SONGFABLE · 2017

Sign of the Times

HARRY STYLES · 2017

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sign of the Times - Harry Styles (2017)

TL;DR: Lagu ini terdengar seperti balada putus cinta megah, tapi sebenarnya adalah pesan terakhir seorang ibu yang sekarat saat melahirkan kepada anaknya — sebuah meditasi tentang kematian, harapan, dan kekacauan dunia yang terus berputar meski kita hancur.

Sebuah lagu yang ditulis dari sudut pandang orang yang sekarat

Bayangkan sebuah skenario: seorang perempuan baru saja melahirkan, tapi ada komplikasi medis yang mengerikan. Dokter mengatakan padanya bahwa hanya satu nyawa yang bisa diselamatkan — entah dirinya atau bayinya. Dalam beberapa menit terakhir hidupnya, perempuan itu memilih untuk mengucapkan kata-kata terakhir kepada anaknya yang baru lahir.

Itulah, menurut Harry Styles sendiri, inti dari "Sign of the Times". Lagu yang banyak orang kira sebagai patah hati biasa antara dua kekasih, ternyata adalah monolog dari ambang kematian. Suara yang kita dengar sepanjang lagu bukanlah suara orang yang ditinggalkan pacar — melainkan suara seseorang yang tahu waktunya tinggal sebentar, dan ingin meyakinkan orang yang ditinggalkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kejutan inilah yang membuat lagu ini begitu menohok ketika kamu mendengarnya kembali dengan pengetahuan tersebut. Setiap nada yang melambung tinggi, setiap dorongan emosional di reffrain, tiba-tiba terasa berbeda. Itu bukan keputusasaan seorang remaja yang patah hati. Itu adalah keberanian seseorang yang mencoba tersenyum di detik-detik terakhir, sambil berkata bahwa hidup harus terus berjalan.

Dari boyband terbesar dunia menuju panggung solo

Untuk memahami betapa beraninya lagu ini, kamu harus tahu dari mana Harry Styles berasal. Sebelum 2017, namanya hampir selalu disebut dalam satu napas dengan One Direction — boyband fenomenal asal Inggris yang lahir dari ajang pencarian bakat The X Factor pada 2010. Bersama Niall, Zayn, Liam, dan Louis, Harry menjadi salah satu wajah pop paling terkenal di planet ini. Mereka mengisi stadion, memecahkan rekor penjualan, dan punya basis penggemar yang fanatik di seluruh dunia, termasuk Indonesia, di mana "Directioners" sempat menjadi salah satu fandom paling vokal di Twitter pada awal 2010-an.

Ketika One Direction memutuskan hiatus pada 2016, banyak yang menebak-nebak arah karier para anggotanya. Sebagian besar publik mungkin mengharapkan Harry merilis lagu pop yang ramah radio, sesuatu yang aman dan menjual. Tapi yang terjadi justru kebalikannya. Singel solo perdananya bukan lagu dance ceria, melainkan balada rock berdurasi hampir enam menit yang lebih mengingatkan pada David Bowie dan Pink Floyd ketimbang apa pun yang pernah dia nyanyikan sebelumnya.

Konon lagu ini ditulis hanya dalam waktu sekitar satu jam di sebuah studio di pedesaan Inggris, bersama tim penulis dan produser yang ia percaya, termasuk Jeff Bhasker yang dikenal lewat kolaborasinya dengan Kanye West dan Fun. Harry pernah bercerita bahwa ide tentang ibu yang sekarat itu muncul saat ia memikirkan dunia secara umum — tentang betapa kacaunya keadaan, tapi juga tentang harapan yang tetap ada. Ia ingin menulis sesuatu yang lebih besar daripada kisah cinta dua orang.

Bagi penggemar musik Barat di Indonesia, ada koneksi menarik di sini. Banyak dari kita tumbuh dengan One Direction sebagai soundtrack masa remaja awal 2010-an. Mendengar Harry Styles bertransformasi dari idola remaja menjadi penyanyi-penulis lagu yang serius terasa seperti menyaksikan teman seangkatan kita sendiri bertumbuh dewasa. Lagu ini, dalam banyak hal, adalah momen ketika generasi penggemar pop itu diajak ikut menua dengan anggun.

Membongkar makna di balik kemegahan

Kalau kamu mendengarkan tanpa konteks, "Sign of the Times" terasa seperti rangkaian seruan emosional yang ditujukan kepada seseorang yang dicintai. Tapi begitu kamu tahu bahwa narasinya datang dari seseorang yang akan meninggal, lapisan maknanya terbuka satu per satu.

Inti pesannya adalah penghiburan di tengah perpisahan. Sang narator — sosok ibu yang sekarat itu — berulang kali menyatakan bahwa orang yang ditinggalkannya tidak perlu menangis terus-menerus, bahwa air mata tidak akan mengubah apa yang sudah pasti terjadi. Ada nada penerimaan di sana, bukan pemberontakan melawan takdir, melainkan upaya untuk membuat perpisahan ini terasa lebih ringan bagi yang ditinggalkan.

Di bagian lain, lagu ini menyentuh tema yang lebih luas: gagasan bahwa dunia memang sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Frasa "tanda-tanda zaman" itu sendiri merujuk pada perasaan bahwa kita hidup di masa penuh gejolak, di mana banyak hal terasa rapuh dan tidak pasti. Harry seakan ingin mengatakan bahwa meskipun kekacauan ada di mana-mana, kita tetap harus mencoba terbang, mencoba bertahan, mencoba menemukan makna.

Ada juga citra tentang menjauh dari tempat yang berbahaya, tentang mengangkat seseorang agar bisa melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Dalam pembacaan sang ibu yang sekarat, ini bisa diartikan sebagai dorongan terakhir kepada sang anak: pergilah, hiduplah, jangan terjebak dalam kesedihan ini. Sebuah pelepasan yang penuh kasih, bukan ditinggalkan, melainkan dilepaskan dengan restu.

Yang membuat lagu ini begitu kuat secara emosional adalah cara aransemennya naik perlahan. Dimulai dengan piano yang lembut dan suara Harry yang nyaris rapuh, lagu ini terus membangun intensitas hingga meledak menjadi gitar yang menjerit dan vokal yang melambung. Strukturnya seolah meniru proses sekarat itu sendiri — dari kesadaran tenang menuju klimaks emosional, lalu kembali tenang dalam penerimaan.

Konteks budaya dan warisan yang ditinggalkan

Ketika "Sign of the Times" dirilis pada April 2017, dampaknya langsung terasa. Lagu ini melesat ke puncak tangga lagu di Inggris dan masuk jajaran teratas di berbagai negara, termasuk menembus posisi tinggi di Amerika Serikat. Yang lebih penting daripada angka penjualan adalah respons kritikus. Banyak pengamat musik yang sebelumnya meremehkan Harry sebagai sekadar produk boyband, kini terpaksa mengakui bahwa ia punya ambisi artistik yang serius.

Majalah-majalah musik berpengaruh memasukkan lagu ini ke dalam daftar lagu terbaik tahun itu. Rolling Stone bahkan dilaporkan menempatkannya di posisi tinggi dalam pemeringkatan lagu-lagu terbaik tahun 2017. Perbandingan dengan David Bowie muncul berulang kali, sebagian karena durasi yang panjang, sebagian karena keberanian melawan formula pop, dan sebagian lagi karena tema kematian yang diangkat dengan anggun — sesuatu yang juga menjadi ciri khas Bowie di album terakhirnya.

Video musiknya pun ikut menjadi pembicaraan. Diambil di pegunungan Skotlandia yang dramatis, video itu menampilkan Harry yang terbang melayang di atas lanskap berkabut, sebuah citra yang memperkuat tema kebebasan dan pelepasan dalam lagu. Proses pembuatannya konon memakan biaya besar dan melibatkan teknik penerbangan dengan kabel, menambah kesan sinematik yang megah.

Lagu ini menjadi fondasi bagi seluruh karier solo Harry Styles berikutnya. Tanpa keberanian "Sign of the Times", mungkin kita tidak akan pernah mendapatkan album-album seperti Fine Line atau Harry's House yang membuatnya memenangkan Grammy dan menjadikannya salah satu bintang pop paling dihormati di generasinya. Lagu ini adalah pernyataan: bahwa ia bukan lagi anak boyband, melainkan seorang seniman dengan visi.

Mengapa lagu ini masih bergema hingga kini

Hampir satu dekade setelah dirilis, "Sign of the Times" tetap terasa relevan, dan mungkin justru semakin relevan. Tema tentang dunia yang penuh ketidakpastian, tentang perasaan hidup di masa-masa yang sulit, terus menemukan resonansinya seiring berlalunya waktu. Setiap kali ada gejolak besar — krisis kesehatan global, ketegangan politik, kecemasan tentang masa depan — lirik tentang "tanda-tanda zaman" itu terdengar seperti ditulis untuk momen tersebut.

Tapi yang membuatnya abadi bukan hanya temanya yang gelap, melainkan harapan yang tertanam di dalamnya. Lagu ini tidak menyerah pada keputusasaan. Ia mengakui bahwa hal-hal buruk terjadi, bahwa kematian dan kehilangan adalah bagian dari hidup, tapi tetap mendorong kita untuk terus melangkah, untuk mencoba terbang meski sayap kita patah. Pesan semacam ini melampaui batas bahasa dan budaya.

Bagi pendengar Indonesia khususnya, ada sesuatu yang sangat manusiawi dan dekat dalam tema pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Gagasan tentang kasih ibu yang rela mengorbankan dirinya sendiri adalah tema yang sangat dihormati dalam budaya kita. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa, begitu kamu tahu makna sebenarnya dari lagu ini, ia terasa begitu menyentuh tanpa perlu penjelasan panjang.

Lagu ini juga mengajarkan pelajaran tentang keberanian artistik. Harry Styles bisa saja bermain aman, tapi ia memilih untuk merilis sesuatu yang aneh, panjang, dan emosional sebagai langkah pertamanya. Keputusan itu terbayar lunas, dan menjadi pengingat bahwa terkadang risiko terbesar justru menghasilkan karya paling abadi. Setiap kali piano pembuka itu mulai mengalun, kita diingatkan bahwa musik pop bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempat-tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih banyak:

Tags
10s