Jocelyn Flores
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Kesedihan yang jarang dibicarakan sekeras ini
Bayangkan sebuah lagu yang lebih pendek dari waktu yang kamu butuhkan untuk menyeduh kopi, tapi mampu membuat jutaan pendengar di seluruh dunia terdiam. "Jocelyn Flores" hanya berdurasi sekitar dua menit, dibangun di atas sampel piano yang berulang dan mendayu, dengan vokal yang nyaris berbisik. Namun lagu ini menjadi salah satu momen paling menghantui dalam musik anak muda dekade 2010-an.
Yang membuatnya begitu berbeda: ini bukan metafora, bukan cerita rekaan. Jocelyn Flores adalah nama seorang perempuan sungguhan — seorang model muda dan teman XXXTentacion. Ia dikabarkan datang berkunjung ke Florida untuk bertemu sang rapper dan lingkaran teman-temannya, dan di sanalah ia mengakhiri hidupnya sendiri di sebuah kamar hotel. Alih-alih menyembunyikan tragedi itu, XXXTentacion — yang saat itu masih remaja — mengubahnya menjadi lagu yang menyandang namanya. Sebuah tindakan yang terasa mentah, hampir tidak sopan dalam kejujurannya, tapi justru itulah yang membuatnya abadi.
Siapa XXXTentacion, dan dari dunia seperti apa lagu ini lahir
XXXTentacion — nama aslinya Jahseh Dwayne Ricardo Onfroy — lahir di Florida pada 1998. Masa kecilnya penuh gejolak: berpindah-pindah asuhan, sempat masuk pusat penahanan remaja, dan tumbuh dengan luka emosional yang kelak menjadi bahan bakar musiknya. Ia adalah figur yang kontroversial dan penuh kontradiksi. Di satu sisi ada tuduhan kekerasan serius yang membayangi reputasinya — sesuatu yang penting untuk tidak dilupakan. Di sisi lain, ia menjelma menjadi suara bagi generasi anak muda yang bergulat dengan depresi, kecemasan, dan kesepian yang selama ini tabu untuk dibicarakan secara terbuka.
Lagu ini muncul di album debutnya, 17, yang dirilis Agustus 2017. Album itu sendiri seperti buku harian yang dibacakan keras-keras — pendek, gelap, dan sangat personal. XXXTentacion menggambarkannya sebagai kumpulan lagu yang lahir dari rasa sakit, dan ia bahkan memperingatkan pendengar bahwa album ini bisa menyentuh luka mereka sendiri. Estetika suaranya sengaja dibuat kasar: kualitas rekaman yang terasa seperti demo, gitar akustik yang telanjang, dan sampel yang didaur ulang dari sudut-sudut internet.
Sampel piano di "Jocelyn Flores" konon berasal dari materi milik Shiloh Dynasty, sosok misterius yang potongan-potongan vokalnya beredar luas di internet dan menjadi favorit produser lo-fi. Kualitas suara yang seolah "rusak" itu justru cocok dengan tema lagu — seperti kenangan yang memudar, atau rekaman lama yang diputar berulang sampai pitanya aus.
Titik sambung untuk pendengar Indonesia: buat banyak anak muda di Indonesia yang tumbuh bersama era SoundCloud dan playlist "sad boy hours" di Spotify, XXXTentacion adalah gerbang menuju genre emo-rap. Fenomena lo-fi yang tenang tapi melankolis ini beresonansi dengan budaya "healing" dan keterbukaan soal kesehatan mental yang belakangan makin ramai dibicarakan di kalangan Gen Z Indonesia. Ketika seseorang teman merekomendasikan lagu ini lewat cerita Instagram di tengah malam, sering kali itu bukan sekadar soal selera musik — melainkan sinyal halus bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Lagu ini menjadi bahasa bersama untuk perasaan yang sulit diucapkan langsung.
Membedah makna: dua kesedihan dalam satu lagu
Yang membuat "Jocelyn Flores" begitu kuat adalah caranya menampung dua lapisan duka sekaligus tanpa pernah terasa berlebihan.
Lapisan pertama adalah kesedihan untuk Jocelyn. Dalam liriknya, XXXTentacion menyapa temannya itu secara langsung, mengenang kehadirannya, dan bergulat dengan kenyataan bahwa ia sudah tiada. Ada rasa tidak berdaya di sana — perasaan yang akrab bagi siapa pun yang pernah kehilangan seseorang karena bunuh diri: pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, andai-andai yang menyiksa, dan kesadaran pahit bahwa cinta saja terkadang tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang.
Lapisan kedua, dan inilah yang membuat lagu ini terasa berbahaya sekaligus jujur, adalah pengakuan XXXTentacion tentang dirinya sendiri. Ia tidak berpura-pura menjadi sosok yang kuat dan menghibur. Sebaliknya, ia mengaku bahwa kematian temannya justru menggema dengan pikiran-pikiran gelapnya sendiri — bahwa ia pun pernah berada di ambang yang sama, merasa lelah dengan hidup. Alih-alih menjadi khotbah tentang harapan, lagu ini adalah dua orang yang sama-sama tenggelam, dan salah satunya sudah lebih dulu pergi.
Namun ada nuansa penting yang tidak boleh terlewat: meski liriknya gelap, ada dorongan tersirat untuk bertahan. XXXTentacion, dengan caranya yang tidak sempurna, seolah mengajak pendengar untuk tetap hidup demi orang-orang yang mencintai mereka — bahkan ketika ia sendiri kesulitan mempraktikkan nasihat itu. Kontradiksi inilah yang membuat lagu terasa manusiawi, bukan slogan. Ia tidak menawarkan jawaban rapi; ia hanya duduk bersamamu di dalam kegelapan.
Perlu ditegaskan: menuliskan ulang bait demi bait di sini justru akan mengkhianati kekuatan lagu tersebut. Keindahannya terletak pada bagaimana kata-kata sederhana, yang diucapkan dengan suara nyaris patah, mampu menyampaikan begitu banyak. Lebih baik didengar langsung daripada dibaca sebagai teks.
Konteks budaya dan warisan yang ditinggalkan
Ketika 17 dirilis, banyak kritikus awalnya bingung. Album ini terlalu pendek, terlalu kasar, terlalu tidak konvensional untuk standar rap arus utama. Tapi para pendengar muda langsung memahaminya. "Jocelyn Flores" menembus tangga lagu dan menjadi salah satu momen paling dikenang dalam katalog XXXTentacion. Ia membantu menormalkan sebuah gerakan besar: rap yang berbicara jujur tentang depresi, kecemasan, dan bunuh diri, bukan tentang kekayaan atau kejayaan.
Bersama nama-nama seperti Lil Peep — yang secara tragis juga meninggal muda pada tahun yang sama — XXXTentacion menjadi wajah dari gelombang "emo-rap" yang mendefinisikan ulang apa yang boleh dirasakan dan diucapkan oleh anak laki-laki muda dalam musik. Sebelum era ini, kerentanan semacam itu sering dianggap sebagai kelemahan. Setelahnya, ia menjadi bentuk keberanian tersendiri.
Ironi yang menyayat: kurang dari setahun setelah album ini keluar, pada Juni 2018, XXXTentacion sendiri meninggal dunia — ditembak dalam sebuah perampokan di Florida saat usianya baru 20 tahun. Tiba-tiba, sebuah lagu yang ia tulis tentang kematian temannya dan pergulatannya dengan kematiannya sendiri menjadi terasa seperti ramalan yang menghantui. Pendengar kembali ke "Jocelyn Flores" dengan mata yang berbeda, mendengarnya bukan lagi sebagai satu duka, melainkan dua — dan kini, dengan kepergian sang seniman, menjadi tiga.
Warisannya rumit dan tidak bisa dibersihkan begitu saja. Kontroversi seputar tuduhan hukumnya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kisahnya, dan banyak pendengar bergulat dengan bagaimana mendamaikan seni yang menyentuh mereka dengan tindakan sang penciptanya. Namun tidak bisa disangkal bahwa "Jocelyn Flores" telah menyentuh sesuatu yang nyata dalam diri jutaan orang.
Kenapa lagu ini masih terasa relevan hari ini
Bertahun-tahun setelah dirilis, "Jocelyn Flores" tetap muncul di playlist, di video TikTok, dan di pesan-pesan tengah malam antar-teman. Kenapa? Karena tema yang diangkatnya tidak pernah usang. Depresi, kesepian, dan rasa kehilangan tidak mengenal generasi atau geografi.
Di Indonesia khususnya, di mana percakapan tentang kesehatan mental baru mulai keluar dari bayang-bayang stigma dalam beberapa tahun terakhir, lagu seperti ini menjadi semacam katalis. Ia memberi izin untuk merasa hancur tanpa harus langsung diperbaiki. Ia mengatakan, secara tidak langsung, bahwa kamu tidak sendirian dalam kegelapanmu — bahwa bahkan seseorang yang tampak punya segalanya pun bisa bergumul dengan pikiran yang sama.
Ada juga daya tarik dalam kejujurannya yang tak terhias. Di era di mana media sosial mendorong semua orang untuk tampil sempurna, "Jocelyn Flores" melakukan kebalikannya. Ia mentah, tidak nyaman, dan tidak berusaha membuatmu merasa lebih baik dengan cara yang murahan. Dan justru itulah yang membuat begitu banyak orang mempercayainya.
Tentu saja, penting untuk mengingat bahwa lagu ini menyentuh tema yang sangat sensitif. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang bergulat dengan pikiran untuk menyerah, mendengarkan musik saja tidak cukup — menjangkau orang lain, seorang teman, keluarga, atau layanan bantuan profesional, adalah langkah nyata yang penting. Lagu ini mengabadikan rasa sakit, tapi ia bukan pengganti pertolongan.
Pada akhirnya, "Jocelyn Flores" bertahan karena ia menolak berbohong. Ia tidak menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya mengangkat kejujuran seorang anak muda yang kehilangan temannya dan takut kehilangan dirinya sendiri — dan dalam kejujuran itu, jutaan orang menemukan sesuatu yang mirip dengan penghiburan.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Menyelami suaranya
Untuk benar-benar memahami dunia sonik XXXTentacion, dengarkan album 17 secara utuh, bukan hanya satu lagu. Album ini dirancang untuk didengar dari awal sampai akhir seperti sebuah perjalanan emosional yang koheren. Rasakan bagaimana estetika lo-fi dan gitar akustik yang telanjang menyampaikan kerapuhan yang tidak bisa dicapai produksi yang mengilap.
📚 Menelusuri kisahnya
Kisah hidup XXXTentacion — kontroversi, bakat, dan kematian dininya — telah menjadi bahan berbagai buku dan tulisan jurnalistik. Membaca latar belakangnya membantu memahami dari luka seperti apa musik ini lahir, tanpa harus mengabaikan sisi gelap dari sosoknya. Ini bacaan yang membuka mata soal generasi seniman SoundCloud yang mengubah rap.
🌍 Mengunjungi tempatnya
Florida adalah latar belakang dari hampir seluruh kisah XXXTentacion — tempat ia tumbuh, tempat lagu ini lahir, dan tragisnya, tempat ia meninggal. Menjelajahi kawasan South Florida memberi konteks pada estetika dan atmosfer musiknya. Sebuah panduan perjalanan bisa membantu memahami lanskap budaya tempat gelombang emo-rap ini bermula.
🎸 Merasakannya sendiri
Bagian dari daya tarik lagu ini adalah kesederhanaannya — gitar akustik dan piano yang bisa dipelajari siapa saja. Mencoba memainkan kembali melodinya sendiri adalah cara paling intim untuk terhubung dengan emosi di baliknya. Mulailah dengan gitar akustik atau keyboard yang terjangkau dan rasakan sendiri betapa sedikit not yang dibutuhkan untuk menyampaikan begitu banyak.
-
Apakah Jocelyn Flores benar-benar orang sungguhan?
Ya, Jocelyn Flores adalah seorang model muda dan teman XXXTentacion. Ia dikabarkan datang mengunjungi sang rapper di Florida dan mengakhiri hidupnya sendiri di sebuah kamar hotel, dan XXXTentacion menamai lagu ini sesuai namanya sebagai bentuk penghormatan atas kepergiannya. -
Kenapa lagu ini terdengar begitu "kasar" dan tidak dipoles seperti lagu pop biasa?
Itu adalah pilihan estetika yang disengaja. XXXTentacion menganut gaya lo-fi ala SoundCloud, dengan sampel yang terdengar aus dan produksi minimal, karena kualitas yang seolah rusak itu justru memperkuat rasa kerapuhan dan kenangan yang memudar — sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh rekaman yang terlalu bersih. -
Apakah benar XXXTentacion seolah meramalkan kematiannya sendiri di lagu ini?
Banyak pendengar merasakan hal itu setelah faktanya. Dalam liriknya ia berbicara terbuka tentang pergulatannya sendiri dengan pikiran untuk menyerah, dan ketika ia sendiri meninggal ditembak di Florida pada 2018 di usia 20 tahun, lagu ini terasa seperti gema yang menghantui — meski tentu itu adalah tragedi nyata, bukan ramalan yang disengaja.