SONGFABLE · 2017

Normal Girl

SZA · 2017

TL;DR: "Normal Girl" terdengar seperti lagu prom yang manis, padahal isinya adalah pengakuan pahit seorang perempuan yang ingin sekali menjadi tipe cewek yang pantas dikenalkan ke orang tua pacarnya — dan tahu betul bahwa dirinya bukan itu.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu paling manis di album, dan paling getir isinya

Kalau kamu memutar Ctrl sambil mengerjakan sesuatu, "Normal Girl" gampang lewat begitu saja. Nadanya lembut, ritmenya bergoyang pelan, ada kilau synth yang terasa seperti sore hari di kota kecil Amerika. Dari semua lagu di album itu, ini salah satu yang paling enak didengar tanpa perlu berpikir.

Lalu kamu perhatikan isinya, dan lagu itu berubah bentuk di tanganmu.

Karena "Normal Girl" adalah lagu tentang seseorang yang sedang mengukur dirinya dengan standar yang bukan miliknya. Standar itu punya nama yang sangat spesifik dalam kepala si narator: perempuan yang dibawa pulang ke rumah, diperkenalkan ke ibu, disetujui, lalu diberi label aman. Perempuan yang bisa diajak ke acara keluarga tanpa membuat siapa pun berbisik-bisik.

Dan dia tahu dia bukan perempuan itu. Bukan karena dia buruk, tapi karena hidupnya berantakan dengan cara yang jujur — hubungan yang tidak selesai, keinginan yang tidak sopan, malam-malam yang tidak layak diceritakan waktu makan malam. Yang membuat lagu ini menyakitkan bukan penolakan dari luar. Melainkan kenyataan bahwa dia sendiri yang paling keras menghukum dirinya sendiri.

Bungkusnya manis, tapi yang sedang terjadi di dalamnya adalah seseorang yang mengecilkan dirinya menjadi versi yang lebih "diterima". Itulah kenapa lagu ini menempel begitu dalam pada pendengar yang tumbuh di keluarga yang sangat peduli pada pandangan orang lain.

Perempuan yang albumnya harus direbut dari tangannya sendiri

Untuk memahami kenapa lagu ini terasa begitu tidak terlindungi, kamu perlu tahu siapa yang menulisnya dan dalam kondisi apa.

SZA — nama aslinya Solána Imani Rowe, lahir 1989 — bukan produk pabrik pop. Ia lahir di St. Louis dan besar di Maplewood, New Jersey, dari ayah Muslim yang taat dan ibu yang bekerja di dunia korporat. Waktu kecil ia mengenakan hijab ke sekolah, dan konon berhenti setelah tekanan serta perundungan yang meningkat pasca peristiwa 11 September 2001. Sejak awal, hidupnya adalah hidup seseorang yang selalu berada di antara dua ruangan: terlalu religius untuk teman-teman sekolahnya, terlalu bebas untuk keluarganya.

Pengalaman "tidak pas di mana-mana" itu adalah bahan bakar seluruh Ctrl.

Ia bergabung dengan Top Dawg Entertainment sekitar 2013 sebagai artis perempuan pertama di label yang identik dengan Kendrick Lamar, ScHoolboy Q, dan Jay Rock. Bayangkan posisinya: satu-satunya perempuan di rumah penuh rapper paling dihormati di Amerika, membawa lagu-lagu tentang keraguan dan rasa tidak aman.

Proses album Ctrl sendiri melelahkan. Ia merekam ratusan lagu dan tidak pernah puas. Menjelang akhir 2016 ia sempat menulis di media sosial bahwa ia berhenti bermusik. Punch, presiden TDE, kemudian mengaku bahwa pihak label akhirnya harus mengambil hard drive berisi materi album itu darinya, karena kalau tidak, album tersebut mungkin tidak akan pernah keluar. SZA belakangan bercerita ia sempat merasa karyanya direbut sebelum selesai.

Judul albumnya, Ctrl, berarti kontrol — dan seluruh isinya adalah potret seseorang yang tidak punya kontrol atas apa pun: atas hubungannya, tubuhnya, kariernya, bahkan atas kapan karyanya sendiri dirilis.

Album ini juga punya sesuatu yang jarang dilakukan artis lain: suara asli keluarganya. Beberapa jeda bicara di Ctrl diisi rekaman ibu dan neneknya sendiri, membicarakan kontrol, hubungan, dan cara perempuan seharusnya bersikap. Nasihat yang tulus, hangat, dan sekaligus menekan. Album itu benar-benar dibingkai oleh suara ibu.

Jadi ketika "Normal Girl" muncul di bagian belakang album — lagu tentang ingin menjadi perempuan yang layak dikenalkan pada ibu seseorang — konteksnya jadi berlipat. Kamu sudah mendengar suara ibu sungguhan di album itu. Standarnya bukan abstraksi. Standarnya ada di ruangan yang sama.

Secara produksi, lagu ini digarap bersama lingkaran kolaborator dekat SZA di era Ctrl, dengan sentuhan yang lebih rapi dan berkilau dibanding lagu-lagu lain di album tersebut. Ada nuansa retro yang sengaja: warna synth dan bass yang mengingatkan pada R&B akhir 90-an, jenis lagu yang dulu diputar di radio sore hari. Kontras itu bukan kebetulan. Musiknya sengaja terdengar seperti dunia yang aman dan sopan, sementara liriknya justru mengaku bahwa si penyanyi tidak bisa masuk ke dunia itu.

Buat pendengar Indonesia, jembatan budayanya nyaris terlalu pas. Konsep "cewek yang bisa dibawa pulang ke rumah" adalah salah satu tekanan sosial paling akrab di sini: menantu idaman, anak gadis baik-baik, perempuan yang lolos penilaian tante-tante di acara keluarga. Kita tumbuh dengan kalimat "apa kata orang" sebagai alat ukur harga diri. Kita tahu persis bedanya antara dicintai seseorang dan disetujui keluarganya. "Normal Girl" adalah lagu tentang jurang di antara dua hal itu — ditulis dari sisi perempuan yang sadar dirinya berada di sisi yang salah.

Menantu idaman yang tidak pernah jadi

Isi "Normal Girl" bisa dipadatkan jadi satu kalimat: seseorang berharap dirinya adalah tipe perempuan yang dipilih untuk jangka panjang, bukan tipe yang hanya dinikmati sementara.

Narator lagu ini sedang berada dalam hubungan yang tidak punya status jelas. Ia dicari, tapi tidak diumumkan. Ia dihubungi, tapi tidak diperkenalkan. Ia paham betul dinamikanya, dan alih-alih marah pada laki-laki yang memperlakukannya begitu, ia justru mengarahkan kritiknya ke dalam: mungkin masalahnya ada padaku.

Dari situ ia mulai membayangkan versi dirinya yang lebih layak. Versi yang lebih tenang, lebih rapi, lebih bisa ditebak. Versi yang tidak akan membuat siapa pun malu ketika diperkenalkan. Ia membayangkan seperti apa rasanya menjadi pilihan yang aman — bukan cerita seru, tapi keputusan yang masuk akal.

Yang membuat lagu ini pintar adalah keraguan yang ia sisipkan di tengah-tengah fantasi itu. Karena sepanjang lagu, kamu bisa merasakan bahwa si narator sebenarnya tidak sepenuhnya ingin menjadi perempuan itu. Ia hanya ingin diperlakukan seperti perempuan itu. Ada perbedaan besar di antara keduanya, dan lagu ini duduk tepat di garis itu tanpa pernah memilih sisi.

Ada juga kejujuran yang tidak nyaman soal apa yang sebenarnya ia lakukan: ia menyadari bahwa hidupnya penuh hal-hal yang tidak akan lolos sensor keluarga mana pun. Bukan pengakuan dosa yang dramatis, tapi daftar kecil dan sehari-hari — pilihan yang ia buat karena ingin, bukan karena benar. Dan tetap saja, di tengah semua itu, keinginannya sederhana: dianggap serius oleh seseorang.

Kata "normal" dalam judul itu pun akhirnya terasa seperti sindiran. Karena tidak ada satu pun perempuan yang benar-benar cocok dengan definisi tersebut. Yang ada hanyalah perempuan yang lebih pandai menyembunyikan bagian dirinya yang tidak sesuai standar. "Normal girl" bukan manusia. Ia adalah peran, dan lagu ini adalah suara seseorang yang gagal audisi untuk peran itu — lalu diam-diam bertanya apakah peran itu memang layak diperjuangkan.

Yang tidak dilakukan lagu ini juga penting: ia tidak berakhir dengan pemberdayaan. Tidak ada momen di mana si narator berdiri tegak, menolak standar itu, dan berjalan pergi. Ia tetap berada di tengah kebingungannya. Itu yang membuat lagu ini terasa seperti orang sungguhan, bukan slogan.

Album yang jadi kitab suci satu generasi

"Normal Girl" bukan single besar. Ia bukan lagu yang membanjiri radio seperti "Love Galore" atau "The Weekend". Ia lebih mirip lagu yang ditemukan sendiri oleh pendengar, dikirim lewat pesan tengah malam ke sahabat, atau dijadikan caption diam-diam.

Namun posisinya di album sangat strategis. Ia diletakkan di bagian akhir Ctrl, tepat sebelum lagu-lagu penutup yang paling reflektif — bagian di mana album berhenti bercerita tentang drama percintaan dan mulai bicara soal siapa dirinya sebenarnya. Setelah belasan lagu tentang cemburu, gairah, dan rasa tidak aman, "Normal Girl" datang seperti kesimpulan yang tidak pernah diucapkan: mungkin semua kekacauan ini terjadi karena aku terus mencoba menjadi orang lain.

Ctrl sendiri berubah jadi salah satu album paling berpengaruh dekade itu. Ia mendapat lima nominasi Grammy pada awal 2018, termasuk Best New Artist, dan SZA pulang tanpa satu pun piala — hasil yang saat itu ramai dianggap sebagai contoh penghargaan yang telat membaca zaman. Waktu membuktikan sebaliknya. Album itu terus terjual bertahun-tahun setelah rilis, dan hampir semua penyanyi R&B perempuan yang muncul sesudahnya berutang sesuatu padanya.

Yang diberikan Ctrl pada generasi berikutnya adalah izin. Izin untuk menulis lagu yang tidak menyelesaikan masalahnya. Izin untuk mengaku cemburu, tidak percaya diri, dan inkonsisten tanpa harus menutupnya dengan pesan pemberdayaan yang rapi di bar terakhir. Sebelum album ini, R&B perempuan arus utama sering dituntut memilih antara dua peran: perempuan kuat atau perempuan patah hati. SZA menolak keduanya dan memilih peran ketiga — perempuan yang sedang berpikir keras dan belum tahu jawabannya.

Video musiknya, yang dirilis tak lama setelah album, memperkuat ironi lagu ini. Suasananya berkisar di sekitar pesta rumah dan momen-momen khas masa sekolah menengah Amerika — ruang sosial di mana penilaian tentang siapa yang "pantas" dan siapa yang "tidak" pertama kali dipelajari orang. Tempat yang benar dengan perasaan yang salah.

Dalam beberapa tahun terakhir, lagu ini juga menemukan hidup kedua di media sosial. Potongannya beredar sebagai suara latar untuk video tentang standar kencan, tentang perempuan yang dijadikan pilihan cadangan, dan tentang tekanan menjadi "layak dinikahi". Pendengar yang belum lahir saat lagu ini dibuat menemukannya lewat layar ponsel, dan reaksinya nyaris selalu sama: ini kok terasa seperti tentang aku.

Kenapa masih menusuk sampai hari ini

Karena mesin yang dibongkar lagu ini justru makin kencang, bukan melambat.

Kita hidup di era di mana setiap orang punya arsip publik atas dirinya sendiri. Foto lama, komentar lama, mantan yang masih terlihat di daftar teman. Gagasan tentang perempuan yang "bersih" dan layak dibawa pulang bukan cuma bertahan — ia sekarang bisa diverifikasi orang lain dengan beberapa kali usap layar. "Normal Girl" adalah lagu tentang ketakutan itu, ditulis sebelum banyak orang punya kosakata untuk menyebutnya.

Di Indonesia, tekanan ini punya bentuknya sendiri dan terasa lebih berat karena datang dari orang-orang yang kita sayangi. Pertanyaan di meja makan lebaran. Penilaian yang tidak diucapkan langsung tapi terasa jelas. Perbedaan standar yang mencolok antara apa yang dimaklumi untuk anak laki-laki dan apa yang dituntut dari anak perempuan. Banyak orang belajar sejak kecil untuk mengelola citra dirinya di mata keluarga besar, bukan untuk mengenal dirinya sendiri.

"Normal Girl" berbicara ke ruang itu tanpa pernah menyebut satu pun budaya secara spesifik. Ia hanya menunjukkan seseorang yang menghitung berapa banyak dari dirinya yang harus dipotong agar muat ke dalam bingkai yang disodorkan orang lain — lalu diam-diam bertanya kenapa ia harus melakukannya sejak awal.

Dan di situlah kekuatannya yang sebenarnya. Lagu ini tidak menyuruh kamu berhenti peduli pada penilaian orang. Ia terlalu jujur untuk memberi nasihat semudah itu. Ia hanya menyalakan lampu di ruangan tempat perasaan itu tinggal, menunjukkan bahwa perasaan tersebut punya bentuk dan nama, lalu membiarkanmu duduk di sana sebentar.

Hampir satu dekade setelah rilis, lagu berdurasi sekitar tiga menit itu masih melakukan tugas yang sama. Terdengar manis dari kejauhan, terasa seperti cermin dari dekat.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti ceritanya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s