SONGFABLE · 1997

Around the World

DAFT PUNK · 1997

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Around the World - Daft Punk (1997)

TL;DR: "Around the World" terdengar seperti lagu dansa biasa dengan satu frasa yang diulang tanpa henti, tetapi sebenarnya itu adalah eksperimen brilian tentang bagaimana suara manusia bisa diperlakukan sebagai alat musik murni — sebuah loop hipnotis yang dirancang untuk membuat tubuhmu bergerak sebelum otakmu sempat protes.

Lagu yang Cuma Punya Satu Kalimat — dan Itu Memang Sengaja

Coba dengarkan "Around the World" sampai habis. Kamu akan menyadari sesuatu yang aneh: sepanjang hampir tujuh menit, hanya ada satu kalimat yang diucapkan, berulang-ulang, sampai entah berapa kali. Orang sering mengira ini malas, atau kekurangan ide. Padahal yang terjadi justru kebalikannya.

Dua musisi Prancis di balik Daft Punk, Thomas Bangalter dan Guy-Manuel de Homem-Christo, sengaja merancang lirik itu agar bukan menjadi pesan, melainkan menjadi tekstur. Suara manusia di lagu ini sudah diproses dengan vocoder sampai terdengar seperti robot, lalu diulang persis seperti sebuah riff gitar atau pola drum. Frasa yang sama dilaporkan diucapkan sekitar seratus kali, dan jumlah itu konon dipilih agar sinkron dengan jumlah ketukan bass di tiap bagian. Jadi yang kamu dengar sebagai "lirik" sebenarnya adalah instrumen kedelapan dalam aransemen, bukan narasi.

Inilah kejeniusan yang membuat lagu ini bertahan hampir tiga dekade. Daft Punk tidak ingin kamu memikirkan apa pun. Mereka ingin tubuhmu yang merespons. Dan begitu kamu menyerah pada loop itu, kamu akan paham kenapa lagu sederhana ini menjadi salah satu rilisan dansa paling penting di tahun 90-an.

Dua Anak Muda Paris, Topeng Robot, dan Era yang Sedang Berubah

Untuk mengerti "Around the World", kita perlu mundur ke pertengahan 90-an di Paris. Bangalter dan de Homem-Christo awalnya memainkan musik rock di sebuah band remaja bernama Darlin'. Konon sebuah ulasan miring di majalah Inggris menyebut musik mereka sebagai "a daft punky thrash" (sampah punk yang konyol). Alih-alih tersinggung, mereka justru mengambil hinaan itu dan menjadikannya nama: Daft Punk. Ada sesuatu yang sangat khas dari mereka di situ — mengubah ejekan menjadi identitas.

Mereka lalu meninggalkan rock dan terjun ke dunia musik elektronik yang sedang meledak di Eropa. Album debut mereka, Homework, dirilis pada 1997. Yang menarik, album itu lahir dari sekumpulan lagu yang awalnya bukan dimaksudkan menjadi album — konon mereka hanya merekam track demi track untuk dirilis sebagai single, lalu sadar bahwa kumpulan itu sudah cukup kuat untuk berdiri sebagai satu karya utuh. "Around the World" menjadi salah satu jantungnya.

Yang membuat duo ini abadi bukan cuma musiknya, tapi juga keputusan radikal mereka untuk menyembunyikan wajah. Mereka muncul ke publik dengan helm robot dan sarung tangan, menolak menjadi selebritas berwajah. Alasannya, kata mereka, agar fokus tetap pada musik dan bukan pada kepribadian. Di era ketika MTV memuja wajah dan citra bintang, ini adalah pernyataan yang nyaris pemberontakan.

Dan di sinilah ada jembatan menarik untuk pendengar Indonesia. Estetika "anonim tapi ikonik" yang dibawa Daft Punk itu beresonansi kuat dengan budaya cosplay dan komunitas elektronik yang berkembang pesat di kota-kota seperti Jakarta dan Bandung. Banyak DJ dan produser muda Indonesia yang tumbuh di era 2000-an menyebut Daft Punk sebagai pintu masuk pertama mereka ke musik house dan French touch — sebuah gerbang yang membuktikan bahwa kamu tidak perlu menunjukkan wajah atau berteriak untuk membuat ribuan orang berdansa. Konsep itu sangat cocok dengan generasi yang lebih nyaman berekspresi lewat avatar dan persona ketimbang sorotan langsung.

Membedah Maknanya: Ketika Pengulangan Menjadi Pesan

Karena aturan main kita adalah tidak mengutip lirik, mari kita bicarakan apa yang sebenarnya disampaikan lagu ini lewat strukturnya — dan strukturnya jauh lebih kaya daripada yang terdengar.

Frasa tunggal yang diulang itu, jika kamu pikirkan, berbicara tentang gagasan menjangkau seluruh dunia, tentang gerakan tanpa batas. Tapi makna sebenarnya tidak ada di kata-katanya; ia ada di cara kata itu disajikan. Dengan mengulang frasa yang sama tanpa henti, Daft Punk seakan memberi tahu kita bahwa musik dansa adalah bahasa universal yang tidak butuh penjelasan. Tidak peduli dari mana kamu berasal, kamu akan memahami ketukan ini. Loop itu sendiri adalah pesan: musik mengelilingi dunia, melintasi bahasa, dan kamu adalah bagian darinya hanya dengan ikut bergoyang.

Secara musikal, lagu ini dibangun seperti sebuah arsitektur yang perlahan-lahan disusun. Garis bass yang funky menjadi fondasinya — sangat terpengaruh disko dan funk era 70-an, genre yang sangat dicintai Bangalter. Di atasnya, elemen-elemen masuk satu per satu: synthesizer yang berkilau, pola drum yang ketat, lalu vokal robot itu. Sepanjang lagu, lapisan-lapisan ini muncul, menghilang, dan kembali, menciptakan dinamika yang membuat telinga tidak pernah bosan meski materinya minimal. Ini adalah teknik klasik DJ: memainkan ekspektasi pendengar, menahan sesuatu lalu melepaskannya di saat yang tepat.

Jadi ketika orang bilang lagu ini "cuma satu kalimat", mereka melewatkan inti dari karyanya. Liriknya memang minimal karena yang ingin dikomunikasikan Daft Punk bukan cerita verbal, melainkan sensasi fisik — perasaan terhubung dengan ribuan tubuh lain di lantai dansa, semua bergerak ke ritme yang sama.

Konteks Budaya: Klip Video yang Mengubah Cara Orang Menonton Musik

Tidak mungkin membahas "Around the World" tanpa menyebut klip videonya, yang dilaporkan menjadi salah satu klip paling inovatif dekade itu. Disutradarai oleh Michel Gondry — sutradara visioner asal Prancis yang kelak terkenal lewat film Eternal Sunshine of the Spotless Mind — video ini mengubah setiap instrumen dalam lagu menjadi sekelompok penari.

Idenya brilian dalam kesederhanaannya: para penari mumi mewakili garis bass, para atlet wanita mewakili synthesizer, para robot mewakili vocoder, dan seterusnya. Setiap kelompok bergerak persis mengikuti instrumen yang mereka wakili di atas sebuah panggung berbentuk spiral. Jadi ketika kamu menonton, kamu sebenarnya melihat struktur musiknya, bisa memetakan dengan mata bagian mana yang sedang dimainkan. Ini menjadikan klip itu sebuah pelajaran visual tentang cara musik elektronik disusun — dan menjadikannya tontonan yang masih dibedah para mahasiswa film dan musik sampai hari ini.

Daft Punk, bersama rekan-rekan sezamannya, menjadi bagian dari gelombang yang dikenal sebagai French touch — gaya house Prancis yang ditandai sampel funk dan disko yang dipotong-potong, suara yang hangat namun futuristik. "Around the World" menjadi salah satu duta paling sukses gerakan ini ke panggung global, membuktikan bahwa Prancis — yang selama ini lebih dikenal lewat chanson dan musik klasik — bisa mendominasi lantai dansa dunia.

Pengaruhnya merembet jauh. Tanpa terobosan Daft Punk di akhir 90-an dan awal 2000-an, sulit membayangkan ledakan EDM global pada dekade 2010-an. Banyak produser besar masa kini secara terbuka mengakui utang mereka pada duo Prancis ini. Bahkan ketika Daft Punk akhirnya bekerja sama dengan musisi disko legendaris dan meraih puncak komersial bertahun-tahun kemudian, benih dari semua itu sudah ada di sini — dalam loop sederhana berjudul "Around the World".

Kenapa Lagu Ini Masih Terasa Segar Sampai Sekarang

Ada sesuatu yang nyaris paradoks tentang "Around the World": ia dibuat untuk terdengar seperti masa depan, tapi justru karena itu ia tidak pernah benar-benar terdengar tua. Suara robotik, garis bass funk, dan struktur yang berputar itu sudah seperti dirancang untuk melampaui zaman.

Di Indonesia, lagu ini masih sering muncul di set DJ, di playlist nostalgia 90-an, dan di iklan-iklan yang ingin meminjam aura "keren tanpa usaha". Bagi generasi yang baru menemukannya lewat TikTok atau platform streaming, lagu ini terdengar mengejutkan modern — banyak yang kaget mengetahui bahwa rilisannya dari 1997, jauh sebelum sebagian besar musik dansa yang mereka kenal sekarang ada.

Ada juga pelajaran yang lebih dalam di sini, terutama di era ketika kita dibanjiri lagu-lagu yang berusaha menjejalkan sebanyak mungkin elemen demi merebut perhatian. "Around the World" mengingatkan kita pada kekuatan kesederhanaan dan pengulangan. Kadang satu ide yang dieksekusi dengan sempurna, lalu diberi ruang untuk bernapas dan berkembang, jauh lebih kuat daripada selusin ide yang berebut tempat. Itu adalah prinsip desain yang relevan bukan cuma untuk musik, tapi untuk hampir segala bentuk karya.

Dan barangkali yang paling penting: lagu ini masih bekerja. Putar di pesta mana pun, di kota mana pun, dan tubuh orang akan mulai bergerak. Itulah yang sejak awal diinginkan Bangalter dan de Homem-Christo — sebuah bahasa tanpa kata yang benar-benar mengelilingi dunia. Hampir tiga dekade kemudian, misi itu masih berjalan sempurna.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Cara terbaik memahami "Around the World" adalah mendengarkannya dalam konteks album penuhnya, di mana ia berbicara dengan track-track di sekitarnya.

📚 Telusuri kisahnya

Cerita di balik topeng robot itu sama menariknya dengan musiknya, dan ada banyak materi untuk menggali lebih dalam.

🌍 Kunjungi tempatnya

Daft Punk adalah produk dari sebuah kota dan budaya tertentu, dan menelusuri akar geografisnya memperkaya pemahamanmu.

🎸 Rasakan sendiri

Bagian paling menyenangkan dari "Around the World" adalah memahami cara membuatnya — dan kamu bisa mulai bereksperimen sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
90s