SONGFABLE · 1991

Who Is It

MICHAEL JACKSON · 1991

TL;DR: "Who Is It" terdengar seperti lagu patah hati biasa, padahal isinya adalah interogasi dingin tentang pengkhianatan — tentang menyadari bahwa orang yang paling dekat denganmu sesungguhnya sedang memainkan sebuah peran, dan bahwa kamu sendiri ikut membiayai sandiwara itu.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah pertanyaan yang sengaja tidak pernah dijawab

Kebanyakan lagu cinta yang gagal berakhir dengan kesimpulan. Ada air mata, ada perpisahan, ada satu baris penutup yang membuat pendengar merasa cerita itu selesai. "Who Is It" melakukan hal sebaliknya. Lagu ini dibuka dengan denyut bas yang gelap, membangun ketegangan selama hampir enam menit, lalu berakhir tanpa memberi jawaban sama sekali. Judulnya adalah sebuah pertanyaan, dan pertanyaan itu dibiarkan menggantung begitu saja.

Itulah kejutan pertama lagu ini: kekosongan di tengahnya bukan kelemahan, melainkan intinya. Sang narator tidak sedang meratapi kekasih yang pergi. Ia sedang mencoba mengidentifikasi siapa sebenarnya perempuan yang selama ini tidur di sampingnya — dan lebih menyakitkan lagi, siapa sebenarnya dirinya sendiri di mata perempuan itu. Ia menuntut sebuah nama, sebuah wajah, sebuah pelaku yang bisa disalahkan. Tetapi semakin keras ia menuntut, semakin jelas bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa ditunjuk, karena kebohongan itu tersebar merata di seluruh hubungan mereka.

Kejutan kedua bersifat teknis, dan justru inilah yang membuat para produser musik sampai sekarang masih membicarakan lagu ini. Sebagian besar kerangka ritmisnya disebut-sebut lahir bukan dari drum machine, melainkan dari mulut Michael Jackson sendiri. Michael dikenal menyusun lagu dengan cara menyanyikan seluruh bagiannya — bas, dawai, perkusi — ke dalam perekam suara, lalu menyerahkannya kepada musisi untuk diterjemahkan ke instrumen nyata. Pada sebuah wawancara televisi besar di awal 1993, ia dilaporkan sempat mendemonstrasikan proses itu secara langsung dengan beatbox, dan fragmen itu diyakini banyak penggemar berkaitan erat dengan lagu ini. Jadi denyut yang terdengar seperti mesin dingin itu, pada asalnya, adalah napas manusia.

Latar belakang: album yang terbelah dua dan kaset yang berputar di Indonesia

Untuk memahami "Who Is It", kita perlu memahami posisi Michael Jackson pada 1991. Ia baru saja mengakhiri kerja sama panjangnya dengan produser legendaris Quincy Jones, yang telah melahirkan trilogi "Off the Wall", "Thriller", dan "Bad". Bagi banyak orang, berpisah dari Quincy sama saja dengan membuang formula kemenangan. Michael memilih maju sendiri sebagai produser utama, dan album "Dangerous" adalah hasil dari keputusan berisiko itu.

Album tersebut praktis terbelah menjadi dua dunia. Di satu sisi ada Teddy Riley, arsitek new jack swing, yang membawa beat patah-patah dan suara jalanan awal 1990-an ke dalam lagu-lagu seperti "Remember the Time" dan "Jam". Di sisi lain ada Bill Bottrell, insinyur sekaligus produser dengan selera lebih organik dan sinematik, yang menangani "Black or White", "Give In to Me", dan "Who Is It". Dari kubu kedua inilah muncul sisi "Dangerous" yang paling gelap dan paling personal.

Aransemennya sendiri terasa ganjil untuk sebuah singel pop era itu. Ada lapisan dawai yang megah dan nyaris barok, warna suara mirip harpsichord yang berkelip di latar, serta tangga nada minor yang membuat seluruh lagu terasa seperti adegan opera yang dipindahkan ke apartemen mewah di Los Angeles. Sesi rekamannya berlangsung di studio-studio kawasan Los Angeles, dan proses pembuatan album itu memakan waktu berbulan-bulan dengan standar perfeksionis yang konon membuat para teknisi kelelahan.

Di titik inilah ada sambungan yang jarang disadari dengan Indonesia. Era "Dangerous" bukan sekadar era album — ia adalah era tur dunia raksasa, dan Dangerous World Tour dilaporkan singgah di Jakarta pada akhir 1992, dengan pertunjukan di kompleks Stadion Utama Senayan. Beberapa tahun kemudian, pada 1996, tur HIStory disebut-sebut kembali membawanya ke kota yang sama. Bagi satu generasi penggemar musik Indonesia, kedatangan Michael Jackson adalah peristiwa yang dibicarakan jauh sebelum dan sesudah konser digelar — tiket, poster, dan potongan berita televisi menjadi bagian dari memori kolektif.

Ada juga konteks format yang khas Indonesia. Pada awal 1990-an, kaset masih menjadi medium utama musik di sini, jauh melampaui CD yang harganya belum terjangkau kebanyakan orang. "Dangerous" beredar luas dalam bentuk kaset di toko-toko musik kota besar hingga kios kecil di daerah. Artinya, banyak pendengar Indonesia pertama kali menemukan "Who Is It" bukan lewat klip video di layar televisi, melainkan lewat pita yang diputar dan diulang dengan menekan tombol rewind. Cara mendengar seperti itu justru cocok dengan lagunya — sebuah lagu yang memang dirancang untuk didengar berulang-ulang sampai kecurigaannya menular ke pendengarnya.

Membongkar makna: siapa yang sebenarnya sedang dicari

Secara permukaan, alur ceritanya sederhana. Seorang laki-laki menyadari bahwa kekasihnya telah menipunya. Perempuan itu pergi tanpa penjelasan, dan sang narator mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan yang tersisa untuk memahami sejak kapan semuanya mulai palsu.

Namun jika didengar lebih teliti, lagu ini menyimpan lapisan yang jauh lebih pahit. Sang narator tidak menggambarkan dirinya sebagai korban yang tidak bersalah. Ia mengakui bahwa ia telah memberikan segalanya — kenyamanan, perlindungan, bahkan dukungan material — dan bahwa ia salah membaca ketergantungan sebagai cinta. Hubungan yang ia kira setara ternyata adalah sebuah transaksi yang hanya ia sendiri tidak sadari sedang berlangsung. Di sinilah rasa sakitnya berubah bentuk: dari kesedihan menjadi rasa malu.

Refrainnya pun secara struktur bukan permohonan, melainkan interogasi. Narator menuntut agar kebenaran itu punya nama dan wajah, seolah dengan menemukan satu pelaku, luka itu bisa dijelaskan. Tetapi lagu ini dengan cerdik menolak memberi jawaban. Pertanyaannya berputar kembali kepada si penanya, dan pendengar perlahan menyadari bahwa yang sedang dipertanyakan bukan hanya identitas sang perempuan, melainkan juga kelayakan penilaian si narator sendiri terhadap seluruh dunia di sekelilingnya.

Dari situ muncul pembacaan yang lebih luas dan sering dikaitkan dengan kehidupan Michael sendiri. Pada awal 1990-an, ia adalah manusia paling terkenal di dunia, dikelilingi oleh pengacara, manajer, staf, dan orang-orang yang kehadirannya selalu punya kepentingan tersembunyi. Banyak pengamat menafsirkan "Who Is It" sebagai gambaran kondisi psikologis seseorang yang tidak lagi bisa membedakan kasih sayang yang tulus dari kasih sayang yang dibayar. Michael sendiri jarang menjelaskan makna lagu-lagunya secara gamblang, jadi tafsir ini tetap tafsir. Tapi kesejajarannya sulit diabaikan, terutama jika lagu ini didengarkan berurutan dengan "Give In to Me" dari album yang sama, atau dengan "Stranger in Moscow" yang muncul beberapa tahun kemudian.

Satu hal yang layak dicatat: lagu ini tidak pernah menyudutkan sang perempuan sebagai monster. Ia digambarkan sebagai seseorang yang menjalankan peran dengan sangat baik, mungkin karena keadaan memaksanya begitu. Ketegangan moral inilah yang membuat "Who Is It" terasa dewasa dan tidak murahan, berbeda dari lagu-lagu balas dendam yang lazim beredar pada masanya.

Konteks budaya: video David Fincher dan hidup kedua di lantai dansa

Klip video lagu ini memperkuat tafsir tersebut dengan cara yang nyaris brutal. Penyutradaraannya dipercayakan kepada David Fincher, yang saat itu belum menjadi nama besar di dunia film — "Se7en" dan "Fight Club" masih beberapa tahun di depan, dan reputasinya dibangun lewat video musik berestetika gelap dan presisi tinggi. Dalam video itu, sang kekasih digambarkan menjalani kehidupan ganda sebagai pendamping kelas atas yang mengubah penampilan, gaya rambut, dan bahkan identitasnya sesuai selera setiap klien. Kamera memperlakukan transformasi itu sebagai pekerjaan, bukan sebagai kejahatan.

Sementara itu, sosok Michael tampil terisolasi di dalam rumah megah yang terasa dingin. Kontrasnya menjadi tesis visual lagu ini: identitas sebagai barang dagangan, dan kemewahan sebagai ruang yang justru menutup pintu kejujuran. Dilaporkan ada lebih dari satu versi video yang beredar pada masa itu, dan konon Michael tidak sepenuhnya puas dengan versi yang akhirnya dirilis luas — cerita yang kerap muncul dalam pembahasan penggemar, meski detailnya sulit diverifikasi.

Secara komersial, "Who Is It" bukan raksasa seperti "Black or White", tetapi tetap sukses. Lagu ini disebut-sebut mencapai posisi empat belas di tangga Billboard Hot 100 Amerika Serikat, dan sepuluh besar di Inggris. Yang lebih menarik adalah hidup keduanya: serangkaian remix untuk lantai dansa, termasuk versi garapan duo Brothers in Rhythm, membuat lagu ini tetap berputar di klub-klub Eropa jauh setelah promosinya usai. Sebuah lagu tentang pengkhianatan yang intim berubah menjadi lagu untuk kerumunan — ironi yang justru menambah lapisan maknanya.

Dalam sejarah diskografi Michael, "Who Is It" sering ditempatkan sebagai penerus spiritual "Billie Jean": sama-sama bertempo sedang, sama-sama minor, sama-sama tentang kecurigaan dan reputasi. Bedanya, "Billie Jean" bercerita tentang tuduhan dari luar, sedangkan "Who Is It" tentang kebusukan yang tumbuh dari dalam rumah sendiri.

Mengapa lagu ini masih terasa relevan hari ini

Pada 1991, gagasan bahwa seseorang bisa merancang identitas palsu secara total masih terasa seperti bahan cerita film. Hari ini, itu adalah pengalaman sehari-hari. Profil media sosial yang dikurasi, foto yang disaring, persona yang berbeda di setiap aplikasi, penipuan asmara daring, hingga wajah dan suara buatan yang semakin sulit dibedakan dari aslinya — semuanya membuat pertanyaan dalam judul lagu ini terasa lebih mendesak dibanding saat pertama kali dirilis.

Yang membuatnya awet bukan hanya temanya, tetapi juga sikapnya. "Who Is It" tidak menawarkan pelajaran moral dan tidak memberi penutup yang melegakan. Ia hanya menempatkan pendengar dalam kondisi tidak pasti dan membiarkannya di sana. Musik populer jarang berani melakukan itu, terutama musik populer sebesar ini.

Secara musikal pun lagu ini menua dengan baik. Perpaduan denyut gelap, dawai sinematik, dan vokal yang menahan diri sebelum meledak terasa seperti prediksi awal terhadap trip-hop dan R&B moody yang berkembang pada pertengahan 1990-an. Dan metode kerja di baliknya — merekam suara mulut sebagai fondasi sebuah lagu — justru menjadi cara bekerja yang sangat akrab bagi produser masa kini, yang menyimpan ide di memo suara ponsel sebelum menyentuh satu instrumen pun.

Untuk pendengar Indonesia yang tumbuh bersama kaset "Dangerous", lagu ini mungkin dulu sekadar trek gelap yang terselip di antara hit-hit besar. Didengarkan kembali sekarang, ia terasa seperti lagu yang sudah lama menunggu zamannya tiba.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mencobanya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut
Tags
90s