SONGFABLE · 1985

Take On Me

A-HA · 1985

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Take On Me - a-ha (1985)

TL;DR: Di balik suara falsetto melengking dan video kartun yang ikonik, "Take On Me" sebenarnya adalah lagu yang sederhana dan rapuh tentang seseorang yang gugup memberanikan diri mengajak orang yang ia sukai untuk menerimanya — sebuah lagu tentang keberanian bercinta yang nyaris gagal sebelum akhirnya menjadi salah satu lagu pop terbesar sepanjang masa.

Yang Mengejutkan: Lagu Ini Hampir Tidak Pernah Sukses

Hari ini "Take On Me" terdengar seperti lagu yang ditakdirkan untuk abadi. Intro keyboard yang langsung dikenali dalam dua detik. Refrain yang naik ke nada tinggi sampai membuat siapa pun yang mencoba menyanyikannya di karaoke tersedak di tengah jalan. Tapi kenyataannya, lagu ini gagal total — bukan sekali, tapi berkali-kali.

Versi pertama "Take On Me" dirilis pada tahun 1984 dan praktis tidak ada yang peduli. Versi kedua, dengan aransemen yang sudah diperbaiki, juga tenggelam tanpa jejak. Konon, baru pada percobaan ketiga, ditambah dengan video musik yang mengubah segalanya, lagu ini akhirnya meledak ke seluruh dunia pada tahun 1985. Bayangkan: salah satu lagu pop paling dikenal dalam sejarah hampir berakhir di tumpukan lagu-lagu yang dilupakan. Ini bukan kisah tentang bakat instan, melainkan kisah tentang ketekunan tiga anak muda Norwegia yang menolak menyerah.

Dan ada ironi yang manis di sini: lagu yang isinya tentang seseorang yang gugup minta diterima, ternyata harus berjuang keras untuk diterima dunia. Seakan-akan nasib lagu ini meniru pesan liriknya sendiri.

Tiga Anak Norwegia yang Nekat ke London

a-ha terdiri dari tiga orang: Morten Harket sang vokalis dengan suara luar biasa, Magne "Mags" Furuholmen yang memainkan keyboard, dan Pål Waaktaar-Savoy sang gitaris dan penulis lagu utama. Mereka datang dari Norwegia — negara yang pada awal 1980-an sama sekali bukan pusat industri musik pop dunia. Tidak ada yang menyangka sebuah band dari sana bisa menaklukkan tangga lagu Amerika dan Inggris.

Pål dan Magne sudah bermain musik bersama sejak remaja di sebuah band sebelumnya. Riff keyboard legendaris yang membuka "Take On Me" konon sudah ada sejak masa itu, jauh sebelum a-ha terbentuk. Mereka menyimpannya, merasa ada sesuatu yang spesial, lalu membawanya bertahun-tahun kemudian. Ini detail kecil yang indah: melodi yang kelak dikenal miliaran orang awalnya hanya kenangan dari masa muda dua remaja Norwegia.

Untuk mengejar mimpi, mereka pindah ke London — jantung industri musik dunia saat itu. Mereka hidup pas-pasan, berjuang mendapatkan kontrak, menghadapi penolakan. Era pertengahan 1980-an adalah masa kejayaan synth-pop dan new wave, ketika MTV baru saja mengubah cara orang menikmati musik. Tiba-tiba, video musik menjadi sama pentingnya dengan lagunya sendiri. a-ha kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat untuk memanfaatkan revolusi visual ini — meski mereka harus beruntung dulu sampai ke titik itu.

Bagi pendengar Indonesia, ada jembatan budaya yang menarik. Era 1980-an adalah masa ketika lagu-lagu Barat mengalir deras lewat radio dan kaset di Indonesia. Banyak penggemar musik yang tumbuh besar saat itu mengingat suara melengking Morten Harket sebagai bagian dari soundtrack masa muda mereka — diputar di acara radio, disalin dari kaset teman ke teman. Bahkan bagi generasi yang lebih muda, "Take On Me" tetap muncul terus-menerus: di film, di iklan, di video viral, sampai sering dipakai sebagai contoh "lagu tahun 80-an" yang paling mudah dikenali. Lagu ini seperti tidak pernah benar-benar pergi dari telinga orang Indonesia.

Apa Sebenarnya Isi Lagu Ini

Di balik energi yang meledak-ledak, lirik "Take On Me" sesungguhnya tentang sesuatu yang sangat manusiawi: rasa takut untuk membuka diri kepada orang yang kita sukai. Si penyanyi sedang berbicara kepada seseorang yang ia inginkan, mencoba meyakinkan orang itu untuk menerimanya — untuk mengambil risiko menjalin hubungan bersamanya.

Yang membuatnya menyentuh adalah nada kerentanan di dalamnya. Ini bukan seruan penuh percaya diri dari orang yang yakin akan diterima. Sebaliknya, terasa ada keraguan, ada pengakuan bahwa ia mungkin tidak akan terlalu lama bisa bertahan menunggu, ada permohonan yang setengah malu-malu. Si penyanyi seakan berkata: aku tahu aku mungkin tidak sempurna, aku tahu hubungan ini belum tentu berhasil, tapi tolong beri aku kesempatan. Ada kesadaran bahwa waktu terbatas, bahwa kesempatan bisa lewat begitu saja kalau ia tidak berani bicara sekarang.

Inilah kekuatan tersembunyi lagu ini. Musiknya begitu cerah dan optimis, tapi pesannya justru tentang kerapuhan. Falsetto Morten Harket yang melesat ke nada tinggi di refrain bukan sekadar pamer teknik — itu adalah suara emosi yang meluap, suara seseorang yang akhirnya melepaskan semua keberaniannya dalam satu tarikan napas. Ketika suaranya menembus langit-langit nada itu, kita merasakan ketegangan antara harapan dan ketakutan yang ada di hati setiap orang yang pernah jatuh cinta tapi takut ditolak.

Menariknya, lirik lagu ini sengaja dibiarkan agak abstrak dan tidak terlalu spesifik. Justru karena itu, siapa pun bisa menempelkan kisah cintanya sendiri ke dalamnya. Lagu ini menjadi semacam wadah kosong yang diisi oleh perasaan masing-masing pendengar.

Video yang Mengubah Sejarah Musik

Tidak mungkin membicarakan "Take On Me" tanpa membicarakan video musiknya, karena justru video itulah yang akhirnya membuat lagu ini meledak setelah dua kali gagal.

Videonya memadukan animasi pensil dengan rekaman live action lewat teknik yang disebut rotoscoping — di mana setiap frame digambar tangan di atas rekaman asli. Konon dibutuhkan ribuan gambar dan berbulan-bulan kerja untuk menyelesaikannya. Ceritanya: seorang perempuan muda di kafe membaca komik, lalu karakter di dalam komik itu — diperankan Morten Harket dalam bentuk kartun — mengulurkan tangan dan menariknya masuk ke dunia gambar. Mereka jatuh cinta di dunia hitam-putih itu, tapi bahaya mengintai, dan ada momen mendebarkan ketika sang tokoh berusaha menembus batas antara dunia kartun dan dunia nyata.

Video ini menjadi fenomena di MTV. Ia memenangkan banyak penghargaan dan secara harfiah menyelamatkan lagu yang sebelumnya dianggap gagal. Visualnya begitu segar dan berbeda dari apa pun yang ada saat itu, sehingga orang menonton berulang-ulang — dan sambil menonton, melodi lagunya menempel di kepala mereka. Ini adalah salah satu contoh paling jelas dalam sejarah tentang bagaimana sebuah video bisa membuat atau menghancurkan sebuah lagu di era MTV.

Hingga hari ini, video "Take On Me" terus dirayakan, diparodikan, dan dihormati. Ia menembus angka penonton fantastis di YouTube, membuktikan bahwa karya yang dibuat dengan tangan dan kesabaran bisa melampaui zamannya.

Warisan yang Tak Pernah Pudar

"Take On Me" telah melampaui statusnya sebagai sekadar hit tahun 80-an. Ia menjadi semacam simbol dari satu dekade penuh — kalau Anda butuh satu lagu untuk menyimbolkan musik 1980-an dalam film atau acara TV, lagu ini hampir selalu jadi pilihan utama.

Lagu ini muncul di mana-mana dalam budaya pop. Ia dipakai di film-film besar, di serial televisi, di video game, di iklan. Salah satu momen yang paling diingat penggemar adalah ketika a-ha tampil membawakan versi akustik lagu ini dalam acara MTV Unplugged — versi yang lebih lambat, lebih melankolis, yang membuktikan bahwa di balik kemasan synth-pop yang gemerlap, ada melodi dan emosi yang benar-benar kuat. Versi telanjang itu mengejutkan banyak orang karena memperlihatkan kedalaman lagu yang selama ini tersembunyi di balik tempo cepatnya.

Yang juga luar biasa adalah daya tahan a-ha sebagai band. Banyak yang mengira mereka hanya "one-hit wonder", padahal mereka terus berkarya selama puluhan tahun, menghasilkan banyak lagu lain dan mempertahankan basis penggemar setia, terutama di Eropa dan Amerika Latin. Tapi tidak bisa dipungkiri, "Take On Me" tetap menjadi mahkota mereka — lagu yang akan selamanya dikaitkan dengan nama a-ha.

Bagi musisi dan produser, lagu ini juga menjadi pelajaran. Ia membuktikan bahwa kegagalan awal bukan akhir cerita. Dengan keyakinan pada karya, perbaikan terus-menerus, dan sedikit keberanian untuk mencoba sekali lagi, sesuatu yang tadinya diabaikan bisa berubah menjadi keabadian.

Kenapa Masih Menggetarkan Sampai Sekarang

Lewat lebih dari empat dekade, "Take On Me" tetap relevan, dan alasannya menyentuh sesuatu yang tak lekang waktu.

Pertama, secara murni musikal, lagu ini hampir sempurna sebagai pop song. Hook keyboard-nya langsung menempel. Strukturnya membangun ketegangan menuju refrain yang melegakan. Dan falsetto Morten Harket adalah salah satu momen vokal paling ikonik dalam sejarah pop — sesuatu yang setiap orang ingin coba nyanyikan meski tahu hampir mustahil mencapainya. Tantangan menyanyikan nada tertinggi itu sendiri telah menjadi semacam permainan budaya: berapa banyak video orang yang mencoba dan gagal lucu mencapai nada itu?

Kedua, pesannya abadi. Rasa takut untuk membuka hati, keberanian untuk mengatakan "terimalah aku", harapan bercampur ketakutan saat kita menginginkan seseorang — ini adalah pengalaman manusia yang tidak akan pernah ketinggalan zaman. Selama manusia masih jatuh cinta dan masih takut ditolak, lagu ini akan terus berbicara kepada hati mereka.

Ketiga, lagu ini membawa nostalgia yang ramah. Bagi yang besar di tahun 80-an, ia mengembalikan kenangan masa muda. Bagi generasi yang lebih muda, ia terasa seperti penemuan menyenangkan — sebuah jendela ke era yang penuh warna dan energi, yang terus diperkenalkan kembali lewat film dan media sosial. "Take On Me" punya kemampuan langka untuk menghubungkan generasi: kakek, orang tua, dan anak bisa sama-sama menyanyikannya, masing-masing dengan kenangan dan maknanya sendiri.

Pada akhirnya, "Take On Me" bertahan karena ia menggabungkan dua hal yang jarang menyatu: kemasan yang gembira dan inti yang tulus. Ia adalah pesta sekaligus pengakuan rapuh. Dan mungkin itulah rahasianya — kita menari mengikuti iramanya, tapi diam-diam, di dalam hati, kita juga ikut memohon kepada seseorang untuk menerima kita apa adanya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Cara terbaik memahami a-ha adalah mendengarkannya secara utuh, bukan hanya satu lagu viral. Telusuri album dan kompilasi mereka untuk merasakan bagaimana suara synth-pop Norwegia ini berkembang dari waktu ke waktu.

📚 Ikuti kisahnya

Di balik lagu pop yang cerah ada cerita perjuangan tiga anak muda yang nekat. Bacaan tentang a-ha dan era MTV membantu memahami betapa mustahilnya kesuksesan yang akhirnya mereka raih.

🌍 Kunjungi tempatnya

a-ha lahir dari Norwegia tapi ditempa di London. Menelusuri kedua tempat ini memberi konteks geografis pada lagu yang terdengar begitu universal.

🎸 Rasakan sendiri

Tidak ada yang lebih memuaskan daripada mencoba memainkan atau menyanyikan lagu ini sendiri — termasuk menantang diri mencapai nada falsetto yang terkenal mustahil itu.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
80s