It's Like That
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Sebuah rekaman yang sengaja dibuat "kosong"
Bayangkan tahun 1983. Musik populer Amerika sedang mabuk synthesizer berkilau, disko yang manis, dan produksi yang penuh lapisan. Lalu datang tiga anak muda dari Queens, New York, yang melakukan hal yang nyaris tabu: mereka membuang hampir semuanya. Tidak ada melodi manis, tidak ada bass funky yang menggoda pinggul, nyaris tidak ada apa pun kecuali dentuman drum machine yang keras seperti palu dan dua suara yang saling melempar kalimat.
Itulah kejutan pertama dari "It's Like That". Lagu ini terasa hampir mentah, hampir kasar, dan justru di situlah kekuatannya. Di saat industri musik berlomba menambahkan hiasan, Run-DMC malah mengurangi. Mereka membiarkan beat berdiri telanjang dan suara mereka menonjol tanpa perlindungan apa pun. Konon, banyak orang yang pertama kali mendengarnya merasa bingung — apakah ini benar-benar "musik"? Namun bagi generasi berikutnya, inilah kelahiran suara yang akan mendefinisikan hip-hop selama puluhan tahun.
Yang lebih mengejutkan lagi: liriknya bukan tentang pesta, bukan tentang uang, bukan tentang membanggakan diri. "It's Like That" adalah lagu tentang kenyataan pahit — pengangguran, harga yang naik, perang, dan orang-orang yang berjuang sekadar untuk bertahan hidup. Ini adalah salah satu lagu hip-hop pertama yang berani menatap langsung penderitaan sehari-hari dan berkata: begitulah adanya.
Dari Hollis, Queens: dua sahabat dan sebuah revolusi
Untuk memahami lagu ini, kita harus mengenal tempat asalnya. Run-DMC lahir dari Hollis, sebuah lingkungan kelas pekerja di distrik Queens, New York. Ini bukan Manhattan yang gemerlap — ini adalah kawasan biasa tempat anak-anak muda tumbuh, bermimpi, dan sering kali menghadapi kenyataan ekonomi yang keras.
Dua sosok utamanya adalah Joseph Simmons, yang dikenal sebagai "Run", dan Darryl McDaniels, yang dikenal sebagai "DMC" (singkatan dari nama panggilannya sendiri). Keduanya bersahabat sejak kecil. Nama "Run" konon berasal dari kecepatannya "berlari" saat memutar piringan hitam sebagai DJ muda. Melengkapi mereka adalah sang DJ, Jason Mizell, yang dikenal sebagai Jam Master Jay — sosok yang kelak menjadi jantung ritmis grup ini sebelum kematiannya yang tragis pada 2002.
Ada satu tokoh penting di balik layar: Russell Simmons, kakak kandung Run. Russell adalah seorang promotor dan pengusaha musik yang tajam, yang kemudian ikut mendirikan label legendaris Def Jam. Bersama produser Larry Smith, ia membantu membentuk suara Run-DMC yang minimalis dan garang itu. "It's Like That" dirilis sebagai singel debut mereka pada 1983, dengan lagu "Sucker M.C.'s" di sisi baliknya — sebuah rilisan dua sisi yang kini dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam sejarah musik modern.
Bagi pendengar Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Semangat "rap kenyataan" — musik yang bicara jujur tentang hidup rakyat biasa, tentang kesulitan ekonomi dan harapan yang tetap menyala — sangat beresonansi dengan tradisi musik Indonesia sendiri. Pikirkan bagaimana Iwan Fals atau musik balada sosial di tanah air juga berbicara tentang orang kecil, tentang bertahan di tengah kesulitan. Run-DMC, dengan caranya sendiri di Queens, sedang melakukan hal yang serupa: mengangkat suara jalanan menjadi seni. Dan menariknya, banyak penggemar musik Indonesia justru baru "menemukan" lagu ini pada akhir 1990-an melalui sebuah versi remix yang meledak di lantai dansa seluruh dunia — sebuah cerita yang akan kita bahas nanti.
Membedah pesannya: hidup itu keras, tapi teruslah melangkah
Inti dari "It's Like That" adalah sebuah daftar kenyataan yang tak menyenangkan. Alih-alih membangun fantasi, Run dan DMC bergiliran menyebutkan hal-hal yang membebani orang biasa: pekerjaan yang sulit dicari, uang yang cepat habis, orang-orang yang lapar, konflik dan perang yang tampak tak berujung. Mereka melukiskan dunia di mana usaha keras tidak selalu dibalas dengan hasil yang adil, di mana banyak orang merasa terjebak oleh keadaan yang di luar kendali mereka.
Namun inilah yang membuat lagu ini istimewa — ia tidak berhenti pada keluhan. Di tengah semua kesuraman itu, terselip sebuah filosofi yang keras kepala namun memberdayakan. Pesannya kira-kira begini: dunia memang tidak adil, dan mengeluh saja tidak akan mengubah apa pun. Yang bisa kamu lakukan adalah menerima kenyataan itu, lalu tetap berusaha, tetap melangkah maju, dan tidak membiarkan keadaan menghancurkan semangatmu. Ada nada penerimaan yang dewasa di sini — bukan penyerahan diri, melainkan ketegaran.
Frasa judulnya sendiri berfungsi seperti sebuah refrain yang berulang — semacam pengingat yang pasrah namun tegar bahwa beginilah keadaannya, dan begitulah seterusnya. Ada semacam kebijaksanaan jalanan di dalamnya, sebuah cara untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kamu ubah, sambil tetap memegang kendali atas hal-hal yang bisa kamu ubah: sikapmu, usahamu, dan ketahananmu.
Yang menarik, cara Run dan DMC menyampaikan lirik ini pun ikut memperkuat pesannya. Mereka tidak bernyanyi dengan manis. Mereka melempar kata-kata dengan tegas, hampir seperti berteriak dalam paduan, saling menyahut dengan energi yang menuntut perhatian. Gaya vokal yang keras dan berima ini menjadi cetak biru bagi cara rap "diucapkan" selama bertahun-tahun sesudahnya. Suara mereka terdengar seperti dua orang yang benar-benar percaya pada apa yang mereka katakan.
Warisan yang membentuk suara sebuah genre
Sulit untuk melebih-lebihkan betapa berpengaruhnya rekaman ini. Sebelum Run-DMC, banyak musik rap awal masih berpakaian gaya disko dan funk, dengan band pengiring dan produksi yang meriah. "It's Like That" dan sisi baliknya "Sucker M.C.'s" memutus garis itu. Mereka memperkenalkan apa yang sering disebut sebagai era "new school" hip-hop: lebih keras, lebih ramping, lebih agresif, dan lebih jujur.
Run-DMC kemudian menjadi salah satu grup hip-hop paling penting sepanjang masa. Mereka adalah pionir dalam banyak hal — grup rap pertama yang albumnya meraih status emas, yang tampil di MTV di saat saluran itu jarang memutar artis kulit hitam, yang muncul di sampul majalah Rolling Stone. Kolaborasi mereka kelak dengan band rock Aerosmith dalam lagu "Walk This Way" bahkan meruntuhkan tembok antara rock dan hip-hop, membuka jalan bagi perpaduan genre yang kini kita anggap biasa. Pada 2009, Run-DMC dilantik ke dalam Rock and Roll Hall of Fame — sebuah pengakuan atas seberapa jauh pengaruh mereka menjangkau.
Namun ada satu babak kedua yang tak terduga dalam kisah "It's Like That". Pada 1997, seorang DJ bernama Jason Nevins membuat remix dance dari lagu ini. Remix itu meledak secara global — menjadi hit nomor satu di banyak negara Eropa dan terjual jutaan kopi. Tiba-tiba, lagu manifesto tahun 1983 yang keras dan telanjang itu berdenyut di klub-klub malam dan lantai dansa di seluruh dunia, termasuk memperkenalkan Run-DMC kepada generasi pendengar yang sama sekali baru. Bagi banyak orang di Asia, termasuk Indonesia, versi remix inilah yang pertama kali mereka dengar — sebuah ironi yang manis, mengingat lagu aslinya justru menolak segala hiasan.
Mengapa lagu ini masih menggema hari ini
Lebih dari empat dekade setelah dirilis, "It's Like That" tetap terasa relevan, dan alasannya sederhana: masalah yang dinyanyikannya tidak pernah benar-benar hilang. Pengangguran, biaya hidup yang naik, ketidaksetaraan, konflik — ini bukan masalah tahun 1983 saja. Ini adalah masalah abadi yang dihadapi generasi demi generasi, di New York maupun di Jakarta, di Hollis maupun di kota mana pun tempat orang berjuang untuk bertahan.
Namun daya tahan lagu ini bukan hanya soal topiknya. Ini soal sikapnya. Di dunia yang sering menawarkan solusi instan dan optimisme dangkal, ada sesuatu yang menyegarkan dan jujur tentang sebuah lagu yang berani berkata: ya, hidup ini keras, dan tidak apa-apa untuk mengakuinya — asalkan kamu tidak berhenti berjuang. Ini bukan pesimisme; ini realisme yang tangguh. Ini adalah pelukan hangat yang mengenakan jaket kulit.
Bagi pendengar muda hari ini yang menyelami akar hip-hop, "It's Like That" adalah titik nol yang wajib dikunjungi. Dan bagi siapa pun yang pernah merasa dunia sedang menekan mereka dari segala arah, filosofi keras kepala di dalam lagu ini tetap terasa seperti nasihat dari sahabat lama: terimalah kenyataannya, lalu bangkit dan teruslah bergerak. Karena begitulah adanya — dan selalu akan begitu.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Rasakan langsung suaranya
Mulailah dari rekaman aslinya untuk merasakan betapa telanjang dan beraninya beat itu. Dengarkan bagaimana drum yang keras dan pertukaran vokal Run dan DMC menciptakan energi tanpa perlu satu pun melodi manis.
- Run-DMC self titled album vinyl — album debut mereka yang memuat lagu ini, sebuah dokumen bersejarah kelahiran "new school" hip-hop.
- Run-DMC greatest hits CD — kumpulan hit yang menunjukkan perjalanan mereka dari lagu keras ini hingga kolaborasi rock legendaris.
- old school hip hop turntable — dengarkan lagu ini di piringan hitam, cara yang sama seperti Jam Master Jay dulu memutarnya.
📚 Ikuti kisahnya
Cerita di balik Run-DMC adalah cerita tentang bagaimana tiga anak dari Queens mengubah musik dunia. Buku-buku ini menggali perjalanan mereka dan lahirnya sebuah budaya.
- Run DMC book biography — telusuri kisah persahabatan Run, DMC, dan Jam Master Jay dari lingkungan Hollis hingga panggung dunia.
- history of hip hop book — pahami konteks besar tempat lagu ini lahir dan mengapa ia dianggap titik balik.
- Darryl McDaniels DMC memoir — memoar dari salah satu suara utama grup, jujur tentang perjuangan pribadi di balik ketenaran.
🌍 Kunjungi tempatnya
Hollis, Queens, adalah jantung dari kisah ini. Menjelajahi New York melalui lensa hip-hop membuka dunia yang berbeda dari kota yang biasa dilihat wisatawan.
- New York City hip hop travel guide — panduan untuk menelusuri lokasi-lokasi bersejarah tempat hip-hop lahir dan tumbuh.
- Queens New York photography book — potret visual dari distrik kelas pekerja yang melahirkan begitu banyak legenda musik.
- New York subway map poster — peta yang menghubungkan Hollis dengan seluruh kota tempat budaya ini menyebar.
🎸 Alami sendiri
Semangat Run-DMC bukan hanya soal mendengar, tapi soal gaya dan ekspresi. Rasakan energi era itu dan cobalah menciptakan beat kamu sendiri.
- Adidas Superstar shell toe sneakers — sepatu ikonik yang menjadi simbol gaya Run-DMC, dirayakan dalam salah satu lagu mereka yang lain.
- drum machine beat maker — alat untuk membuat beat keras dan telanjang seperti yang menggerakkan lagu ini.
- old school hip hop fashion bucket hat — kenakan gaya yang mendefinisikan sebuah era dan rasakan semangat jalanannya.
-
Mengapa "It's Like That" terdengar begitu "kosong" dibandingkan lagu lain tahun 1983?
Run-DMC sengaja membuang lapisan produksi yang mewah dan hanya menyisakan drum yang keras serta vokal yang tegas. Keputusan minimalis ini terasa radikal di eranya, namun justru menjadi cetak biru bagi suara hip-hop selama puluhan tahun sesudahnya. Kekosongan itu bukan kekurangan, melainkan pernyataan artistik yang berani. -
Apa hubungan antara lagu asli 1983 dan versi remix yang meledak di klub akhir 1990-an?
Pada 1997, DJ Jason Nevins membuat remix dance dari lagu ini yang menjadi hit nomor satu global, dilaporkan terjual jutaan kopi di berbagai negara. Remix itu memperkenalkan lagu manifesto lawas ini kepada generasi pendengar yang sama sekali baru, termasuk di Asia. Ironisnya, lagu yang aslinya menolak segala hiasan justru menjadi terkenal luas lewat versi yang penuh irama dansa. -
Apakah pesan lagu ini pesimis atau justru memberi harapan?
Meski liriknya menyebutkan banyak kenyataan pahit seperti pengangguran dan konflik, inti pesannya sebenarnya adalah ketahanan, bukan keputusasaan. Lagu ini mengajak pendengar menerima bahwa hidup memang keras, lalu tetap berusaha dan tidak menyerah. Ini adalah realisme yang tangguh — jujur tentang kesulitan, namun keras kepala dalam harapan.