolak menunjukkan wajahnya
Pada akhir 2010, ada tiga lagu muncul di YouTube dari akun tanpa identitas dengan nama "The Weeknd". Tidak ada foto. Tidak ada wawancara. Tidak ada nama asli. Yang ada cuma suara falsetto yang terdengar seperti campuran Michael Jackson dan sesuatu yang jauh lebih gelap, ditempel di atas produksi yang lebih dekat ke musik indie ketimbang ke R&B radio.
Sosok di baliknya adalah Abel Tesfaye, lahir 1990 di Scarborough, wilayah timur Toronto, dari keluarga imigran Ethiopia. Ia dibesarkan terutama oleh ibunya dan neneknya, sempat berbicara bahasa Amharik di rumah, dan tumbuh di lingkungan multikultural khas pinggiran Toronto. Ceritanya yang paling sering diulang: ia berhenti sekolah dan pergi dari rumah pada usia sekitar 17 tahun bersama sahabatnya La Mar Taylor, konon dengan pamit "pergi akhir pekan" dan tidak pernah kembali. Dari situ nama panggungnya lahir — huruf "e" terakhir dilepas karena nama "The Weekend" sudah dipakai band lain.
Tahun-tahun berikutnya adalah masa yang ia gambarkan dalam banyak wawancara sebagai periode apartemen-apartemen sempit, kerja serabutan, obat-obatan, dan malam yang tidak berujung. Materi itulah yang kemudian jadi bahan mentah House of Balloons, mixtape gratis yang ia rilis pada Maret 2011 — sembilan lagu yang direkam bersama produser Doc McKinney dan Illangelo, dinamai dari sebuah apartemen di kawasan Parkdale, Toronto, yang jadi markas mereka.
Yang mempercepat semuanya adalah Drake. Sesama orang Toronto itu mulai menyebarkan lagu-lagu The Weeknd lewat blog miliknya, dan dalam hitungan bulan sebuah proyek gratis tanpa wajah berubah jadi salah satu rilisan paling dibicarakan tahun itu. "Wicked Games" adalah lagu yang paling menonjol dari kumpulan itu, dan ketika materi tersebut dikemas ulang jadi kompilasi Trilogy pada 2012 di bawah Republic Records, lagu inilah yang dijadikan single resmi pertamanya dan akhirnya masuk radio Amerika.
Buat pendengar Indonesia, ada beberapa titik sambung yang membuat cerita ini terasa dekat. Pertama, The Weeknd bukan nama asing di sini — ia sempat tampil sebagai salah satu bintang utama We The Fest di Jakarta pada 2018, dan generasi pendengar Indonesia yang tumbuh dengan Spotify praktis besar bersama suaranya. Kedua, dan ini yang lebih menarik: gelombang R&B gelap yang ia mulai punya keturunan langsung di skena musik lokal. Nuansa "sadboy" berbalut produksi lembut yang belakangan jadi ciri banyak musisi Indonesia — dari Pamungkas sampai gelombang penyanyi R&B alternatif yang bermunculan di kota-kota besar — mengalir dari sungai yang sama. Ketiga, tema anak imigran yang tumbuh di antara dua budaya, yang tidak sepenuhnya milik negeri orang tuanya maupun negeri tempatnya lahir, adalah cerita yang akrab bagi siapa pun yang pernah merantau, entah ke Jakarta dari daerah atau ke luar negeri dari Indonesia.
Yang sebenarnya ia minta: kebohongan yang meyakinkan
Inti "Wicked Games" bisa diringkas dalam satu adegan. Seorang laki-laki memanggil seorang perempuan datang ke tempatnya di tengah malam. Ia tidak berpura-pura bahwa ini hubungan. Ia justru sangat jujur soal betapa tidak jujurnya seluruh situasi ini.
Yang ia minta bukan cinta, tapi pertunjukan cinta. Ia meminta perempuan itu memperlakukannya seolah-olah ia berarti, mengatakan hal-hal yang biasa dikatakan orang yang benar-benar peduli, dan tidak memutus ilusi itu sampai matahari terbit. Sebagai gantinya, ia menawarkan apa yang ia punya: kemampuan membuat mereka berdua mati rasa, lewat zat dan lewat tubuh. Itu semacam transaksi yang dinyatakan terang-terangan — kamu bawa keintiman palsunya, aku bawa obat biusnya.
Yang membuat lagu ini menusuk adalah kesadaran dirinya. Ini bukan narator yang tertipu. Ia tahu persis bahwa perempuan itu tidak mencintainya, tahu bahwa ia sedang membeli sesuatu yang seharusnya tidak bisa dibeli, dan tahu bahwa besok kehampaannya akan kembali persis seperti semula, mungkin lebih besar. Ia tetap memilihnya. Dalam kerangka psikologis, ini gambaran yang sangat presisi tentang bagaimana kecanduan bekerja: bukan karena orangnya bodoh, tapi karena rasa sakit yang dihindari terasa lebih nyata daripada konsekuensi yang menunggu.
Ada juga lapisan yang lebih pedih di baliknya. Berulang kali dalam lagu ini terasa bahwa yang sebenarnya ia rindukan bukan seks, melainkan diperlakukan dengan lembut oleh siapa pun. Ia sedang meminta perhatian dalam bentuk yang paling bisa ia akses, karena bentuk yang sesungguhnya sudah terlalu jauh dari jangkauannya. Itu sebabnya lagu ini terasa jauh lebih menyedihkan daripada terdengar.
Musiknya menopang semua itu dengan cerdas. Loop gitar yang berulang — yang menurut beberapa catatan diambil dari materi rekaman berlisensi bernuansa flamenco — memberi kesan panas dan sensual, tapi karena ia berputar terus tanpa berkembang, efeknya lama-lama berubah jadi seperti lingkaran yang tidak bisa ditinggalkan. Gema yang berlebihan membuat suara Tesfaye terdengar seperti dinyanyikan di ruangan besar yang kosong. Dan di bagian akhir, ketika vokalnya naik dan mulai terdengar retak, keseluruhan pose "laki-laki dingin yang menguasai situasi" itu runtuh. Yang tersisa cuma orang yang sangat kesepian.
Bunyi yang mengubah arah R&B satu dekade penuh
Sulit membayangkan sekarang, tapi pada 2011 R&B arus utama Amerika sedang berada di fase yang sangat berbeda: cerah, penuh sintesizer dance, dan dibuat untuk klub. House of Balloons datang dari arah berlawanan. Ia lambat, gelap, penuh ruang kosong, dan meminjam tekstur dari musik indie serta dream pop — mixtape itu terkenal karena memakai potongan dari Beach House dan Siouxsie and the Banshees, kombinasi yang saat itu terasa nyaris mustahil di album R&B.
Dari situ lahir istilah yang sempat sangat ramai dipakai kritikus: alternative R&B, atau dengan nama yang lebih kikuk, PBR&B. "Wicked Games" jadi semacam kartu nama genre tersebut. Dalam beberapa tahun setelahnya, estetika ini menyebar ke mana-mana — vokal yang direndam gema, tempo lambat, tema kecanduan dan hubungan yang rusak, artwork gelap, dan sikap yang menolak menjelaskan diri sendiri.
Lagu ini juga menandai satu hal yang sekarang terasa biasa tapi waktu itu revolusioner: seorang artis bisa membangun karier besar tanpa label, tanpa radio, dan tanpa menunjukkan wajahnya, hanya dari file gratis di internet. Model itu kemudian ditiru berkali-kali oleh generasi musisi berikutnya, termasuk banyak musisi Indonesia yang memulai dari SoundCloud dan YouTube ketimbang dari perusahaan rekaman.
Secara komersial, "Wicked Games" bukan hit nomor satu — posisinya di tangga lagu Amerika waktu itu tergolong sedang. Tapi umurnya jauh melebihi banyak lagu yang mengalahkannya. Ia terus dijual, terus diputar, dan mengumpulkan sertifikasi platinum berlapis di Amerika Serikat selama bertahun-tahun setelah rilis. Untuk sebagian besar pendengar, inilah lagu yang menjadi pintu masuk ke seluruh dunia The Weeknd sebelum ia berubah jadi bintang stadion dengan "Blinding Lights".
Yang menarik, semakin besar bintangnya, semakin jelas bahwa "Wicked Games" adalah fondasinya. Album-album besarnya yang penuh sintesizer 80-an tetap membawa DNA yang sama: karakter yang mencari penyembuhan di tempat-tempat yang justru memperparah lukanya.
Kenapa lagu ini masih terasa relevan sekarang
Karena pertukaran yang ia gambarkan justru makin umum, bukan makin langka.
Kita hidup di zaman di mana keintiman bisa dipesan dalam berbagai bentuk — lewat aplikasi kencan, lewat pertemanan berbayar, lewat perhatian dari layar yang menyala sampai subuh. Banyak orang sekarang punya versi mereka sendiri dari apa yang diminta narator lagu ini: sesuatu yang terasa seperti dipedulikan, meski semua pihak tahu bahwa itu tidak sungguh-sungguh. "Wicked Games" adalah lagu tentang kesediaan seseorang membayar untuk ilusi, dan itu adalah salah satu ekonomi terbesar di zaman kita.
Ia juga masih relevan karena kejujurannya soal kecanduan. Lagu ini tidak menghakimi, tidak berkhotbah, dan tidak menawarkan pelajaran moral di bait terakhir. Ia hanya memperlihatkan seseorang di dalam lingkarannya, sadar penuh, dan tetap tidak bisa keluar. Untuk siapa pun yang pernah punya kebiasaan yang tahu-tahu jadi lebih besar dari dirinya, tidak ada yang perlu dijelaskan lebih lanjut.
Dan yang terakhir: lagu ini masih relevan karena bunyinya belum menua sama sekali. Petikan gitar itu, gema itu, ruang kosong itu — semuanya masih terdengar modern lima belas tahun kemudian. Bagi pendengar Indonesia yang menemukan The Weeknd lewat hit-hit besarnya, memutar "Wicked Games" seperti membuka album foto lama dan menemukan bahwa orang yang kamu kenal sebagai bintang paling gemerlap dunia pernah menjadi anak muda yang duduk di apartemen sempit di Toronto, memohon pada seseorang untuk berpura-pura mencintainya sampai pagi.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Larut dalam suaranya
- Trilogy — The Weeknd — Kompilasi tiga mixtape awalnya, termasuk House of Balloons yang memuat "Wicked Games". Dengarkan berurutan, bukan diacak: tiga jam musik ini dirancang sebagai satu turunan panjang ke titik terendah, dan lagu ini terasa jauh berbeda ketika kamu sampai di sana secara berurutan.
- After Hours — The Weeknd — Album 2020 yang mengubahnya jadi bintang global lewat "Blinding Lights". Memutarnya setelah Trilogy membuat jelas bahwa karakter yang sama masih ada di sana, cuma sekarang berjas merah dan berlari di jalanan Las Vegas.
- Headphone tertutup untuk menikmati ruang gema — Seluruh identitas lagu ini ada di ruang kosong antar-instrumen. Di speaker HP, gema itu hilang dan lagunya jadi biasa saja; dengan headphone yang layak, kamu akan merasa berada di ruangan yang sama dengan penyanyinya.
📚 Ikuti ceritanya
- Buku dan biografi tentang The Weeknd — Beberapa penulis sudah mencoba memetakan perjalanan dari akun YouTube anonim sampai panggung Super Bowl. Berguna untuk memahami betapa nekatnya keputusan merilis musik tanpa wajah dan tanpa label pada 2011.
- Buku tentang sejarah dan evolusi R&B modern — "Wicked Games" hanya masuk akal kalau kamu tahu R&B seperti apa yang ia lawan. Buku semacam ini menempatkan lagu itu di garis panjang dari soul, quiet storm, sampai gelombang alternatif 2010-an.
- Literatur tentang kecanduan dan mekanismenya — Lagu ini pada dasarnya adalah potret klinis tentang orang yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan pada dirinya. Membaca soal mekanisme kecanduan membuat baris demi barisnya terdengar makin dingin.
🌍 Kunjungi tempatnya
- Panduan perjalanan Toronto dan Kanada — Kota tempat semua ini lahir, termasuk kawasan Parkdale yang memberi nama pada House of Balloons. Toronto dalam musik The Weeknd bukan skyline turistik, melainkan kota malam yang dingin dan panjang.
- Buku tentang Scarborough dan komunitas diaspora Toronto — Wilayah tempat Abel Tesfaye tumbuh adalah salah satu kawasan paling multikultural di dunia. Memahami lingkungan itu menjelaskan kenapa musiknya terasa seperti campuran banyak dunia sekaligus.
- Buku masakan dan budaya Ethiopia — Akar keluarganya berasal dari sana, dan ia pernah menyanyi dalam bahasa Amharik di salah satu lagunya. Cara paling menyenangkan untuk menyentuh sisi itu adalah lewat meja makan, bukan lewat Wikipedia.
🎸 Rasakan sendiri
- Gitar akustik atau klasik untuk pemula — Loop bernuansa flamenco di lagu ini secara teknis sederhana, tapi seluruh efeknya bergantung pada rasa dan pengulangan. Latihan yang bagus untuk belajar bahwa sedikit not yang tepat mengalahkan banyak not yang ramai.
- Pedal atau prosesor efek reverb dan delay — Produksi Illangelo dan Doc McKinney sangat bergantung pada ruang buatan. Bermain-main dengan reverb sendiri membuatmu paham bahwa "suasana" dalam musik itu bisa direkayasa, bukan cuma dirasakan.
- Mikrofon dan audio interface untuk rekaman rumahan — Musik yang mengubah arah R&B satu dekade ini konon lahir dari peralatan yang jauh dari mewah, di apartemen biasa. Kamar yang sunyi dan perangkat sederhana sudah cukup untuk mulai.
-
Kenapa "Wicked Games" sering dianggap lagu romantis padahal isinya sangat gelap?
Karena semua sinyal permukaannya memang sinyal romantis: falsetto yang lembut, gitar bernuansa Spanyol, tempo lambat, dan gema yang membuat semuanya terasa intim. Ketegangan antara bunyi yang memabukkan dan isi yang putus asa itulah kekuatan utama lagunya. Banyak pendengar memutarnya bertahun-tahun sebagai lagu suasana sebelum akhirnya benar-benar memperhatikan apa yang sedang diminta si narator. -
Apakah lagu ini berdasarkan pengalaman nyata Abel Tesfaye?
Ia tidak pernah menjelaskan lagu ini baris demi baris, tapi dalam banyak wawancara ia menggambarkan periode setelah keluar dari rumah pada usia sekitar 17 tahun sebagai masa penuh apartemen sempit, obat-obatan, dan malam tanpa arah — dan seluruh House of Balloons konon lahir dari periode itu. Sebagian besar pendengar membacanya sebagai campuran antara pengalaman pribadi dan karakter yang sengaja ia bangun. Yang jelas, kejujurannya soal rasa malu dan kecanduan terasa terlalu spesifik untuk sepenuhnya fiksi. -
Seberapa besar pengaruh lagu ini terhadap musik setelahnya?
Sangat besar untuk ukuran lagu yang bahkan tidak pernah masuk sepuluh besar tangga lagu. "Wicked Games" jadi salah satu titik awal gelombang R&B alternatif 2010-an: vokal berbalut gema, produksi gelap dan lambat, tema kecanduan dan hubungan yang rusak. Modelnya — merilis musik gratis secara anonim di internet lalu membangun basis pendengar tanpa label — juga ditiru berkali-kali oleh generasi musisi berikutnya, termasuk banyak nama di skena Indonesia yang memulai dari SoundCloud dan YouTube.