SONGFABLE · 1995

Childhood

MICHAEL JACKSON · 1995

TL;DR: "Childhood" bukan lagu tentang kenangan manis masa kecil, melainkan pengakuan seorang pria dewasa yang sadar bahwa masa kecilnya dicuri oleh ketenaran, lalu menghabiskan sisa hidupnya mencari sesuatu yang tak pernah ia miliki. Michael Jackson sendiri menyebutnya lagu paling otobiografis yang pernah ia tulis.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu yang ia sebut "kalau kau ingin mengenalku, dengarkan ini"

Dari ratusan lagu yang ditulis Michael Jackson, ada satu yang selalu ia tunjuk ketika orang bertanya siapa dirinya sebenarnya. Bukan "Billie Jean". Bukan "Thriller". Bukan pula "Man in the Mirror" yang begitu sering dikutip di acara penghargaan. Yang ia tunjuk adalah "Childhood" — sebuah balada orkestral berdurasi sekitar empat setengah menit yang terselip di album HIStory: Past, Present and Future, Book I (1995), di antara lagu-lagu yang jauh lebih berisik dan jauh lebih terkenal.

Dalam beberapa wawancara pada pertengahan 1990-an, Jackson dilaporkan mengatakan kurang lebih begini: siapa pun yang ingin benar-benar memahami dirinya, cukup mendengarkan "Childhood", karena di situlah semuanya tertulis. Itu kalimat yang berat. Seorang penyanyi yang telah menjual ratusan juta kopi, yang tariannya ditiru di gang-gang sempit sampai panggung televisi seluruh dunia, memilih satu lagu yang hampir tak pernah menjadi hit besar sebagai kartu identitasnya.

Yang membuat pilihan itu terasa mengejutkan adalah isinya. "Childhood" tidak merayakan masa kecil. Ia meratapinya — tepatnya, meratapi ketiadaannya. Lagu ini adalah pengakuan bahwa orang yang dianggap dunia sebagai simbol keceriaan kekanak-kanakan sebenarnya tidak pernah mengalami keceriaan itu sendiri.

Anak yang bekerja sebelum sempat bermain

Untuk memahami kenapa lagu ini terasa begitu perih, kita perlu mundur ke Gary, Indiana, sebuah kota industri baja di Amerika Serikat yang keras dan berdebu. Di rumah sempit keluarga Jackson, anak kelima bernama Michael sudah tampil di panggung ketika usianya masih sekitar lima atau enam tahun. Bersama saudara-saudaranya dalam The Jackson 5, ia melewati masa yang seharusnya diisi sepeda, kelereng, dan pulang sore dengan lutut lecet — dengan latihan, jadwal rekaman, dan perjalanan dari klub ke klub.

Ketika anak-anak seusianya belajar mengeja, ia sudah belajar membaca ruangan: kapan penonton mulai bosan, bagaimana menahan nada, bagaimana tersenyum ketika lelah. Ketenaran datang lebih cepat dari pubertas. Pada usia sebelas tahun, wajahnya sudah ada di sampul majalah. Pada usia dua puluh lima, ia menjadi orang paling terkenal di planet ini.

Harga dari percepatan itu baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Jackson berulang kali menceritakan bahwa ia sering menangis karena kesepian, bahwa ia menatap anak-anak bermain dari jendela ruang latihan, bahwa hubungannya dengan sang ayah, Joe Jackson, diwarnai disiplin keras yang menurut pengakuannya meninggalkan rasa takut. Ia juga bercerita tentang kebiasaan mengumpulkan hal-hal yang biasanya milik anak-anak — wahana permainan, bioskop pribadi, kebun binatang kecil — di properti Neverland Valley Ranch miliknya di California. Bagi sebagian orang itu terlihat eksentrik. Bagi Jackson, dilaporkan, itu adalah usaha membeli kembali sesuatu yang tak bisa dibeli.

"Childhood" lahir persis di titik paling gelap dalam hidupnya. Album HIStory dirilis tahun 1995, dua tahun setelah tuduhan pelecehan yang mengguncang reputasinya pada 1993 — tuduhan yang ia bantah dan yang akhirnya diselesaikan di luar pengadilan tanpa putusan bersalah, namun cukup untuk mengubah cara dunia memandangnya selamanya. Album itu secara keseluruhan terdengar seperti seseorang yang sedang membela diri. Sebagian lagunya marah, keras, penuh tuduhan balik. "Childhood" adalah kebalikannya: ia tidak melawan, ia menjelaskan.

Aransemen orkestranya, yang dikerjakan bersama produser David Foster, sengaja dibuat lembut dan sinematik — lebih dekat ke musik film ketimbang ke pop radio. Ada dentingan yang terdengar seperti kotak musik, gesekan senar yang membesar pelan-pelan, dan vokal Jackson yang nyaris berbisik di beberapa bagian, seolah ia takut suaranya sendiri akan pecah. Lagu ini kemudian juga dipakai sebagai lagu tema film Free Willy 2: The Adventure Home (1995), dan dirilis berdampingan dengan single "Scream" — sebuah pasangan yang aneh sekaligus jujur: satu sisi berteriak marah, sisi lain menangis pelan.

Bagi pendengar di Indonesia, konteks ini punya gaung tersendiri. Generasi yang tumbuh pada era 1990-an mengenal Jackson lewat MTV Asia, kaset dan CD yang berpindah tangan di sekolah, serta siaran televisi yang menayangkan konsernya. Jackson dikabarkan sempat tampil di Jakarta pada pertengahan 1990-an dalam rangkaian tur Asia-nya, dan kehadirannya menjadi salah satu momen musik internasional paling dibicarakan di tanah air kala itu. Di sisi lain, tema lagunya menyentuh sesuatu yang sangat akrab di banyak keluarga Indonesia: anak yang tumbuh terlalu cepat karena harus membantu ekonomi keluarga, kakak sulung yang menjadi "orang tua kedua" bagi adik-adiknya, atau anak berbakat yang dijadwalkan les dari pagi sampai malam. "Childhood" berbicara tentang kemewahan yang sering dianggap gratis padahal tidak: waktu untuk menjadi kecil.

Membongkar isinya: permohonan, bukan pembelaan

Inti lirik "Childhood" sebenarnya sederhana, dan justru itu yang membuatnya menohok. Jackson memulai dengan sebuah pertanyaan yang diajukan kepada pendengar — semacam ajakan untuk berhenti menilai sebelum benar-benar tahu. Ia meminta orang membayangkan hidup yang ia jalani sejak kecil sebelum menyimpulkan kenapa ia berperilaku seperti sekarang.

Dari situ ia bergerak ke gambaran pencarian. Ia menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang terus-menerus mencari sesuatu yang hilang, dan yang hilang itu bukan benda, bukan orang, melainkan sebuah periode waktu. Ia mengakui bahwa kelakuan-kelakuan yang dianggap aneh oleh publik — kegemaran pada dongeng, pada permainan, pada dunia fantasi — bukanlah kepura-puraan melainkan kompensasi. Ia sedang berusaha mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh masa yang terlewat.

Bagian tengah lagu memperkenalkan citra petualangan anak-anak: bajak laut, dunia khayal, kisah-kisah yang biasanya dibaca sebelum tidur. Jackson memakai bahasa dongeng bukan untuk bermain-main, melainkan untuk menunjukkan bahwa di situlah satu-satunya tempat ia bisa mengalami masa kecil — di dalam imajinasi, bukan dalam kenyataan. Ini juga alasan kenapa referensi ke Peter Pan, anak yang tak pernah tumbuh dewasa, melekat begitu kuat pada dirinya sepanjang hidup.

Yang paling menyayat adalah nada penutupnya. Alih-alih berakhir dengan penyelesaian atau penerimaan, lagu ini ditutup dengan pengakuan bahwa pencarian itu belum selesai dan mungkin memang tak akan pernah selesai. Tidak ada pelajaran moral, tidak ada kesimpulan rapi. Hanya seorang pria berusia tiga puluhan yang berkata, dengan cara paling sopan yang bisa ia temukan, bahwa ia masih kehilangan.

Cara Jackson menyanyikannya memperkuat semua itu. Ia tidak memakai teknik-teknik vokal khasnya — tidak ada cegukan ritmis, tidak ada desis perkusif, tidak ada improvisasi liar di bagian akhir yang biasanya jadi tanda tangannya. Suaranya dibiarkan telanjang, sesekali bergetar. Untuk seorang perfeksionis yang terkenal merekam ulang satu frasa puluhan kali, membiarkan kerapuhan itu terdengar adalah keputusan artistik yang berani.

Warisan sebuah lagu yang tidak pernah jadi hit

Secara komersial, "Childhood" bukan kemenangan. Ia dirilis sebagai sisi ganda bersama "Scream", dan perhatian publik — beserta sorotan media — hampir seluruhnya tertuju pada lagu yang satunya, lengkap dengan video musik berbiaya fantastis bersama Janet Jackson. Video untuk "Childhood" sendiri jauh lebih tenang: Jackson duduk sendirian di tengah hutan di malam hari sementara kapal-kapal layar melintas di langit membawa anak-anak yang tertawa. Gambarnya nyaris seperti ilustrasi buku cerita, dan justru karena itu terasa seperti pengakuan visual: dunia yang ia rindukan hanya bisa lewat di atas kepalanya, tidak pernah benar-benar mendarat.

Namun justru lagu-lagu seperti inilah yang umurnya panjang. Setelah kematian Jackson pada 2009, "Childhood" mengalami kebangkitan yang tidak terduga. Banyak penggemar, jurnalis, dan bahkan kritikus yang dulu keras terhadapnya kembali ke lagu ini dan mendengarnya dengan telinga berbeda. Yang dulu terdengar seperti pembelaan diri yang canggung, kini terdengar seperti dokumen. Lagu ini dipakai dalam berbagai tribut, dibahas dalam diskusi tentang kesehatan mental anak-anak di industri hiburan, dan sering dikutip ketika orang membicarakan biaya psikologis dari ketenaran dini.

Konteks itu semakin relevan seiring munculnya generasi baru bintang cilik — dari penyanyi remaja yang meledak lewat media sosial sampai idola yang dilatih sejak usia belasan di sistem pelatihan yang ketat. Percakapan tentang perlindungan anak dalam industri hiburan, tentang jam kerja, tentang hak untuk sekadar bosan dan bermain, kini jauh lebih terbuka dibanding tahun 1995. "Childhood" berdiri sebagai peringatan dini yang saat itu tidak banyak didengar.

Penting juga dicatat bahwa lagu ini berada dalam wilayah yang rumit. Warisan Michael Jackson hingga kini tetap menjadi perdebatan serius, dan banyak orang mendengar lagu ini dengan perasaan yang terbelah. Sebagian mendengar kejujuran seorang korban ketenaran; sebagian lain mendengar upaya seseorang membingkai dirinya sendiri di tengah tuduhan berat. Kedua pembacaan itu hidup berdampingan, dan mungkin memang tidak perlu didamaikan. Yang bisa dipastikan hanyalah bahwa Jackson menulis lagu ini dengan keyakinan penuh bahwa inilah penjelasan paling jujur tentang dirinya.

Kenapa lagu ini masih menusuk hari ini

Ada alasan kenapa "Childhood" terus ditemukan kembali oleh pendengar yang bahkan belum lahir ketika album HIStory dirilis. Temanya bersifat universal dengan cara yang tidak nyaman.

Hampir semua orang punya versi kecil dari kehilangan ini. Anak sulung yang harus menjaga adik sejak SD. Remaja yang berhenti sekolah untuk bekerja. Anak yang masa kecilnya habis di ruang tunggu rumah sakit, di antara perceraian orang tua, atau di bawah tekanan prestasi yang tak pernah cukup. Tidak perlu menjadi bintang global untuk merasakan bahwa ada bagian hidup yang terlewat dan tidak bisa diulang.

Lagu ini juga menawarkan sesuatu yang jarang: izin untuk mengaku. Budaya kita cenderung menuntut orang dewasa menutup buku masa lalu dan "move on". "Childhood" menolak menutup buku itu. Ia mengatakan, dengan tenang, bahwa sebagian luka memang tidak sembuh dan tidak apa-apa mengakuinya di depan umum.

Dan ada satu lapisan lagi yang membuatnya terasa modern: pertanyaan tentang bagaimana kita menilai orang asing. Jackson membuka lagunya dengan permintaan agar orang tidak menghakimi sebelum tahu ceritanya. Di era ketika penilaian publik terhadap seseorang bisa terbentuk dalam hitungan detik lewat potongan video tanpa konteks, permintaan itu terdengar seperti ditulis kemarin, bukan tiga dekade lalu.

Pada akhirnya, "Childhood" adalah lagu tentang sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang sebanyak apa pun. Seseorang yang bisa membeli taman hiburan pribadi tetap tidak bisa membeli satu sore biasa bersama teman sebaya di usia delapan tahun. Itu paradoks yang membuat lagu ini tak kunjung kehilangan daya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
90s