Bloodbuzz Ohio
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Pulang yang tidak pernah benar-benar pulang
Bayangkan perasaan mudik setelah bertahun-tahun merantau. Kita membayangkan pelukan, aroma masakan ibu, jalan kampung yang dulu kita hafal di luar kepala. Tetapi begitu tiba, ada yang terasa aneh. Warung langganan sudah tutup, teman masa kecil sudah punya kehidupan sendiri, dan kita berdiri di tengah semua itu seperti tamu. Perasaan canggung, hangat, sekaligus sedikit memalukan itulah yang ditangkap The National dalam "Bloodbuzz Ohio".
Kejutan pertama dari lagu ini adalah betapa ia terdengar megah, hampir seperti lagu kemenangan, padahal isinya justru tentang kekalahan kecil yang sangat manusiawi. Drum yang terus berlari, piano yang berdenting berulang, dan brass yang menggelembung di latar belakang membuat lagu ini terasa seperti sedang terbang. Namun suara bariton Matt Berninger yang berat dan setengah bergumam menarik kita kembali ke tanah. Ia bukan pahlawan yang pulang membawa kabar gembira. Ia pria yang pulang dengan kepala berdengung, tidak yakin apakah ia masih punya tempat di sana.
Judulnya sendiri sudah memberi petunjuk. Kata "bloodbuzz" bukan kosakata baku bahasa Inggris. Ia terdengar seperti gabungan antara darah dan dengungan, sesuatu yang berdesir di pembuluh ketika alkohol mulai bekerja, atau ketika darah kampung halaman tiba-tiba terasa memanggil. Berninger konon pernah menjelaskan bahwa lagu ini tumbuh dari rasa mabuk yang aneh, dengungan di kepala saat memikirkan Ohio, tempat ia dibesarkan. Dari satu kata ciptaan itu, seluruh suasana lagu terbentuk: pusing, rindu, dan sedikit bingung.
Dari Cincinnati ke Brooklyn: latar belakang sebuah band yang tumbuh pelan
The National adalah band yang lahir dari persahabatan dan persaudaraan. Matt Berninger dan kawan-kawannya berasal dari Cincinnati, kota di tepi Sungai Ohio yang berbatasan dengan Kentucky. Formasi band ini unik karena berisi dua pasang saudara: si kembar Aaron dan Bryce Dessner, serta kakak beradik Scott dan Bryan Devendorf. Ditambah Berninger sebagai vokalis dan penulis lirik utama, mereka menjadi lima pria Midwest yang pindah ke New York, tepatnya ke Brooklyn, pada akhir 1990-an.
Perjalanan mereka tidak instan. Album-album awal mereka hampir tidak dilirik. Berninger sendiri sempat bekerja di bidang desain dan periklanan sebelum musik benar-benar menjadi jalan hidupnya. Pelan-pelan, lewat album "Alligator" (2005) dan terutama "Boxer" (2007), mereka membangun basis penggemar yang setia. Musik mereka sering digambarkan sebagai rock untuk orang dewasa yang cemas: lagu tentang pekerjaan kantor, pesta yang canggung, pernikahan, kecemasan finansial, dan rasa tidak cukup baik.
"Bloodbuzz Ohio" muncul sebagai single pertama dari album kelima mereka, "High Violet", yang dirilis pada Mei 2010. Lagu ini dilepas lebih dulu pada awal 2010 dan kabarnya dibagikan secara gratis kepada penggemar sebagai pemanasan menjelang album. Strategi itu berhasil. Banyak orang yang sebelumnya hanya mendengar nama The National sekilas tiba-tiba terpikat oleh dentuman drum Bryan Devendorf yang tak kenal lelah.
Proses pembuatan "High Violet" konon cukup berat. Band ini dikenal perfeksionis, dan sebagian besar rekaman dilakukan di studio rumahan milik Aaron Dessner di Brooklyn, yang dulunya garasi. Mereka disebut-sebut merekam ulang lagu berkali-kali, membongkar aransemen, dan berdebat panjang soal detail kecil. Tekanan juga besar karena "Boxer" telah menaikkan ekspektasi. Mereka tahu album berikutnya bisa membawa mereka ke panggung yang jauh lebih besar, atau menjatuhkan mereka.
Di tengah semua tekanan itu, Berninger menulis tentang Ohio. Bagi seorang pria yang sudah lebih dari satu dekade tinggal di New York, Ohio adalah masa lalu, keluarga, dan versi dirinya yang lebih muda. Di sini ada kaitan menarik bagi pembaca Indonesia. Kita punya tradisi mudik yang begitu kuat, jutaan orang pulang kampung setiap Lebaran, membawa oleh-oleh dan cerita sukses, meskipun kenyataannya tidak selalu seindah yang diceritakan. "Bloodbuzz Ohio" pada dasarnya adalah lagu mudik versi Amerika Serikat, hanya saja tokohnya pulang tanpa kepastian, tanpa rasa bangga, dan dengan kepala yang berdengung.
Membaca makna: rindu, utang, dan rasa asing
Lirik Berninger jarang bercerita secara lurus. Ia lebih suka potongan gambar, kalimat yang terasa seperti catatan di serbet bar, dan pengulangan yang lama-lama berubah menjadi mantra. Karena itu, makna "Bloodbuzz Ohio" lebih terasa daripada dijelaskan. Namun ada beberapa lapisan yang cukup jelas.
Lapisan pertama adalah perjalanan pulang itu sendiri. Narator menggambarkan dirinya seperti terbawa kembali ke Ohio, bukan dengan niat yang mantap, tetapi seolah diangkat dan diterbangkan oleh sesuatu di luar kendalinya. Ada citra kawanan lebah yang membawanya, sebuah gambaran yang surealis namun sangat pas. Dengungan lebah menyatu dengan dengungan di kepala, dan pulang terasa seperti kejadian yang menimpanya, bukan keputusan yang ia ambil.
Lapisan kedua adalah rasa asing. Narator mengaku tidak lagi merasa bagian dari tempat itu. Ia kembali ke kota yang membesarkannya, tetapi kota itu tidak lagi menyambutnya dengan cara yang ia harapkan. Ini adalah salah satu perasaan paling universal bagi siapa pun yang pernah merantau: kita berubah, kampung halaman juga berubah, dan jarak di antara keduanya tidak bisa ditutup hanya dengan tiket pulang.
Lapisan ketiga, yang paling sering dibicarakan, adalah soal uang. Di tengah lagu, narator menyinggung bahwa ia masih berutang kepada pihak bank, dan menyebut hal itu seolah sambil lalu, seperti pengakuan yang sudah terlalu sering diulang. Detail ini terasa sangat relevan dengan masa lagu itu ditulis. Amerika Serikat baru saja diguncang krisis keuangan 2008. Banyak keluarga di kawasan Midwest, termasuk Ohio, kehilangan rumah akibat krisis kredit perumahan. Dengan satu baris yang santai, Berninger menyelipkan kecemasan ekonomi satu generasi ke dalam lagu yang tampaknya pribadi.
Lapisan keempat adalah cinta dan kenangan. Ada sosok yang dirindukan, mungkin kekasih lama, mungkin versi dirinya yang dulu. Narator seakan mencari seseorang di rumah lama, tetapi tidak jelas apakah orang itu masih ada atau hanya hidup di ingatannya. Ada pula kesan bahwa ia merasa terlalu tua untuk hal-hal yang dulu ia lakukan, dan terlalu muda untuk berdamai dengan semuanya.
Yang membuat lagu ini istimewa adalah cara semua lapisan itu tidak pernah diselesaikan. Tidak ada rekonsiliasi, tidak ada momen pencerahan. Lagu berakhir dengan pengulangan yang membuat kita merasa narator masih melayang, masih berdengung, masih setengah di Brooklyn dan setengah di Ohio. Dan justru karena tidak ada jawaban, lagu ini terasa jujur.
Secara musikal, ketegangan itu tercermin dengan cerdas. Pola drum Bryan Devendorf terus mendorong ke depan, seperti mobil yang melaju di jalan tol tengah malam. Sementara itu, vokal Berninger tetap rendah dan tenang, hampir malas. Kontras antara musik yang mendesak dan suara yang lelah menciptakan sensasi persis seperti yang digambarkan judulnya: tubuh yang bergerak cepat, pikiran yang berkabut.
Konteks budaya dan warisan
"High Violet" menjadi titik balik The National. Album ini disebut-sebut masuk ke papan atas tangga album Amerika Serikat dan Inggris, jauh lebih tinggi dari karya-karya mereka sebelumnya. Band yang tadinya dianggap harta karun kalangan indie tiba-tiba mengisi gedung konser besar. "Bloodbuzz Ohio" menjadi pintu masuk bagi banyak pendengar baru dan hingga kini sering dianggap salah satu lagu paling ikonik mereka.
Ada pula dimensi politik yang menarik. The National secara terbuka mendukung Barack Obama. Lagu lama mereka pernah dipakai dalam kampanye, dan band ini kabarnya tampil di sejumlah acara kampanye pada 2012, termasuk di Ohio, negara bagian yang selalu menjadi medan pertempuran penting dalam pemilu Amerika. Dalam konteks itu, lagu tentang pulang ke Ohio dengan utang di pundak terasa seperti potret pemilih Midwest yang lelah, bimbang, dan menunggu perubahan yang tak kunjung datang.
Di dunia musik, lagu ini ikut membentuk citra "sad dad rock", julukan setengah bercanda untuk musik rock melankolis yang disukai pria dewasa yang sedang merenungkan hidup. Julukan itu kadang dipakai untuk mengejek, tetapi para penggemar justru merangkulnya. The National membuktikan bahwa kecemasan orang dewasa, seperti cicilan, pekerjaan, rasa bersalah kepada keluarga, dan kerinduan pada masa muda, bisa menjadi bahan lagu yang sama kuatnya dengan patah hati remaja.
Pengaruh anggota band juga meluas jauh setelah 2010. Aaron Dessner kemudian dikenal luas sebagai kolaborator utama Taylor Swift pada album "folklore" dan "evermore" di tahun 2020. Banyak penggemar muda yang menemukan The National lewat jalur itu, lalu tersesat dengan bahagia ke katalog lama mereka, termasuk "Bloodbuzz Ohio". Bryce Dessner juga aktif sebagai komposer musik klasik kontemporer dan musik film. Dengan kata lain, akar dari suara yang terdengar di lagu ini ternyata menjalar ke berbagai sudut budaya pop modern.
Di konser, "Bloodbuzz Ohio" kerap menjadi momen yang ditunggu. Berninger dikenal sering turun ke tengah penonton atau berjalan di antara kerumunan saat membawakan lagu-lagu tertentu, dan energi lagu ini membuat penonton ikut bernyanyi dengan lantang meskipun temanya sendu. Ada sesuatu yang katarsis ketika ribuan orang bersama-sama meneriakkan kerinduan dan rasa bersalah yang biasanya disimpan sendiri.
Mengapa lagu ini masih terasa dekat hari ini
Lebih dari satu dekade setelah dirilis, "Bloodbuzz Ohio" justru terasa semakin relevan. Generasi yang kini berusia tiga puluhan dan empat puluhan hidup dengan kombinasi yang akrab: merantau ke kota besar demi karier, cicilan yang tak habis-habis, dan jarak emosional dengan keluarga di kampung. Di Indonesia, fenomena ini sangat nyata. Banyak anak muda dari daerah pindah ke Jakarta, Surabaya, atau Bandung, lalu setiap kali pulang merasa seperti orang yang setengah asing di rumah sendiri.
Lagu ini tidak menghakimi perasaan itu. Ia tidak menyuruh kita untuk bangga atau menyesal. Ia hanya mengakui bahwa perasaan campur aduk itu nyata. Kita bisa mencintai kampung halaman sekaligus merasa tidak cocok lagi di sana. Kita bisa merasa berhasil sekaligus merasa gagal. Kita bisa pulang dan tetap merasa sedang dalam perjalanan.
Selain itu, soal utang yang disinggung sambil lalu dalam lagu ini terasa semakin menohok di era pinjaman daring dan gaya hidup cicilan. Banyak pendengar mengaku merasa "tertangkap basah" oleh lagu ini, seolah Berninger membaca isi kepala mereka di malam-malam ketika memikirkan tagihan sambil memandangi foto keluarga.
Terakhir, ada kualitas suara yang membuat lagu ini awet. Produksi "High Violet" yang tebal dan berlapis membuat "Bloodbuzz Ohio" enak didengar berulang kali. Setiap putaran memunculkan detail baru, entah itu lapisan brass yang samar, dentingan piano yang berulang, atau cara Berninger menggeser tekanan kata di baris tertentu. Lagu ini cocok untuk perjalanan malam, untuk duduk di bus antarkota, atau untuk momen ketika kita menatap jendela kereta yang membawa kita pulang.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Tenggelam dalam suaranya
- High Violet (2010) — Album tempat "Bloodbuzz Ohio" berada ini paling nikmat didengar utuh dari awal sampai akhir. Lagu-lagu seperti "Terrible Love" dan "England" melengkapi suasana yang sama: kecemasan, kerinduan, dan keagungan yang muram. Dengarkan dengan headphone agar lapisan-lapisan aransemennya terasa.
- Boxer (2007) — Album yang membuka jalan bagi kesuksesan "High Violet" ini lebih sunyi dan intim. Di sinilah permainan drum Bryan Devendorf mulai menjadi tanda tangan band. Mendengarnya membantu kita memahami dari mana energi "Bloodbuzz Ohio" berasal.
- Rekaman live The National — Banyak rekaman konser mereka beredar di layanan streaming dan video. Versi live "Bloodbuzz Ohio" biasanya lebih keras dan lebih liar, dan kita bisa mendengar bagaimana penonton ikut menyanyikan kerinduan itu bersama-sama.
📚 Ikuti kisahnya
- Mistaken for Strangers (2013) — Film dokumenter yang dibuat oleh Tom Berninger, adik Matt, saat ikut tur "High Violet" sebagai kru. Film ini lucu, canggung, dan menyentuh, sekaligus memperlihatkan hubungan kakak beradik yang rumit. Sangat cocok ditonton setelah mendengar lagu tentang pulang dan keluarga ini.
- Wawancara Matt Berninger tentang penulisan lirik — Berninger sering berbicara di berbagai media tentang caranya menulis, yang katanya banyak berasal dari catatan kecil dan gumaman. Membaca atau menonton wawancara semacam itu memberi gambaran mengapa liriknya terasa seperti potongan mimpi.
- Liputan tentang krisis keuangan 2008 di Midwest — Membaca artikel atau menonton dokumenter tentang krisis kredit perumahan di Amerika memberi konteks nyata pada rasa berutang yang disinggung dalam lagu. Tiba-tiba baris yang terdengar santai itu terasa jauh lebih berat.
🌍 Kunjungi tempat-tempatnya
- Cincinnati, Ohio — Kota asal para anggota band ini berdiri di tepi Sungai Ohio, dengan jembatan-jembatan tua dan kawasan bersejarah Over-the-Rhine. Berjalan di sana memberi rasa tentang "rumah" yang dirindukan sekaligus dijauhi narator lagu. Nuansanya jauh dari hiruk pikuk New York, lebih tenang dan lebih rapuh.
- Brooklyn, New York — Di sinilah The National tumbuh menjadi band dan merekam "High Violet". Kawasan-kawasan permukiman Brooklyn yang tenang, dengan rumah-rumah tua dan kafe kecil, adalah latar tempat lagu-lagu tentang kerinduan pada Midwest itu ditulis.
- Festival musik di kawasan Midwest — Mengunjungi festival musik di wilayah tengah Amerika memberi gambaran tentang budaya tempat band ini berakar. Keluasan lanskap, jalan raya panjang, dan kota-kota kecilnya menjelaskan mengapa lagu ini terasa seperti perjalanan panjang di malam hari.
🎸 Rasakan sendiri
- Memainkan pola drum lagu ini — Bagi yang bermain drum, mencoba pola Bryan Devendorf adalah latihan stamina dan presisi yang seru. Ketukan yang terus mengalir tanpa henti itulah jantung lagu. Setelah mencobanya, kita akan lebih menghargai betapa sulitnya membuat sesuatu terdengar sesederhana itu.
- Perjalanan pulang kampung dengan playlist The National — Saat mudik berikutnya, entah naik kereta, bus, atau mobil, putar "Bloodbuzz Ohio" ketika mendekati kota asal. Rasakan bagaimana lagu ini tiba-tiba menjadi soundtrack pribadi, penuh rindu dan sedikit canggung.
- Menulis catatan kecil ala Berninger — Coba bawa buku catatan dan tuliskan potongan kalimat, perasaan, atau gambaran aneh yang muncul saat memikirkan rumah. Berninger konon membangun lirik dari kepingan-kepingan seperti itu. Siapa tahu, dari catatan kecil lahir cerita yang tak terduga.
-
Apa sebenarnya arti kata "Bloodbuzz" dalam judul lagu ini?
"Bloodbuzz" bukan kata baku, melainkan kata ciptaan yang menggabungkan darah dan dengungan. Kata ini menggambarkan sensasi berdesir di tubuh saat mabuk ringan, sekaligus tarikan emosional kampung halaman yang terasa sampai ke pembuluh darah. Kata itu merangkum suasana lagu yang pusing, rindu, dan setengah sadar. -
Apakah lagu ini berhubungan dengan krisis keuangan 2008?
Lagu ini tidak secara eksplisit membahas krisis, tetapi singgungan tentang masih berutang kepada bank terasa sangat terkait dengan masa itu. Dirilis tidak lama setelah krisis kredit perumahan yang menghantam banyak keluarga di Midwest, lagu ini seolah menangkap kecemasan ekonomi satu generasi. Karena itulah banyak pendengar merasakan lapisan sosial di balik kisah pribadinya. -
Mengapa lagu yang temanya sedih ini terdengar begitu bersemangat?
Itu kontras yang disengaja oleh The National. Drum yang terus melaju dan aransemen yang megah menggambarkan tubuh yang bergerak cepat, sementara vokal Berninger yang rendah dan lelah menggambarkan pikiran yang berkabut. Perpaduan keduanya membuat pendengar merasakan langsung sensasi melayang dan berdengung yang digambarkan judulnya.