SONGFABLE · 2018

After the Storm

KALI UCHIS · 2018

TL;DR: Di balik funk yang terdengar seperti minggu pagi yang cerah, "After the Storm" sebenarnya menolak dongeng penyelamat: tidak ada pangeran, tidak ada keberuntungan yang datang mengetuk pintu, kamulah yang harus jadi matahari bagi dirimu sendiri.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu paling ceria yang isinya justru penolakan

Ada trik kecil yang dipakai Kali Uchis di lagu ini, dan trik itu bekerja begitu mulus sampai banyak orang tidak sadar. Musiknya manis. Bass-nya berjalan santai seperti orang yang tahu persis ke mana ia pergi. Ada tepukan tangan, ada organ yang berdenyut hangat, ada suara Kali yang melayang di atasnya seperti asap rokok di kamar berjendela besar. Semua elemen itu bilang: santai saja, semuanya akan baik-baik saja.

Tapi liriknya tidak bilang begitu. Liriknya bilang sesuatu yang jauh lebih keras, dan justru karena dibungkus dengan gula, pesannya masuk tanpa perlawanan.

Inti lagunya kira-kira begini: banyak dari kita tumbuh dengan cerita bahwa setelah badai akan datang pelangi, bahwa penderitaan otomatis dibayar dengan hadiah, bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang atau sesuatu yang datang menyelamatkan. Kali Uchis membalik logika itu. Dalam pandangannya, menunggu adalah bentuk kemalasan yang paling nyaman. Kalau kamu ingin matahari muncul, kamu tidak bisa berdiri di bawah awan sambil berharap. Kamu harus menjadi sumber cahayanya sendiri.

Yang membuat lagu ini istimewa bukan pesan itu semata, karena pesan semacam itu sudah dipakai ribuan lagu motivasi. Yang membuatnya berbeda adalah nadanya. Kali tidak berteriak. Ia tidak berkhotbah. Ia menyampaikannya dengan suara orang yang sudah selesai marah dan sudah memutuskan untuk berjalan sendiri, sambil tetap menikmati cuaca.

Dari Pereira ke Virginia, dan sedikit sejarah tentang kata "badai"

Kali Uchis lahir dengan nama Karly-Marina Loaiza. Ia besar di Virginia, Amerika Serikat, tapi masa kecilnya terbelah dua karena keluarganya berasal dari Pereira, Kolombia, dan ia menghabiskan sebagian waktunya bolak-balik ke sana. Dua dunia itu tidak pernah benar-benar menyatu dalam dirinya, dan justru ketidakmenyatuan itulah yang belakangan menjadi bahan bakar karyanya: perempuan Latin di Amerika yang tidak sepenuhnya diterima di kedua tempat, yang akhirnya memutuskan membangun dunianya sendiri.

Masa remajanya dikabarkan tidak mulus. Cerita yang sering diulang dalam berbagai wawancara adalah bahwa ia sempat berkonflik dengan keluarganya dan untuk beberapa waktu tinggal di dalam mobil, sambil tetap merekam musik dan membuat video sendiri. Mixtape awalnya, Drunken Babble (2012), lalu EP Por Vida (2015), lahir dari periode do-it-yourself semacam itu. Ia mengurus visual, styling, dan estetika karyanya nyaris sendirian sejak awal, sebuah kebiasaan yang menjelaskan kenapa dunia visualnya terasa begitu konsisten sampai sekarang.

Isolation, album debut penuhnya, keluar pada April 2018 dan terasa seperti hasil akumulasi bertahun-tahun. Judulnya jujur: soal keterasingan, soal berdiri di antara kategori. Deretan kolaboratornya hampir tidak masuk akal untuk sebuah album debut, mulai dari Damon Albarn, Thundercat, Steve Lacy, BadBadNotGood, sampai Kevin Parker dari Tame Impala. "After the Storm" dirilis sebagai salah satu single pembuka album, dan menempatkan dua tamu yang berjarak puluhan tahun secara generasi di ruangan yang sama: Tyler, the Creator, dan Bootsy Collins.

Bootsy Collins bukan nama sembarangan. Ia adalah bassist legendaris yang membangun fondasi funk bersama James Brown lalu Parliament-Funkadelic pada 1970-an. Kehadirannya di sini bukan sekadar tempelan nama besar, melainkan semacam restu: seorang tetua funk yang datang dan berkata bahwa perempuan muda ini memahami tradisi yang ia bangun.

Di sinilah ada satu koneksi yang mungkin terasa aneh dan menyenangkan bagi pendengar Indonesia. Judul lagu ini, kalau diterjemahkan mentah, adalah "setelah badai". Dan bagi telinga Indonesia, frasa itu hampir mustahil dilepaskan dari Badai Pasti Berlalu — album dan film 1977 yang jadi salah satu tonggak paling dihormati dalam sejarah musik populer Indonesia, dengan Chrisye, Eros Djarot, dan Yockie Suryo Prayogo di baliknya. Frasa itu bahkan sudah lama melebur jadi peribahasa sehari-hari, sesuatu yang diucapkan orang tua untuk menenangkan anaknya.

Menariknya, kedua karya ini berdiri di dua sisi berbeda dari kalimat yang sama. Tradisi "badai pasti berlalu" menawarkan penghiburan: bertahanlah, waktu akan menyembuhkan. Kali Uchis menawarkan sesuatu yang lebih dingin dan lebih memberdayakan: badai memang berlalu, tapi apa yang tersisa setelahnya bukan hadiah gratis, melainkan pekerjaan rumah. Mendengarkan "After the Storm" sambil mengingat Badai Pasti Berlalu membuat lagu ini terasa seperti percakapan lintas benua dan lintas dekade tentang satu kata yang sama.

Ada juga jembatan yang lebih sederhana. Indonesia punya sejarah funk dan soul yang panjang, dari era The Rollies dan Koes Plus sampai kemewahan pop-funk 1980-an ala Fariz RM. Groove hangat yang dipakai Kali Uchis di sini berasal dari sumur estetika yang sama. Itu sebabnya lagu ini sering terdengar akrab di telinga pendengar Indonesia bahkan pada putaran pertama, seolah pernah diputar di radio orang tua kita, hanya saja dengan produksi yang lebih bersih.

Membongkar isi lagunya tanpa mengutip satu baris pun

Struktur lagu ini bekerja seperti tiga babak pendek.

Babak pertama adalah Kali sendirian. Ia menggambarkan situasi seseorang yang sedang menunggu keajaiban dari luar dirinya. Nada bicaranya bukan mengejek, lebih seperti seseorang yang pernah ada di posisi itu dan tahu betul rasanya. Ia menolak gagasan bahwa penderitaan otomatis menghasilkan imbalan, dan menolak pula gagasan bahwa ada figur penyelamat yang tugasnya membereskan hidupmu. Alih-alih menjanjikan pelangi, ia mengalihkan tanggung jawab kembali ke tangan pendengar: kalau kamu butuh cahaya, produksi cahaya itu adalah pekerjaanmu.

Yang halus di sini adalah caranya menghindari nada menyalahkan. Banyak lagu bertema kemandirian jatuh ke jebakan menyindir orang yang sedang lemah. Kali tidak. Ia bicara seperti teman yang duduk di sebelahmu, bukan pelatih yang berdiri di depan papan tulis. Ia mengakui bahwa dunia memang keras dan bahwa harapan itu wajar, sebelum kemudian dengan lembut mengarahkan bahwa harapan saja bukan strategi.

Babak kedua adalah verse Tyler, the Creator. Sekilas terasa seperti selipan yang tidak nyambung, karena Tyler datang dengan energi yang jauh lebih ribut dan gaya bicara yang jauh lebih jenaka. Tapi isinya sebenarnya mengikuti argumen yang sama dari sudut berbeda. Ia menceritakan seseorang yang bergerak dari kondisi tidak punya apa-apa menuju kondisi punya sesuatu, bukan karena diselamatkan, melainkan karena bekerja dan tetap ada. Ia juga menyelipkan sisi manusiawi: keinginan untuk hadir bagi orang lain, keinginan menjadi orang yang bisa diandalkan. Jadi kalau bagian Kali bicara tentang tidak menunggu penyelamat, bagian Tyler bicara tentang mencoba menjadi orang yang berguna, dengan segala kecanggungannya.

Babak ketiga adalah Bootsy Collins. Ia tidak menyanyi dalam pengertian konvensional, melainkan hadir sebagai suara yang menutup lagu dengan nada semangat, semacam narator hangat yang muncul di akhir film. Efeknya penting secara dramaturgi: setelah pesan keras tentang kemandirian, ada suara tua yang bilang bahwa perjalanan ini boleh dinikmati. Tanpa Bootsy, lagu ini bisa terasa seperti ceramah. Dengan Bootsy, ia terasa seperti perayaan.

Dan seluruh percakapan itu berlangsung di atas groove yang menolak buru-buru. Bass-nya bulat dan bernapas, ritmenya bergoyang tanpa memaksa, produksinya menyisakan banyak ruang kosong. Pilihan itu bukan kebetulan. Kalau pesan lagunya adalah "jangan menunggu", musiknya justru menunjukkan bagaimana caranya: tenang, sabar, tidak panik.

Estetika retro yang jadi manifesto

Video musiknya, yang dikabarkan digarap oleh sutradara sekaligus fotografer Nadia Lee Cohen, memperkuat semuanya. Nuansanya sengaja dibuat seperti iklan rumah tangga Amerika tahun 1950-an dan 1960-an: warna pastel yang terlalu sempurna, taman yang terlalu rapi, senyum yang terlalu lebar. Kali muncul sebagai figur ibu rumah tangga ideal versi majalah lama, dikelilingi tanaman-tanaman berwajah manusia, sementara Tyler tampil sebagai karakter matahari yang absurd dan ceria.

Ada ironi yang tajam di sana. Estetika yang dipakai justru berasal dari era ketika perempuan diharapkan menunggu, melayani, dan tidak menuntut apa-apa. Kali mengambil kostum itu, memakainya dengan sempurna, lalu menyanyikan lagu yang isinya menolak seluruh premis di baliknya. Ini bukan nostalgia polos, ini pembajakan.

Pendekatan semacam itu jadi ciri khasnya. Kali Uchis nyaris selalu memasuki suatu genre atau era lewat pintu depan, meniru kodenya dengan sangat teliti, lalu mengubah isinya dari dalam. Ia melakukannya pada bolero dan reggaeton di album berbahasa Spanyol Sin Miedo (del Amor y Otros Demonios) (2020), dan ia melakukannya pada funk-soul di sini.

Warisan lagu ini juga terlihat dari lintasan kariernya. "After the Storm" jadi salah satu pintu masuk paling luas ke musiknya bagi pendengar internasional, dan dikabarkan meraih sertifikasi platinum di Amerika Serikat. Setelah itu ia memenangkan Grammy lewat kolaborasi "10%" bersama Kaytranada, lalu meledak secara global lewat "telepatía" yang jadi fenomena di TikTok termasuk di Indonesia. Banyak pendengar Indonesia sebenarnya mengenal Kali Uchis dari arah sebaliknya: masuk lewat "telepatía", lalu menelusuri ke belakang dan menemukan lagu ini sebagai fondasi.

Kenapa lagu ini masih terus diputar

Ada alasan praktis kenapa "After the Storm" bertahan bertahun-tahun setelah rilis, dan alasan itu tidak melulu soal groove-nya yang enak.

Lagu ini menawarkan versi optimisme yang tidak naif. Generasi yang tumbuh dengan ketidakpastian ekonomi, pekerjaan yang tidak stabil, dan linimasa media sosial yang penuh pencapaian orang lain, cenderung alergi pada motivasi kosong. Kalimat "semua akan indah pada waktunya" terdengar hampir menghina kalau kamu sedang menghitung sisa uang di akhir bulan. Kali Uchis menawarkan sesuatu yang lebih bisa dipakai: tidak menjanjikan hasil, tapi menawarkan agensi. Itu perbedaan besar.

Lagu ini juga jujur soal kesepian tanpa menjadikannya identitas. Album induknya berjudul Isolation, dan lagu ini adalah titik paling terangnya, tapi terang bukan berarti tidak sendirian. Ia menerima kesendirian sebagai kondisi kerja, bukan sebagai vonis.

Dan ada faktor terakhir yang sederhana: lagu ini terdengar bagus di hampir semua situasi. Diputar saat macet di jalan, saat memasak, saat bekerja, saat hujan turun sore-sore di kota yang padat. Ia tidak menuntut perhatian penuh, tapi memberi imbalan besar kalau kamu memberikannya. Itu kombinasi yang membuat sebuah lagu bertahan jauh lebih lama daripada tren yang melahirkannya.

Kalau Badai Pasti Berlalu mengajarkan kita untuk bertahan sampai cuaca membaik, "After the Storm" menambahkan satu kalimat lanjutan yang penting: setelah cuaca membaik, giliran kamu yang bergerak.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Menelusuri ceritanya

🌍 Mendatangi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s