SONGFABLE · 2012

Thinkin Bout You

FRANK OCEAN · 2012

TL;DR: Lagu ini awalnya bukan milik Frank Ocean sama sekali — ia menulisnya untuk penyanyi lain, lalu versi demo-nya bocor ke internet dan publik menolak melepaskannya. Yang terdengar seperti lagu patah hati biasa sebenarnya adalah potret seseorang yang berpura-pura sudah move on sambil terus mengulang nama orang yang sama di kepalanya.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah lagu yang "salah alamat" lalu jadi milik semua orang

Ada satu detail tentang "Thinkin Bout You" yang sering membuat pendengar baru terdiam ketika pertama kali mengetahuinya: lagu ini konon tidak pernah dirancang untuk suara Frank Ocean.

Menurut berbagai laporan, Ocean menulis dan memproduksi lagu ini bersama Shea Taylor untuk penyanyi R&B Bridget Kelly, yang merilis versinya pada 2011. Ocean sendiri hanya merekam demo — versi panduan, sesuatu yang biasanya hidup dan mati di dalam hard disk studio. Tapi demo itu keluar. Ia beredar di internet, menyebar lewat blog musik dan Tumblr, dan sesuatu yang aneh terjadi: orang-orang tidak menginginkan versi resminya. Mereka menginginkan versi laki-laki yang suaranya terdengar rapuh, sedikit ragu, dan sesekali melompat ke falsetto seperti orang yang gagal menahan tangis.

Publik pada dasarnya memaksa lagu ini kembali ke penciptanya. Ocean akhirnya merilisnya sebagai single utama dari album debut studionya, channel ORANGE, pada 2012. Lagu itu kemudian masuk tangga lagu Billboard Hot 100, mendapat nominasi Grammy untuk Record of the Year, dan menjadi salah satu lagu R&B paling dikutip dari dekade 2010-an.

Yang membuatnya bertahan bukan produksinya yang megah — justru sebaliknya. "Thinkin Bout You" adalah salah satu lagu paling kosong secara aransemen di album itu. Beberapa nada keyboard, drum yang nyaris malu-malu, dan ruang hening yang luas. Ocean seakan sengaja tidak mengisi ruangan itu, supaya kamu yang mengisinya dengan ingatanmu sendiri.

Frank Ocean sebelum ia menjadi Frank Ocean

Untuk memahami kenapa lagu ini terdengar seperti buku harian yang tidak sengaja terbuka, kita perlu mundur sedikit.

Christopher Edwin Breaux lahir di Long Beach, California, dan tumbuh besar di New Orleans, Louisiana. Ia sempat merekam demo di kota itu sampai Badai Katrina pada 2005 menghancurkan studio tempat ia bekerja. Ia pindah ke Los Angeles — awalnya, katanya, hanya untuk sementara, sekadar mengurus klaim asuransi dan merekam ulang materinya. Ia tidak pernah benar-benar pulang.

Di Los Angeles ia bekerja sebagai penulis lagu bayaran, menulis untuk artis-artis besar sebelum namanya dikenal siapa pun. Ini bagian penting: Ocean belajar menulis lagu dari sisi tukang, bukan dari sisi bintang. Ia tahu bagaimana membangun bait yang efisien, bagaimana mendaratkan chorus. Dan justru karena ia menguasai formula itulah, ia kemudian tahu persis bagian mana yang bisa ia patahkan.

Ia lalu bergabung dengan kolektif Odd Future — kelompok anak muda Los Angeles yang saat itu terkenal karena kekacauan, humor gelap, dan sikap anti-industri. Ocean adalah anomali di dalamnya: pendiam, melankolis, penulis prosa. Pada 2011 ia merilis mixtape nostalgia, ULTRA secara gratis, tanpa restu label, dan seketika mengubah cara orang membicarakan R&B.

Lalu datang Juli 2012. Beberapa hari sebelum channel ORANGE dirilis, Ocean memposting sebuah surat panjang di Tumblr-nya — sebuah tulisan yang ia siapkan untuk catatan album — di mana ia menceritakan cinta pertamanya, seorang laki-laki, ketika ia berusia 19 tahun. Cinta yang tidak terbalas. Musim panas yang tidak pernah selesai.

Di Amerika Serikat saat itu, pengakuan semacam itu dari seorang artis R&B dan hip-hop laki-laki masih terasa seperti risiko karier yang nyata. Yang terjadi justru sebaliknya: ia disambut, dan lagu-lagu di album itu tiba-tiba terbaca ulang. "Thinkin Bout You" berhenti menjadi lagu patah hati generik dan menjadi sesuatu yang jauh lebih spesifik dan jauh lebih menyakitkan.

Untuk telinga Indonesia, ada satu jembatan yang menarik di sini. Musik R&B Amerika punya akar yang dalam di Indonesia — dari era Glenn Fredly, Tompi, sampai generasi Rendy Pandugo dan Pamungkas — dan yang selalu diterjemahkan bukan sekadar groove-nya, melainkan cara bernyanyi yang menahan diri. Frank Ocean adalah puncak dari estetika "menahan diri" itu. Dan bagi banyak pendengar Indonesia yang tumbuh di budaya di mana perasaan sering tidak diucapkan langsung — di mana rindu disampaikan lewat pertanyaan "sudah makan?" alih-alih "aku kangen" — cara Ocean menyembunyikan pengakuan besar di balik kalimat kecil terasa sangat familiar. Lagu ini penuh dengan hal yang tidak dikatakan. Itu bahasa yang kita mengerti.

Apa yang sebenarnya diceritakan lagu ini

Struktur emosional "Thinkin Bout You" jauh lebih licik daripada yang terlihat.

Bait-baitnya dibangun dari citra-citra yang seolah tidak nyambung: cuaca, pesawat, bencana, hal-hal berskala besar yang dilemparkan begitu saja di tengah percakapan intim. Efeknya adalah pikiran seseorang yang sedang melayang — orang yang duduk di suatu tempat, seharusnya memikirkan hal lain, tapi otaknya terus tergelincir kembali ke satu wajah. Ocean menulisnya seperti orang yang sedang mengobrol sambil sebenarnya tidak hadir.

Lalu ada permainan kata kerja yang menjadi jantung lagu ini. Sang narator menyatakan dirinya masih memikirkan orang itu — dalam bentuk yang sedang berlangsung, terus-menerus, sekarang juga. Tetapi ketika ia bertanya balik kepada lawan bicaranya, pertanyaannya bergeser ke bentuk lampau: apakah kamu pernah memikirkan aku. Di situlah letak luka yang sesungguhnya. Satu orang masih tinggal di dalam hubungan itu; satu orang lagi sudah memindahkannya ke rak kenangan.

Chorus-nya kemudian melakukan sesuatu yang tidak biasa secara vokal. Ocean melompat ke falsetto yang terdengar tidak sepenuhnya aman — nadanya tinggi, tipis, sedikit bergetar. Banyak penyanyi akan merekam ulang bagian itu sampai mulus. Ocean membiarkannya. Ketidaksempurnaan itu adalah pesannya: ini bukan pertunjukan kesedihan, ini kesedihan yang bocor keluar.

Ada juga tema yang berulang tentang keabadian versus kefanaan. Narator bersikeras bahwa perasaannya tidak akan hilang, bahwa cinta ini permanen — pernyataan yang, kalau kita jujur, terdengar seperti seseorang yang sedang meyakinkan dirinya sendiri, bukan menyampaikan fakta. Dan pertanyaan yang menutup lagu ini tidak pernah dijawab. Kita tidak pernah tahu apakah orang di seberang sana juga masih memikirkannya. Ocean sengaja meninggalkan kita di ruang tunggu itu.

Ada bacaan lain yang sering muncul di kalangan pendengar: bahwa lagu ini bukan hanya tentang kehilangan seseorang, tetapi tentang kehilangan seseorang yang tidak pernah sepenuhnya menjadi milikmu. Perpisahan tanpa hubungan resmi. Duka tanpa upacara. Ini jenis patah hati yang tidak punya nama sosial — dan itulah kenapa lagu ini terasa begitu tepat bagi banyak orang yang tidak pernah punya kesempatan untuk menyebut perasaan mereka "putus".

Konteks budaya dan warisan lagu ini

Awal 2010-an adalah masa R&B sedang berubah bentuk. Radio masih didominasi lagu-lagu dansa yang keras dan riang. Di bawah permukaan, muncul gelombang yang oleh media disebut "alternative R&B" atau, dengan istilah yang lebih malas, "PBR&B" — musik yang lebih gelap, lebih pelan, lebih banyak ruang kosong. The Weeknd, Miguel, Solange, dan Frank Ocean adalah nama-nama yang paling sering disebut.

channel ORANGE menjadi semacam titik acuan gelombang itu. Album ini memenangkan Grammy untuk Best Urban Contemporary Album pada 2013, dan sejak itu masuk hampir semua daftar album terbaik dekade tersebut. Tapi pengaruh terbesarnya bukan pada penjualan, melainkan pada izin yang ia berikan kepada penyanyi lain: izin untuk tidak menyanyi dengan sempurna, izin untuk menulis lirik yang tidak menjelaskan dirinya sendiri, izin untuk membuat lagu cinta yang tidak menyebutkan gender.

Detail terakhir itu penting. "Thinkin Bout You" tidak menempelkan label apa pun pada siapa pun. Ia tetap terbuka, dan justru keterbukaan itu yang membuatnya bisa dipakai oleh siapa saja — apa pun orientasi, apa pun ceritanya. Ocean, dalam wawancara-wawancaranya yang sangat jarang, secara konsisten menolak menjelaskan lagu-lagunya. Sikap itu sendiri menjadi bagian dari karyanya.

Lagu ini juga tumbuh subur di internet dalam bentuk yang tidak bisa dikendalikan siapa pun. Ia menjadi salah satu lagu paling sering di-cover di YouTube dan kemudian TikTok. Ada versi cover yang lebih terkenal daripada yang seharusnya, ada ribuan rekaman kamar tidur, ada versi akustik gitar yang beredar di kampus-kampus. Sebuah lagu yang lahir dari kebocoran file terus hidup dengan cara yang sama: menyebar tanpa izin, dari satu orang ke orang berikutnya.

Frank Ocean sendiri kemudian menjadi salah satu artis paling sulit ditemukan di industri musik. Setelah Blonde (2016), ia nyaris menghilang — rilis sporadis, wawancara hampir nol, penampilan langsung yang bisa dihitung jari. Kelangkaan itu membuat setiap lagu lamanya terasa semakin berharga, dan "Thinkin Bout You" adalah pintu masuk yang paling sering dipakai orang untuk memasuki dunianya.

Kenapa lagu ini masih menempel sampai sekarang

Karena teknologi berubah, tetapi perilakunya tidak.

Lagu ini dirilis sebelum era di mana kita bisa melihat mantan kita masih hidup dengan baik-baik saja setiap hari lewat Instagram Story. Tetapi perasaan yang ia rekam justru menjadi lebih relevan setelah itu: memikirkan seseorang secara terus-menerus sementara orang itu jelas-jelas sudah tidak memikirkanmu, dan kamu punya bukti visualnya setiap pagi. Ocean menulis tentang ketimpangan itu satu dekade sebelum ketimpangan itu menjadi kondisi normal.

Ada juga alasan yang lebih sederhana. Lagu ini pendek. Ia tidak memberi resolusi. Ia tidak mengajari kamu cara sembuh. Ia hanya duduk di sampingmu dan mengakui bahwa kamu belum selesai — dan kadang itu yang lebih dibutuhkan daripada nasihat.

Dan ada satu hal yang jarang disadari: "Thinkin Bout You" bukan lagu tentang kesedihan yang dramatis. Ia lagu tentang kesedihan yang sopan. Naratornya tidak berteriak, tidak menyalahkan, tidak menuntut. Ia hanya bertanya, sekali, dengan hati-hati, apakah dirinya pernah ada di kepala orang lain. Itu pertanyaan yang paling manusiawi yang bisa ditanyakan seseorang, dan itu juga pertanyaan yang paling menakutkan.

Lebih dari satu dekade setelah rilis, lagu ini masih muncul di playlist tengah malam, di earphone perjalanan pulang, di kamar kos jam tiga pagi. Ia tidak menua, karena ia tidak pernah mencoba menjadi modern sejak awal.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mencobanya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s