SONGFABLE · 2019

Watermelon Sugar

HARRY STYLES · 2019 · LONDON, UK

Watermelon Sugar - Harry Styles (2019)

Sebuah lagu pop yang terdengar seperti musim panas yang dibotolkan: hangat, lengket, dan sedikit nakal. Di balik kesederhanaannya, "Watermelon Sugar" adalah dokumen tentang bagaimana seorang mantan idol boy band Inggris menemukan identitas artistiknya melalui rock klasik tahun 1970-an, sensualitas yang ambigu, dan kerinduan akan kebersamaan—sebuah kerinduan yang menjadi sangat relevan ketika pandemi menutup dunia tepat saat lagunya meledak.

Hook

Bayangkan sebuah panggung di Java Jazz Festival, lampu meredup, dan kerumunan mulai bernyanyi mengikuti melodi yang sebenarnya tidak terlalu rumit. Tidak ada solo gitar yang menjulang seperti di lagu-lagu Slank, tidak ada lirik patriotik yang menggugah. Hanya sebuah riff yang terus berulang, suara terompet yang riang, dan satu frasa yang diulang-ulang sampai ia berubah menjadi mantra. Bagaimana sebuah lagu yang strukturnya begitu minim, yang liriknya nyaris terdiri dari satu metafora buah saja, bisa menjadi salah satu single paling didengarkan sepanjang dekade?

"Watermelon Sugar" adalah teka-teki kecil dalam katalog pop kontemporer. Ia terdengar sangat akrab, seperti sesuatu yang sudah ada sejak lama, namun justru karena itulah ia menarik untuk dibedah. Lagu ini bukan sekadar hit musim panas—ia adalah titik balik dalam karier Harry Styles, sebuah pernyataan estetika, dan secara tidak sengaja, sebuah elegi untuk kebebasan yang hilang.

Background: dari Holmes Chapel ke Abbey Road

Harry Styles lahir di Redditch, Inggris, pada 1994, dan tumbuh di desa kecil bernama Holmes Chapel di Cheshire. Cerita standardnya sudah diketahui banyak orang: pada usia 16 tahun ia mengikuti audisi acara televisi The X Factor, dieliminasi sebagai solois, lalu disatukan dengan empat remaja lain menjadi One Direction. Selama lima tahun, ia menjadi bagian dari salah satu boy band paling sukses dalam sejarah pop, menjual jutaan album dan mengisi stadion di seluruh dunia, termasuk konser yang sangat dikenang di Jakarta pada 2015.

Namun pertanyaan yang menarik dimulai setelah One Direction hiatus pada 2016. Para mantan anggota boy band biasanya menghadapi nasib yang serupa: karier solo yang singkat, identitas yang sulit lepas dari masa lalu, atau—seperti banyak contoh sebelumnya—menghilang dari sorotan utama. Styles memilih jalan yang lebih ambisius. Album solo pertamanya pada 2017 sengaja menjauh dari pop radio dan mendekati rock klasik tahun 1970-an: Bowie, T. Rex, Fleetwood Mac, The Rolling Stones. Ia bekerja sama dengan produser Jeff Bhasker dan menulis lagu-lagu yang bisa diputar di stereo mobil milik ayah Anda tanpa membuatnya mengerutkan dahi.

"Fine Line", album kedua yang dirilis Desember 2019, melanjutkan eksplorasi itu tetapi dengan palet warna yang lebih cerah. Album ini direkam di beberapa lokasi, termasuk Shangri-La Studios milik Rick Rubin di Malibu, serta di London. Tim penulis dan produser intinya adalah Tyler Johnson, Mitch Rowland, Kid Harpoon (Thomas Hull), dan Sammy Witte. Kelompok kecil ini menjadi semacam keluarga musikal yang membentuk suara Styles selama beberapa tahun ke depan.

"Watermelon Sugar" lahir dari sesi-sesi tersebut. Versinya yang akhirnya kita dengar memiliki struktur yang aneh untuk standar pop modern: tidak ada bridge yang dramatis, intro instrumental yang panjang dengan suara terompet seperti band soul tahun 60-an, dan refrein yang lebih terasa seperti chant daripada hook yang dipoles. Lagu ini dirilis sebagai single pada November 2019, lalu kembali menjadi pusat perhatian ketika video musiknya muncul pada Mei 2020.

Real meaning: lebih dari sekadar buah

Spekulasi tentang arti sebenarnya "Watermelon Sugar" sudah lama menjadi bahan diskusi di antara penggemar. Styles sendiri pernah memberikan jawaban yang ambigu—pernah bercanda di atas panggung bahwa lagu itu tentang "kenikmatan feminin", pernah pula mengatakan bahwa ia terinspirasi dari novel Richard Brautigan berjudul "In Watermelon Sugar" yang ada di meja kopi tempat ia menulis.

Kedua keterangan itu mungkin sama-sama benar, dan keduanya bersama-sama menjelaskan mengapa lagu ini bekerja dengan baik. Novel Brautigan, yang terbit pada 1968, adalah karya counterculture aneh yang berlatar komune utopian bernama iDEATH, tempat segala sesuatu—pakaian, jembatan, bangunan—terbuat dari gula semangka. Buku itu adalah meditasi tentang kelembutan, ingatan, dan kekerasan yang tersembunyi di balik utopia. Bahwa Styles membaca buku semacam itu saat menulis menunjukkan ambisinya: ia ingin pop-nya memiliki referensi sastra, lapisan-lapisan yang bisa dibedah.

Di sisi lain, interpretasi yang lebih badan—bahwa lagu ini adalah ode untuk seks oral, lebih spesifik kenikmatan perempuan—juga jelas mengalir di dalam lirik. Metafora buah yang manis, basah, dan dimakan dengan rakus tidak terlalu samar. Yang menarik adalah bagaimana Styles menyajikan sensualitas itu: tanpa agresi maskulin yang sering ditemui dalam tradisi rock, tanpa objektifikasi yang vulgar. Ia menempatkan keinginan dan kenikmatan perempuan sebagai pusat narasi, bukan sebagai hiasan.

Ini sejalan dengan persona publik Styles yang sengaja mengaburkan batas gender konvensional: kuku berwarna, pakaian dari Gucci yang mencampurkan blus berenda dengan setelan, jawaban-jawaban yang menolak label seksualitas yang tegas. "Watermelon Sugar" bisa dibaca sebagai pernyataan estetika tentang sensualitas yang cair—sebuah ruang di mana kenikmatan tidak harus dikodekan sebagai milik gender tertentu.

Secara musikal, lagu ini berutang banyak pada tradisi yang sangat spesifik. Riff gitar pembuka, dengan suara yang sedikit "fuzzy", terdengar seperti dipinjam dari katalog Big Star atau Badfinger—band-band power pop tahun 1970-an yang mempengaruhi banyak musisi indie setelahnya. Bagian terompet membawa nuansa Memphis soul. Vokal latar yang melimpah di bagian klimaks mengingatkan pada produksi Phil Spector. Lagu ini adalah kolase referensi yang dibuat dengan cermat agar terdengar seolah-olah tidak dibuat-buat.

Konteks budaya untuk pendengar Indonesia

Bagi telinga Indonesia, "Watermelon Sugar" mungkin terdengar asing dan akrab sekaligus. Asing karena ia tidak memiliki tradisi vokal yang dominan—tidak ada melisma seperti di musik dangdut, tidak ada penekanan lirik yang puitis dan eksplisit seperti di lagu-lagu Iwan Fals atau bahkan ballad-ballad Slank. Akrab karena strukturnya sederhana dan groove-nya enak untuk dijoget di acara pernikahan atau didengar di kafe di Senopati.

Yang menarik dari resepsi Styles di Indonesia adalah bagaimana ia melintasi generasi. Penggemar One Direction yang menonton konser stadion pada 2015 kini sudah dewasa, banyak yang menjadi profesional muda di Jakarta atau Surabaya. Generasi yang lebih muda, yang mengenal Styles pertama kali melalui TikTok, melihatnya sebagai ikon mode dan kebebasan ekspresi. Kedua generasi ini bertemu di Java Jazz Festival atau di Spotify Wrapped masing-masing—sebuah perjumpaan budaya yang menarik untuk diamati.

Penting juga untuk menempatkan lagu ini dalam konteks pop Indonesia tahun 2019-2020. Saat itu, kancah lokal sedang dipenuhi oleh kebangkitan kembali musik akustik yang melankolis—Pamungkas, Hindia, Ardhito Pramono—yang banyak meminjam dari indie pop Amerika dan Inggris. "Watermelon Sugar" datang dari arah yang berlawanan: ia bersikeras pada kegembiraan, pada sensualitas yang ringan, pada kesenangan tanpa rasa bersalah. Di tengah generasi pendengar Indonesia yang sedang gemar memproses kerumitan emosi melalui lagu-lagu sendu, datanglah sebuah hit dari London yang seolah berkata: terkadang, satu sore di pantai sudah cukup.

Namun ada juga ketegangan budaya yang menarik. Bagi sebagian pendengar Indonesia, terutama yang tumbuh dalam tradisi yang lebih konservatif, sensualitas eksplisit lagu ini mungkin terasa terlalu jauh. Tetapi karena metaforanya tetap berlapis dan tidak vulgar di permukaan, lagu ini bisa diputar di radio pagi, di mall, di playlist gym, tanpa mengusik siapa pun. Ini adalah seni pop yang cerdas: ia menyimpan dua makna sekaligus, tergantung pada bagaimana pendengar memilih untuk mendengarnya.

Mengapa lagu ini beresonansi hari ini

Video musik "Watermelon Sugar" dirilis pada 18 Mei 2020. Di Indonesia, saat itu kita sudah dua bulan menjalani PSBB. Bioskop tutup, kafe-kafe kosong, dan rencana mudik Lebaran banyak yang dibatalkan. Video itu—dibuka dengan kartu judul yang mendedikasikan tayangan tersebut "untuk menyentuh"—memperlihatkan Styles dan sekelompok orang muda berkumpul di pantai California, makan semangka dengan tangan, saling menyentuh wajah, berbagi tawa, tertawa pada lelucon yang tidak kita dengar.

Pada masa itu, gambar-gambar seperti itu tidak lagi terasa biasa. Mereka terasa subversif, hampir mustahil. Sentuhan menjadi barang langka. Kerumunan menjadi sumber bahaya. Berbagi makanan dari tangan ke mulut menjadi tindakan yang bermuatan risiko medis. "Watermelon Sugar"—lagu yang dibuat sebelum pandemi, dengan keceriaan yang sangat tidak menyadari masa depannya—berubah menjadi semacam jendela ke dunia yang baru saja hilang.

Inilah mengapa lagu ini meraih kesuksesan komersial yang luar biasa pada 2020, bahkan melampaui ekspektasi awal: ia menjadi penampung kerinduan kolektif. Bukan kerinduan akan sesuatu yang spesifik, melainkan kerinduan akan kemampuan untuk berdekatan tanpa berpikir. Untuk bertemu orang asing tanpa kalkulasi risiko. Untuk merasakan tubuh sendiri dan tubuh orang lain dalam ruang publik tanpa lapisan kekhawatiran.

Beberapa tahun setelah pandemi, makna lagu ini berubah lagi. Bagi banyak pendengar, ia menjadi penanda waktu—lagu yang dirilis tepat sebelum dunia berubah, dan yang menemani kita selama perubahan itu. Setiap kali riff pembukanya berbunyi, ia membawa kembali sensasi rumah masing-masing pada 2020: layar laptop, makanan delivery, panggilan video dengan keluarga di kota lain. Lagu pop musim panas yang ceria itu, ironisnya, menjadi salah satu memorial paling akurat untuk masa karantina.

Pertanyaan yang lebih besar yang dibuka oleh "Watermelon Sugar" adalah ini: apa yang membuat sebuah lagu pop bertahan? Bukan kompleksitas lirik, jelas, karena lirik lagu ini bisa dihafal dalam satu kali dengar. Bukan inovasi musikal yang radikal, karena hampir setiap elemennya bisa ditelusuri kembali ke rekaman tahun 1970-an. Mungkin justru ketidakambisiusan permukaannya—kemampuannya untuk menjadi tidak lebih dari sebuah lagu musim panas—yang membuatnya tahan lama. Ia tidak meminta terlalu banyak dari pendengar. Tetapi ketika kita memilih untuk memberinya perhatian lebih, ia menyediakan lapisan-lapisan untuk dibedah.

Dalam karier Styles sendiri, "Watermelon Sugar" menjadi titik pivot. Setelah lagu ini, ia bukan lagi "mantan anggota One Direction yang mencoba menjadi rocker." Ia menjadi Harry Styles—entitas budaya yang berdiri sendiri, yang bisa muncul di sampul Vogue dengan gaun, yang bisa memenangkan Grammy untuk Album of the Year, yang konsernya di Tokyo dan Sydney terjual habis dalam hitungan menit. Sebuah lagu tentang buah semangka, ternyata, adalah pondasi untuk salah satu transformasi karier pop paling lengkap dalam dekade ini.

How to dive deeper

🎧 Dengarkan

📚 Baca

🌍 Jelajahi

🎸 Pelajari


Dengar di platform favorit Anda: song.link/watermelon-sugar-harry-styles

🤖

Tags