SONGFABLE · 2020

Levitating

DUA LIPA · 2020

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Levitating - Dua Lipa (2020)

Tóm tắt / Ringkasan: "Levitating" adalah lagu disco-pop yang dirilis di tengah pandemi 2020, ketika dunia justru paling membutuhkan ruang dansa. Lagu ini menandai kebangkitan estetika disko era 1970-an dalam bahasa pop modern, dan menjadi semacam manifesto bahwa kegembiraan—bahkan di saat dunia terkunci—adalah bentuk perlawanan yang sah. Bagi pendengar Indonesia, lagu ini menawarkan jendela menarik untuk membaca ulang sejarah disko lokal sendiri, dari era Pasar Senen hingga Java Jazz Festival.

Hook: Sebuah Disko di Tengah Karantina

Ada sesuatu yang aneh, hampir paradoks, tentang sebuah lagu yang mengundang orang untuk menari di lantai dansa, dirilis pada momen ketika hampir seluruh lantai dansa di planet ini ditutup oleh dekrit pemerintah. "Levitating" muncul ke permukaan pada awal 2020, ketika album Future Nostalgia dari Dua Lipa dirilis lebih awal dari jadwal karena bocor di internet. Album itu, dan lagu ini khususnya, kemudian menempati posisi yang ganjil dalam sejarah pop kontemporer: musik untuk pesta yang tidak bisa diadakan, soundtrack untuk dunia yang sedang menahan napas.

Yang membuat "Levitating" begitu menarik bukan sekadar bahwa ia adalah lagu disko yang bagus—ada banyak lagu disko yang bagus—melainkan bahwa ia berhasil menjadi semacam terapi kolektif. Di TikTok, di Spotify, di radio mobil yang melaju sendirian melalui jalan-jalan kosong, lagu ini menawarkan sesuatu yang hilang: ilusi bahwa tubuh masih bisa bergerak bersama tubuh lain, bahwa pesta masih mungkin, bahwa langit masih bisa dicapai. Judulnya sendiri—"melayang"—adalah janji metafisik kecil: gravitasi bisa dilawan, setidaknya untuk durasi tiga menit empat puluh tiga detik.

Background: Dari Kosovo ke London ke Stratosfer

Untuk memahami bagaimana lagu ini bisa terjadi, kita harus mundur sedikit. Dua Lipa lahir di London pada 1995, anak dari pengungsi Kosovo-Albania yang meninggalkan Yugoslavia di tengah pergolakan politik. Keluarganya kembali ke Pristina ketika ia berusia sebelas tahun, lalu ia kembali sendirian ke London di usia lima belas untuk mengejar karier musik—sebuah keputusan yang, ketika diceritakan ulang, terdengar hampir seperti sinopsis film coming-of-age yang terlalu rapi untuk menjadi kenyataan.

Album debutnya pada 2017 sukses komersial tetapi belum menemukan suara yang benar-benar khas. Yang berubah dengan Future Nostalgia adalah konsepnya: alih-alih mengejar tren pop kontemporer yang didominasi trap dan electropop dingin, Lipa dan tim produsernya—termasuk Stuart Price, yang dulu pernah memproduksi Madonna era Confessions on a Dance Floor—memutuskan untuk merangkul masa lalu secara terang-terangan. Mereka mendengarkan ulang Donna Summer, Olivia Newton-John, Blondie, INXS. Mereka mempelajari arsitektur disko: bass yang berjalan, hi-hat yang berdenyut konstan, string yang naik turun seperti elevator emosional.

"Levitating" sendiri ditulis bersama Clarence Coffee Jr., Sarah Hudson, dan Stephen Kozmeniuk. Produksinya dipimpin oleh Koz, dengan dasar bass synth yang melompat-lompat dan disko-pop yang seolah-olah baru saja dicabut dari kapsul waktu 1979. Ada referensi yang sengaja dipasang ke disko era Studio 54, ke funk Chic, ke groove Earth, Wind & Fire. Tetapi semuanya disaring melalui lensa produksi modern—kompresi yang lebih ketat, vokal yang lebih ke depan, hook yang lebih lengket.

Yang menarik dari perilisannya: ketika pandemi memaksa Lipa membatalkan tur, album ini justru terbang. Versi remix bersama DaBaby dirilis pada Oktober 2020 dan menjadi salah satu lagu dengan durasi terpanjang di tangga lagu Billboard Hot 100 tahun itu—77 minggu, sebuah angka yang hampir tidak masuk akal untuk lagu pop kontemporer. Lagu ini menjadi soundtrack tidak resmi tahun pandemi, justru karena ia menolak suasana pandemi.

Makna Sebenarnya: Astronomi sebagai Bahasa Cinta

Permukaan lagu ini adalah lirik cinta yang dipenuhi citra angkasa—galaksi, bintang, gravitasi, pesawat ruang angkasa. Tetapi membaca "Levitating" hanya sebagai lagu cinta sci-fi adalah membaca terlalu dangkal. Yang sebenarnya sedang dimainkan di sini adalah tradisi pop yang panjang: menggunakan kosmos sebagai metafora untuk pengalaman yang melampaui kata-kata sehari-hari.

David Bowie melakukannya dengan "Space Oddity" dan "Starman", tetapi dengan nuansa eksistensial dan kesepian. Elton John melakukannya dengan "Rocket Man" sebagai meditasi tentang keterasingan. Dua Lipa membalikkan tradisi ini: alih-alih luar angkasa sebagai metafora kesepian, ia menjadikannya metafora kebersamaan yang ekstatik. Cinta sebagai anti-gravitasi. Hubungan sebagai pesawat ruang angkasa privat. Pasangan sebagai tata surya kecil yang berputar di pinggir galaksi.

Ada juga dimensi yang lebih halus: lagu ini, secara tematis, adalah tentang penolakan terhadap berat. Berat dunia, berat tubuh, berat kewajiban. Dalam konteks 2020, ketika dunia terasa sangat berat secara harfiah—berita kematian setiap pagi, ekonomi yang runtuh, isolasi sosial—ide tentang "melayang" menjadi politis. Bukan politis dalam arti partisan, tetapi politis dalam arti yang lebih dalam: penolakan terhadap kondisi material yang menekan. Memilih gembira ketika gembira tidak dijamin.

Beberapa kritikus menunjukkan bahwa ini adalah jenis "escapism" yang naif. Tetapi argumen yang lebih kuat justru sebaliknya: di saat-saat krisis, eskapisme yang dirancang dengan baik adalah salah satu bentuk kesehatan mental kolektif. Disko, pada asal-usulnya di klub-klub New York tahun 1970-an, juga adalah eskapisme—tetapi eskapisme yang dirancang oleh dan untuk komunitas yang terpinggirkan: kulit hitam, latino, queer. Disko selalu tentang membangun ruang melayang di tengah dunia yang menekan ke bawah.

"Levitating" mewarisi DNA itu, meskipun mungkin tanpa beban historisnya. Ia adalah disko yang sudah dijinakkan untuk konsumsi massal, tetapi DNA-nya masih ada di sana—dalam bassline yang menolak diam, dalam hi-hat yang menolak melambat, dalam vokal yang menolak menjadi serius.

Konteks Kultural untuk Pembaca Indonesia

Bagi pendengar Indonesia, "Levitating" tiba ke dalam ekosistem musik yang punya hubungan kompleks sendiri dengan dansa, dengan pop, dengan ide tentang kegembiraan kolektif. Untuk memahami resonansinya, ada baiknya melihat lanskap lokal.

Indonesia memiliki tradisi musik populer yang sangat kuat, tetapi sering berorientasi pada balada dan rock daripada dansa pop. Iwan Fals, dengan suara gravelnya dan lirik-lirik tentang ketidakadilan sosial, mewakili satu kutub: musik sebagai komentar sosial. Slank mengambil rock dan menjadikannya bahasa untuk generasi yang gelisah. Dewa 19 membangun katedral rock progresif Indonesia, dengan lirik-lirik yang berkilau dengan filsafat dan teologi rakyat. Sheila on 7 dari Yogyakarta memberikan pop-rock yang lebih lembut, lebih melankolis, soundtrack untuk masa remaja jutaan orang Indonesia. God Bless, dengan Achmad Albar, adalah leluhur rock Indonesia, jembatan antara generasi Koes Plus dan rock modern.

Yang menarik adalah bahwa disko di Indonesia memiliki sejarahnya sendiri yang sering kurang dirayakan. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, klub-klub di Jakarta dan Surabaya menjadi ruang di mana kelas menengah perkotaan baru bisa bereksperimen dengan modernitas. Musik dangdut bahkan menyerap pengaruh disko—dengarkan beberapa rilisan Rhoma Irama atau Elvy Sukaesih dari era itu dan Anda akan menemukan bass disko bersembunyi di bawah kendang Melayu.

Java Jazz Festival, yang dimulai pada 2005, menjadi platform di mana selera urban Indonesia bertemu dengan musik global yang lebih luas. Dua Lipa belum tampil di sana, tetapi etos festival itu—merangkul groove, dansa, kosmopolitanisme—adalah etos yang sama yang membuat Future Nostalgia masuk akal di telinga Indonesia.

Lalu ada Pasar Tanah Abang, mungkin tampak jauh dari topik, tetapi sebenarnya tidak. Pasar ini adalah salah satu pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara, dan estetika visual yang dibawa Dua Lipa dalam era Future Nostalgia—jumpsuit metalik, glitter, warna-warna berani—adalah bahasa yang sangat akrab bagi industri fashion fast-fashion Indonesia. Ada hubungan tidak langsung tetapi nyata antara estetika disko global dan kios-kios di Tanah Abang yang menjual versi terjangkaunya kepada generasi muda Jakarta yang ingin terlihat melayang juga.

Yang juga relevan: TikTok. Indonesia adalah salah satu pasar TikTok terbesar di dunia, dan "Levitating" mengalami kebangkitan kedua melalui platform itu. Tarian-tarian pendek, tantangan, video-video remix—semuanya menjadi bagian dari bagaimana lagu ini hidup di Indonesia, sering kali terlepas dari konteks aslinya. Ini adalah disko yang sudah didekontekstualisasi, dipotong menjadi lima belas detik, lalu dirakit ulang menjadi bahasa baru.

Mengapa Resonansi Lagu Ini Tetap Bertahan

Beberapa tahun setelah perilisannya, "Levitating" terus berputar—di radio, di playlist, di iklan, di pernikahan. Mengapa lagu ini menolak menua?

Pertama, ada faktor formal. Konstruksi lagunya hampir matematis dalam efisiensinya: hook datang cepat, repetisi cukup sering untuk lengket tetapi tidak terlalu sering sampai membosankan, bridge memberi ruang napas sebelum chorus terakhir yang lebih besar. Ini adalah pop craftsmanship pada tingkat tertinggi, sesuatu yang sering diremehkan ketika orang berbicara tentang "musik serius".

Kedua, ada faktor temporal yang menjadikannya kapsul waktu. "Levitating" akan selalu mengingatkan generasi tertentu pada saat tertentu—2020, 2021, masa-masa di mana mereka menemukan cara untuk tetap menari di kamar tidur sendiri, di balkon, di Zoom party yang canggung. Lagu ini telah memperoleh patina emosional yang tidak bisa diciptakan dengan sengaja.

Ketiga, dan mungkin yang paling penting: lagu ini berhasil mengartikulasikan sesuatu yang sulit diartikulasikan—bahwa kegembiraan adalah pilihan etis, bahwa menari adalah bentuk perlawanan, bahwa melayang adalah hak setiap orang. Di Indonesia, di mana kehidupan sehari-hari sering menuntut ketegaran dan kompromi, pesan ini punya bobot khusus. Bukan pelarian dari kenyataan, tetapi pengingat bahwa kenyataan juga termasuk kemampuan untuk bersukacita.

Akhirnya, "Levitating" mungkin akan dikenang bukan sebagai lagu terbesar Dua Lipa secara artistik—itu mungkin gelar untuk "Don't Start Now" atau lagu lain di masa depan—tetapi sebagai dokumen kultural. Sebuah catatan tentang bagaimana pop bekerja di abad ke-21, bagaimana nostalgia dan kebaruan bisa hidup dalam tubuh yang sama, dan bagaimana sebuah lagu disko bisa, dalam keadaan yang tepat, menjadi sesuatu yang mirip dengan doa.

Cara menyelami lebih dalam

Jika "Levitating" membuka selera Anda untuk eksplorasi lebih jauh, berikut beberapa pintu masuk untuk menggali estetika disko, sejarahnya, dan resonansinya di Indonesia.

🎧 Dengarkan

Future Nostalgia (Dua Lipa) Album induk "Levitating". Dengarkan dari awal sampai akhir untuk memahami visi konseptualnya: disko yang dilihat melalui kaca pop 2020. → Cari

Off the Wall (Michael Jackson) Album disko-pop 1979 produksi Quincy Jones yang menjadi salah satu inspirasi langsung Future Nostalgia. Mendengarnya berdampingan dengan Dua Lipa adalah pelajaran tentang silsilah genre. → Cari

📚 Baca

Love Saves the Day: A History of American Dance Music Culture, 1970-1979 (Tim Lawrence) Buku definitif tentang asal-usul disko di klub-klub New York. Memberikan konteks historis tentang mengapa disko bukan sekadar genre, tetapi gerakan sosial. → Cari

Turn the Beat Around: The Secret History of Disco (Peter Shapiro) Sejarah kultural disko yang lebih luas, termasuk perannya dalam pembebasan queer dan kulit hitam. Penting untuk membaca "Levitating" sebagai bagian dari tradisi yang lebih panjang. → Cari

🌍 Kunjungi

Java Jazz Festival (Jakarta, Indonesia) Festival musik tahunan di JIExpo Kemayoran, biasanya pada Maret. Meskipun namanya "jazz", festival ini merangkul spektrum luas musik groove-based, termasuk soul, funk, dan pop. Tempat terbaik di Indonesia untuk merasakan estetika groove global secara langsung. → Panduan perjalanan

Studio 54 Building (New York, Amerika Serikat) Bangunan asli di 254 West 54th Street, Manhattan, yang menjadi pusat disko era 1970-an. Sekarang berfungsi sebagai teater, tetapi bagi peziarah musik, berdiri di trotoarnya adalah pengalaman yang resonan. Datang malam hari untuk efek maksimal. → Panduan perjalanan

🎸 Coba sendiri

Bass guitar elektrik entry-level Bassline disko adalah jantung lagu seperti "Levitating". Mulai dengan bass empat senar dan coba pelajari pola walking bass disko klasik. → Cari

Drum machine atau aplikasi groove Disko dibangun di atas hi-hat yang konstan dan kick yang stabil. Drum machine sederhana atau aplikasi seperti GarageBand bisa membantu Anda memahami arsitektur ritmiknya dari dalam. → Cari


🎵 Listen on all platforms

🤖 Tiga pertanyaan lanjutan untuk eksplorasi AI:

  1. Bagaimana sejarah disko di Indonesia tahun 1970-an dan 1980-an—siapa artis kuncinya dan klub mana yang menjadi pusatnya?
  2. Apa hubungan teknis antara produksi Future Nostalgia dengan album-album disko klasik seperti karya Chic atau Donna Summer?
  3. Mengapa nostalgia menjadi mode dominan dalam musik pop tahun 2020-an, dan apa implikasi kulturalnya bagi industri musik Indonesia?
Tags
20s