SONGFABLE · 2023

A&W

LANA DEL REY · 2023

TL;DR: "A&W" bukan lagu tentang perselingkuhan atau seks bebas — ini lagu tentang bagaimana seorang perempuan menyerap label buruk yang ditempelkan dunia padanya sampai ia sendiri percaya, lalu menolak menjelaskan diri sama sekali. Judulnya sendiri adalah plesetan getir: singkatan dari "American Whore", disamarkan jadi nama merek root beer yang manis.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Ketika lelucon paling pahit disembunyikan di balik nama minuman ringan

Bayangkan sebuah lagu berdurasi hampir tujuh menit yang membelah dirinya sendiri di tengah jalan. Paruh pertamanya lambat, akustik, hampir seperti pengakuan yang dibisikkan di kamar tidur pada jam tiga pagi. Lalu tiba-tiba semuanya runtuh — gitar menghilang, trap beat masuk, dan suara yang tadinya rapuh berubah jadi nyanyian anak-anak yang berulang-ulang seperti mantra atau lagu skipping rope di halaman sekolah. Dua bagian ini terasa seperti dua lagu berbeda yang dijahit paksa. Dan justru di situlah letak jeniusnya.

"A&W" adalah lagu keempat dari album Did You Know That There's a Tunnel Under Ocean Blvd (2023), album kesembilan Lana Del Rey. Sebagian besar kritikus menyebutnya sebagai puncak artistik album itu, dan beberapa bahkan menyebutnya sebagai lagu terbaik yang pernah ia tulis. Pitchfork memberinya predikat "Best New Track", dan lagu ini masuk daftar lagu terbaik 2023 versi banyak media internasional.

Yang membuat orang tersentak bukan produksinya. Tapi kesadaran perlahan bahwa judul "A&W" — yang di Amerika langsung mengingatkan orang pada merek root beer legendaris dengan logo oranye — sebenarnya adalah singkatan dari "American Whore". Lana menyembunyikan kata paling kasar tentang dirinya di balik nama minuman yang dijual di setiap pom bensin Amerika. Itu bukan sekadar permainan kata. Itu tesis seluruh lagunya.

Perempuan yang sudah lelah membela diri

Untuk memahami "A&W", kamu perlu tahu bahwa Lana Del Rey (nama asli Elizabeth Woolridge Grant, lahir 1985 di New York) sudah lebih dari satu dekade hidup di bawah tuduhan. Sejak debutnya dengan "Video Games" (2011) dan album Born to Die (2012), ia dituduh palsu, dituduh mengglamorkan hubungan yang tidak sehat, dituduh anti-feminis, dituduh terlalu banyak menulis tentang laki-laki yang memperlakukannya buruk. Penampilan awalnya di Saturday Night Live dihujat habis-habisan. Selama bertahun-tahun ia dijadikan bahan lelucon internet.

Yang menarik: dalam periode yang sama, ia perlahan berubah dari bahan olok-olok menjadi salah satu penulis lagu paling dihormati generasinya. Album Norman Fucking Rockwell! (2019) mendapat nominasi Album of the Year di Grammy. Musisi-musisi muda mulai menyebutnya sebagai pengaruh utama. Namun luka dari dekade pertama itu tidak hilang — dan "A&W" terdengar seperti lagu yang ditulis oleh seseorang yang akhirnya berhenti berusaha meluruskan citranya.

Lagu ini ditulis bersama Jack Antonoff, produser yang juga bekerja dengan Taylor Swift dan Lorde, serta ditulis bersama Sam Dew. Antonoff pernah bercerita bahwa banyak materi album ini lahir dari sesi yang sangat cair, di mana ide bisa berubah arah total di tengah rekaman. Struktur "A&W" yang seolah patah di tengah konon memang lahir secara organik seperti itu — bukan konsep yang direncanakan di atas kertas lebih dulu, melainkan sesuatu yang muncul begitu saja dan mereka putuskan untuk pertahankan.

Buat pendengar Indonesia, ada satu hal yang membuat lagu ini terasa akrab meski konteksnya sangat Amerika. Konsep "perempuan yang reputasinya rusak lalu tidak pernah bisa dipulihkan" adalah bahasa yang kita semua paham. Di sini kita menyebutnya dengan istilah-istilah lain, tapi mekanismenya sama: sekali seorang perempuan dilabeli, label itu menempel seumur hidup, dan yang ditanya bukan siapa yang melabeli, tapi kenapa ia sampai dilabeli. Lana menulis tentang budaya Americana — motel, pantai, mobil, Tuhan, dan rasa bersalah Kristen — tapi mesin sosial yang ia bongkar bekerja persis sama di Jakarta, di Surabaya, atau di grup WhatsApp keluarga besar.

Paruh pertama: bagaimana rasa malu berpindah tangan

Bagian pertama lagu ini berjalan seperti monolog. Narator menggambarkan tubuhnya yang menua, kesepian yang panjang, dan hubungan-hubungan yang tidak membuatnya merasa dilihat. Ia menyinggung masa kecil dan sesuatu yang terjadi padanya sejak muda — sesuatu yang tidak pernah dinamai secara eksplisit, tapi bayangannya terasa di seluruh lagu.

Yang paling menghantui adalah caranya memutar logika. Alih-alih membantah tuduhan bahwa ia perempuan murahan, ia justru menerimanya — bukan dengan bangga, tapi dengan nada lelah seperti orang yang menyerah berdebat. Ia menyimpulkan bahwa kalau memang begitu yang orang lihat, maka mungkin memang itulah dirinya. Dan kalimat paling dingin dari bagian ini adalah pengamatan bahwa tidak ada yang peduli soal apa yang sebenarnya terjadi padanya; yang orang ingat cuma reputasinya.

Ini adalah gambaran psikologis yang sangat presisi tentang apa yang disebut internalized shame — rasa malu yang awalnya ditempelkan dari luar, lalu diserap sampai menjadi identitas. Korban berhenti membela diri karena membela diri sudah terbukti tidak ada gunanya. Lana tidak menyanyikan ini sebagai keluhan. Ia menyanyikannya sebagai fakta cuaca.

Musiknya mendukung total. Gitar akustik yang berjalan pelan, lapisan vokal yang saling menumpuk seperti pikiran yang tidak berhenti, dan ruang kosong yang banyak — seolah kamu sedang mendengar seseorang berpikir keras sendirian.

Paruh kedua: Jimmy, dan kegembiraan yang terasa seperti kehancuran

Lalu semuanya berubah. Sekitar menit keempat, lagu itu seperti mengganti kepribadian. Beat trap masuk, produksi jadi keras dan modern, dan Lana mulai menyanyikan bagian berulang tentang sosok bernama Jimmy dengan nada mengejek yang hampir seperti permainan anak-anak.

Bagian ini sering disalahpahami sebagai bagian yang "menyenangkan". Padahal justru sebaliknya. Cara Lana mengulang-ulang nama itu dengan irama seperti lagu lompat tali membuatnya terdengar seperti seseorang yang sudah kehilangan pijakan — bukan bersenang-senang, tapi berputar-putar di tempat. Ada kesan mabuk, ada kesan disosiasi, ada kesan seseorang yang sedang tertawa terlalu keras di pesta yang sudah tidak ia nikmati.

Isinya sendiri getir: sosok laki-laki yang selalu menjanjikan sesuatu tapi tidak pernah menepati, hubungan yang jelas-jelas transaksional, dan narator yang tahu persis apa yang sedang terjadi tapi tetap ikut. Ada juga referensi doa yang diselipkan di tengah kekacauan — perpaduan khas Lana antara religiusitas dan kehancuran, seolah orang bisa berdoa dan menghancurkan dirinya sendiri di menit yang sama.

Kalau paruh pertama adalah pengakuan yang jujur, paruh kedua adalah apa yang terjadi setelah pengakuan itu tidak didengar siapa pun: kamu berhenti bicara serius dan mulai memainkan karakter yang sudah dituliskan orang lain untukmu. Nyanyian anak-anak itu bukan kegembiraan. Itu bunyi seseorang yang berubah jadi karikatur dirinya sendiri karena itu satu-satunya peran yang tersedia.

Warisan: lagu yang mengubah cara orang membaca seluruh diskografinya

Setelah "A&W" rilis pada Februari 2023, banyak pendengar dan kritikus melakukan sesuatu yang jarang terjadi: mereka mendengar ulang lagu-lagu lama Lana dengan telinga baru. Tuduhan lama bahwa ia "mengglamorkan" hubungan yang merusak jadi terasa salah baca. "A&W" pada dasarnya berkata bahwa selama ini ia sedang mendokumentasikan, bukan merayakan — dan bahwa kegagalan pendengar membedakan keduanya adalah bagian dari masalah yang ia nyanyikan.

Lagu ini juga memperkuat posisi Lana sebagai penulis yang berani melawan format. Di era di mana lagu-lagu dipotong pendek demi algoritma dan TikTok, ia merilis single berdurasi tujuh menit lebih dengan struktur yang menolak reff konvensional. Dan lagu itu tetap menembus — masuk chart, jadi bahan perbincangan besar, dan ironisnya justru bagian Jimmy yang menyebar luas di media sosial, sebuah ironi yang cocok dengan tema lagunya sendiri: bagian paling rusak dari cerita seorang perempuan justru yang paling ramai dikonsumsi orang.

Album induknya, Did You Know That There's a Tunnel Under Ocean Blvd, menerima pujian luas dan masuk nominasi Grammy untuk Album of the Year. Tapi "A&W" adalah lagu yang paling sering disebut ketika orang membicarakan album itu bertahun-tahun kemudian.

Kenapa lagu ini masih menusuk sampai sekarang

Karena mekanisme yang ia bongkar belum berubah sedikit pun.

Kita hidup di zaman di mana reputasi seseorang bisa dibentuk dalam satu utas viral, dan sekali terbentuk, hampir mustahil dibongkar. Kita masih lebih tertarik pada rumor tentang seorang perempuan daripada pada apa yang sebenarnya menimpanya. Kita masih menyuruh korban menjelaskan diri, lalu tidak percaya penjelasannya.

"A&W" tidak menawarkan solusi dan tidak meminta simpati. Ia hanya menaruh mekanisme itu di atas meja, menyalakan lampunya, dan membiarkan pendengar melihat sendiri betapa kejamnya. Lalu, di bagian kedua, ia menunjukkan apa yang terjadi pada seseorang yang hidup terlalu lama di bawah lampu itu.

Bagi pendengar muda Indonesia yang tumbuh dengan internet, lagu ini terasa seperti sesuatu yang sudah lama ingin diucapkan tapi tidak ada kosakatanya. Bahwa penilaian orang bisa jadi lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Bahwa kadang cara bertahan hidup yang paling mudah adalah berhenti membantah. Dan bahwa nama minuman ringan yang manis pun bisa dipakai untuk menyembunyikan luka yang tidak akan pernah sembuh.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti ceritanya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s