SONGFABLE · 2022

As It Was

HARRY STYLES · 2022 · LONDON, UK

As It Was - Harry Styles (2022)

TL;DR: "As It Was" adalah lagu pop synth bertempo cepat yang terdengar ceria namun menyembunyikan luka. Dirilis pada April 2022, lagu ini menjadi single utama dari album Harry's House, ditulis di tengah masa transisi besar dalam hidup Harry Styles—pasca-pandemi, pasca-One Direction, dan pasca-banyak hal lain yang tidak bisa kembali seperti semula. Di balik bassline yang berdenyut seperti detak jantung, ada kesedihan yang sangat dewasa: kesadaran bahwa hidup terus berjalan, dan kita tidak pernah benar-benar sama lagi.

Hook: Suara Kerinduan di Tengah Lantai Dansa

Ada sebuah paradoks yang menarik dalam "As It Was". Ketika lagu ini diputar di kafe-kafe Jakarta Selatan, di pusat perbelanjaan Bandung, atau di antara set DJ di Java Jazz Festival, orang-orang akan menggerakkan kepala mengikuti iramanya yang ringan. Mereka mungkin tersenyum. Mungkin bahkan menari kecil. Tapi jika kita berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan oleh Harry Styles, suasananya berubah total.

Lagu ini, secara musikal, adalah undangan untuk bergerak. Tapi secara lirik, ia adalah surat perpisahan kepada versi diri yang sudah tidak ada. Dua hal yang seharusnya bertentangan, tapi entah bagaimana menyatu menjadi salah satu single terbesar dalam dekade ini—nomor satu di lebih dari 40 negara, mendominasi tangga lagu global selama berbulan-bulan, dan menjadi salah satu lagu paling banyak diputar di Spotify sepanjang masa.

Bagaimana sebuah lagu yang berbicara tentang kehilangan bisa terasa seperti sebuah pesta? Jawaban atas pertanyaan inilah yang membuat "As It Was" begitu istimewa, dan yang menjadikannya cerminan sempurna dari zaman ketika ia lahir.

Latar Belakang: London, Pandemi, dan Album yang Lahir dari Keheningan

Untuk memahami "As It Was", kita harus kembali ke masa-masa aneh di awal 2020-an. Dunia baru saja melewati pandemi yang mengubah segalanya. Harry Styles, yang sudah lebih dari satu dekade menjadi sorotan publik—pertama sebagai anggota boyband fenomenal One Direction, kemudian sebagai artis solo dengan dua album yang sukses secara kritis—mendapati dirinya di posisi yang tidak biasa: punya waktu untuk berhenti.

Album Harry's House direkam dalam beberapa periode antara 2020 dan 2021, sebagian besar di Inggris dan Los Angeles, dengan kolaborator setianya Kid Harpoon (Thomas Hull) dan Tyler Johnson sebagai produser. Judul album ini, menurut Styles, terinspirasi dari album Haruomi Hosono tahun 1973, Hosono House—sebuah karya intim dari musisi Jepang yang merekam di rumahnya sendiri. Gagasan tentang "rumah" sebagai ruang dalam diri, bukan sekadar bangunan, menjadi tema utama yang melingkupi seluruh album.

"As It Was" ditulis bersama Kid Harpoon dan Tyler Johnson. Produksinya menggabungkan synth-pop ala awal 1980-an—mengingatkan pada a-ha atau Tears for Fears—dengan sensibilitas indie pop modern. Drum machine yang berdenyut konstan, bassline melodis yang catchy, dan layer synth yang berkilau menciptakan tekstur yang terasa familiar namun segar.

Yang menarik, lagu ini dibuka dengan rekaman suara putri dari godmother Styles, Mathilde, yang berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen anak kecil. Detail kecil ini—sebuah voice memo yang nyaris seperti found object—mengatur nada keseluruhan lagu: sesuatu yang personal, agak melankolis, seperti menemukan kaset lama di laci yang lupa kita miliki.

Makna Sebenarnya: Tentang Tidak Bisa Kembali

Pada permukaan, "As It Was" tampak seperti lagu putus cinta biasa. Tapi para penggemar Harry Styles dan kritikus musik segera menyadari bahwa lagu ini berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih luas.

Styles sendiri, dalam beberapa wawancara, menggambarkan lagu ini sebagai refleksi tentang masa-masa pandemi dan perasaan ketika kita melihat diri kita di cermin dan tidak yakin lagi siapa orang yang menatap balik. Ini adalah lagu tentang perubahan yang tidak bisa kita kendalikan—tentang menjadi dewasa, tentang kehilangan orang-orang yang pernah dekat, tentang menyadari bahwa karier publik yang sudah dia jalani sejak usia 16 tahun telah membentuk dan mendeformasi siapa dirinya dengan cara-cara yang baru bisa dia pahami setelah dunia berhenti berputar.

Ada referensi-referensi yang lebih spesifik. Beberapa baris menyinggung jarak emosional dengan ibunya selama lockdown. Yang lain berbicara tentang teman-teman yang sudah berubah, hubungan yang sudah pergi, identitas yang sudah tidak pas. Kalimat berulang yang menjadi inti lagu—gagasan bahwa segalanya tidak lagi seperti dulu—berfungsi sebagai mantra dan pengakuan sekaligus.

Yang membuat lagu ini begitu kuat adalah penolakannya untuk meratapi perubahan tersebut secara dramatis. Tidak ada ledakan emosi besar, tidak ada chorus yang berteriak. Sebaliknya, ada penerimaan yang lelah, hampir seperti seseorang yang sudah menangis terlalu lama dan sekarang hanya bisa duduk diam di pagi hari, menatap cahaya yang masuk dari jendela.

Inilah trik produksi yang brilian. Dengan membungkus pesan yang berat dengan musik yang bergerak, Styles dan timnya menciptakan apa yang oleh kritikus disebut sebagai "sad banger"—lagu sedih yang membuatmu menari. Ini adalah tradisi yang panjang dalam musik pop, dari The Smiths hingga ABBA hingga Robyn, dan "As It Was" menempatkan dirinya dengan percaya diri dalam lineage tersebut.

Konteks Budaya untuk Pembaca Indonesia

Bagi pendengar Indonesia, "As It Was" mendarat di momen yang sangat khusus. Lagu ini meledak pada pertengahan 2022, persis ketika negara ini mulai membuka diri kembali setelah dua tahun pembatasan pandemi yang ketat. Konser-konser kembali dijadwalkan, mal-mal kembali ramai, dan ada kesadaran kolektif yang sulit dijelaskan bahwa sesuatu telah hilang selama masa diam itu—dan tidak akan pernah benar-benar kembali.

Tema "tidak bisa kembali seperti dulu" beresonansi dengan cara yang spesifik di Indonesia. Generasi muda yang menghabiskan tahun-tahun penting hidup mereka di depan layar Zoom, yang lulus SMA tanpa upacara perpisahan, yang kehilangan anggota keluarga tanpa bisa berpamitan—mereka semua menemukan dalam lagu ini sebuah bahasa untuk perasaan yang sulit diartikulasikan.

Menariknya, fenomena "sad banger" sebenarnya bukan hal asing dalam musik populer Indonesia. Slank, misalnya, sudah lama menguasai seni menulis lagu-lagu yang terdengar santai dan ceria di permukaan tapi membawa muatan sosial atau emosional yang berat di dalamnya. Begitu pula dengan banyak lagu Indonesia kontemporer dari artis seperti Hindia atau Pamungkas, yang membungkus melankolia dengan produksi yang ramah radio.

Di Java Jazz Festival, salah satu festival musik terbesar di Asia Tenggara, "As It Was" menjadi salah satu lagu yang sering di-cover oleh musisi muda dalam sesi-sesi eksperimental. Ada sesuatu dalam strukturnya yang membuat lagu ini sangat fleksibel—bisa di-arrange ulang sebagai bossa nova, sebagai ballad piano, atau bahkan sebagai lagu jazz dengan harmoni yang diperkaya. Ini menunjukkan kekuatan komposisinya yang sebenarnya: di balik produksi synth-pop yang spesifik, ada melodi dan progresi akor yang sangat solid.

Bagi pendengar Indonesia yang akrab dengan musik Barat 1980-an—dan banyak yang demikian, mengingat pengaruh besar lagu-lagu era itu di radio Indonesia hingga hari ini—"As It Was" terasa seperti pengakuan terhadap warisan musik tersebut. Synth-nya mengingatkan pada Modern Talking, a-ha, dan Pet Shop Boys—nama-nama yang masih sering diputar di kafe-kafe di Jakarta hingga Surabaya.

Mengapa Lagu Ini Bergaung Hari Ini

Lebih dari sekadar sukses komersial, "As It Was" telah menjadi semacam dokumen budaya. Lagu ini muncul di TikTok dalam jutaan video—anak-anak muda merekam diri mereka sendiri sebelum dan sesudah berbagai transformasi: putus cinta, kelulusan, kepergian dari kampung halaman, pertumbuhan rambut, perubahan identitas.

Mengapa lagu ini begitu mudah diadopsi untuk konteks-konteks tersebut? Karena ia menyentuh sesuatu yang universal: kesadaran bahwa kita semua adalah versi baru dari diri kita sendiri setiap saat, dan bahwa nostalgia—baik terhadap orang lain maupun terhadap diri kita yang dulu—adalah salah satu emosi paling dominan di era media sosial.

Generasi yang tumbuh dengan media sosial memiliki hubungan yang aneh dengan masa lalu. Setiap foto Instagram lama, setiap memori Facebook, setiap throwback adalah pengingat tentang siapa kita dulu—pengingat yang lebih konstan dan lebih grafis dibanding yang dialami generasi sebelumnya. "As It Was" menangkap kelelahan halus dari hidup yang terdokumentasi secara berlebihan ini.

Selain itu, lagu ini muncul ketika dunia—termasuk Indonesia—sedang menghadapi pertanyaan-pertanyaan besar tentang identitas. Pandemi memaksa banyak orang untuk mempertanyakan pilihan karier, hubungan, gaya hidup. Banyak yang pindah kota, mengganti pekerjaan, mengakhiri hubungan yang sudah lama berjalan. Dalam konteks ini, lagu Styles berfungsi sebagai semacam soundtrack untuk transformasi pasca-pandemi—sebuah pengakuan bersama bahwa, ya, kita semua telah berubah, dan tidak apa-apa.

Aspek lain yang membuat "As It Was" begitu bergaung adalah persona Harry Styles sendiri. Sebagai figur publik yang secara konsisten menolak label gender konvensional, yang mengenakan rok dan kuku berwarna, yang berbicara terbuka tentang ketidakpastian sebagai sebuah nilai—Styles mewakili sesuatu bagi banyak pendengar muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang sedang menavigasi pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri tentang identitas, ekspresi, dan kebebasan.

Di Indonesia, di mana norma-norma sosial dan ekspektasi keluarga bisa sangat kuat, lagu seperti "As It Was" yang berbicara tentang ketidakmampuan untuk kembali ke versi diri yang lama memberikan validasi yang halus. Ini bukan lagu protes atau manifesto—ini hanya pengakuan tenang bahwa perubahan adalah bagian dari menjadi manusia, dan bahwa berduka atas siapa kita dulu adalah hal yang sah.

Ada juga lapisan tambahan dalam konteks musik pop global. "As It Was" adalah salah satu lagu pop terbesar yang dibuat tanpa kolaborator featured artist—sebuah tradisi yang sudah hampir hilang di era streaming dengan kolaborasi sebagai strategi promosi. Kesendirian Styles dalam lagu ini, secara struktural maupun emosional, terasa seperti pernyataan: kadang-kadang, untuk berbicara tentang kesepian, kita harus benar-benar sendirian.

Empat tahun setelah perilisannya, lagu ini terus bermutasi dalam budaya. Ia muncul di soundtrack film, di iklan, di playlist gym dan playlist tidur, di pernikahan dan di pemakaman. Ia menjadi semacam standar baru—lagu yang akan terus diputar bertahun-tahun mendatang, dipelajari oleh musisi muda yang ingin memahami bagaimana melodi yang sederhana bisa membawa beban emosional yang besar.

Dan ini, mungkin, adalah pencapaian terbesar dari "As It Was": ia mengajarkan kita bahwa kesedihan modern tidak harus terdengar sedih. Ia bisa berdenyut, ia bisa membuat kita bergerak, ia bisa mengajak kita ke lantai dansa—dan tetap, di tengah semua itu, mengakui bahwa ada hal-hal yang telah pergi dan tidak akan kembali. Itulah seni dari abad ke-21: kemampuan untuk merangkul dua kebenaran sekaligus, untuk menari dengan luka kita, untuk menemukan ritme di dalam kehilangan.

How to dive deeper

🎧 Mendengarkan lebih jauh

📚 Membaca lebih jauh

🌍 Menjelajah lebih jauh

🎸 Memainkan lebih jauh


🔗 Dengarkan di platform favoritmu: song.link/as-it-was-harry-styles

🤖

Tags