SONGFABLE · 1991

Walking in Memphis

MARC COHN · 1991 · MEMPHIS, TENNESSEE, USA

TL;DR: "Walking in Memphis" bukan sekadar lagu tentang kota musik di Tennessee — ini kesaksian seorang penulis lagu Yahudi dari Cleveland yang kehilangan ibunya sejak balita, lalu menemukan semacam "kelahiran kembali" spiritual lewat musik gospel, hantu Elvis, dan seorang pianis tua di sebuah kafe kecil di Mississippi.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Ziarah yang Menyamar sebagai Lagu Jalan-Jalan

Kalau kamu mendengar "Walking in Memphis" sambil lalu — di radio, di kafe, di playlist road trip — lagu ini terdengar seperti kartu pos musikal yang ceria: piano yang melompat-lompat riang, suara baritone hangat, dan nama-nama tempat yang dijatuhkan satu per satu seperti itinerary wisata. Beale Street, Graceland, Sungai Mississippi. Mudah sekali mengira ini lagu promosi pariwisata Tennessee.

Tapi di sinilah letak tipuannya yang indah. "Walking in Memphis" sebenarnya adalah salah satu lagu paling spiritual yang pernah menembus tangga lagu pop Amerika. Marc Cohn sendiri pernah menyebutnya sebagai lagu tentang "kelahiran kembali secara spiritual" — pengalaman seorang pemuda Yahudi yang datang ke jantung musik gospel Kristen di Amerika Selatan, dan pulang dengan jiwa yang berubah. Bagi pendengar di Indonesia, negara di mana musik dan spiritualitas tidak pernah benar-benar terpisah — dari qasidah sampai lagu rohani, dari gamelan sakral sampai shalawat yang viral di TikTok — premis ini terasa sangat akrab: ada momen-momen ketika musik berhenti menjadi hiburan dan mulai menjadi sesuatu yang menyerupai doa.

Pemuda Buntu dari Cleveland

Marc Cohn lahir di Cleveland, Ohio, pada 1959, di keluarga Yahudi. Hidupnya diwarnai kehilangan sejak sangat dini: ibunya meninggal ketika Marc baru berusia dua tahun, dan ayahnya menyusul ketika ia masih remaja. Musik menjadi pelariannya — ia tumbuh mendengarkan piringan hitam kakak-kakaknya, jatuh cinta pada penulis lagu seperti Van Morrison dan Jackson Browne, lalu pindah ke New York untuk mengejar karier sebagai penulis lagu.

Masalahnya: pada pertengahan 1980-an, kariernya jalan di tempat. Ia menulis lagu, menyanyi di sesi rekaman orang lain, bahkan sempat tampil di pesta pernikahan putri Caroline Kennedy — tapi album rekaman atas namanya sendiri tak kunjung terwujud. Ia mengalami apa yang ditakuti semua penulis: kebuntuan kreatif yang panjang.

Lalu, menurut cerita yang sering ia ulang dalam wawancara, ia membaca sebuah wawancara James Taylor. Taylor konon berkata bahwa ketika sedang buntu, ia pergi ke tempat-tempat yang menginspirasinya — "menghampiri sumbernya" langsung. Cohn, yang seumur hidup memuja musik yang lahir dari Memphis — Elvis Presley, Al Green, label Stax, Sun Studio — memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Sekitar tahun 1986, di usia 26 tahun, ia naik pesawat ke Memphis, Tennessee, seorang diri, tanpa rencana yang jelas. Yang ia bawa pulang dari perjalanan itu mengubah hidupnya.

Satu Akhir Pekan yang Menjadi Satu Lagu

Apa yang terjadi di Memphis akhir pekan itu nyaris terlalu sempurna untuk jadi kenyataan — tapi hampir semuanya benar-benar terjadi, dan liriknya pada dasarnya adalah catatan perjalanan yang dipuisikan.

Pertama, ia pergi ke Full Gospel Tabernacle, gereja di pinggiran Memphis tempat Al Green — ya, Al Green legenda soul itu — menjadi pendeta setelah meninggalkan dunia musik sekuler. Cohn duduk di antara jemaat, menyaksikan salah satu penyanyi terbesar dalam sejarah soul berkhotbah dan menyanyi bukan untuk tangga lagu, melainkan untuk Tuhan. Pengalaman itu, katanya kemudian, mengguncangnya.

Kedua, ia berziarah ke tempat-tempat suci musik Memphis: Beale Street dengan patung W.C. Handy sang "Bapak Blues", Graceland rumah Elvis, dan Sun Studio di Union Avenue tempat Elvis muda merekam lagu-lagu pertamanya. Dalam liriknya, Cohn menggambarkan suasana kota itu seperti dihantui dengan ramah — arwah Elvis seakan masih berkeliaran di jalanan, dan pengunjung dipersilakan mengikutinya sampai ke gerbang Graceland. Bukan hantu yang menakutkan, melainkan kehadiran yang membuat kota itu terasa keramat.

Ketiga — dan inilah jantung lagu ini — ia mampir ke Hollywood Café, sebuah rumah makan kecil di Robinsonville, Mississippi, sekitar setengah jam dari Memphis. Di sana, setiap akhir pekan, seorang guru sekolah pensiunan bernama Muriel Davis Wilkins bermain piano dan menyanyi. Cohn yang asing diajak naik ke panggung. Mereka bernyanyi bersama berjam-jam, sebagian besar lagu-lagu gospel yang liriknya hanya setengah ia hafal. Di akhir malam, Muriel — yang sudah seperti sosok ibu baginya dalam beberapa jam itu — mengajukan pertanyaan apakah ia seorang penganut Kristen. Jawaban Cohn, yang kemudian ia abadikan dalam bait paling terkenal lagu ini, adalah sebuah paradoks yang jujur: malam itu, ya — setidaknya malam itu ia merasa seperti itu.

Cohn berkali-kali menjelaskan maksud baris itu: ia tidak berpindah agama. Ia tetap Yahudi. Tapi malam itu, lewat musik, ia merasakan jenis keterangkatan spiritual yang selama ini hanya ia dengar di piringan hitam gospel — perasaan diterima, dibasuh, dilahirkan kembali. Konon Muriel juga berbisik kepadanya malam itu agar ia "melepaskan" — melepaskan duka atas ibunya yang ia bawa-bawa sejak kecil. Beberapa tahun kemudian, ketika album debutnya akhirnya rilis, Cohn ingin menelepon Muriel untuk mengabarkan bahwa lagu tentang malam itu menjadi hit. Ia terlambat — Muriel sudah wafat. Detail ini membuat lagu yang ceria itu, sekali kamu tahu ceritanya, hampir mustahil didengar tanpa rasa haru.

Membaca Ulang Liriknya: Peta Ziarah, Bukan Peta Wisata

Begitu kamu tahu latar belakangnya, setiap elemen lirik berubah makna.

Pembukaannya menggambarkan sang narator memakai "sepatu suede biru" dan naik pesawat — sebuah anggukan jelas ke Elvis dan Carl Perkins, tapi juga simbol seseorang yang mengenakan kostum ziarah, bersiap masuk ke tanah suci musik. Gambaran tentang menjejakkan kaki di tanah Memphis ditulis dengan kosakata yang nyaris religius: kakinya seakan melayang sepuluh kaki di atas jalanan Beale. Ini bukan deskripsi turis; ini deskripsi orang yang sedang mengalami sesuatu yang transenden.

Bait tentang Graceland dan kapel di dalamnya menghadirkan pertanyaan retoris yang menggoda: benarkah sang narator melihat sosok Elvis, atau hanya bayangannya sendiri? Cohn membiarkan garis antara nyata dan supranatural tetap kabur — karena memang begitulah rasanya Memphis bagi peziarah musik: kota di mana yang mati tidak benar-benar pergi.

Ada juga sosok "Reverend Green" yang disebut dengan penuh kasih — Al Green sendiri — digambarkan sebagai gembala yang akan menyambutmu selama kamu punya doa untuk dinyanyikan. Dan tentu saja, klimaksnya: adegan di Hollywood Café bersama Muriel, momen tanya-jawab tentang iman yang menjadi salah satu twist lirik paling terkenal dalam musik pop 90-an. Cohn menyebut baris itu sebagai baris terpenting yang pernah ia tulis — karena di situlah lagu ini berhenti menjadi tentang Memphis dan mulai menjadi tentang apa yang bisa dilakukan musik terhadap jiwa manusia.

Yang menarik, sepanjang lagu Cohn tidak pernah benar-benar mendefinisikan apa yang ia temukan. Ia hanya menggambarkan rasanya: kaki yang mengambang, tubuh yang terasa dibasuh, perasaan utuh di tengah kota orang asing. "Walking in Memphis" adalah lagu tentang pengalaman religius yang ditulis oleh orang yang tidak mau (dan tidak perlu) menamai Tuhan-nya. Mungkin justru itu sebabnya lagu ini bisa diterima semua orang.

Dari Demo Buntu ke Grammy

Cohn pulang dari Memphis dan menulis lagu itu — meski konon butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, dan ia sempat ragu lagu sepanjang dan se-personal itu bisa diputar di radio. Lagu tersebut akhirnya menjadi pembuka album debutnya, Marc Cohn (1991), yang dirilis Atlantic Records ketika ia sudah berusia 31 tahun — tergolong "tua" untuk debutan pop saat itu.

Hasilnya di luar dugaan semua orang. "Walking in Memphis" merangkak ke posisi 13 di Billboard Hot 100, dan pada 1992 Marc Cohn memenangkan Grammy untuk Best New Artist — mengalahkan nama-nama yang saat itu lebih hip. Lagu ini kemudian hidup lebih panjang dari ketenaran penciptanya: Cher membawakannya pada 1995 dan menjadikannya hit di Inggris; penyanyi country Lonestar membawanya kembali ke tangga lagu Amerika pada 2003; dan sampai hari ini lagu itu muncul di film, serial TV, hingga acara pencarian bakat di berbagai negara, termasuk dinyanyikan kontestan-kontestan ajang menyanyi di Asia. Kota Memphis sendiri memeluk lagu ini sepenuh hati — ia praktis menjadi lagu kebangsaan tidak resmi kota itu, diputar di bandara, di stadion, di toko suvenir Beale Street.

Nasib Cohn sendiri kemudian menambahkan lapisan kelam yang aneh pada lagunya. Pada 2005, setelah konser di Denver, ia menjadi korban percobaan perampokan mobil dan tertembak di kepala — dan secara ajaib selamat, dengan peluru yang berhenti tepat sebelum mencapai otak. Penyanyi yang menulis lagu tentang merasa "dilahirkan kembali" di Memphis, dua dekade kemudian benar-benar mendapat kehidupan kedua. Ia masih bermusik sampai sekarang, dan masih menutup hampir setiap konsernya dengan lagu yang sama: kisah satu akhir pekan di Tennessee.

Mengapa Lagu Ini Masih Menggetarkan, Termasuk di Telinga Kita

Pertama, karena "Walking in Memphis" adalah lagu tentang ziarah, dan budaya kita memahami ziarah lebih dalam daripada kebanyakan budaya Barat sekalipun. Orang Indonesia tahu persis rasanya menempuh perjalanan jauh ke tempat yang dianggap keramat — ke makam wali, ke tanah suci, ke kampung halaman saat mudik — dan pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan tapi nyata. Cohn pada dasarnya menulis lagu "mudik spiritual": ia pulang ke kampung halaman musiknya, ke akar dari semua lagu yang membesarkannya, dan di sana ia menemukan dirinya sendiri.

Kedua, karena lagu ini merayakan sesuatu yang makin langka: pengalaman musik sebagai peristiwa fisik dan komunal. Di era streaming, kita mengonsumsi musik sendirian lewat earphone. "Walking in Memphis" mengingatkan bahwa musik terbesar lahir dari tempat — dari jalanan yang lembap, gereja yang penuh, kafe pinggir jalan dengan piano tua dan seorang ibu guru pensiunan yang mengajakmu bernyanyi. Tempat itu bisa Memphis, bisa juga warung kopi di Yogyakarta tempat musisi jalanan membuat satu meja penuh orang asing ikut bernyanyi.

Ketiga — dan ini yang paling universal — karena lagu ini jujur tentang ambiguitas iman. Jawaban sang narator kepada Muriel bukan "ya" dan bukan "tidak", melainkan "malam ini, ya". Di negara seperti Indonesia di mana identitas keagamaan sering dianggap hitam-putih, ada sesuatu yang menyegarkan dari pengakuan bahwa pengalaman spiritual bisa datang menyeberangi pagar-pagar agama — bahwa seorang Yahudi bisa tersentuh sampai menangis oleh gospel Kristen, sebagaimana banyak dari kita pernah merinding mendengar musik dari tradisi yang bukan milik kita. Musik, kata lagu ini diam-diam, adalah bahasa ibadah yang tidak memerlukan paspor.

Dan keempat, jangan lupakan alasannya yang paling sederhana: ini lagu yang luar biasa enak. Intro pianonya dikenali dalam dua detik. Strukturnya menanjak seperti perjalanan itu sendiri — dari langkah pertama yang ringan sampai klimaks paduan suara yang terasa seperti pintu gereja dibuka lebar-lebar. Tiga puluh tahun lebih setelah dirilis, "Walking in Memphis" tetap melakukan hal yang diceritakannya: membuat kakimu terasa melayang sepuluh kaki di atas jalan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Mengikuti ceritanya

🌍 Mengunjungi tempat-tempatnya

🎸 Merasakannya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 [Tanya lebih lanjut]:

Tags
90s