SONGFABLE · 2011

Somebody That I Used to Know

GOTYE · 2011

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Somebody That I Used to Know - Gotye (2011)

TL;DR: Lagu ini bukan sekadar balada putus cinta yang manis-sedih. Ini adalah pertengkaran dua suara yang saling menyalahkan tentang bagaimana cinta yang dulu hangat bisa berubah menjadi keasingan total — sebuah debat pasca-putus di mana tidak ada yang benar-benar menang.

Kejutan kecil yang mengubah cara kita mendengarnya

Kebanyakan orang ingat "Somebody That I Used to Know" sebagai lagu galau paling ikonik di awal 2010-an. Melodi xylophone yang minimalis, suara lirih yang membangun ketegangan, lalu ledakan emosi di reffrain — semuanya terdengar seperti curahan hati satu orang yang patah hati. Tapi di sinilah letak kejutannya: lagu ini sebenarnya bukan monolog. Ini adalah dialog.

Selama dua menit pertama, kita hanya mendengar versi satu pihak — seorang pria yang merasa ditinggalkan, yang mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja, tapi diam-diam masih terluka karena mantan kekasihnya kini memperlakukannya seolah ia orang asing. Lalu masuklah suara perempuan, dan seluruh narasi terbalik. Ia membantah. Ia menuduh balik. Ia bilang bahwa pria itu sebenarnya juga bersalah, bahwa cerita versi pria itu tidak adil. Tiba-tiba kita sadar: kita sedang menonton dua orang yang sama-sama yakin merekalah korbannya.

Itulah yang membuat lagu ini begitu cerdas dan begitu menyakitkan sekaligus. Putus cinta jarang punya satu kebenaran. Selalu ada dua versi, dan keduanya merasa paling jujur. Gotye dan penyanyi tamu Kimbra mementaskan justru kekacauan emosional itu — bukan kesedihan yang rapi, melainkan kebenaran yang berantakan.

Pria di balik garasi: Wally De Backer alias Gotye

Nama "Gotye" sendiri sudah penuh teka-teki. Diucapkan kira-kira seperti "Gol-tee-yay", nama itu berasal dari "Gauthier", versi Prancis dari nama Belgia "Wouter" — nama asli sang musisi, Wouter "Wally" De Backer. Ia lahir di Bruges, Belgia, pada 1980, lalu pindah ke Australia bersama keluarganya saat masih balita. Tumbuh besar di pinggiran Melbourne, Wally menyerap dua dunia sekaligus: akar Eropa dan kebebasan kreatif khas Australia.

Yang sering dilupakan orang, Gotye bukan bintang pop yang muncul tiba-tiba. Sebelum lagu ini meledak, ia sudah bertahun-tahun menjadi musisi indie yang dikenal karena kebiasaannya membangun lagu dari potongan-potongan suara — sampel dari piringan hitam tua, rekaman lapangan, dan apa pun yang ia temukan. Album yang memuat lagu ini, Making Mirrors (2011), sebagian besar direkam di sebuah gudang di pertanian milik orang tuanya di wilayah Mornington Peninsula, Victoria. Bayangkan: salah satu lagu paling banyak diputar di planet ini pada dekade itu lahir di sebuah gubuk pedesaan, bukan studio mewah.

Riff melodi yang ikonik itu, konon, ia bangun dari sampel gitar karya musisi Brasil Luiz Bonfá. Wally menemukan loop kecil yang menempel di kepalanya, lalu membangun seluruh lagu di sekitarnya. Proses itu khas dirinya — bukan menulis dari nol, melainkan menemukan keajaiban di dalam suara yang sudah ada.

Lalu ada Kimbra, penyanyi muda asal Selandia Baru yang saat itu masih belum dikenal luas. Suaranya yang tajam dan penuh tekstur memberi lagu ini separuh nyawanya. Tanpa bagian Kimbra, lagu ini hanya akan menjadi keluhan satu arah. Dengan dirinya, lagu ini menjadi pertengkaran yang utuh.

Sebuah jembatan kecil ke Indonesia: ketika lagu ini meledak secara global, fenomena cover dan parodinya menyebar liar di YouTube — dan Indonesia tidak ketinggalan. Banyak musisi rumahan, kreator, dan grup akapela lokal ikut membuat versi mereka sendiri, sebagian dengan sentuhan lirik berbahasa Indonesia atau gaya humor lokal. Pada masa itu, ketika YouTube dan layanan streaming mulai benar-benar mengakar di kalangan anak muda kota-kota Indonesia, "Somebody That I Used to Know" menjadi semacam ujian wajib bagi siapa pun yang ingin pamer skill bernyanyi di kamera. Lagu ini terasa dekat justru karena temanya — diabaikan oleh seseorang yang dulu sangat dekat — adalah pengalaman universal yang dipahami siapa pun, dari Melbourne sampai Bandung.

Membongkar maknanya: dua kebenaran yang bertabrakan

Mari kita telusuri isi lagu ini tanpa mengutip satu kata pun liriknya, hanya menerjemahkan emosinya.

Bagian pertama adalah suara sang pria. Ia mulai dengan nada nostalgia yang hampir lembut: ia mengakui bahwa hubungan mereka dulu punya momen-momen indah, tapi juga momen ketika ia merasa kesepian justru saat sedang bersama pasangannya. Ia mencoba bersikap dewasa, mencoba bilang bahwa berakhirnya hubungan itu adalah hal yang wajar, bahwa ia bisa berdamai dengan kenyataan bahwa cinta kadang memang mati.

Tapi kemudian topengnya retak. Yang benar-benar menyakitinya bukan perpisahan itu sendiri, melainkan cara mantannya memutus total. Ia tidak hanya pergi — ia berlaku seakan masa lalu mereka tidak pernah ada. Tidak ada lagi kabar. Tidak ada lagi pengakuan. Si pria diperlakukan seperti orang asing, seolah seluruh sejarah mereka bisa dihapus begitu saja. Di reffrain, kemarahannya yang tertahan akhirnya pecah — bukan kemarahan keras, tapi kepedihan yang bergetar, suara orang yang merasa dihapus dari ingatan seseorang yang pernah ia cintai.

Lalu giliran sang perempuan. Dan inilah momen yang membuat lagu ini istimewa. Ia tidak meminta maaf. Ia melawan. Versinya tentang cerita itu sama sekali berbeda: ia merasa pria itu sebenarnya kasar, dingin, dan membuatnya merasa kecil. Ia merasa punya alasan untuk pergi dan memutus total. Dari sudut pandangnya, sikap "memperlakukan sebagai orang asing" itu bukan kekejaman, melainkan perlindungan diri — satu-satunya cara untuk sembuh.

Yang brilian, lagu ini tidak pernah memberi tahu kita siapa yang benar. Pendengar dibiarkan menggantung di antara dua narasi. Mungkin keduanya benar. Mungkin keduanya melebih-lebihkan. Itulah anatomi sebenarnya dari sebuah putus cinta: bukan kisah pahlawan dan penjahat, melainkan dua orang yang sama-sama terluka, sama-sama yakin, dan sama-sama tidak bisa lagi saling memahami. Judulnya pun terasa pedih justru karena kesederhanaannya — mengurangi seseorang yang dulu berarti segalanya menjadi sekadar "seseorang yang dulu kukenal".

Konteks budaya dan warisannya

Ketika lagu ini dirilis, tidak ada yang menyangka ia akan menjadi sebesar itu. "Somebody That I Used to Know" menjadi nomor satu di puluhan negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan tentu saja Australia. Di tangga lagu Billboard Hot 100, ia bertengger di puncak selama berminggu-minggu. Pada ajang Grammy Awards 2013, lagu ini memenangkan Record of the Year, dan Making Mirrors memenangkan Best Alternative Music Album. Untuk seorang musisi indie yang sebagian besar bekerja sendirian di gudang pertanian, ini adalah lonjakan yang nyaris tidak masuk akal.

Tapi mungkin warisan terbesarnya ada di ranah visual dan partisipatif. Video musiknya — di mana tubuh Gotye dan Kimbra perlahan dicat menyatu dengan latar belakang lukisan, lalu kembali memisah — menjadi salah satu video paling ikonik di era awal viralitas YouTube. Konsep stop-motion body painting itu begitu kuat sehingga ditiru dan dijadikan referensi di mana-mana.

Lalu datang gelombang cover. Versi grup Walk Off the Earth, di mana lima orang memainkan satu gitar yang sama secara bersamaan, menjadi fenomena tersendiri dengan ratusan juta penonton. Lagu ini begitu mudah dibawakan ulang — strukturnya sederhana, emosinya jelas, dan formatnya yang berupa dialog mengundang kolaborasi. Inilah salah satu lagu pertama yang benar-benar membuktikan bahwa di era internet, sebuah karya bisa menjadi besar bukan hanya karena diputar di radio, tapi karena diadopsi, dimainkan ulang, dan diparodikan oleh jutaan orang biasa di seluruh dunia, Indonesia termasuk.

Yang menarik, setelah puncak kesuksesan ini, Gotye justru mundur. Ia tidak terburu-buru merilis album baru untuk menunggangi momentum. Ia kembali ke proyek-proyek eksperimentalnya, termasuk dedikasinya pada musik elektronik tua dan instrumen langka. Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti menyia-nyiakan kesempatan emas. Bagi yang lain, itu justru bukti integritas — seorang seniman yang tidak mau menjadi tawanan dari satu lagu yang terlalu besar.

Mengapa lagu ini masih menusuk hingga kini

Lebih dari satu dekade kemudian, "Somebody That I Used to Know" tetap relevan, dan alasannya lebih dalam daripada sekadar nostalgia.

Pertama, lagu ini menangkap fenomena yang justru semakin akrab di era media sosial: keasingan setelah keintiman. Di zaman ketika kita bisa memblokir, unfollow, atau menghapus seseorang dari hidup digital kita dalam sekali ketuk, pengalaman "diperlakukan seperti orang asing oleh seseorang yang dulu tahu segalanya tentangmu" menjadi semakin nyata. Mantan yang tiba-tiba menghilang dari linimasamu. Sahabat yang berhenti membalas pesan. Lagu ini meramalkan kepedihan modern itu jauh sebelum istilah seperti "ghosting" jadi bahasa sehari-hari.

Kedua, kejujurannya tentang ketidakadilan emosi terasa langka. Kebanyakan lagu putus cinta memihak — entah menjadikanmu korban yang patut dikasihani, atau menjadikan mantanmu monster. Lagu ini menolak kenyamanan itu. Ia memaksamu mendengar kedua sisi dan mengakui bahwa kamu, dalam putus cintamu sendiri, mungkin juga bukan satu-satunya yang benar. Itu adalah cermin yang tidak nyaman, dan justru karena itu ia jujur.

Ketiga, secara murni musikal, lagu ini adalah pelajaran tentang dinamika. Pembangunannya yang pelan, ledakan reffrain, lalu masuknya suara kedua yang mengubah segalanya — semua itu membuatnya tetap memuaskan untuk didengar berulang kali, bahkan setelah kamu hafal setiap detiknya. Kesederhanaan instrumennya, yang dulu terasa berani di tengah pop yang serba penuh, kini terdengar abadi.

Bagi pendengar Indonesia yang tumbuh dengan musik Barat di awal 2010-an, lagu ini mungkin terikat pada kenangan tertentu — masa SMA, patah hati pertama, atau sekadar momen menonton cover viral di warnet atau ponsel pertama. Tapi mendengarkannya kembali sebagai orang dewasa, dengan telinga yang sudah tahu rasanya kehilangan, kamu akan menemukan lapisan yang dulu terlewat: bahwa ini bukan lagu tentang kesedihan, melainkan tentang ketidakmampuan dua orang untuk sepakat tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Dan itu, mungkin, adalah bentuk kehilangan yang paling sunyi.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
10s