SONGFABLE · 2023

Used to Be Young

MILEY CYRUS · 2023

TL;DR: Banyak yang mengira "Used to Be Young" adalah permintaan maaf Miley Cyrus atas masa lalunya yang liar, padahal justru sebaliknya: ini adalah pembelaan lembut untuk versi dirinya yang dulu, sebuah pernyataan bahwa kekacauan di usia muda bukan aib yang harus dihapus, melainkan bagian sah dari cerita hidup seseorang.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Bukan Penyesalan, Melainkan Pembelaan

Ada satu kesalahpahaman yang menempel erat pada lagu ini. Ketika "Used to Be Young" dirilis pada akhir Agustus 2023, banyak orang buru-buru membacanya sebagai pengakuan dosa. Seolah-olah Miley Cyrus akhirnya duduk di depan mikrofon dan berkata, "Maaf ya, dulu saya memang keterlaluan." Judulnya pun mendukung tafsir itu, karena kalimat "dulu saya masih muda" sering kita pakai sebagai alasan untuk membenarkan tingkah konyol di masa lampau.

Tapi kalau kamu mendengarkan lagu ini dengan lebih tenang, yang muncul justru bukan rasa bersalah. Yang muncul adalah semacam pembelaan yang hangat dan sedikit keras kepala. Miley tidak sedang menyesali gadis yang dulu berdiri di panggung dengan rambut pirang cepak, lidah menjulur, dan sikap menantang terhadap seluruh industri hiburan. Ia sedang membelanya. Ia seperti berkata bahwa perempuan yang bertahan hidup hari ini tidak akan pernah ada tanpa perempuan berantakan yang dulu itu.

Perbedaannya halus tapi menentukan segalanya. Lagu penyesalan meminta pengampunan dari orang lain. Lagu ini tidak meminta apa pun. Ia hanya menaruh masa lalu di atas meja, memandanginya dengan mata yang sudah lebih tua, lalu memilih untuk tidak malu. Di situlah letak kekuatan yang membuat begitu banyak pendengar tiba-tiba menangis tanpa tahu persis kenapa.

Yang membuatnya terasa lebih menusuk lagi adalah cara Miley menyanyikannya. Suaranya yang serak khas itu, hasil dari kondisi pita suara langka yang membuat warna vokalnya berbeda dari kebanyakan penyanyi pop, terdengar seperti seseorang yang sudah lelah tapi belum menyerah. Setiap kali ia menaikkan volume di bagian refrain, kamu bisa mendengar bekas luka dan kelegaan bercampur jadi satu.

Perempuan Tiga Puluh Tahun yang Pernah Jadi Milik Semua Orang

Untuk memahami kenapa lagu ini terasa begitu berat, kita perlu mengingat siapa Miley Cyrus sebelum 2023. Ia lahir pada 1992 di Tennessee, anak dari Billy Ray Cyrus, penyanyi country yang meledak lewat "Achy Breaky Heart" pada awal 1990-an. Ibu baptisnya adalah Dolly Parton, legenda hidup musik country Amerika. Artinya, Miley besar di dalam industri musik, bukan sekadar masuk ke dalamnya.

Titik baliknya datang pada 2006, ketika Disney Channel menayangkan "Hannah Montana." Miley baru berusia tiga belas tahun. Serial itu bercerita tentang seorang remaja biasa yang menyimpan identitas rahasia sebagai bintang pop. Ironi hidupnya kemudian menjadi jelas: Miley menghabiskan masa remajanya memerankan seseorang yang punya dua wajah, sementara di dunia nyata ia sendiri harus mengelola dua identitas, antara anak Disney yang bersih dan remaja yang sedang tumbuh dengan segala kekacauannya.

Bagi banyak penggemar musik Barat di Indonesia, di sinilah cerita ini menjadi sangat personal. Disney Channel menjadi bagian penting dari ruang keluarga Indonesia pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an, dan Hannah Montana ditayangkan berdampingan dengan serial-serial lain yang membentuk selera generasi itu. Anak-anak SD dan SMP di Jakarta, Surabaya, Medan, sampai kota-kota kecil menyanyikan "The Climb" saat acara perpisahan sekolah, dan "Party in the U.S.A." menjadi lagu wajib di setiap kompilasi lagu barat yang beredar lewat flashdisk dan warnet. Miley bukan sekadar penyanyi asing bagi generasi tersebut. Ia adalah penanda waktu. Jadi ketika ia menyanyikan lagu tentang tidak lagi menjadi orang yang dulu, banyak pendengar Indonesia yang kini berusia akhir dua puluhan sampai tiga puluhan merasa lagu itu sekaligus berbicara tentang mereka sendiri.

Lompatan besar terjadi pada 2013 lewat album "Bangerz." Miley memotong rambutnya, meninggalkan citra Disney secara terang-terangan, dan tampil di panggung MTV Video Music Awards dengan penampilan yang memicu kehebohan global selama berminggu-minggu. Video musik "Wrecking Ball" menjadi bahan olokan sekaligus obsesi di seluruh dunia. Media memperlakukannya sebagai kasus, bukan sebagai manusia. Ada periode panjang ketika hampir setiap gerakan Miley dibahas dengan nada menghakimi, seolah seorang perempuan berusia dua puluh tahun berutang kesopanan kepada publik yang membesarkannya sejak kecil.

Sepuluh tahun kemudian, konteksnya berubah total. Pada Januari 2023 Miley merilis "Flowers," lagu yang meledak menjadi salah satu hit terbesar dekade itu dan bertengger di puncak tangga lagu banyak negara. Album "Endless Summer Vacation" menegaskan bahwa ia bukan lagi remaja pemberontak, melainkan musisi dewasa yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan. "Used to Be Young" muncul sebagai penutup era tersebut, dirilis beberapa bulan setelah album utamanya dan kemudian dimasukkan dalam versi lanjutan album itu.

Lagu ini konon ditulis Miley bersama Michael Pollack dan Gregory Aldae Hein, kolaborator yang juga terlibat dalam sejumlah materi lain di era yang sama. Menariknya, dikabarkan bahwa lagu ini sudah ada dalam bentuk awal jauh sebelum dirilis, dan Miley sempat menyimpannya karena merasa belum siap. Kalau benar demikian, itu masuk akal. Lagu semacam ini hanya bisa dinyanyikan dengan jujur oleh seseorang yang sudah cukup jauh dari kejadian yang ia ceritakan.

Membongkar Maknanya: Berdamai Tanpa Menghapus

Sepanjang lagu, Miley berbicara kepada dua pihak sekaligus, dan di sinilah kecerdikan penulisannya. Lapisan pertama adalah percakapan dengan orang-orang yang menghakiminya. Ia mengakui bahwa ia memang melakukan hal-hal yang mengundang perhatian, bahwa ia menghabiskan malam-malam dengan cara yang tidak bijaksana, bahwa ia tidak selalu memikirkan akibat dari perbuatannya. Tapi pengakuan itu tidak diikuti permohonan maaf. Ia menaruh titik di akhir kalimat, bukan tanda tanya.

Lapisan kedua, dan ini yang membuat banyak orang runtuh, adalah percakapan dengan dirinya sendiri yang dulu. Nada lagunya berubah menjadi seperti orang dewasa yang berjongkok di depan anak kecil. Ada rasa sayang di sana, rasa kasihan yang lembut, sekaligus rasa syukur. Seolah Miley ingin memberi tahu gadis berusia dua puluh tahun itu bahwa ia akan baik-baik saja, bahwa kebisingan yang mengelilinginya suatu hari akan mereda.

Ada juga tema tentang harga yang harus dibayar. Lagu ini menyiratkan bahwa kebebasan yang dulu ia rasakan datang bersama kesepian, dan bahwa kedewasaan yang ia miliki sekarang datang bersama kehilangan. Kamu tidak bisa mendapatkan ketenangan tanpa menyerahkan sesuatu. Yang diserahkan Miley adalah keliaran, spontanitas, dan keyakinan bahwa waktu tidak akan pernah habis. Ia tidak berpura-pura bahwa pertukaran itu tidak menyakitkan.

Yang paling menarik adalah cara lagu ini menolak logika "aku dulu buruk, sekarang aku baik." Struktur naratif semacam itu sangat umum di lagu-lagu pop tentang perubahan diri, dan biasanya membuat pendengar merasa dihakimi secara halus. "Used to Be Young" mengambil jalan lain. Ia menyatakan bahwa versi lama dan versi baru sama-sama sah, sama-sama nyata, dan yang satu tidak membatalkan yang lain. Perubahan digambarkan bukan sebagai penebusan, melainkan sebagai pergerakan alami waktu.

Aransemennya mendukung gagasan itu. Lagu ini dibangun dengan pola yang relatif sederhana, dimulai tenang lalu membesar secara bertahap. Tidak ada kejutan produksi yang mencolok, tidak ada trik yang mengalihkan perhatian. Semuanya diserahkan kepada suara dan cerita. Pilihan ini terasa disengaja: lagu tentang kejujuran sebaiknya tidak dibungkus terlalu rapi.

Video Musik dan Rangkaian Cerita yang Menyertainya

Video musiknya menjadi salah satu alasan lagu ini menempel begitu lama di ingatan orang. Konsepnya nyaris kosong. Hanya Miley, satu kamera, dan wajahnya. Ia mengenakan kaus bertuliskan Mickey Mouse Club, referensi langsung ke masa Disney yang membesarkannya, sebuah pilihan busana yang berfungsi seperti kalimat pembuka tanpa perlu satu kata pun.

Sepanjang video, ekspresinya berganti-ganti antara tertawa, menahan tangis, dan menatap kosong. Di beberapa momen ia jelas menangis, lalu tersenyum lagi seolah mengejek dirinya sendiri karena terbawa perasaan. Yang membuat video ini kuat adalah ketiadaan editan yang menyembunyikan keretakan itu. Kita menonton seseorang yang sedang berhadapan dengan kenangannya sendiri secara langsung, dan itu jauh lebih menggetarkan daripada sinematografi mewah mana pun.

Bersamaan dengan perilisan lagu, Miley juga meluncurkan rangkaian video pendek di media sosial dengan judul yang sama. Dalam seri itu ia menceritakan potongan-potongan memori dari kariernya, mulai dari masa audisi, hari-hari syuting, sampai kejadian di belakang panggung yang selama ini tidak pernah ia jelaskan. Strateginya cerdas sekaligus tulus: alih-alih membiarkan media menceritakan kembali hidupnya, ia mengambil alih narasi itu dengan suaranya sendiri. Banyak penggemar menyebut seri tersebut sebagai penutup emosional yang selama ini mereka butuhkan.

Konteks Budaya: Ketika Generasi Disney Menua Bersama

"Used to Be Young" muncul pada momen budaya yang sangat spesifik. Awal 2020-an adalah periode ketika publik mulai meninjau ulang cara media memperlakukan perempuan muda pada 2000-an dan 2010-an. Berbagai dokumenter dan diskusi daring membongkar bagaimana bintang perempuan waktu itu dikuliti habis-habisan oleh tabloid, ditertawakan saat mengalami krisis, dan dijadikan bahan hiburan ketika hidup mereka berantakan.

Dalam iklim seperti itu, lagu Miley terdengar seperti penutup bab. Ia tidak menuntut siapa pun, tidak menunjuk nama, tidak menuliskan daftar kesalahan orang lain. Ia hanya menceritakan versinya sendiri dan membiarkan pendengar menarik kesimpulan. Justru pendekatan yang menahan diri itulah yang membuat pesannya terasa dewasa dan sulit dibantah.

Ada dimensi generasi yang tak kalah penting. Anak-anak yang menonton Hannah Montana kini sudah bekerja, sebagian sudah menikah, sebagian sedang menghadapi tekanan hidup yang tidak pernah mereka bayangkan waktu kecil. Ketika Miley menyanyikan tentang tidak lagi menjadi orang yang dulu, ia sekaligus mengucapkannya atas nama satu generasi utuh. Di Indonesia, lagu ini beredar luas di media sosial dan sering dipasangkan dengan video kilas balik foto masa sekolah, momen wisuda, atau potret kamar kos yang sudah ditinggalkan.

Percakapan tentang quarter life crisis, inner child, dan proses berdamai dengan diri sendiri sudah lama menjadi bahasa sehari-hari di lini masa Indonesia. Lagu ini masuk ke dalam percakapan itu dengan mulus karena menawarkan sesuatu yang jarang: izin untuk tidak membenci diri sendiri yang dulu. Dalam budaya yang sering menekankan agar seseorang cepat "menjadi lebih baik," gagasan bahwa versi lamamu juga layak dihormati terasa menyegarkan dan sedikit memberontak.

Lagu ini juga mendapat pengakuan luas secara kritis dan komersial, masuk sepuluh besar di sejumlah negara dan menjadi salah satu momen penting dalam karier kedewasaan Miley. Tapi warisan sesungguhnya tidak terletak pada angka. Ia terletak pada bagaimana lagu ini mengubah cara publik melihat sosok Miley Cyrus: dari bahan gosip menjadi penulis lagu yang serius.

Kenapa Lagu Ini Masih Menggema

Alasan pertama sederhana. Semua orang punya versi diri yang membuat mereka meringis kalau diingat. Mungkin kamu pernah mengirim pesan yang memalukan, mengambil keputusan finansial yang buruk, atau memperlakukan seseorang dengan cara yang kini kamu sesali. Lagu ini tidak menyuruhmu melupakan hal itu. Ia menyuruhmu berhenti menghukum dirimu sendiri karena pernah menjadi manusia yang belum selesai.

Alasan kedua berhubungan dengan waktu. Kita hidup di era ketika seluruh jejak masa lalu tersimpan rapi di ponsel. Foto lama, unggahan lama, percakapan lama, semuanya bisa muncul lagi kapan saja lewat fitur kenangan. Generasi sebelumnya bisa membiarkan masa muda mereka memudar secara alami. Generasi sekarang tidak punya kemewahan itu. "Used to Be Young" menawarkan cara berdamai dengan arsip yang tidak pernah bisa kita hapus sepenuhnya.

Alasan ketiga terletak pada kejujuran teknis lagunya. Tidak ada usaha untuk membuat Miley terdengar sempurna. Suaranya bergetar di tempat-tempat yang seharusnya bergetar. Emosinya bocor keluar dari kontrol vokal. Di masa ketika begitu banyak rilisan pop terdengar seperti hasil perhitungan algoritma, ketidaksempurnaan yang dibiarkan hidup terasa seperti kemewahan.

Dan mungkin yang paling penting, lagu ini menyampaikan sesuatu yang jarang dikatakan dengan lantang: bahwa tumbuh dewasa bukan proses membuang diri yang lama, melainkan membawanya serta. Gadis yang dulu berbuat ceroboh itu tidak mati. Ia hanya menjadi lebih tenang. Selama pesan seperti itu masih dibutuhkan orang, dan sepertinya akan selalu dibutuhkan, "Used to Be Young" akan terus menemukan pendengar baru yang mendadak terdiam di tengah lagu.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Hanyut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s