SONGFABLE · 2018

SAD!

XXXTENTACION · 2018

TL;DR: Sebuah lagu putus cinta yang terdengar seperti bisikan pahit, tapi sebenarnya adalah potret jujur tentang keterikatan yang beracun — cinta yang menyakiti tapi tak sanggup dilepas. Yang membuatnya menghantui: penyanyinya dibunuh hanya beberapa bulan setelah lagu ini menembakkan dirinya ke puncak dunia, mengubah "SAD!" dari curahan hati menjadi semacam epitaf.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Terdengar Ringan, Tapi Isinya Berat

Yang paling menipu dari "SAD!" adalah bagaimana ia terdengar. Ada melodi yang hampir manis, ketukan yang enak diikuti, dan durasi yang begitu singkat sampai kamu bisa mengulangnya tiga kali sebelum sadar sudah lewat sepuluh menit. Banyak pendengar pertama kali menganggapnya sebagai lagu galau biasa — sesuatu yang bisa diputar sambil scrolling ponsel tanpa terlalu memperhatikan.

Tapi begitu kamu benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan XXXTentacion, gambarannya berubah. Ini bukan sekadar lagu tentang "aku sedih karena kamu pergi." Ini tentang jenis cinta yang membuatmu merasa mati saat orang itu tak ada, tapi juga menghancurkanmu saat orang itu ada. Ini tentang ketergantungan emosional yang begitu dalam sampai kehilangan seseorang terasa seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas. Kontras antara kemasan yang catchy dan isi yang sedemikian kelam itulah yang membuat "SAD!" begitu melekat — ia menyelundupkan rasa sakit ke dalam telingamu dengan senyum palsu.

Bagi banyak anak muda di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, lagu ini menjadi salah satu pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang jarang diucapkan dengan lantang: bahwa kesehatan mental itu nyata, dan bahwa terkadang orang yang paling kita cintai justru yang paling menyakiti kita.

Jahseh Onfroy: Anak Muda yang Terbelah Dua

Di balik nama panggung XXXTentacion ada seorang pemuda bernama Jahseh Dwayne Ricardo Onfroy, lahir tahun 1998 di Plantation, Florida. Kisah hidupnya, menurut berbagai laporan, adalah kisah yang penuh luka sejak kecil — masa remaja yang bermasalah, waktu yang dihabiskan di pusat penahanan remaja, dan latar belakang keluarga yang kacau. Justru di dalam ruang tahanan itulah, konon, ia mulai serius menemukan musik sebagai jalan keluar.

Ia meledak lewat platform SoundCloud, gelombang baru yang saat itu melahirkan generasi rapper yang tak butuh label besar untuk didengar jutaan orang. Suaranya sulit dikategorikan — kadang ia menjerit seperti musik punk dan metal, kadang ia bernyanyi lembut penuh kerapuhan seperti di "SAD!". Ia adalah sosok yang terbelah: di satu sisi seorang seniman yang begitu jujur soal depresi, kecemasan, dan pikiran gelap; di sisi lain seorang figur yang dibayangi tuduhan kekerasan serius yang tak bisa diabaikan begitu saja saat membicarakan dirinya.

"SAD!" muncul dalam album keduanya, ?, yang rilis Maret 2018. Lagu ini menjadi puncak komersialnya — melejit ke posisi teratas tangga lagu Amerika. Yang menyayat: hanya beberapa bulan setelahnya, pada Juni 2018, Jahseh ditembak mati dalam sebuah perampokan di Florida saat usianya baru 20 tahun. Setelah kematiannya, "SAD!" kembali naik ke puncak, menjadikannya monumen yang tak pernah ia rencanakan.

Ada benang yang menghubungkan sosok ini dengan pendengar muda di Indonesia. Generasi yang tumbuh besar dengan SoundCloud, YouTube, dan Spotify menemukan XXXTentacion bukan lewat radio atau MTV, melainkan lewat rekomendasi algoritma dan playlist teman. Ia adalah artis "internet" sejati — persis jenis figur yang menyeberang batas negara tanpa perlu izin siapa pun. Di kolom komentar video musiknya, kamu akan menemukan bahasa Indonesia berdampingan dengan bahasa Spanyol, Portugis, dan Arab. Rasa sakit yang ia nyanyikan ternyata tak butuh terjemahan.

Membaca Ulang Apa yang Sebenarnya Dikatakan

Tanpa mengutip satu baris pun liriknya, inti dari "SAD!" bisa dijelaskan begini: ini adalah suara seseorang yang terjebak dalam siklus cinta yang tak sehat. Ia menggambarkan perasaan di mana keberadaan pasangannya membuatnya menderita, tapi ketiadaan pasangannya membuatnya merasa mati. Dua-duanya sama-sama menyakitkan — dan justru itulah jebakannya.

Sepanjang lagu, ada nada tuduhan yang bercampur dengan keputusasaan. Ia seolah berbicara langsung kepada seseorang yang telah pergi, menyalahkan orang itu karena membuatnya merasa hampa, sekaligus mengaku bahwa ia tak sanggup hidup normal tanpanya. Ada momen di mana ia membayangkan skenario ekstrem tentang kehilangan — jenis pikiran gelap yang biasanya tak berani diucapkan orang secara terbuka. Di sinilah letak keberaniannya: ia menaruh pikiran-pikiran yang paling rapuh dan memalukan itu di depan jutaan orang, tanpa menyensornya.

Yang penting untuk dipahami, "SAD!" bukan lagu yang meromantisasi hubungan beracun. Ia lebih seperti diagnosis daripada resep. XXXTentacion tidak berkata "beginilah seharusnya cinta." Ia berkata "beginilah rasanya saat cinta menjadi penjara, dan aku tak tahu cara keluar." Kerapuhan itu yang membuat banyak pendengar merasa dimengerti — karena akhirnya ada seseorang yang mengucapkan perasaan yang selama ini mereka kira hanya mereka sendiri yang rasakan.

Lagu ini juga singkat dengan sengaja. Kurang dari tiga menit, tanpa banyak basa-basi. Seperti sebuah luapan emosi yang keluar dalam satu tarikan napas, lalu berhenti sebelum sempat menjelaskan diri. Struktur yang begitu ringkas justru memperkuat kesan bahwa ini bukan lagu yang diperhitungkan matang-matang, melainkan sesuatu yang tumpah begitu saja.

Ketika Sebuah Lagu Menjadi Cermin Zaman

Untuk memahami betapa besar pengaruh "SAD!", kita harus melihat konteks yang lebih luas. Akhir 2010-an adalah masa ketika percakapan tentang kesehatan mental mulai keluar dari bayang-bayang, terutama di kalangan anak muda. Rapper-rapper gelombang SoundCloud — dan XXXTentacion salah satu wajah terdepannya — membawa tema depresi, kecemasan, dan bunuh diri ke dalam musik mainstream dengan cara yang mentah dan tanpa filter.

Bagi generasi yang tumbuh di tengah tekanan media sosial, perbandingan diri yang tak ada habisnya, dan rasa kesepian yang aneh di tengah dunia yang selalu terhubung, musik semacam ini terasa seperti pengakuan. "SAD!" bukan lagu yang menyuruhmu "tetap kuat" atau "semuanya akan baik-baik saja." Ia justru duduk bersamamu dalam kegelapan dan berkata "aku juga merasa seperti ini." Ada kejujuran yang menenangkan dalam ketiadaan solusi itu.

Video musiknya sendiri menjadi karya yang banyak dibicarakan. Dirilis setelah kematiannya, video itu menampilkan XXXTentacion menghadiri pemakamannya sendiri, berhadapan dengan versi dirinya yang telah tiada. Sebuah gambaran yang terasa hampir kenabian mengingat apa yang terjadi padanya. Bagi penggemar, video itu memperdalam lapisan makna lagu — mengubahnya dari sekadar kisah putus cinta menjadi meditasi tentang perdamaian dengan sisi tergelap diri sendiri.

Warisan XXXTentacion memang rumit dan tak bisa dibersihkan. Tuduhan serius yang menyertai namanya membuat banyak orang berdebat: bisakah kita menikmati karyanya sambil tetap mengakui bayang-bayang gelap di sekitarnya? Tak ada jawaban mudah untuk itu, dan sebaiknya kita tak berpura-pura ada. Yang jelas, secara musikal, "SAD!" telah menembus lapisan budaya dengan cara yang sedikit lagu bisa capai — menjadi salah satu lagu paling banyak diputar dari generasinya, jauh melampaui batas negara asalnya.

Kenapa Lagu Ini Masih Menghantui Sampai Sekarang

Bertahun-tahun setelah rilis, "SAD!" masih menemukan pendengar baru setiap hari. Sebagian karena algoritma yang terus merekomendasikannya, sebagian karena rasa penasaran soal artis yang hidupnya berakhir tragis. Tapi alasan terdalamnya lebih sederhana: perasaan yang ia bicarakan tak pernah ketinggalan zaman.

Setiap generasi punya orang yang terjebak dalam hubungan yang menyakiti mereka tapi tak sanggup mereka tinggalkan. Setiap generasi punya anak muda yang merasa sendirian dengan pikiran gelapnya. "SAD!" berbicara langsung kepada mereka, tanpa berpura-pura punya jawaban. Dan justru karena XXXTentacion tak sempat menua, tak sempat berevolusi menjadi versi dirinya yang lain, lagu ini terkunci selamanya sebagai potret seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang berbicara jujur soal rasa sakitnya — lalu pergi.

Di Indonesia, di mana percakapan terbuka soal kesehatan mental masih terus berkembang, lagu semacam ini punya arti tersendiri. Ia memberi kosakata emosional kepada anak muda yang mungkin kesulitan menamai apa yang mereka rasakan. Ia menormalkan gagasan bahwa merasa hancur itu manusiawi, dan bahwa mengakuinya bukanlah kelemahan. Mungkin itulah warisan paling bertahan lama dari "SAD!" — bukan sebagai lagu galau, melainkan sebagai izin untuk jujur.

Ada ironi pahit yang menutup semuanya. Sebuah lagu berjudul "SAD!" — sedih — menjadi ledakan kesuksesan terbesar dalam hidup seorang seniman yang tak sempat menikmatinya. Kata itu, dengan tanda serunya, kini terasa seperti bukan sekadar judul, melainkan rangkuman dari sebuah kisah yang berakhir terlalu cepat.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s