Matilda
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu yang Memberi Izin untuk Pergi
Ada satu momen aneh yang berulang di setiap konser Love On Tour. Harry Styles adalah bintang pop yang panggungnya penuh warna, bulu-bulu, boa, glitter, dan puluhan ribu orang yang melompat sambil berteriak. Lalu lampu meredup, gitar akustik masuk pelan, dan tiba-tiba stadion yang tadi berpesta itu berubah menjadi ruangan yang sunyi. Banyak yang bercerita bahwa di titik itu mereka menangis tanpa bisa menahan diri, sering kali tanpa benar-benar tahu kenapa. Lagu yang sedang dimainkan adalah "Matilda".
Yang membuat lagu ini begitu mengguncang adalah karena ia menyentuh luka yang hampir tidak pernah dibicarakan di depan umum: luka yang datang bukan dari kekasih, bukan dari sahabat, bukan dari kegagalan karier, melainkan dari keluarga sendiri. Sebagian besar lagu populer mengasumsikan bahwa rumah adalah tempat pulang, tempat kita disembuhkan setelah dunia luar melukai kita. "Matilda" berangkat dari kemungkinan yang jauh lebih pahit, yaitu bahwa bagi sebagian orang, rumah justru sumber lukanya, dan dunia luar adalah tempat mereka belajar bernapas.
Yang lebih mengejutkan lagi: Harry Styles tidak menulis lagu ini tentang dirinya sendiri. Ia menulisnya tentang orang lain. Dan sepanjang lagu, ia sama sekali tidak memerintahkan orang itu untuk memaafkan, membalas, atau memperbaiki keadaan. Ia hanya duduk di sebelahnya, mengakui bahwa yang terjadi memang menyakitkan, lalu memberi sesuatu yang sangat langka dan sangat mahal: izin.
Harry's House dan Ruang Sunyi di Tengahnya
"Matilda" muncul di album ketiga solo Harry Styles, Harry's House, yang dirilis pada Mei 2022. Album ini adalah puncak transformasinya dari anak One Direction menjadi seniman dewasa yang dipercaya penuh oleh kritikus. Album ini kemudian membawa pulang Grammy untuk Album of the Year dan Best Pop Vocal Album pada awal 2023, sebuah pengakuan yang beberapa tahun sebelumnya sulit dibayangkan untuk mantan personel boyband.
Judul albumnya sendiri punya cerita menarik. Menurut yang sering diceritakan, Harry terinspirasi oleh Hosono House, album solo musisi Jepang Haruomi Hosono dari 1973 yang direkam di rumahnya sendiri di pinggiran Tokyo. Konsepnya bukan rumah sebagai bangunan, melainkan rumah sebagai kondisi batin. Kalau seluruh album adalah rumah, maka "Matilda" adalah kamar paling sepi di dalamnya, kamar yang pintunya baru dibuka setelah tamu-tamu pulang.
Secara musikal, lagu ini nyaris telanjang. Gitar akustik yang dipetik pelan, vokal yang direkam sedekat mungkin sehingga terdengar seperti seseorang berbisik di sebelah telinga, dan lapisan-lapisan suara yang baru masuk belakangan tanpa pernah benar-benar meledak. Duo produser andalannya, Kid Harpoon (Tom Hull) dan Tyler Johnson, memilih untuk tidak menambahkan apa pun yang bisa mengalihkan perhatian dari kalimat-kalimatnya. Kid Harpoon sendiri memenangkan Producer of the Year di Grammy 2023, sebagian besar berkat pekerjaannya di album ini. Sesi rekamannya dilaporkan tersebar antara studio di California dan Inggris, dalam suasana yang oleh para pembuatnya digambarkan santai dan penuh percakapan.
Harry sendiri pernah menjelaskan bahwa lagu ini lahir dari sebuah percakapan dengan seseorang yang ia kenal, ketika ia menyadari bahwa pengalaman masa kecil orang itu sangat berbeda dari pengalamannya sendiri. Ia menceritakan bahwa ia sempat ragu apakah pantas menulis lagu tentang cerita yang bukan miliknya, dan konon ia mengirimkan lagunya lebih dulu ke orang tersebut sebelum dirilis, sekadar untuk memastikan bahwa orang itu merasa dihormati, bukan dipamerkan. Identitas orang itu tidak pernah diungkap, dan justru karena itulah "Matilda" bisa menjadi milik siapa saja yang mendengarnya.
Bagi pendengar di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang membuat lagu ini terasa lebih dekat dari yang diduga. Harry Styles pernah menginjak tanah Indonesia bersama One Direction, dalam konser On the Road Again Tour di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Maret 2015. Bagi banyak Directioner Indonesia yang saat itu masih remaja, malam itu adalah bagian dari masa muda mereka. Tujuh tahun kemudian, remaja-remaja yang sama sudah tumbuh dewasa, sebagian mulai berhadapan dengan hubungan keluarga yang rumit, dan menemukan bahwa penyanyi yang dulu mereka teriaki kini sedang membicarakan sesuatu yang mereka pendam sendiri. Lagu ini seperti tumbuh bersama para pendengarnya.
Membaca Isinya Tanpa Mengutip Satu Baris pun
Inti "Matilda" bisa dijelaskan tanpa perlu mengutipnya sama sekali, karena kekuatannya bukan pada kata-kata canggih melainkan pada sikapnya.
Bagian awal lagu memperkenalkan sosok Matilda sebagai seseorang yang sejak kecil terbiasa menjadi kuat sendirian. Ia digambarkan sebagai orang yang mengurus dirinya sendiri karena tidak ada pilihan lain, yang belajar sejak dini bahwa meminta tolong tidak akan menghasilkan apa-apa. Ada gambaran tentang perayaan-perayaan kecil masa kecil yang berlalu tanpa ada yang datang, tentang kehadiran yang seharusnya biasa saja tapi ternyata tidak pernah ada. Nada penuturannya sama sekali tidak dramatis; justru ketenangannya yang membuat merinding, karena begitulah biasanya orang menceritakan luka yang sudah terlalu lama dibawa.
Bagian tengah lagu adalah bagian yang paling berani. Di sini penuturnya tidak menawarkan solusi. Ia tidak berkata bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya, tidak menyarankan rekonsiliasi keluarga, dan tidak berpura-pura bahwa semua orang tua pada dasarnya berniat baik. Sebaliknya, ia mengakui secara terbuka bahwa yang dialami Matilda memang terjadi, memang salah, dan memang tidak perlu dikecilkan demi kenyamanan orang lain. Pengakuan sederhana ini jauh lebih menyembuhkan daripada nasihat mana pun, karena luka semacam ini paling sering diperparah bukan oleh peristiwanya, melainkan oleh orang-orang yang menyuruh korban untuk melupakan dan bersyukur.
Kemudian datang gagasan yang menjadi jantung lagu ini: bahwa Matilda boleh membangun hidupnya sendiri, jauh dari tempat asalnya, tanpa harus merasa bersalah. Ia boleh membentuk keluarga versinya sendiri dari orang-orang yang ia pilih. Ia boleh berhenti menunggu permintaan maaf yang tidak akan pernah datang. Penuturnya bahkan menegaskan bahwa pergi bukan berarti tidak tahu terima kasih, dan bahwa tidak ada kewajiban untuk terus mengetuk pintu yang tidak pernah dibuka.
Ada juga detail kecil yang sering terlewat: penuturnya berulang kali menempatkan dirinya di posisi yang lebih rendah, bukan sebagai penyelamat yang tahu segalanya. Ia mengaku tidak berada di posisi untuk menghakimi apa pun keputusan Matilda, dan ia tidak berpura-pura memahami sepenuhnya rasa sakit yang bukan miliknya. Kerendahan hati semacam ini jarang muncul di lagu pop, yang biasanya lebih suka menawarkan pelukan besar dan janji-janji heroik. Di sini yang ditawarkan justru jauh lebih kecil dan lebih realistis, yaitu kesediaan untuk tetap ada di sekitar tanpa syarat apa pun.
Yang paling halus, lagu ini menutup dirinya tanpa memaksa apa pun. Tidak ada perintah agar Matilda memutuskan hubungan, tidak ada ajakan membenci. Yang ditawarkan hanyalah ruang: kalau kamu ingin bertahan, silakan; kalau kamu ingin pergi, itu juga sah. Kebebasan memilih itulah hadiahnya, dan justru karena tidak ada yang dipaksakan, lagu ini terasa aman untuk didengar oleh siapa pun, termasuk mereka yang belum siap mengambil keputusan apa-apa.
Matilda, Roald Dahl, dan Seni Memilih Keluarga
Nama "Matilda" tentu bukan kebetulan. Sebagian besar pendengar langsung teringat pada Matilda Wormwood, tokoh dalam novel Roald Dahl tahun 1988 yang juga populer di Indonesia lewat terjemahan Gramedia, film adaptasi tahun 1996, serta versi musikalnya yang tayang di Netflix pada akhir 2022. Matilda dalam cerita Dahl adalah anak jenius yang orang tuanya kasar, meremehkan, dan sama sekali tidak tertarik padanya. Yang menyelamatkannya bukan perubahan hati orang tuanya, melainkan Miss Honey, gurunya, yang akhirnya menjadi keluarganya.
Detail inilah yang membuat pilihan judulnya begitu tepat. Dalam novel Dahl, akhir bahagianya bukan rekonsiliasi. Akhir bahagianya adalah ketika Matilda diizinkan pergi dan tinggal bersama orang yang benar-benar menyayanginya. Bagi anak-anak yang membaca buku itu, adegan tersebut terasa seperti dongeng. Bagi orang dewasa yang mendengarkan lagu Harry Styles, adegan yang sama tiba-tiba terasa seperti kemungkinan nyata.
Di sinilah lagu ini menjadi menarik, dan sekaligus sensitif, ketika didengar dari Indonesia. Budaya kita menempatkan keluarga hampir di posisi sakral. Bakti kepada orang tua adalah nilai yang diajarkan sejak kecil, dan kisah Malin Kundang, anak yang dikutuk menjadi batu karena menolak mengakui ibunya, adalah salah satu cerita rakyat paling terkenal di negeri ini. Dalam kerangka semacam itu, gagasan menjauh dari keluarga bisa terdengar mengerikan, bahkan tabu.
Tapi "Matilda" tidak sedang mendorong siapa pun menjadi durhaka. Yang dilakukannya jauh lebih halus: ia membedakan antara meninggalkan orang yang menyayangi kita dan menyelamatkan diri dari tempat yang melukai kita. Ia tidak menyerang institusi keluarga; ia hanya menolak berpura-pura bahwa semua rumah aman. Bagi banyak pendengar muda Indonesia yang tumbuh dengan tekanan tinggi, perbandingan tanpa henti dengan anak tetangga, atau orang tua yang kasar secara verbal, lagu ini memberi kosakata untuk sesuatu yang selama ini hanya bisa mereka rasakan tanpa berani menamainya.
Konsep "keluarga pilihan" sendiri sebenarnya tidak asing di Indonesia. Anak rantau yang menemukan keluarga di kos-kosan, komunitas seni yang menjadi rumah bagi mereka yang tidak diterima di rumah sendiri, kelompok pertemanan yang lebih setia daripada saudara kandung, semuanya adalah bentuk dari gagasan yang sama. "Matilda" hanya mengangkatnya ke permukaan dan memberinya melodi.
Kenapa Lagu Ini Terus Bergema
Sejak dirilis, "Matilda" perlahan berubah dari sekadar lagu album menjadi semacam ruang aman bersama. Di media sosial, terutama TikTok dan X, lagu ini berulang kali dipakai orang untuk menceritakan pengalaman keluarga mereka sendiri, sering kali untuk pertama kalinya di depan publik. Ada pola yang berulang: seseorang mendengar lagu ini, menyadari bahwa yang mereka alami ternyata punya nama, lalu menemukan ribuan orang lain yang mengalami hal serupa.
Kekuatannya juga terletak pada apa yang tidak dilakukannya. Lagu ini tidak menjadikan penderitaan sebagai estetika, tidak menuntut cerita yang dramatis, dan tidak menempatkan penuturnya sebagai penyelamat. Ia hanya mendengarkan. Dalam era ketika setiap masalah langsung disambut nasihat, konten motivasi, dan solusi lima langkah, tindakan sederhana untuk mendengarkan tanpa memperbaiki justru terasa radikal.
Ada juga lapisan tambahan yang membuatnya bertahan: lagu ini memperlakukan pendengarnya sebagai orang dewasa. Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang ditawarkan hanya kejujuran bahwa sebagian luka memang tidak akan sembuh sepenuhnya, dan bahwa hidup tetap bisa dibangun di atasnya. Bagi generasi yang tumbuh dengan percakapan kesehatan mental yang semakin terbuka, kejujuran semacam ini terasa jauh lebih berguna daripada optimisme yang dipaksakan.
Menariknya, lagu ini juga mengubah cara sebagian orang mendengarkan Harry Styles secara keseluruhan. Ia lama dianggap sebagai figur yang menjual pesona, gaya berpakaian yang mencolok, dan lagu-lagu musim panas yang mudah dinyanyikan. "Matilda" memperlihatkan sisi lain, yaitu penulis lagu yang bersedia menahan diri, memilih diam ketika godaan untuk menjadi megah begitu besar, dan menyerahkan panggung kepada cerita orang lain. Keputusan artistik itu bukan hal kecil untuk musisi sebesar dia, dan banyak kritikus menyebut lagu ini sebagai bukti paling meyakinkan bahwa penghargaan yang diraih albumnya bukan sekadar hasil popularitas.
Dan mungkin inilah alasan paling sederhana kenapa stadion-stadion itu berubah sunyi setiap kali gitarnya mulai berbunyi. Di antara puluhan ribu orang, selalu ada sejumlah besar yang pernah merasa harus menjadi dewasa terlalu cepat, yang pernah membereskan kekacauan yang bukan buatan mereka, yang pernah bertanya-tanya apakah mereka boleh menginginkan hidup yang berbeda. Selama tiga menit, seseorang di atas panggung menjawab pertanyaan itu untuk mereka, dan jawabannya adalah ya.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Larut dalam suaranya
- Harry Styles Harry's House vinyl — Mendengarkan "Matilda" di tengah album penuhnya mengubah artinya, karena lagu ini diapit oleh nomor-nomor cerah yang membuat keheningannya terasa makin tajam. Format fisik memaksa kita mendengarkan berurutan, persis seperti yang dirancang pembuatnya.
- Harry Styles Fine Line album — Album sebelumnya memperlihatkan bagaimana Harry belajar menulis tentang kerentanan, langkah yang akhirnya bermuara di lagu ini. Perbandingan keduanya menunjukkan perjalanan seorang bintang pop menjadi penulis lagu yang serius.
- Haruomi Hosono Hosono House vinyl — Album Jepang 1973 yang konon menginspirasi judul Harry's House ini punya kehangatan rekaman rumahan yang sama. Mendengarkannya membuat konsep "rumah sebagai suasana batin" jauh lebih terasa.
📚 Ikuti kisahnya
- Matilda Roald Dahl buku — Novel yang menjadi asal nama lagu ini bercerita tentang anak brilian yang menemukan keluarga di luar rumahnya sendiri. Membacanya ulang sebagai orang dewasa memberi pengalaman yang sama sekali berbeda dari saat kecil.
- buku anak dewasa orang tua toksik — Literatur psikologi tentang tumbuh bersama orang tua yang tidak matang secara emosional menjelaskan pola yang digambarkan lagu ini secara klinis namun berempati. Banyak pembaca menemukan penjelasan atas hal yang selama ini hanya mereka rasakan.
- biografi Harry Styles buku — Kisah perjalanannya dari audisi X Factor hingga panggung Grammy membantu memahami kenapa ia berani menulis lagu sesunyi ini di puncak popularitasnya. Konteks kariernya membuat pilihan artistiknya terasa lebih berani.
🌍 Kunjungi tempatnya
- panduan wisata London Inggris — London adalah kota tempat Harry membangun kehidupan dewasanya sekaligus pusat dunia musik yang melahirkan album ini. Menjelajahi kotanya memberi gambaran tentang lanskap kreatif di balik lagunya.
- panduan wisata Cheshire Inggris utara — Harry tumbuh di kawasan Cheshire, Inggris utara, sebuah daerah pedesaan yang jauh dari gemerlap panggung dunia. Latar tenang inilah yang sering muncul sebagai rasa "rumah" dalam musiknya.
- panduan wisata Malibu California — Sebagian sesi rekaman album ini dilaporkan berlangsung di studio kawasan pesisir California. Suasana laut dan cahaya yang santai di sana ikut membentuk kehangatan suara albumnya.
🎸 Rasakan sendiri
- gitar akustik pemula — Lagu ini dibangun dari petikan gitar akustik yang sederhana dan sangat mungkin dipelajari pemula. Memainkannya sendiri di kamar membuat kalimat-kalimatnya terasa jauh lebih personal.
- capo gitar akustik — Banyak lagu bergaya seperti ini mengandalkan capo untuk mendapatkan warna nada yang lembut dan tinggi. Alat kecil ini membuka banyak kemungkinan aransemen dengan usaha minimal.
- buku jurnal menulis harian — "Matilda" pada dasarnya adalah surat yang ditulis untuk seseorang, dan menulis surat semacam itu bisa menjadi latihan yang menyembuhkan. Menuangkan hal yang sulit diucapkan ke atas kertas sering kali menjadi langkah pertama.
-
Sebenarnya Matilda itu siapa? Apakah orangnya benar-benar ada?
Harry Styles menyebutkan bahwa lagu ini terinspirasi dari percakapan nyata dengan seseorang yang ia kenal, tetapi identitas orang itu tidak pernah ia ungkap. Nama Matilda sendiri diambil dari tokoh novel Roald Dahl, sehingga berfungsi sebagai penyamaran sekaligus petunjuk maknanya. Konon Harry lebih dulu mengirimkan lagu ini kepada orang tersebut sebelum dirilis, agar ia merasa dihormati dan bukan dipertontonkan. -
Apakah lagu ini mengajak orang untuk memutus hubungan dengan keluarganya?
Tidak, dan justru di situlah kehati-hatiannya. Lagu ini tidak memerintahkan apa pun; ia hanya menegaskan bahwa seseorang berhak membangun hidupnya sendiri tanpa rasa bersalah, entah ia memilih bertahan atau menjauh. Yang ditawarkan adalah kebebasan memilih, bukan instruksi untuk pergi. -
Kenapa lagu ini bisa membuat penonton konser menangis massal?
Karena lagu ini menyentuh luka yang sangat umum tetapi hampir tidak pernah dibicarakan secara terbuka, yaitu luka yang berasal dari rumah sendiri. Ketika puluhan ribu orang mendengar pengalaman itu diakui secara terbuka tanpa dihakimi, banyak yang untuk pertama kalinya merasa dilihat. Aransemennya yang sangat sunyi juga membuat setiap kalimat terasa seperti diucapkan langsung ke telinga masing-masing pendengar.