On & On
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu paling santai yang isinya paling berat
Ada satu trik yang membuat "On & On" terasa berbeda sejak detik pertama: lagu ini terdengar seperti seseorang yang sedang bersenandung di dapur. Bass akustiknya berjalan malas, drum-nya disapu pakai brush alih-alih dipukul, dan suara Erykah Badu masuk seperti tetangga yang mengobrol dari balik pagar. Tidak ada tembok suara, tidak ada paduan vokal megah, tidak ada beat yang memaksa kamu bergerak.
Lalu kamu mendengarkan liriknya baik-baik, dan sadar bahwa perempuan yang terdengar santai itu sedang membicarakan lingkaran penuh 360 derajat, angka-angka yang punya makna spiritual, dan gagasan bahwa jiwa manusia terus berputar dari satu wujud ke wujud berikutnya. Semua itu diselipkan di antara keluhan yang sangat membumi: uang menipis, urusan rumah menumpuk, orang-orang di sekitarnya menguras energi.
Itulah kejeniusan lagunya. "On & On" menempelkan yang kosmik ke yang domestik, tanpa jeda, tanpa penjelasan. Badu tidak pernah berhenti untuk berkata "sekarang saya akan berkhotbah". Dia hanya menyanyikan hidupnya apa adanya, dan kebetulan hidupnya memang dipenuhi filsafat. Judulnya sendiri sudah membocorkan tesisnya: dunia terus berputar, terus dan terus, tidak peduli kamu sudah siap atau belum.
Bagi pendengar tahun 1997, ini terasa seperti udara segar yang aneh. Radio Amerika saat itu masih dipenuhi R&B produksi mahal dengan sintetis mengilap. Lalu datang satu suara yang justru mundur ke arah jazz tahun 60-an, sambil membawa gagasan yang sama sekali bukan gagasan radio.
Dari Erica Wright di Dallas menjadi Erykah Badu
Nama aslinya Erica Abi Wright, lahir di Dallas, Texas, pada 1971. Dia tumbuh di kawasan South Dallas, dibesarkan terutama oleh ibu dan neneknya, dan sejak kecil sudah tampil — menari, akting, bernyanyi. Dia masuk Booker T. Washington High School for the Performing and Visual Arts, sekolah seni yang legendaris di Dallas, lalu melanjutkan ke Grambling State University di Louisiana untuk belajar teater.
Yang menarik, dia keluar dari kampus sebelum lulus untuk mengejar musik sepenuhnya. Periode setelah itu adalah periode kerja serabutan: mengajar drama dan tari untuk anak-anak, tampil di kafe, menabung sedikit demi sedikit. Ini penting untuk memahami "On & On", karena keletihan yang terdengar di dalam lagu itu bukan pose artistik. Itu keletihan seseorang yang benar-benar sedang menghitung sisa uang di dompet.
Perubahan namanya juga bukan gimmick label. Menurut berbagai wawancara, dia mengganti "c" menjadi "ky" karena tertarik pada gagasan bahwa "kh" merujuk pada diri batin dalam tradisi Afrika kuno, sementara "Badu" konon diambil dari bunyi scat jazz yang sering dia nyanyikan — dan kebetulan juga merupakan nama yang lazim di Ghana. Menamai ulang diri sendiri adalah tindakan yang sangat sesuai dengan isi lagunya: kalau hidup adalah siklus, kamu berhak memutuskan siapa dirimu di putaran ini.
Demo-nya, yang direkam bersama sepupunya, akhirnya sampai ke tangan Kedar Massenburg — sosok yang belakangan dikenal sebagai orang yang mempopulerkan istilah "neo-soul". Badu sempat membuka konser D'Angelo, dan dari sana semuanya bergerak cepat. "On & On" dirilis sebagai singel utama menjelang akhir 1996, dan album Baduizm menyusul pada Februari 1997.
Hasilnya di luar dugaan untuk lagu yang begitu tidak komersial: "On & On" menembus sepuluh besar tangga lagu R&B Amerika dan masuk jajaran atas Hot 100, sementara Baduizm terjual jutaan kopi. Di ajang Grammy berikutnya, Badu membawa pulang penghargaan untuk penampilan vokal R&B perempuan terbaik lewat lagu ini, dan albumnya diganjar sebagai album R&B terbaik.
Buat pendengar Indonesia, ada satu jembatan yang jarang disadari. Estetika Badu — kain yang dililit tinggi di kepala, dupa yang dibakar di atas panggung, busana yang lebih dekat ke ritual daripada ke panggung pop — punya kemiripan visual yang mengejutkan dengan tradisi ikat kepala di Nusantara. Kain kepala di sini juga bukan sekadar aksesori; ia penanda asal, status, dan sikap. Ketika Badu memilih penutup kepala menjulang alih-alih rambut yang di-styling ala bintang pop Amerika, dia sedang melakukan hal yang secara kultural mirip: memakai identitas sebagai pernyataan, bukan sebagai kostum.
Dan secara musikal, generasi penyanyi soul-jazz Indonesia yang muncul setelahnya — dari nama-nama besar era Glenn Fredly dan Tompi sampai gelombang yang lebih baru seperti Yura Yunita dan Monita Tahalea — tumbuh di ekosistem yang sangat akrab dengan warna neo-soul. Panggung seperti Java Jazz Festival di Jakarta ikut membiasakan telinga penonton Indonesia dengan groove yang longgar, harmoni jazz, dan vokal yang lebih memilih nuansa daripada tenaga. Dengan kata lain: telinga Indonesia sudah lama siap untuk lagu seperti "On & On".
Membaca ulang isi lagunya: matematika, siklus, dan piring kotor
Untuk memahami "On & On", kamu perlu tahu satu konteks yang sering dilewati ulasan musik arus utama: sebagian kosakata dalam lagu ini berasal dari ajaran Five Percent Nation, sebuah aliran spiritual yang lahir dari komunitas kulit hitam di New York pada 1960-an dan sangat berpengaruh di kultur hip-hop era 80-90an.
Dalam kerangka itu, angka bukan sekadar angka. Lingkaran penuh dianggap simbol pengetahuan yang utuh, dan bilangan tertentu diberi arti — kebijaksanaan, pemahaman, penciptaan. Badu tidak menjelaskan sistem ini sama sekali di dalam lagunya. Dia hanya memakainya, seolah semua orang sudah paham, sama seperti orang Indonesia menyebut "pamali" tanpa merasa perlu menerangkan kosmologinya lebih dulu.
Yang dia gambarkan lewat lagu itu, kalau diringkas dengan kata-kata sendiri, kira-kira begini: dunia terus berputar tanpa henti, jiwa datang dan pergi dalam siklus yang tidak pernah selesai, dan karena itu kematian maupun kesulitan bukan akhir dari apa pun. Dia menempatkan dirinya sebagai seseorang yang sudah tahu asal-usulnya dan karena itu tidak bisa digoyahkan oleh penghinaan orang lain.
Tapi bagian yang paling manusiawi justru bagian yang paling remeh. Di tengah semua bicara tentang siklus kosmik, dia menyelipkan gambaran hidup sehari-hari yang jelas-jelas melelahkan: kondisi keuangan yang seret, urusan rumah tangga yang menumpuk, orang-orang yang datang membawa masalah. Ada momen dalam lagu itu di mana narasinya berpindah dari alam semesta ke dapur — dan perpindahan itulah yang membuat lagunya terasa jujur.
Pesannya jadi jauh lebih tajam karena kontras itu. Badu tidak sedang berkata "jangan pikirkan masalah kecil, lihatlah alam semesta". Dia berkata sebaliknya: alam semesta dan piring kotor ada di ruangan yang sama, dan kamu harus mengurus keduanya. Spiritualitas dalam lagu ini bukan pelarian; ia semacam bahan bakar untuk bertahan sampai besok pagi.
Ada juga lapisan penolakan di dalamnya. Sepanjang lagu, dia menegaskan bahwa dirinya tidak perlu izin siapa pun untuk merasa utuh. Nada bicaranya bukan nada orang yang sedang membela diri, melainkan nada orang yang sudah selesai berdebat. Untuk seorang penyanyi perempuan kulit hitam berusia dua puluhan yang baru merilis singel pertamanya, sikap itu sendiri sudah merupakan pernyataan.
Struktur musiknya memperkuat semuanya. Progresi lagunya berputar dan berputar, nyaris tanpa klimaks besar, sehingga bentuk lagunya sendiri menjadi ilustrasi dari judulnya. Kamu tidak dibawa ke puncak lalu diturunkan; kamu diajak masuk ke lingkaran dan dibiarkan berputar di dalamnya.
Neo-soul, dan sebuah pintu yang terbuka
Ketika Baduizm keluar, industri musik Amerika langsung mencari label untuk menamainya. Istilah "neo-soul" — yang kabarnya dipopulerkan oleh Massenburg sebagai alat pemasaran — menempel pada Badu, D'Angelo, Maxwell, dan belakangan Jill Scott serta Musiq Soulchild. Badu sendiri dikabarkan tidak pernah benar-benar nyaman dengan label itu.
Perbandingan yang paling sering dilontarkan kritikus saat itu adalah dengan Billie Holiday, karena cara Badu menekuk not dan menunda ketukan memang mengingatkan pada fraseologi jazz klasik. Perbandingan itu sempat menjadi sedikit beban; Badu berulang kali menegaskan bahwa dia bukan reinkarnasi siapa pun. Ironis, mengingat lagunya sendiri berbicara tentang reinkarnasi.
Video musiknya, yang disutradarai Paul Hunter, memperkuat citra itu dengan latar pedesaan Selatan Amerika yang secara visual mengutip suasana The Color Purple. Badu digambarkan mencuci di sungai, bekerja, bergerak dalam ritme yang lambat dan berulang. Sekali lagi: kosmik dan domestik, dalam satu bingkai.
Dampak jangka panjangnya besar dan mudah dilacak. Setelah "On & On", ruang untuk penyanyi R&B yang eksentrik, spiritual, dan tidak mau dipoles jadi jauh lebih lebar. Kamu bisa menarik garis dari sana ke Jill Scott, ke India.Arie, ke Solange, ke SZA, sampai ke gelombang R&B alternatif yang sekarang mendominasi playlist. Bahkan artis yang tidak terdengar mirip Badu sekalipun mewarisi izin yang dia buka: izin untuk aneh, dan tetap laku.
Badu sendiri tidak berhenti di situ. Kolaborasinya dengan The Roots di akhir 1990-an menghasilkan salah satu lagu paling dikenang dari era itu, dan album-album berikutnya membawanya semakin jauh dari format radio, ke wilayah yang lebih eksperimental. Tapi "On & On" tetap menjadi pintu masuknya — lagu yang memperkenalkan seluruh cara pandang itu ke publik dalam kemasan yang terdengar begitu ramah.
Kenapa lagu ini masih menempel sampai sekarang
Hampir tiga dekade setelah rilis, "On & On" terasa lebih relevan daripada banyak hit besar seangkatannya, dan alasannya cukup jelas.
Pertama, produksinya nyaris tidak menua. Karena Badu dan timnya memilih instrumen akustik dan groove yang longgar alih-alih teknologi terbaru tahun 1996, lagunya tidak membawa "cap tahun" yang membuat banyak rekaman era itu terdengar usang. Bass, drum, dan Rhodes tidak pernah kedaluwarsa.
Kedua, temanya adalah tema yang tidak pernah selesai. Perasaan bahwa hidup terus berputar sementara kamu hanya mencoba bertahan sampai akhir bulan — itu bahasa universal, dan mungkin terasa makin akrab di era kerja yang selalu menyala. Lagu ini tidak menawarkan solusi. Ia hanya menemani.
Ketiga, dan ini yang paling penting, "On & On" adalah salah satu contoh terbaik dari lagu pop yang menolak menjelaskan dirinya. Badu tidak menyederhanakan kepercayaannya supaya lebih mudah dijual. Dia meletakkannya di sana, apa adanya, dan membiarkan pendengar memilih: mau ikut menyelam, atau cukup menikmati groove-nya saja. Keduanya sah.
Di era ketika hampir semua konten dirancang untuk langsung dipahami dalam tiga detik, ada sesuatu yang menenangkan dari lagu yang bersedia menunggu bertahun-tahun sampai kamu siap memahaminya. Lagu ini tidak mengejar siapa pun. Ia hanya berputar, terus dan terus, sampai kamu kebetulan lewat lagi dan akhirnya mendengar apa yang sejak awal ada di sana.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Menyelami suaranya
- Album Baduizm (1997) secara utuh — Dengarkan dari awal sampai akhir tanpa acak, karena albumnya dirancang seperti satu percakapan panjang. Nomor-nomor seperti "Otherside of the Game" dan "Next Lifetime" memperluas tema siklus dan pilihan hidup yang sudah dibuka oleh "On & On". Dalam satu kali putar kamu akan paham kenapa istilah neo-soul sampai perlu diciptakan.
- Erykah Badu Live (1997) — Album live yang dirilis di tahun yang sama menunjukkan sisi Badu yang jauh lebih cair dan lucu daripada versi studionya. Dia mengobrol, mengubah frasa, dan memperlakukan lagunya sebagai bahan yang masih bisa dibentuk ulang. Bandingkan versi live "On & On" dengan versi rekaman untuk melihat berapa banyak ruang yang sengaja dia sisakan.
- Voodoo dari D'Angelo (2000) — Kalau "On & On" adalah pintu masuk neo-soul, album ini adalah ruangan paling dalam di rumah yang sama. Groove-nya sengaja dibuat sedikit terlambat dari ketukan, teknik yang membuat seluruh generasi produser mengubah cara mereka menata ritme. Dengarkan berurutan setelah Baduizm dan perbedaan filosofi keduanya jadi terasa jelas.
📚 Mengikuti kisahnya
- Video musik "On & On" arahan Paul Hunter — Tonton dengan perhatian pada detail latar, bukan hanya pada Badu. Nuansa pedesaan Selatan Amerika dan adegan mencuci di sungai adalah kutipan visual yang disengaja, dan mereka mengubah cara kamu mendengar bagian lirik yang membicarakan urusan rumah tangga.
- The Color Purple karya Alice Walker — Novel ini, beserta adaptasi filmnya tahun 1985, adalah rujukan estetika di balik video tersebut. Membacanya memberi konteks tentang perempuan kulit hitam yang bertahan lewat kerja sehari-hari sambil membangun dunia batin sendiri, tema yang persis menjadi tulang punggung lagu ini.
- Arsip wawancara panjang Erykah Badu — Cari format wawancara berdurasi panjang, bukan potongan promosi, karena di sanalah dia menjelaskan cara pandangnya soal nama, angka, dan siklus. Dia terkenal menjawab dengan berputar-putar sebelum tiba di intinya, dan pola bicara itu sendiri adalah versi lisan dari struktur lagunya.
🌍 Mengunjungi tempatnya
- South Dallas dan kawasan seni Dallas, Texas — Kota inilah yang membentuk Badu, dan dia tetap tinggal serta aktif di sana bahkan setelah menjadi bintang internasional. Berjalan di sekitar distrik seni Dallas, termasuk kawasan sekolah seni tempat dia belajar, memberi gambaran tentang ekosistem lokal yang menghasilkan seniman seperti dirinya.
- New York, khususnya Harlem dan Brooklyn — Kosakata spiritual yang muncul di lagu ini berakar pada komunitas di New York, dan sebagian proses rekaman era neo-soul juga berpusat di kota ini. Menyusuri Harlem sambil memahami sejarah gerakan-gerakan yang lahir di sana membuat lapisan lirik yang tadinya samar jadi masuk akal.
- Java Jazz Festival, Jakarta — Untuk pendengar di Indonesia, ini titik paling nyata untuk merasakan groove semacam ini secara langsung. Festival tahunan ini rutin menghadirkan musisi soul, jazz, dan R&B internasional maupun lokal, dan menonton bass akustik bekerja di ruangan yang sama denganmu adalah pengalaman yang berbeda dari mendengarkan lewat earphone.
🎸 Mencobanya sendiri
- Pelajari bass line-nya di bass atau gitar — Pola berjalan yang menjadi fondasi lagu ini relatif sederhana secara teknis, tapi sangat menuntut soal rasa dan penempatan waktu. Latihan memainkannya berulang selama lima menit akan langsung mengajarkan kenapa groove yang terdengar "santai" justru paling sulit ditiru.
- Tulis lirik dengan struktur siklus — Coba buat lirik pendek yang mencampur satu gagasan besar dengan satu urusan sepele di hari itu, lalu ulang bagian yang sama beberapa kali tanpa mengubah nadanya. Latihan ini menunjukkan betapa efektifnya teknik pengulangan Badu untuk menciptakan rasa "tidak pernah selesai".
- Rekam versi akustik dengan brush drum — Ambil satu lagu favoritmu, buang semua elemen elektronik, lalu mainkan hanya dengan bass, sapuan brush, dan satu instrumen harmoni. Kamu akan menemukan bahwa mengurangi lapisan justru memaksa vokal bekerja lebih jujur, persis seperti yang terjadi di rekaman ini.
-
Kenapa "On & On" terdengar sangat berbeda dari R&B lain di tahun 1997?
Karena Badu dan timnya sengaja bergerak mundur secara sonik, memakai bass akustik, sapuan brush pada drum, dan keyboard bernuansa jazz, saat mayoritas R&B radio saat itu mengandalkan produksi digital yang mengilap. Struktur lagunya juga berputar tanpa klimaks besar, sehingga terasa seperti sesi jam ketimbang singel yang dirancang untuk radio. Kombinasi itu membuatnya menonjol justru karena tidak berusaha menonjol. -
Apakah lagu ini benar-benar bicara soal agama?
Lebih tepat disebut spiritual daripada religius dalam arti formal. Sebagian kosakatanya berasal dari ajaran Five Percent Nation yang berpengaruh besar di kultur hip-hop era 1980-90an, terutama gagasan tentang angka bermakna dan pengetahuan diri. Badu tidak berkhotbah maupun menjelaskan sistemnya; dia memakainya sebagai bahasa sehari-hari, sehingga pendengar yang tidak mengenalnya tetap bisa menikmati lagunya. -
Apa dampak terbesar lagu ini bagi musik setelahnya?
Lagu ini membuka ruang komersial untuk penyanyi R&B yang eksentrik dan tidak dipoles, sesuatu yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko oleh label besar. Garis pengaruhnya bisa ditarik ke Jill Scott, India.Arie, Solange, SZA, dan gelombang R&B alternatif hari ini. Selain itu, ia ikut mengukuhkan istilah neo-soul sebagai kategori yang diakui industri, meski Badu sendiri kabarnya tidak pernah menyukai label tersebut.