SONGFABLE · 2018

pete davidson

ARIANA GRANDE · 2018

TL;DR: Sebuah lagu berdurasi sekitar satu menit yang isinya cuma satu hal: rasa lega karena akhirnya menemukan seseorang yang bikin tenang. Yang bikin lagu ini abadi justru bukan liriknya, melainkan fakta bahwa Ariana memutuskan untuk tetap menyimpannya di album — lengkap dengan nama lengkap seseorang di judulnya — setelah hubungan itu berakhir.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Hook: lagu terpendek di album, tapi paling berani

Bayangkan kamu menulis nama gebetan kamu di sampul buku tulis. Bukan inisial. Bukan emoji. Nama lengkapnya, huruf demi huruf, dengan spidol yang nggak bisa dihapus. Lalu buku itu difotokopi dan dibagikan ke seluruh dunia.

Itulah yang Ariana Grande lakukan pada Agustus 2018.

"pete davidson" adalah track ke-14 di album Sweetener, dan durasinya hanya sekitar satu menit lebih sedikit — lebih pendek dari waktu yang kamu butuhkan untuk memanaskan air di dispenser kantor. Di Spotify, lagu ini lewat begitu saja kalau kamu lagi nyetir. Tidak ada chorus besar. Tidak ada belting delapan oktaf yang biasanya jadi ciri khas Ariana. Tidak ada produksi mewah yang menonjol.

Yang ada hanya suara Ariana yang di-layer berkali-kali, harmoni yang mengambang seperti kabut pagi, dan sebuah perasaan yang sangat spesifik: perasaan aman.

Dan justru karena kesederhanaannya itulah lagu ini jadi salah satu momen paling telanjang dalam diskografi Ariana. Karena menyebut nama lengkap seseorang di judul lagu adalah tindakan yang tidak bisa ditarik kembali. Kamu tidak bisa pura-pura lagu itu tentang orang lain nanti. Kamu tidak bisa bilang "ah itu cuma metafora". Namanya tercetak di sana, selamanya, di setiap platform streaming di dunia.

Ariana tahu risikonya. Dia tetap melakukannya.

Background: tahun paling berat, lalu tiba-tiba ada tawa

Untuk mengerti kenapa lagu ini terasa seperti helaan napas panjang, kamu harus tahu apa yang terjadi sebelumnya.

Mei 2017, sebuah bom meledak di luar Manchester Arena setelah konser Ariana di kota itu. Puluhan orang meninggal, ratusan luka-luka. Banyak dari mereka remaja dan anak-anak. Ariana pulang ke Florida dalam kondisi yang dia gambarkan dalam berbagai wawancara sebagai kehancuran total — dilaporkan mengalami PTSD, serangan panik, dan periode panjang di mana dia kesulitan meninggalkan rumah.

Album Sweetener lahir dari periode itu. Judulnya sendiri adalah metafora: sesuatu yang kamu tambahkan ke hal pahit supaya bisa ditelan. Album ini penuh dengan lagu yang secara terang-terangan membicarakan terapi, obat kecemasan, dan proses belajar bernapas lagi — "breathin", "get well soon", "no tears left to cry". Ini bukan album pop yang berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ini album tentang seseorang yang sedang berusaha keras untuk baik-baik saja.

Di tengah proses itu, muncul Pete Davidson.

Davidson adalah komedian Saturday Night Live, sosok yang di Amerika dikenal sebagai orang yang sangat terbuka soal kesehatan mentalnya sendiri — dia sudah lama berbicara publik tentang diagnosis dan terapinya, dan kehilangan ayahnya, seorang pemadam kebakaran New York, saat tragedi 11 September 2001. Dua orang yang sama-sama mengalami trauma publik besar, dua orang yang sama-sama harus tetap tampil lucu dan menghibur di depan kamera.

Mereka mulai berkencan sekitar Mei 2018. Bertunangan beberapa minggu kemudian. Kecepatan itu jadi bahan olok-olok internet selama berbulan-bulan — dan sejujurnya, di Indonesia kita punya istilah yang lebih pas untuk fenomena ini: gercep. Sangat gercep.

Tapi kalau kamu membaca timeline itu bukan sebagai gosip, melainkan sebagai catatan medis emosional, ceritanya berubah. Seseorang yang baru saja melewati tahun paling gelap dalam hidupnya bertemu orang yang bisa membuatnya tertawa lagi, dan reaksinya adalah: pegang erat-erat, sekarang juga.

Lagu ini konon ditulis dan direkam dengan sangat cepat, di tengah sesi album yang sudah hampir rampung — sebuah sisipan mendadak, bukan bagian dari rencana awal. Dan awalnya, judul lagu ini kabarnya hanya "pete". Nama depan saja. Ariana kemudian mengubahnya menjadi nama lengkap. Perubahan satu kata itu mengubah segalanya: dari catatan pribadi menjadi pernyataan publik.

Kenapa cerita ini nyambung banget buat pendengar Indonesia

Ada satu kebiasaan yang rasanya universal di kalangan anak muda Indonesia: menulis nama orang yang kita suka di tempat yang seharusnya tidak permanen, tapi kita perlakukan seolah permanen. Nama di kaca jendela yang berembun. Inisial di bio Instagram. Nama pacar di caption foto, yang lalu jadi bahan julid satu angkatan kalau putus.

Kita semua tahu risikonya. Kita semua tetap melakukannya.

Dan kita juga tahu ritual sesudahnya: menghapus foto, mengganti bio, arsip semua postingan. Di Indonesia, tindakan itu bahkan punya makna sosial tersendiri — orang langsung tahu ada yang terjadi bahkan tanpa kamu bilang apa-apa.

Nah, di sinilah "pete davidson" jadi menarik. Karena Ariana tidak melakukan ritual penghapusan itu. Lagu itu masih ada di Sweetener sampai hari ini. Kamu bisa memutarnya sekarang juga.

Makna inti: bukan lagu cinta, tapi lagu tentang rasa aman

Kalau kamu benar-benar menyimak isi lagunya — tanpa perlu mengutip satu baris pun — kamu akan sadar bahwa lagu ini nyaris tidak berbicara tentang romansa dalam pengertian klasik.

Tidak ada deskripsi fisik. Tidak ada adegan kencan. Tidak ada janji setia sampai akhir hayat dalam bahasa yang berbunga-bunga.

Yang ada adalah pengakuan tentang perubahan kondisi internal. Ariana menggambarkan dirinya sebagai orang yang biasanya sulit percaya, biasanya waspada, biasanya menunggu hal buruk terjadi — dan bagaimana kehadiran satu orang ini membuat kewaspadaan itu turun. Dia bicara tentang kepala yang biasanya berisik, lalu mendadak lebih tenang. Tentang perasaan bahwa untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia tidak sedang bersiap-siap untuk kehilangan.

Itu adalah bahasa orang yang baru keluar dari trauma, bukan bahasa orang yang sedang jatuh cinta biasa.

Produksinya memperkuat pesan itu dengan cara yang cerdas. Vokal Ariana ditumpuk berlapis-lapis sampai terdengar seperti paduan suara satu orang — teknik yang bikin lagu ini terasa seperti pikiran yang sedang bergema di dalam kepala, bukan seperti seseorang yang sedang bernyanyi ke arah orang lain. Instrumennya minimal, nyaris seperti bantal. Tidak ada drum besar yang menuntut perhatian. Semuanya lembut, seperti sengaja tidak ingin membangunkan siapa pun.

Dan durasi yang sangat pendek itu sendiri adalah bagian dari maknanya. Perasaan aman itu memang sesaat. Lagu ini tidak berpura-pura menjadi monumen. Dia datang, mengatakan satu hal jujur, lalu pergi — persis seperti momen kebahagiaan yang kita alami di tengah periode sulit, yang kita tahu tidak akan bertahan lama, tapi tetap kita syukuri.

Konteks budaya: ketika hubungan pribadi jadi tontonan publik

Hubungan Ariana dan Pete berakhir sekitar Oktober 2018, hanya beberapa bulan setelah album rilis. Di antara bertunangan dan berpisah, terjadi juga tragedi lain: Mac Miller, rapper yang merupakan mantan pacar Ariana dan sahabat dekatnya, meninggal dunia pada September 2018.

Tahun itu, bagi Ariana, adalah rangkaian gelombang yang datang bertubi-tubi. Dan semuanya terjadi di depan mata publik, di kolom komentar, di trending topic, di layar jutaan orang yang merasa berhak berkomentar.

Yang kemudian dilakukan Ariana adalah salah satu manuver artistik paling terkenal dalam pop modern: dia menulis "thank u, next", sebuah lagu yang menyebut nama para mantannya bukan untuk menyerang, tapi untuk berterima kasih. Termasuk Pete. Lagu itu meledak jadi fenomena global dan mendefinisikan ulang cara industri musik memperlakukan cerita putus cinta.

Tapi coba lihat urutannya: "pete davidson" dulu, baru "thank u, next". Yang pertama adalah cinta yang diumumkan dengan nama lengkap. Yang kedua adalah perpisahan yang juga diumumkan dengan nama lengkap. Ariana secara konsisten menolak berpura-pura bahwa hidupnya tidak terjadi.

Di industri di mana artis biasanya menghapus jejak, menyamarkan subjek lagu, dan menggunakan kata ganti yang aman, keputusan untuk membiarkan "pete davidson" tetap ada di album adalah pilihan yang tidak biasa. Lagu itu tidak dihapus dari versi streaming. Tidak diganti judulnya. Tidak dijelaskan panjang lebar dengan permintaan maaf.

Dia dibiarkan berdiri sebagai apa adanya: dokumentasi jujur tentang apa yang seseorang rasakan pada satu titik waktu tertentu.

Kenapa lagu ini masih terasa relevan hari ini

Bertahun-tahun setelah rilis, "pete davidson" jadi semacam studi kasus emosional.

Pertama, tentang menghadapi masa lalu. Kita hidup di era di mana semua jejak digital bisa dihapus dalam tiga ketukan jari. Unfollow, archive, delete. Dan kita melakukannya bukan hanya untuk melupakan, tapi untuk mengontrol cerita — supaya orang lain tidak tahu bahwa kita pernah begitu berharap. Lagu ini menawarkan pendekatan yang berlawanan: membiarkan bukti bahwa kamu pernah mencintai seseorang tetap terlihat, karena perasaan itu memang nyata saat itu, dan menghapusnya sama saja dengan berbohong pada diri sendiri.

Kedua, tentang definisi ulang soal cinta. Generasi yang tumbuh dengan kecemasan sebagai bahasa sehari-hari — dan di Indonesia percakapan soal kesehatan mental berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir — akan langsung mengenali apa yang lagu ini bicarakan. Cinta yang paling berharga bukan yang paling dramatis, tapi yang paling menenangkan sistem saraf. Bukan yang bikin deg-degan, tapi yang bikin akhirnya bisa tidur nyenyak.

Ketiga, tentang keberanian yang sunyi. Menyebut nama seseorang dengan lengkap adalah tindakan yang membuat dirimu rentan. Tidak ada pintu keluar. Tidak ada ruang untuk menyangkal. Dan justru itulah yang membuat lagu berdurasi satu menit ini terasa lebih berani daripada banyak balada delapan menit yang penuh air mata.

Ada satu kalimat yang sering diulang penggemar Ariana ketika membicarakan lagu ini: bahwa lagu ini bukan tentang siapa Pete Davidson, melainkan tentang siapa Ariana Grande pada musim panas 2018 — seseorang yang, setelah setahun penuh kehilangan, berani mengaku di depan dunia bahwa dia sedang bahagia.

Kebahagiaan itu tidak bertahan. Tapi pengakuannya bertahan.

Dan mungkin itu poinnya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Rasakan suaranya

📚 Ikuti ceritanya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Coba sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s