SONGFABLE · 2021

Solar Power

LORDE · 2021 · BETHELLS BEACH (TE HENGA), AUCKLAND, NEW ZEALAND

TL;DR: Di balik gitar akustik yang terdengar seperti iklan liburan pantai, "Solar Power" sebenarnya adalah lagu tentang seseorang yang meninggalkan ketenaran, membuang ponselnya ke laut, dan menyadari bahwa dirinya mulai terdengar seperti pemimpin kultus. Lorde menyanyikan kebahagiaan sambil diam-diam menertawakan versi dirinya yang sedang bahagia itu.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Matahari yang ternyata bukan sekadar matahari

Bayangkan seorang penyanyi berusia dua puluh empat tahun yang pernah menulis album tentang patah hati di lantai dansa jam tiga pagi, tiba-tiba muncul kembali dengan lagu yang isinya: ayo ke pantai, tinggalkan gawaimu, biarkan kulitmu terbakar matahari. Banyak pendengar mengira Lorde telah "menyerah" pada kedalaman dan berpindah ke musik liburan yang ringan.

Mereka salah membaca lelucon yang sedang dimainkan.

"Solar Power" adalah lagu tentang seseorang yang begitu lelah dengan hidup yang serba terhubung sehingga ia melarikan diri ke alam — lalu, di tengah pelarian itu, mulai bicara seperti orang yang mendirikan agama baru. Dalam lagu ini Lorde memerankan sosok yang mengajak orang lain mengikutinya menuju cahaya, menjanjikan penyembuhan, memegang komando atas kerumunan di pasir. Ia sedang menjadi guru spiritual dadakan. Dan ia tahu persis betapa konyolnya itu.

Inilah yang membuat lagunya nakal: nada dan liriknya terdengar seratus persen tulus, tetapi ada senyum miring yang tersembunyi di dalamnya. Lorde sedang merayakan kebebasan sekaligus menyindir industri "penyembuhan diri" yang menjual matahari, kristal, dan retret mahal sebagai jawaban atas segala kehampaan modern. Ia menyanyikan kegembiraan yang nyata, sambil mengingatkan bahwa siapa pun yang menjanjikanmu keselamatan lewat sinar matahari sebaiknya jangan langsung dipercaya — termasuk dirinya sendiri.

Empat tahun menghilang, satu ekor anjing, dan perjalanan ke Antartika

Untuk memahami "Solar Power", kita perlu mundur ke tahun 2017. Saat itu Ella Yelich-O'Connor — nama asli Lorde — baru saja merilis Melodrama, album yang dipuji habis-habisan sebagai potret paling jujur tentang menjadi muda, mabuk, dan hancur. Album itu membuatnya menjadi salah satu penulis lagu paling dihormati generasinya. Lalu ia menghilang.

Selama hampir empat tahun tidak ada album baru, nyaris tidak ada wawancara, dan aktivitas media sosialnya menyusut drastis. Ia pulang ke Selandia Baru, kembali ke Auckland, kota tempat ia dibesarkan. Ia berenang di laut, berjalan tanpa alas kaki, dan — menurut ceritanya sendiri dalam berbagai wawancara — belajar hidup tanpa terus-menerus menatap layar.

Dua peristiwa membentuk periode ini. Yang pertama terasa kecil tapi menghancurkan: anjing kesayangannya, Pearl, mati pada tahun 2019. Lorde mengaku kehilangan itu membuat proses menulis albumnya terhenti cukup lama; beberapa lagu yang sudah ia siapkan konon tak lagi terasa benar setelahnya. Yang kedua terasa besar dan menakutkan: pada tahun yang sama ia ikut ekspedisi penelitian ke Antartika bersama ilmuwan Selandia Baru. Melihat es dari dekat, mendengar langsung penjelasan soal krisis iklim, membuatnya pulang dengan pertanyaan berbeda tentang matahari, alam, dan apa artinya menikmati bumi yang sedang sakit.

Album Solar Power yang lahir dari periode itu dirilis pada Agustus 2021, dengan lagu berjudul sama sebagai singel pembuka pada 10 Juni 2021 — tanggal yang dipilih bertepatan dengan gerhana matahari cincin. Produsernya adalah Jack Antonoff, kolaborator lama Lorde sejak Melodrama, yang juga bekerja dengan Taylor Swift dan Lana Del Rey. Vokal latar diisi oleh dua nama yang membuat penggemar musik indie langsung bersorak: Clairo dan Phoebe Bridgers. Sampul albumnya, foto Lorde melompat di atas kamera dengan langit sebagai latar, diambil di Bethells Beach — pantai berpasir hitam di sisi barat Auckland yang liar dan berangin, sangat jauh dari citra pantai resor yang rapi.

Dan di sinilah lagu ini menjadi menarik untuk pendengar Indonesia. Seluruh premis "Solar Power" bertumpu pada satu hal yang sebenarnya asing bagi kita: matahari sebagai barang langka. Di negara-negara beriklim sedang seperti Selandia Baru, Inggris, atau Amerika bagian utara, musim panas adalah peristiwa. Orang menunggunya berbulan-bulan, lalu meledak dalam euforia begitu suhu naik. Di Indonesia, matahari adalah kolega harian yang kadang menyebalkan. Kita justru mencari peneduh, bukan sinar.

Justru karena itu lagu ini menyimpan cermin yang menarik. Bali, Lombok, Gili, Nusa Penida — semuanya adalah tempat di mana orang dari belahan dunia lain datang mencari persis apa yang dinyanyikan Lorde: matahari sebagai obat, laut sebagai terapi, ponsel yang dimatikan sebagai ritual penyucian. Industri "healing" yang disindir dalam lagu ini secara harfiah punya kantor cabang di Canggu dan Ubud. Ketika Lorde memerankan sosok pemimpin spiritual yang menjanjikan pencerahan lewat sinar matahari, orang Indonesia punya kursi barisan depan untuk melihat fenomena itu berlangsung sungguhan setiap hari di pantai-pantai kita.

Ada lapisan kedua yang lebih serius. Kepedulian iklim yang mendorong album ini bukan urusan abstrak bagi Indonesia. Negara kepulauan dengan ribuan pulau kecil, pesisir yang terus terkikis, dan Jakarta yang perlahan turun permukaannya adalah tempat di mana kekhawatiran Lorde tentang bumi berhenti menjadi puisi dan mulai menjadi berita. Sebagai bentuk sikap, Lorde bahkan memilih tidak merilis album ini dalam format CD plastik konvensional dan menggantinya dengan produk berbahan lebih ramah lingkungan — keputusan yang saat itu cukup langka untuk artis sebesar dia.

Membedah maknanya: nabi palsu di atas pasir

Struktur emosional lagu ini bergerak dalam tiga tahap.

Tahap pertama: pelepasan. Lagu dibuka dengan gambaran seseorang yang secara sadar memutuskan hubungan dengan dunia digital. Gawai dibuang ke air. Panggilan tidak dijawab. Ini bukan sekadar liburan; ini pernyataan bahwa versi dirinya yang selalu bisa dihubungi sudah tamat. Bagi seorang bintang pop yang hidupnya dibangun di atas keterhubungan permanen dengan jutaan orang, tindakan ini punya bobot yang jauh lebih besar daripada sekadar "digital detox" akhir pekan.

Tahap kedua: euforia. Bagian tengah lagu penuh dengan sensasi fisik — kulit yang menghangat, pasir, air, tubuh yang bergerak bebas. Lorde menggambarkan kegembiraan yang sepenuhnya jasmani, kebahagiaan yang tidak butuh penjelasan intelektual. Setelah Melodrama yang seluruhnya terjadi di dalam ruangan, di malam hari, di kepala seseorang yang terluka, perpindahan ke luar ruangan di siang bolong ini terasa seperti membuka jendela di kamar yang terlalu lama tertutup.

Tahap ketiga: kecurigaan. Di sinilah lagu ini berubah dari ceria menjadi licik. Suara si penyanyi perlahan bergeser dari "aku bahagia" menjadi "ikutlah denganku dan kalian juga akan bahagia". Ia mulai memanggil pengikut. Ia menempatkan dirinya sebagai perantara antara kerumunan dan cahaya. Ada momen di mana ia terang-terangan mengakui bahwa dirinya mungkin sedang menipu — bahwa sosok penyelamat berbaju terang ini adalah peran, bukan kebenaran.

Itulah kunci lagu ini. "Solar Power" bukan lagu tentang menemukan kedamaian; ini lagu tentang betapa mudahnya kedamaian berubah menjadi dagangan. Lorde sendiri pernah menyebut bahwa karakter dalam lagu ini adalah versi dirinya yang sedang bersenang-senang tapi juga sedikit berbahaya, seorang pemandu yang belum tentu tahu jalan.

Perhatikan juga cara Lorde memperlakukan waktu dalam lagu ini. Tidak ada masa lalu yang disesali dan tidak ada masa depan yang dicemaskan; semuanya terjadi sekarang, di satu siang yang seolah tak berujung. Bagi seorang penulis lagu yang sebelumnya membangun seluruh album dari kenangan dan penyesalan, keputusan untuk mengunci lagu di satu hari saja adalah pilihan artistik yang berani. Efeknya membuat pendengar ikut terjebak dalam gelembung itu — dan begitu lagunya berakhir, kesadaran bahwa gelembung tadi tidak permanen datang seperti udara dingin.

Musiknya memperkuat trik itu. Aransemennya sengaja dibuat sederhana: gitar akustik yang bergoyang santai, ketukan yang longgar, tepuk tangan, dan vokal latar yang terdengar seperti sekelompok orang bernyanyi bersama di sekitar api unggun. Tidak ada ledakan produksi seperti di Melodrama. Kesederhanaan itu adalah bagian dari jebakan — telinga kita santai, penjagaan kita turun, dan sindirannya masuk tanpa terasa.

Warisan: lagu yang membelah pendengarnya

Reaksi terhadap "Solar Power" langsung terbelah, dan pembelahan itu sendiri menjadi bagian dari ceritanya.

Sebagian pendengar mendengar riff gitarnya dan langsung teringat pada "Freedom! '90" milik George Michael serta groove santai Primal Scream di era Screamadelica. Kemiripan dengan lagu George Michael cukup nyata sehingga, menurut laporan berbagai media saat itu, kredit penulisan turut diberikan kepadanya. Bagi sebagian orang ini penghormatan; bagi sebagian lain terlalu dekat untuk nyaman.

Secara komersial, lagu ini tidak mengulang kesuksesan raksasa "Royals". Di Amerika Serikat posisinya di tangga Billboard tergolong sederhana, meski di Selandia Baru lagu ini disambut sebagai peristiwa nasional. Kritikus pun terbagi: ada yang memuji keberaniannya membuang formula, ada yang menganggap albumnya terlalu longgar dan kurang bertaji. Lorde belakangan mengakui dalam beberapa wawancara bahwa ia sadar album ini tidak dipahami banyak orang pada saat dirilis, dan ia berdamai dengan itu.

Namun waktu berpihak pada lagu ini. Beberapa tahun setelah rilis, "Solar Power" mulai dibaca ulang sebagai salah satu komentar pop paling tajam tentang budaya wellness — tentang bagaimana pencarian ketenangan diubah menjadi produk, tentang influencer yang menjual ketenangan batin dalam paket berbayar, tentang betapa tipisnya garis antara komunitas dan kultus. Album ini juga menandai gelombang artis pop besar yang berani "memelankan" musiknya dan bicara soal alam serta iklim tanpa merasa harus berkhotbah.

Bagi karier Lorde sendiri, album ini berfungsi sebagai jeda yang perlu. Ia keluar dari citra "penyair remaja jenius" dan memasuki wilayah yang lebih berantakan dan lebih dewasa — wilayah di mana seorang seniman boleh salah langkah di depan umum. Karya-karyanya setelah itu terasa lebih bebas justru karena ia sudah pernah kehilangan konsensus pujian.

Kenapa lagu ini masih nyangkut sampai sekarang

Karena semua yang disindirnya justru semakin membesar.

Sejak 2021, tawaran "sembuh lewat alam" telah tumbuh menjadi ekosistem raksasa: retret sunyi, aplikasi meditasi berlangganan, konten soft life, jadwal pagi yang dipamerkan sebagai bukti moral, hingga liburan yang dirancang khusus supaya terlihat menenangkan di layar orang lain. Di Indonesia, semua ini punya wajah yang sangat familiar — dari staycation "self-healing" akhir pekan sampai konten pantai yang menjanjikan hidup lebih ringan.

"Solar Power" tidak melarang siapa pun menikmati semua itu. Lorde jelas benar-benar mencintai laut dan matahari; ketulusan itu terdengar. Yang ia lakukan lebih halus: ia menempatkan tanda tanya kecil di samping setiap janji keselamatan. Tanyakan siapa yang bicara. Tanyakan apa yang ia jual. Tanyakan apakah ketenangan yang ditawarkan itu benar-benar milikmu, atau sekadar versi yang lebih fotogenik dari kegelisahan yang sama.

Ada juga alasan yang lebih sederhana kenapa lagu ini bertahan: rasanya enak. Setelah bertahun-tahun kita hidup dengan ponsel yang tak pernah benar-benar mati, gagasan membuang benda itu ke air dan berjalan pergi tetap terasa seperti fantasi paling mewah yang bisa dibayangkan. Lorde memberi kita tiga menit untuk berpura-pura melakukannya — lalu, dengan sopan, mengingatkan bahwa kita tetap harus pulang, mengisi daya, dan berpikir sendiri.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Menelusuri ceritanya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mencobanya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s