SONGFABLE · 2013

The Worst

JHENÉ AIKO · 2013

TL;DR: Lagu ini terdengar seperti tuduhan pada seorang lelaki brengsek, padahal sebenarnya adalah pengakuan seseorang yang tahu persis dia sedang dihancurkan — dan tetap memilih bertahan. "Yang terburuk" di judulnya bisa saja bukan dia, melainkan si penyanyi sendiri.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Yang bikin kaget: ini bukan lagu marah, ini lagu menyerah

Kalau kamu cuma menangkap judulnya, "The Worst" terdengar seperti lagu balas dendam. Semacam anthem untuk dikirim ke mantan lewat Instagram Story jam dua pagi. Tapi coba dengarkan sekali lagi dengan headphone, di kamar yang gelap, dan kamu akan sadar ada yang aneh: tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada teriakan, tidak ada belting ala diva R&B tahun 90-an, tidak ada momen pelepasan yang melegakan.

Yang ada justru suara perempuan yang berbicara nyaris berbisik, setenang orang yang sudah terlalu lelah untuk berdebat. Dia membuka lagu dengan menolak bantuan, bersikeras dia baik-baik saja — lalu perlahan-lahan seluruh pertahanan itu runtuh dalam durasi kurang dari empat menit. Dia tahu hubungan ini beracun. Dia tahu lelaki ini tidak akan berubah. Dia sudah menghitung semua kerugiannya. Dan tetap saja dia kembali.

Di situlah letak kejeniusan lagu ini. Jhené Aiko tidak menulis lagu tentang menjadi korban. Dia menulis lagu tentang menjadi saksi mata atas kehancuran diri sendiri, sadar penuh, tanpa alasan untuk membela diri. Judul "The Worst" pun mengambang: apakah dia yang terburuk, atau si penyanyi yang terburuk karena terus-menerus memilih pulang ke tempat yang salah? Aiko tidak pernah menjawabnya secara gamblang, dan justru karena itulah lagu ini bertahan lebih dari satu dekade.

Dari Ladera Heights, dengan darah yang mengalir dari banyak arah

Jhené Aiko Efuru Chilombo lahir di Los Angeles pada 1988, besar di Ladera Heights — kawasan kelas menengah kulit hitam di barat daya LA yang kadang dijuluki "Black Beverly Hills". Ayahnya, Dr. Karamo Chilombo, seorang dokter anak. Keluarganya besar, ramai, dan secara etnis campur aduk: keturunan Afrika-Amerika, Jepang, Spanyol, Dominika, dan Jerman. Bagi pendengar Asia, garis Jepang di silsilahnya sering jadi titik masuk yang menarik — nama "Jhené" sendiri terdengar seperti jembatan antara dua dunia, dan dia tidak pernah menyembunyikan bagian itu dari identitasnya.

Kariernya sendiri punya awal yang canggung. Di awal 2000-an, saat masih remaja, dia sempat diorbitkan sebagai penyanyi latar dan figur pendukung untuk grup B2K, dan dipasarkan — konon tanpa dasar yang benar-benar akurat — sebagai "sepupu" salah satu personelnya. Label ingin membuat versi dirinya yang manis, aman, dan mudah dijual. Aiko memilih pergi. Dia berhenti, kembali sekolah, punya anak perempuan di usia 20 tahun, dan menghilang dari radar industri selama bertahun-tahun.

Ketika dia muncul lagi lewat mixtape Sailing Soul(s) (2011), suaranya sudah jadi sesuatu yang lain sama sekali: pelan, melamun, penuh jeda, lebih dekat ke orang yang bergumam di kursi penumpang mobil ketimbang penyanyi di atas panggung. Produser legendaris No I.D. menandatanganinya ke label ARTium yang bekerja sama dengan Def Jam. Lalu datang pukulan yang paling berat: kakaknya, Miyagi Chilombo, meninggal karena kanker pada 2012. Duka itu meresap ke hampir semua yang dia tulis setelahnya, termasuk cara dia memandang kehilangan sebagai sesuatu yang tenang dan tak terhindarkan, bukan sesuatu yang dilawan dengan drama.

"The Worst" lahir dalam bayang-bayang itu, sebagai singel utama dari EP Sail Out yang rilis November 2013. Produksinya digarap Fisticuffs, duo Brian Warfield dan Mac Robinson yang jadi kolaborator jangka panjangnya. Yang menarik, kerangka gitar lagu ini dilaporkan mengambil dari "Cape Cod Kwassa Kwassa" milik Vampire Weekend — band indie rock New York yang justru meminjam pola petikan gitar dari musik Afrika Barat dan soukous Kongo. Jadi ada perjalanan panjang di sini: gitar Afrika masuk ke indie rock kampus Amerika, lalu ditarik kembali ke R&B kontemporer oleh perempuan Los Angeles berdarah campuran. Musik memang tidak pernah bergerak lurus.

Untuk pendengar Indonesia, ada satu kebetulan yang enak dinikmati. Judul EP-nya, Sail Out, dan seluruh citra kelautan yang dipakai Aiko — berlayar, hanyut, tenggelam — terasa akrab di negara yang lagu anak-anaknya saja dibuka dengan kalimat tentang nenek moyang seorang pelaut. Dan "The Worst" pada dasarnya adalah lagu galau dalam bentuknya yang paling murni: bukan galau yang berisik dan minta diperhatikan, tapi galau yang duduk diam di warung kopi jam sebelas malam, sambil menunggu balasan yang tidak akan datang. Rasanya seperti melodi yang sudah lama hidup di playlist Indonesia jauh sebelum lagunya rilis.

Membedah maknanya: kesadaran penuh yang tidak menyelamatkan siapa-siapa

Struktur emosional lagu ini dibangun seperti orang yang berbohong pada dirinya sendiri secara bertahap. Bagian pembuka adalah penyangkalan: dia menegaskan bahwa dia tidak butuh ditolong, bahwa dia bisa mengurus dirinya sendiri, bahwa semua ini terkendali. Nada suaranya datar, hampir sopan. Kamu percaya sebentar.

Lalu retakannya mulai kelihatan. Dia menggambarkan hubungan yang polanya sudah bisa ditebak: kehangatan yang datang sesekali, cukup untuk membuatnya bertahan, diikuti pengabaian yang jauh lebih lama. Dia menyebut si lelaki sebagai orang yang membawa kerusakan, tapi caranya menyebut itu bukan seperti hakim yang menjatuhkan vonis — lebih seperti orang yang membacakan diagnosis penyakitnya sendiri di ruang tunggu rumah sakit.

Bagian yang paling menusuk datang di penghujung, ketika dia mengakui bahwa dia tetap menginginkan lelaki ini justru karena tahu betapa buruknya situasi itu. Tidak ada pembenaran. Tidak ada "tapi dia sebenarnya baik". Tidak ada janji akan pergi besok pagi. Dia hanya meletakkan kenyataan itu di atas meja dan membiarkannya di sana.

Inilah yang membedakan "The Worst" dari ribuan lagu patah hati lain. Kebanyakan lagu putus cinta memberi pendengarnya satu dari dua hadiah: kemarahan yang membebaskan, atau kesedihan yang membersihkan. Aiko menolak memberi keduanya. Dia menawarkan sesuatu yang jauh lebih jarang di musik pop, yaitu kejujuran yang tidak berujung pada perbaikan. Kesadaran penuh yang ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan siapa pun.

Cara dia menyanyikannya memperkuat semua itu. Suaranya nyaris tidak pernah naik. Tidak ada ad-lib yang berlebihan, tidak ada momen "lihat kemampuan vokal saya". Aiko menyanyi seperti orang yang berbicara di telepon larut malam, ketika energi untuk berpura-pura sudah habis. Beberapa kritikus menyebut gaya ini terlalu lembek; pendengarnya justru merasa itulah alasan lagunya terasa nyata. Orang yang benar-benar hancur memang jarang berteriak.

Konteks budaya: gelombang R&B yang berani terdengar rapuh

2013 adalah tahun yang menentukan bagi R&B. Frank Ocean baru saja mengubah aturan main lewat channel ORANGE, The Weeknd sudah memindahkan seluruh genre ke ruang yang gelap dan berkabut, Drake mempopulerkan nyanyian rapper yang sentimental, dan Beyoncé akan menutup tahun dengan album kejutannya. Di tengah itu semua, sebuah EP tipis berisi tujuh lagu dari penyanyi yang belum punya album penuh berhasil menyelinap masuk.

Sail Out memuat kolaborasi dengan Childish Gambino, Kendrick Lamar, Ab-Soul, dan Vince Staples — nama-nama yang saat itu sedang menanjak dan kini jadi kanon. Tapi "The Worst" yang paling jauh melesat. Lagu ini dilaporkan menembus posisi puncak sekitar peringkat 40-an di Billboard Hot 100 dan masuk sepuluh besar tangga R&B/Hip-Hop, angka yang tidak spektakuler di atas kertas tapi sama sekali tidak menggambarkan seberapa dalam lagu ini menancap. Sertifikasi platinumnya terus bertambah bertahun-tahun setelah rilis, tanda bahwa orang tidak berhenti memutarnya.

Video musiknya memperkuat suasana itu: dingin, sinematik, penuh ketegangan yang tidak terselesaikan, dengan akhir yang membuat penonton berdebat soal apakah yang mereka lihat nyata atau khayalan. Konon Aiko sangat terlibat dalam konsep visualnya, dan itu masuk akal — dia memang selalu memperlakukan musiknya sebagai bagian dari cerita yang lebih besar, sesuatu yang kemudian dia lanjutkan lewat album Souled Out (2014), Trip (2017) yang disertai film pendek dan buku puisi, sampai Chilombo (2020) yang direkam dengan sound bowl kristal dan akhirnya membawanya ke beberapa nominasi Grammy.

Pengaruhnya terhadap generasi berikutnya sulit dibantah. Ketika SZA meledak beberapa tahun kemudian dengan lagu-lagu tentang cinta yang berantakan dan harga diri yang naik-turun, jalannya sudah dirapikan lebih dulu oleh penyanyi-penyanyi seperti Aiko: perempuan yang menolak tampil sebagai pemenang, dan justru menang karenanya. Di Indonesia pun, gelombang penyanyi muda yang menulis lirik personal dengan aransemen minimalis — dari ranah bedroom pop sampai R&B lokal yang tumbuh di SoundCloud dan Spotify — bergerak di frekuensi yang sama.

Kenapa masih terasa relevan hari ini

Karena situasinya tidak pernah pergi ke mana-mana. Yang berubah cuma teknologinya.

Pada 2013, "The Worst" berbicara tentang orang yang terus kembali ke hubungan yang jelas-jelas merugikan. Hari ini, situasi yang sama punya kosakata baru: read tapi tidak dibalas, orang yang hilang lalu muncul lagi setelah tiga bulan seolah tak terjadi apa-apa, akun yang tetap kamu pantau meski sudah kamu unfollow. Semua istilah itu belum populer saat lagunya rilis. Perasaannya sudah ada di sana lebih dulu.

Ada juga alasan yang lebih dalam. Generasi sekarang tumbuh dengan kosakata psikologi yang berlimpah — kita semua fasih bicara soal batasan diri, red flag, dan pola keterikatan. Tapi mengetahui nama penyakitnya tidak otomatis menyembuhkannya. "The Worst" adalah lagu tentang jarak menyakitkan antara paham dan mampu berhenti, dan jarak itu justru makin terasa di era ketika semua orang bisa menganalisis hubungannya sendiri dengan istilah teknis dan tetap tidak bergerak.

Lalu ada faktor terakhir: lagu ini tidak menghakimi pendengarnya. Ia tidak menyuruh kamu pergi. Ia tidak berkata kamu pantas mendapat yang lebih baik. Ia hanya duduk di sebelahmu, mengakui bahwa situasinya memang seburuk yang kamu rasakan, dan membiarkan kamu memutuskan sendiri. Untuk sebagian besar orang yang mendengarkannya jam dua pagi, itu jauh lebih berguna daripada nasihat.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s