Drew Barrymore
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Judul yang menipu semua orang
Waktu pertama kali muncul di awal 2017, banyak orang mengira "Drew Barrymore" adalah lagu penggemar. Semacam surat cinta untuk bintang Hollywood, atau setidaknya lagu yang menjadikan nama itu metafora kecantikan. Salah total.
Kalau kamu dengarkan dengan telinga terbuka, lagu ini justru salah satu potret paling telanjang tentang rasa rendah diri yang pernah masuk radio R&B modern. Suara SZA di sana terdengar seperti seseorang yang sedang berdiri di dapur pukul dua pagi, memikirkan ulang setiap kalimat yang ia ucapkan sepanjang malam, dan menyimpulkan bahwa dirinya terlalu banyak sekaligus tidak cukup.
Yang membuat lagu ini menempel di kepala jutaan orang bukan hook-nya. Tapi kenyataan bahwa hampir semua pendengarnya pernah menjadi orang itu — orang yang meminta maaf untuk hal-hal yang tidak butuh permintaan maaf.
Dan nama Drew Barrymore ada di judulnya bukan karena kecantikannya. Melainkan karena kekacauannya.
Perempuan yang hard disk-nya disita label rekaman sendiri
Untuk paham kenapa lagu ini terdengar begitu tidak terlindungi, kamu perlu tahu kondisi penciptanya waktu itu.
SZA — nama aslinya Solána Imani Rowe, lahir 1989 — bukan produk pabrik pop. Ia besar di Maplewood, New Jersey, dari ayah Muslim yang taat dan ibu yang bekerja di korporasi. Sewaktu kecil ia mengenakan hijab ke sekolah, dan konon berhenti memakainya setelah tekanan serta perundungan yang meningkat pasca peristiwa 11 September 2001. Pengalaman menjadi anak yang "salah" di ruangan mana pun — terlalu religius untuk teman-temannya, terlalu bebas untuk keluarganya — meninggalkan jejak yang terasa di hampir semua lagunya.
Ia masuk ke Top Dawg Entertainment (TDE) sekitar 2013 sebagai artis perempuan pertama di label yang identik dengan Kendrick Lamar, ScHoolboy Q, dan Jay Rock. Bayangkan posisinya: satu-satunya perempuan di rumah penuh rapper laki-laki paling dihormati di Amerika, dengan suara lembut dan lagu-lagu tentang kebingungan emosional.
Lalu datang penderitaan panjang album Ctrl. Prosesnya molor bertahun-tahun. SZA merekam ratusan lagu dan tidak pernah puas. Pada akhir 2016 ia menulis di media sosial bahwa ia berhenti bermusik — pernyataan yang membuat penggemar panik. Punch, presiden TDE, kemudian mengaku bahwa pihak label akhirnya harus mengambil hard drive berisi materi album dari tangannya, karena kalau tidak, album itu mungkin tidak akan pernah keluar. SZA sendiri belakangan bercerita ia sempat merasa album itu direbut sebelum selesai.
Detail ini penting. Judul albumnya, Ctrl, artinya kontrol — dan seluruh album itu tentang seseorang yang tidak punya kontrol atas apa pun: atas hubungannya, atas tubuhnya, atas karier, bahkan atas kapan karyanya sendiri dirilis. "Drew Barrymore" adalah salah satu titik paling murni dari tema itu.
Lagu ini digarap bersama Carter Lang dan kolaborator produksi lain di lingkaran SZA saat itu, dengan pendekatan yang terdengar sengaja tidak rapi: gitar yang mengambang, drum yang malas, ruang kosong di mana-mana. Tidak ada usaha membuat vokalnya terdengar "mahal". Justru sebaliknya — ada napas, ada bagian yang terdengar seperti gumaman, ada kesan take pertama yang tidak diperbaiki.
Buat pendengar Indonesia, ada satu jembatan budaya yang bikin lagu ini terasa langsung akrab: Drew Barrymore adalah wajah yang tumbuh bersama generasi kita lewat televisi. The Wedding Singer, Never Been Kissed, Charlie's Angels, sampai 50 First Dates — film-film itu berputar terus di slot bioskop akhir pekan stasiun TV nasional selama tahun 2000-an. Banyak orang Indonesia mengenal Drew Barrymore bukan dari red carpet, tapi dari sofa ruang keluarga hari Minggu malam. Dan peran-peran yang ia mainkan hampir selalu sama: perempuan yang canggung, agak berantakan, sering ditertawakan, tapi pada akhirnya dicintai apa adanya. Itu justru inti lagunya.
Meminta maaf karena ada
Isi "Drew Barrymore" bisa diringkas dengan satu kalimat: seseorang sedang berusaha meyakinkan orang lain bahwa dirinya layak — dan gagal meyakinkan dirinya sendiri lebih dulu.
Narator lagu ini berada dalam hubungan yang posisinya tidak jelas. Ia bukan pacar resmi. Ia mungkin bukan satu-satunya. Ia sadar betul bahwa dirinya berada di urutan kesekian dalam prioritas seseorang, tapi tetap datang, tetap menunggu, tetap berusaha membuat dirinya cukup menarik untuk dipilih.
Yang membuat lagu ini menghancurkan adalah cara SZA menulis rasa malunya. Ia tidak menyanyikan kemarahan. Ia menyanyikan permintaan maaf — permintaan maaf atas hal-hal kecil dan fisik dan sepele. Atas penampilannya yang tidak sempurna hari itu. Atas kebiasaannya yang dianggap memalukan. Atas kenyataan bahwa ia hadir sebagai manusia dengan tubuh dan kebiasaan, bukan sebagai fantasi yang licin dan tanpa cela.
Ada momen di lagu ini di mana ia mempertanyakan apakah dirinya sudah cukup baik, dan alih-alih menjawab, ia langsung berpindah ke permintaan maaf berikutnya. Struktur emosional itu sangat presisi: orang yang benar-benar tidak percaya diri tidak berdebat soal nilai dirinya, ia hanya minta maaf terus sampai lawan bicaranya lelah.
Di sinilah nama Drew Barrymore masuk. SZA pernah menjelaskan dalam beberapa wawancara bahwa ia tumbuh mengagumi karakter-karakter Barrymore di film-film 90-an justru karena mereka tidak sempurna — perempuan yang rambutnya berantakan, yang salah bicara, yang tidak punya kendali atas hidupnya, tapi tetap menjadi pusat cerita.
Dan kalau kamu tahu riwayat Drew Barrymore yang sebenarnya, pilihan nama itu jadi jauh lebih tajam. Ia bintang cilik dari E.T. (1982), lalu masuk masa remaja yang berantakan di depan publik: masalah kecanduan sejak sangat muda, rehabilitasi di usia belasan, dan proses emansipasi hukum dari orang tuanya sekitar usia 15 tahun. Ia menulis memoar tentang semua itu ketika masih remaja. Lalu — dan ini bagian pentingnya — ia bangkit, jadi produser, jadi bintang komedi romantis paling disukai satu generasi, dan bertahan puluhan tahun di industri yang biasanya membuang perempuan seperti dia.
Jadi memakai nama Drew Barrymore bukan berarti "aku ingin secantik dia". Artinya lebih dekat ke: aku berantakan seperti dia, dan aku ingin percaya bahwa orang berantakan pun masih bisa dicintai dan bertahan.
Video, cameo, dan album yang jadi kitab suci satu generasi
Video musiknya, dirilis pada 2017 dan digarap sutradara Dave Meyers, memperjelas semuanya. Di dalamnya SZA berkeliaran di jalanan kota dengan pakaian yang tidak nyambung, rambut acak, membawa troli belanja, terlihat seperti orang yang baru saja menyerah pada penampilan. Tidak ada glamor sama sekali. Ada juga penampilan singkat Donald Glover di sana, dan di bagian akhir Drew Barrymore sendiri muncul — restu langsung dari sosok yang namanya dipinjam.
Menariknya, "Drew Barrymore" bukan hit chart besar saat rilis. Single-single lain dari Ctrl seperti "Love Galore" dan "The Weekend" jauh lebih dominan di radio dan tangga lagu. Tapi seiring waktu, justru lagu ini yang jadi salah satu favorit paling personal di antara pendengar — jenis lagu yang orang kirimkan ke sahabatnya lewat DM tengah malam, bukan yang diputar di klub.
Ctrl sendiri jadi salah satu album paling berpengaruh dekade itu. Ia mendapat lima nominasi Grammy pada awal 2018, termasuk Best New Artist, dan SZA pulang tanpa satu pun piala — kejadian yang saat itu ramai dibicarakan sebagai contoh Grammy salah membaca zaman. Waktu membuktikan sebaliknya. Album itu terus terjual bertahun-tahun setelah rilis, jadi rujukan hampir semua penyanyi R&B perempuan yang muncul setelahnya, dan edisi ulang tahun kelimanya pada 2022 disambut seperti perilisan album baru.
Yang tidak kalah manis: hubungan antara penyanyi dan pemilik nama itu berlanjut di dunia nyata. Drew Barrymore diketahui menjadi penggemar lagunya, dan SZA belakangan tampil sebagai tamu di acara televisi milik Barrymore sendiri. Lagu tentang rasa tidak layak berujung pada perempuan yang namanya dipinjam duduk berhadapan dengan penulisnya, sambil tertawa.
Kenapa masih menusuk sampai hari ini
Karena mekanisme yang dibongkar lagu ini justru semakin kuat, bukan melemah.
Kita hidup di era di mana setiap orang punya versi terkurasi dari dirinya sendiri di layar orang lain. Feed Instagram, filter, foto yang diambil empat puluh kali sebelum satu dipilih. "Drew Barrymore" adalah lagu tentang jarak antara versi itu dan versi yang benar-benar duduk di kamarmu — dan tentang ketakutan bahwa kalau seseorang melihat versi kedua, ia akan pergi.
Ada juga hal yang terasa sangat lokal di sini. Di Indonesia kita punya kata untuk kondisi ini walau bukan dalam konteks romantis: "nggak enakan". Kebiasaan minta maaf lebih dulu, merasa merepotkan, menurunkan permintaan sendiri supaya tidak membebani orang lain, mengecilkan diri agar ruangan tetap nyaman. "Maaf ya" yang diucapkan sebelum meminta hal paling wajar sekalipun. SZA menulis versi paling intim dari kebiasaan itu — momen ketika sifat "nggak enakan" berpindah dari sopan santun menjadi keyakinan bahwa dirimu memang tidak layak menuntut apa pun.
Lagu ini juga menolak memberi penyelesaian. Tidak ada bagian di mana narator akhirnya bangkit, menghapus nomor si laki-laki, dan berjalan ke matahari terbenam. Ia berhenti di tengah kebingungan, dan itulah kejujurannya. Kebanyakan orang, ketika sedang berada di situasi seperti itu, memang belum keluar. Mereka masih di dalamnya.
Dan mungkin sebab itulah "Drew Barrymore" terus ditemukan lagi oleh pendengar baru setiap tahun. Bukan karena ia lagu yang menghibur, tapi karena ia lagu yang menemani. Ia tidak menyuruhmu berhenti merasa kecil. Ia hanya duduk di sebelahmu dan mengakui bahwa perasaan itu ada, dan bahwa perempuan-perempuan berantakan di layar televisi tahun 90-an pun akhirnya baik-baik saja.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Larut dalam suaranya
- Ctrl — SZA — Dengarkan "Drew Barrymore" dalam urutan aslinya di album, bukan sebagai lagu lepas. Lagu-lagu di sekitarnya membangun konteks tentang seseorang yang kehilangan kendali, sehingga permintaan maaf di lagu ini terasa jauh lebih berat. Versi vinyl atau CD memaksamu duduk dan mendengar dari awal sampai akhir.
- SOS — SZA — Album 2022 yang membuktikan bahwa perempuan bimbang di Ctrl tumbuh jadi salah satu penulis lagu terbesar di dunia. Mendengarkannya berurutan setelah Ctrl seperti membaca dua bab dari buku harian yang sama, terpisah lima tahun.
- Headphone dengan detail vokal yang jujur — Banyak bagian lagu ini bergantung pada napas, gumaman, dan vokal latar yang nyaris tenggelam. Di speaker HP semua itu hilang; dengan headphone yang layak, kamu baru sadar seberapa sengaja ketidaksempurnaan itu dipertahankan.
📚 Ikuti ceritanya
- Little Girl Lost — memoar Drew Barrymore — Memoar yang ia tulis saat masih sangat muda tentang masa kecil di Hollywood, kecanduan, dan rehabilitasi. Setelah membacanya, pilihan SZA memakai namanya sebagai judul lagu tentang rasa tidak layak jadi terasa jauh lebih tajam.
- Wildflower — buku esai Drew Barrymore — Sisi lain dari cerita yang sama: perempuan yang sudah melewati kekacauan dan menceritakannya dengan hangat. Ini bagian "ternyata bisa selamat" yang secara diam-diam diharapkan oleh lagu SZA.
- Buku tentang self-esteem dan pola merendahkan diri — Literatur soal people pleasing menjelaskan persis mekanisme yang dinyanyikan lagu ini: minta maaf sebagai refleks, bukan sebagai respons atas kesalahan. Sangat berguna buat siapa pun yang mengenali dirinya di lirik itu.
🌍 Kunjungi tempatnya
- Panduan perjalanan New York City — Video musiknya menyusuri jalanan kota dengan tampilan sengaja tidak rapi, jauh dari citra turis. Membawa panduan yang bagus membantumu melihat sisi kota yang berantakan dan hidup itu, bukan cuma daftar landmark.
- Panduan New Jersey dan sekitarnya — SZA besar di Maplewood, kota kecil di New Jersey, bukan di pusat industri musik. Melihat lanskap pinggiran itu menjelaskan kenapa lagu-lagunya terdengar seperti percakapan di kamar tidur, bukan di studio megah.
- Buku foto potret jalanan Amerika — Estetika visual video lagu ini berutang banyak pada tradisi foto jalanan: orang biasa, pakaian berantakan, cahaya apa adanya. Buku semacam ini memberi konteks visual pada suasana yang cuma kamu dengar lewat lagu.
🎸 Rasakan sendiri
- Gitar akustik untuk pemula hingga menengah — Fondasi lagu ini sangat sederhana secara akor, dan justru itu tantangannya: memainkannya dengan rasa longgar dan malas seperti di rekaman aslinya jauh lebih sulit daripada memainkannya dengan rapi.
- Mikrofon kondensor untuk rekaman vokal di kamar — Vokal SZA di era Ctrl terkenal karena terdengar dekat dan tidak dipoles berlebihan. Dengan mikrofon sederhana dan kamar yang cukup sunyi, kamu bisa bereksperimen dengan pendekatan yang sama.
- Buku panduan menulis lagu dan lirik — Kekuatan lagu ini ada pada keberaniannya menulis detail yang memalukan dan sangat spesifik alih-alih perasaan umum. Buku songwriting yang bagus akan menunjukkan kenapa detail kecil selalu mengalahkan kalimat besar.
-
Kenapa SZA memilih nama Drew Barrymore, bukan aktris lain?
Karena yang ia kagumi bukan kesempurnaan Barrymore, melainkan ketidaksempurnaannya. Karakter-karakter Barrymore di komedi romantis 90-an hampir selalu perempuan canggung dan berantakan yang tetap jadi pusat cerita, dan riwayat hidup aslinya — bintang cilik yang melewati kecanduan dan rehabilitasi sejak usia belasan lalu bangkit — membuatnya jadi simbol sempurna untuk lagu tentang orang yang berharap masih bisa dicintai meski kacau. -
Apakah Drew Barrymore sendiri tahu soal lagu ini?
Tahu, dan ia menyambutnya. Ia muncul singkat di bagian akhir video musiknya, dan belakangan SZA juga tampil sebagai tamu di acara televisi milik Barrymore. Lagu yang lahir dari rasa tidak layak berakhir dengan dua perempuan itu duduk berhadapan sambil tertawa, yang jujur saja adalah penutup cerita yang cukup indah. -
Kenapa album Ctrl dianggap begitu penting padahal SZA tidak menang satu Grammy pun saat itu?
Karena pengaruhnya baru terlihat setelah beberapa tahun. Ctrl memberi izin pada satu generasi penyanyi R&B untuk menulis tentang kebingungan, rasa cemburu, dan rasa tidak aman tanpa harus menyelesaikannya jadi pesan pemberdayaan yang rapi. Album itu terus terjual dan terus ditemukan pendengar baru bertahun-tahun setelah rilis, sementara nominasi Grammy 2018 yang berakhir kosong justru sering dikutip sebagai contoh penghargaan yang telat membaca zaman.