SONGFABLE · 2017

Liability

LORDE · 2017

TL;DR: "Liability" bukan lagu patah hati biasa — ini pengakuan seorang perempuan 20 tahun yang sadar bahwa dirinya terlalu "banyak" untuk ditanggung orang lain, lalu memutuskan berhenti meminta maaf dan mulai menemani dirinya sendiri.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Ada satu kalimat yang mengubah seluruh lagu ini

Bayangkan seseorang yang baru saja menjual jutaan kopi album, tampil di panggung dunia, dan disebut-sebut sebagai suara generasi baru. Lalu orang itu duduk di kursi belakang mobil, menangis, dan menyimpulkan satu hal yang sangat tidak glamor: bahwa dia adalah beban.

Itulah titik lahir "Liability". Judulnya sendiri sudah tajam — dalam bahasa Inggris, liability adalah istilah akuntansi untuk kewajiban, utang, sesuatu yang tercatat di sisi minus neraca. Lorde memilih kata dari dunia keuangan untuk menggambarkan perasaan paling manusiawi: perasaan bahwa keberadaanmu membuat repot orang-orang yang menyayangimu.

Yang membuat lagu ini luar biasa bukan kesedihannya, melainkan ke mana kesedihan itu dibawa. Alih-alih memohon agar seseorang tetap tinggal, Lorde melakukan sesuatu yang jauh lebih berani: dia menerima label itu, memeluknya, lalu berdansa sendirian di ruang tamu bersama satu-satunya orang yang tidak akan pernah pergi — dirinya sendiri.

Empat tahun sunyi, satu rumah, dan sebuah pesta yang tidak pernah selesai

Untuk memahami "Liability", kita perlu mundur ke 2013. Ella Yelich-O'Connor — nama asli Lorde — masih remaja dari Devonport, pinggiran Auckland, Selandia Baru, ketika "Royals" meledak dan menjungkirbalikkan tangga lagu dunia. Album debutnya, Pure Heroine, adalah potret anak muda pinggiran yang mengamati kemewahan dari kejauhan dengan nada sinis dan cerdas.

Lalu dia menghilang hampir empat tahun.

Yang terjadi dalam jeda itu adalah kehidupan biasa yang datang di waktu yang sangat tidak biasa: dia pindah ke apartemen sendiri, mengakhiri hubungan panjang dengan pacarnya, dan mengalami masa-masa pertama tinggal sendirian sebagai orang dewasa — sambil, secara bersamaan, menjadi selebritas global. Melodrama, yang rilis pada Juni 2017, adalah hasil dari periode itu. Konsepnya sederhana tapi brilian: satu album yang mengikuti busur emosi satu malam pesta di rumah, dari euforia awal, ke kerusuhan tengah malam, ke kesunyian pukul empat pagi ketika semua orang sudah pulang.

"Liability" adalah momen pukul empat pagi itu. Lorde mengerjakan album ini sebagian besar bersama Jack Antonoff — produser yang belakangan dikenal lewat kolaborasinya dengan Taylor Swift, Lana Del Rey, dan St. Vincent. Tapi berbeda dari lagu-lagu lain di album yang penuh lapisan synth dan drum yang meledak, "Liability" nyaris telanjang: hanya piano dan suara. Kabarnya lagu ini ditulis sangat cepat — dalam hitungan sekitar satu jam — setelah Lorde mendengarkan sebuah lagu Rihanna di dalam mobil, menangis, lalu langsung pulang dan menumpahkan semuanya ke piano.

Lorde juga dikenal memiliki sinestesia, kondisi ketika suara dipersepsikan sebagai warna dan tekstur. Dia sering menjelaskan produksi lagunya dalam istilah visual, dan konon kesederhanaan aransemen "Liability" adalah pilihan sadar: warna lagu ini harus tetap pucat dan telanjang, tanpa apa pun yang bisa disembunyikan.

Buat pendengar Indonesia, ada satu detail yang membuat hubungan ini terasa lebih dekat: Lorde kabarnya menjadi salah satu penampil utama We The Fest di Jakarta pada 2018, tak lama setelah era Melodrama. Bagi banyak penggemar di sini, itu momen ketika lagu-lagu yang selama ini hanya hidup di earphone tiba-tiba dinyanyikan bersama ribuan orang di lapangan yang lembap dan penuh keringat — sebuah ironi yang manis untuk lagu tentang kesepian.

Ketika "aku terlalu berlebihan" berubah jadi kemerdekaan

Inti "Liability" bisa diringkas begini: seseorang menyadari bahwa dirinya adalah mainan yang menyenangkan pada awalnya, lalu berubah menjadi merepotkan setelah orang lain mengenalnya lebih dekat.

Lorde menggambarkan pola yang mungkin dikenali banyak orang. Di fase awal sebuah hubungan — entah percintaan, pertemanan, atau bahkan relasi dengan publik — intensitas emosinya terasa memikat. Dia menarik, penuh warna, hidup. Tapi seiring waktu, intensitas yang sama mulai terasa melelahkan bagi orang lain. Yang tadinya dianggap seru, kini dianggap terlalu. Dan orang-orang, satu per satu, pergi.

Yang penting adalah bagaimana dia merespons. Bagian tengah lagu menggambarkan dirinya pulang ke rumah, menyalakan musik, dan berdansa sendirian — bukan sebagai adegan patah hati, melainkan sebagai ritual perawatan diri. Dia memperlakukan dirinya sendiri sebagai kekasih terakhir yang tersisa: satu-satunya sosok yang tidak akan bosan, tidak akan menyerah, tidak akan menyebutnya terlalu.

Lapisan kedua lagu ini menyangkut ketenaran. Lorde pernah menjelaskan bahwa "Liability" tidak hanya tentang seorang mantan kekasih, tapi juga tentang menjadi figur publik — tentang perasaan bahwa dirinya adalah aset selama menguntungkan, dan menjadi beban ketika tidak. Cara pandang ini menjelaskan kenapa kosakata finansial dipilih: dalam hubungan tertentu, manusia benar-benar dihitung untung-ruginya.

Dan ada satu twist struktural yang sering terlewat. Di paruh akhir Melodrama muncul "Liability (Reprise)", versi pendek yang kembali menyentuh tema yang sama tapi membalik kesimpulannya. Di sana, keyakinan bahwa dirinyalah masalahnya mulai retak. Mungkin bukan dia yang rusak. Mungkin dia hanya sedang berada di ruangan yang salah, bersama orang-orang yang tidak cukup besar untuk menampungnya. Dua lagu itu, dipisahkan beberapa track, membentuk percakapan: satu suara berbisik "aku terlalu berat", suara lain menjawab "atau kamu hanya sedang salah tempat".

Kenapa lagu sekecil ini meninggalkan bekas sebesar itu

Melodrama langsung menempati posisi puncak tangga album Amerika saat rilis dan mendapat pujian kritikus yang nyaris seragam. Album ini kemudian masuk nominasi Album of the Year di Grammy Awards 2018 — dan Lorde tercatat sebagai satu-satunya perempuan yang dinominasikan di kategori itu tahun tersebut. Ada polemik yang menyertainya: dilaporkan dia tidak mendapat slot tampil solo di panggung Grammy, berbeda dari para nominator pria. Bagi banyak orang, kejadian itu terasa seperti perwujudan nyata dari tema "Liability" — dianggap layak dihitung, tapi tidak cukup layak diberi panggung.

Di ranah yang lebih luas, "Liability" menjadi semacam penanda pergeseran dalam pop mainstream. Pertengahan 2010-an adalah era ketika balada piano telanjang yang menyebut kondisi mental dan kesepian mulai bisa hidup di album pop besar, bukan hanya di sudut indie. Lagu ini kerap disebut bersama karya-karya lain di periode yang sama sebagai bagian dari gelombang "sad pop" yang jujur tanpa dramatisasi berlebihan.

Lebih dari itu, lagu ini memberi kosakata baru untuk sesuatu yang sebelumnya sulit dinamai. Sebelum "Liability", perasaan "aku takut aku terlalu merepotkan orang" biasanya hanya diakui di ruang privat. Setelahnya, kalimat itu punya lagu. Di media sosial, judulnya berubah menjadi semacam kata sifat: orang menyebut diri mereka sedang "merasa liability" tanpa perlu penjelasan tambahan.

Menariknya, lagu ini juga menempati posisi khusus dalam konser Lorde. Dalam pertunjukan besar dengan tata cahaya megah dan koreografi, "Liability" biasanya dibawakan dengan cara paling sunyi — kerap hanya piano — dan justru di momen itulah stadion terdengar paling ramai oleh suara penonton yang menyanyi bersama. Ribuan orang mengaku merasa sendirian, bersama-sama.

Kenapa masih relevan sampai sekarang

Ada alasan kultural kenapa "Liability" terasa sangat pas di telinga pendengar Indonesia. Dalam budaya yang menjunjung tinggi rasa sungkan dan kebiasaan "nggak enak sama orang", kekhawatiran menjadi beban bukan sekadar kecemasan pribadi — itu nilai sosial yang ditanamkan sejak kecil. Kita diajari untuk tidak merepotkan, tidak berlebihan, tidak mengambil ruang terlalu banyak. Kita belajar mengecilkan volume diri sendiri agar muat di ruang orang lain.

"Liability" menyentuh persis di titik itu, lalu menawarkan jalan keluar yang tidak menyuruhmu berubah. Lagu ini tidak berkata "jangan terlalu sensitif" atau "belajarlah lebih santai". Lagu ini berkata: mungkin memang beberapa orang tidak sanggup, dan itu bukan bukti bahwa kamu cacat.

Konteks zaman juga membuatnya makin tajam. Kita hidup di era ketika kehadiran manusia benar-benar diukur — jumlah pengikut, tingkat keterlibatan, seberapa "worth it" seseorang untuk diajak berteman. Metafora akuntansi yang dipakai Lorde pada 2017 justru terasa lebih literal hari ini, ketika algoritma memang menghitung siapa yang menguntungkan dan siapa yang tidak.

Dan bagian berdansa sendirian itu ternyata bertahan paling lama. Ritual kecil merawat diri di kamar kos, di apartemen sempit, di kamar rumah orang tua setelah hari yang berat — itu adegan yang dipahami siapa pun, di mana pun. Lagu ini tidak menjanjikan bahwa seseorang akan datang menyelamatkanmu. Lagu ini hanya mengingatkan bahwa selama menunggu, kamu sudah punya teman yang tidak akan ke mana-mana.

Delapan tahun setelah rilis, "Liability" tetap menjadi lagu yang orang putar bukan untuk merasa lebih baik, tapi untuk merasa dimengerti. Kadang itu justru yang lebih dibutuhkan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larutkan diri dalam suaranya

📚 Ikuti kisah di baliknya

🌍 Kunjungi tempat-tempatnya

🎸 Rasakan sendiri pengalamannya


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s