SONGFABLE · 2022

Nobody Gets Me

SZA · 2022

TL;DR: "Nobody Gets Me" bukan lagu patah hati biasa tentang kehilangan pasangan, melainkan tentang kehilangan satu-satunya orang yang pernah benar-benar memahamimu apa adanya. Yang ditangisi SZA bukan cintanya, tapi rasa aman yang muncul saat kamu tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Yang Paling Menakutkan Bukan Sendirian, Tapi Tidak Dimengerti

Ada satu ketakutan yang jarang diakui orang dewasa: bukan takut sendirian, tapi takut tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar paham siapa kita. "Nobody Gets Me" berdiri persis di titik itu. Judulnya sudah membocorkan semuanya, tapi kebanyakan pendengar pertama kali justru terpaku pada suaranya yang serak, hampir pecah, dan gitar akustik yang telanjang tanpa hiasan.

Di sinilah kejutannya. Album "SOS" adalah album R&B modern yang penuh produksi mewah, drum yang tebal, dan sampel yang cerdas. Lalu tiba-tiba, di bagian akhir album, semua itu dilucuti. Yang tersisa cuma petikan gitar dan seorang perempuan yang terdengar seperti sedang menyanyi sendirian di kamar pada jam tiga pagi. Efeknya brutal justru karena ia tidak berusaha terdengar indah.

Dan inti pesannya lebih tajam dari sekadar "aku merindukanmu." Sang narator tidak sedang meminta kekasihnya kembali karena cinta yang membara. Ia sedang panik karena sadar bahwa orang itu adalah satu-satunya manusia yang pernah melihat versi dirinya yang paling berantakan dan tetap tinggal. Kehilangan pasangan bisa disembuhkan waktu. Kehilangan saksi hidupmu adalah cerita lain.

Dari Maplewood ke "SOS": Lima Tahun Penantian yang Menyiksa

Untuk memahami betapa mentahnya lagu ini, kita perlu tahu siapa SZA sebelum "SOS". Nama aslinya Solána Imani Rowe, lahir di St. Louis, Missouri, pada 1989, lalu tumbuh besar di Maplewood, New Jersey. Ayahnya seorang Muslim yang taat, ibunya seorang Kristen, dan ia sendiri sempat mengenakan hijab semasa kecil hingga remaja. Setelah peristiwa 11 September, ia konon mengalami perundungan di sekolah dan akhirnya melepas hijabnya, sebuah pengalaman yang membentuk rasa asing dan rasa tidak diterima yang terus muncul dalam karyanya.

Ia sempat kuliah jurusan kelautan sebelum berhenti, lalu bekerja serabutan termasuk di toko pakaian, sebelum akhirnya menandatangani kontrak dengan Top Dawg Entertainment, label yang juga menaungi Kendrick Lamar. SZA menjadi artis perempuan pertama yang direkrut label tersebut. Album debutnya, "Ctrl" (2017), meledak dan menjadi salah satu rilisan R&B paling berpengaruh dekade itu karena kejujurannya yang canggung dan tidak terpoles.

Masalahnya, setelah itu SZA menghilang lama. Ada kabar tentang masalah pita suara, kelelahan mental, dan konflik dengan label soal kapan album kedua akan keluar. Penggemar menunggu selama lima tahun penuh, sebuah eternitas dalam industri musik era streaming. Ketika "SOS" akhirnya rilis pada 9 Desember 2022, album itu berisi 23 lagu, seolah SZA menumpahkan semua yang tertahan selama bertahun-tahun sekaligus. Sampul albumnya, yang menampilkan dirinya duduk sendirian di ujung papan loncat di tengah laut lepas, konon terinspirasi foto terkenal Putri Diana. Gambar itu sendiri sudah menjelaskan tema album: terapung, terisolasi, mengirim sinyal darurat.

"Nobody Gets Me" duduk di bagian akhir album, dan langsung dikenali sebagai salah satu momen paling emosional di sana. Lagu ini konon digarap bersama kolaborator dekat SZA seperti Carter Lang dan Rob Bisel, yang juga menangani sebagian besar tekstur album. Beberapa laporan menyebut lagu ini lahir dari sesi yang sangat cepat dan spontan, yang mungkin menjelaskan kenapa vokalnya terdengar tidak dipoles sama sekali, lengkap dengan napas dan suara yang goyah.

Bagi pendengar musik Barat di Indonesia, ada koneksi yang menarik di sini. Indonesia punya tradisi panjang lagu galau berbasis gitar akustik, dari balada-balada 1990-an hingga gelombang folk indie modern seperti Fourtwnty, Pamungkas, atau Nadin Amizah, yang sama-sama mengandalkan kejujuran mentah ketimbang produksi megah. "Nobody Gets Me" terasa seperti sepupu jauh dari tradisi itu. Tidak mengherankan kalau lagu ini cepat menyebar di kalangan pendengar Indonesia lewat TikTok dan playlist Spotify bertema patah hati, dan sering muncul dalam sesi cover akustik di kanal-kanal YouTube lokal. Ada sesuatu di lagu ini yang cocok dengan kegemaran kita pada musik yang tidak malu-malu terdengar rapuh.

Membongkar Maknanya: Kehilangan Saksi, Bukan Sekadar Kekasih

Mari kita bedah isinya tanpa mengutip satu baris pun. Sepanjang lagu, sang narator menggambarkan dirinya dalam keadaan pasca-perpisahan yang berantakan. Ia mencoba mengisi kekosongan dengan orang lain, dengan hiburan, dengan pelarian yang jelas-jelas tidak berhasil. Nada bicaranya bukan nada orang yang sedang menuntut, tapi orang yang sedang mengaku kalah.

Yang membuatnya berbeda dari ribuan lagu putus cinta lain adalah letak rasa sakitnya. Narator tidak terlalu banyak bicara tentang betapa hebatnya mantan kekasihnya, atau betapa romantis hubungan mereka. Fokusnya justru pada satu hal: bersama orang itu, ia tidak perlu menjelaskan dirinya sendiri. Tidak perlu menyaring, tidak perlu menyesuaikan versi diri agar bisa diterima. Itulah komoditas paling langka yang bisa ditawarkan seseorang, dan itulah yang hilang.

Ada juga lapisan tentang kesendirian yang bersifat eksistensial. Narator menyiratkan bahwa jika hubungan itu benar-benar berakhir, ia tidak yakin akan menemukan penggantinya, bukan karena tidak ada calon lain, tapi karena ia meragukan dirinya cukup mudah dicintai. Ini adalah pengakuan yang sangat jarang dinyanyikan dengan sejelas itu oleh bintang sebesar SZA. Alih-alih membangun citra perempuan kuat yang move on dengan anggun, ia memilih menunjukkan dirinya di titik paling tidak keren.

Detail lain yang membuat lagu ini terasa nyata adalah cara narator menggambarkan usahanya untuk mengalihkan perhatian. Ia menyebutkan mencoba bersenang-senang, mencoba hadir di keramaian, mencoba merasakan sesuatu bersama orang baru. Semua itu digambarkan hampa. Siapa pun yang pernah pergi ke sebuah acara ramai justru karena tidak sanggup diam di rumah akan langsung mengenali perasaan itu.

Yang paling menghantam adalah cara penyampaiannya. SZA menyanyikan bagian akhir lagu dengan volume yang naik hingga hampir berteriak, sebuah teknik yang lebih dekat ke rock atau grunge daripada R&B. Suaranya sengaja dibiarkan tidak sempurna. Nadanya sesekali meleset. Dan justru karena itulah pendengar percaya. Ini bukan penampilan vokal yang ingin memamerkan kemampuan, ini rekaman seseorang yang sedang benar-benar hancur.

Gitar Akustik di Album R&B: Keputusan yang Lebih Berani daripada Terlihat

Salah satu hal yang membuat "Nobody Gets Me" menonjol adalah keberaniannya secara musikal. Di 2022, seorang bintang R&B perempuan Amerika keturunan Afrika yang merilis balada gitar akustik bernuansa country dan folk masih dianggap keputusan yang melanggar batas genre. Industri musik Amerika punya sejarah panjang mengotak-ngotakkan artis kulit hitam ke dalam genre tertentu, dan SZA secara terang-terangan menolak kotak itu.

Ia sendiri kerap menyebut pengaruh musik yang beragam dalam wawancara, mulai dari grunge, rock alternatif, hingga jazz dan hip-hop. "SOS" mencerminkan itu semua. Ada lagu yang terasa seperti punk-pop, ada yang murni R&B klasik, ada yang berbau surf rock, dan "Nobody Gets Me" adalah momen ketika album itu berbelok ke arah folk yang sunyi.

Keputusan ini terbukti berdampak. Beberapa tahun setelah rilis, gelombang artis kulit hitam yang menjelajahi country dan folk semakin terlihat di industri Amerika, dan banyak kritikus menyebut lagu-lagu seperti ini sebagai bagian dari pembukaan pintu tersebut. Terlepas dari perdebatan soal siapa yang lebih dulu, faktanya "Nobody Gets Me" membuktikan bahwa pendengar arus utama siap menerima kerapuhan yang disajikan hampir tanpa produksi apa pun.

Menariknya, lagu ini tidak pernah dirancang sebagai single utama, tapi tetap menemukan jalannya sendiri ke tangga lagu global berkat streaming dan gelombang video pendek. Ini pola khas era sekarang: lagu terbaik dari sebuah album kadang bukan yang dipromosikan label, melainkan yang dipilih pendengar sendiri karena terasa paling jujur.

Konteks Budaya dan Warisan yang Ditinggalkan

"SOS" mendarat di puncak tangga album Amerika dan bertahan di sana selama berminggu-minggu, menjadikannya salah satu album paling dominan dalam beberapa tahun terakhir. Album ini mengubah status SZA dari artis yang dipuja kritikus menjadi bintang pop global sepenuhnya, sesuatu yang jarang terjadi tanpa kompromi artistik.

Dalam konteks budaya yang lebih luas, "Nobody Gets Me" tiba pada momen ketika percakapan tentang kesehatan mental sedang meluas, terutama di kalangan generasi muda. Lagu ini tidak menawarkan solusi, tidak menawarkan pesan penyembuhan yang rapi, dan tidak berakhir dengan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya duduk bersama rasa sakitnya. Bagi banyak pendengar, kejujuran tanpa penyelesaian itu justru terasa lebih menghibur daripada nasihat optimis.

Lagu ini juga menjadi salah satu momen paling ditunggu dalam tur SZA. Konon di panggung, bagian akhir lagu ini kerap dinyanyikan penonton dengan keras beramai-ramai, mengubah pengakuan yang sangat pribadi menjadi ritual kolektif. Ada ironi yang indah di sana: sebuah lagu tentang tidak ada yang memahamimu, dinyanyikan serempak oleh ribuan orang yang jelas-jelas memahaminya.

Di Indonesia, dampaknya terasa lewat jalur yang sedikit berbeda. Lagu ini menjadi bahan pokok playlist tengah malam, sering muncul di caption media sosial, dan menjadi favorit untuk versi cover akustik karena strukturnya yang sederhana dan emosinya yang gamblang. Penggemar musik Barat di Indonesia yang tumbuh dengan tradisi lagu galau menemukan sesuatu yang familiar di dalamnya, meski dinyanyikan dalam bahasa lain. Antusiasme terhadap SZA di kawasan Asia Tenggara juga terus tumbuh, dan permintaan agar ia menggelar konser di kawasan ini menjadi topik yang berulang di media sosial penggemar Indonesia.

Kenapa Lagu Ini Masih Menghantui Sampai Sekarang

Alasan pertama adalah universalitas rasa sakitnya. Hampir semua orang pernah kehilangan seseorang yang bersamanya kita merasa tidak perlu menjelaskan apa pun. Bisa mantan kekasih, bisa sahabat lama, bisa anggota keluarga. Perasaan "tidak akan ada lagi yang sepaham itu" adalah salah satu bentuk kesepian paling murni, dan lagu ini menamainya dengan sangat tepat.

Alasan kedua adalah keberanian SZA untuk terdengar tidak sempurna. Di era ketika suara bisa dipoles sampai steril dan setiap unggahan bisa disaring hingga tanpa cela, mendengar seseorang menyanyi dengan suara yang hampir pecah terasa seperti hadiah. Ada semacam kelegaan ketika kita menyadari bahwa bintang sebesar dia pun kadang berantakan, dan tidak berusaha menutupinya.

Alasan ketiga adalah kesederhanaan bentuknya. Gitar, suara, dan sedikit ruang kosong. Aransemen semacam ini tidak menua, karena tidak bergantung pada tren produksi tertentu. Sepuluh tahun dari sekarang, lagu ini kemungkinan besar akan terdengar sama relevannya, sama seperti balada akustik dari dekade-dekade sebelumnya yang masih hidup sampai hari ini.

Dan yang terakhir, mungkin yang paling penting: lagu ini memberi izin. Izin untuk tidak baik-baik saja, izin untuk mengakui bahwa kita takut tidak akan dimengerti lagi, izin untuk berhenti berpura-pura kuat sebentar saja. Musik terbaik sering kali bukan yang mengajari kita cara merasa, melainkan yang memberi tahu kita bahwa perasaan yang sudah kita miliki itu sah. "Nobody Gets Me" melakukan itu dengan cara yang tidak sopan, tidak rapi, dan sangat manusiawi. Itulah sebabnya lagu ini terus menemukan pendengar baru, satu malam sepi demi satu malam sepi.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Hanyut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s