SONGFABLE · 1968

Sympathy for the Devil

THE ROLLING STONES · 1968

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sympathy for the Devil - The Rolling Stones (1968)

Sebuah samba rock yang dibuka dengan teriakan "whoo whoo" yang ikonik, lagu ini bukan sekadar pemujaan kepada iblis seperti yang dituduhkan banyak orang. "Sympathy for the Devil" adalah karya sastra rock paling berani dari The Rolling Stones — sebuah meditasi gelap tentang kejahatan kolektif manusia, di mana iblis hanyalah cermin yang memantulkan tangan-tangan berdarah peradaban itu sendiri. Lebih dari setengah abad setelah dirilis, lagu ini terus menggema sebagai pengingat bahwa setan yang sebenarnya jarang memiliki tanduk.

Hook

Tahun 1968. Dunia sedang terbakar. Mahasiswa Paris membangun barikade di Quartier Latin. Tank-tank Soviet menggilas Praha. Di Memphis, peluru menembus balkon Lorraine Motel dan merenggut Martin Luther King Jr. Beberapa minggu kemudian, di dapur Hotel Ambassador, Robert F. Kennedy roboh. Vietnam terus memuntahkan napalm. Dan di sebuah studio di London bernama Olympic Sound, Mick Jagger berdiri di depan mikrofon, menyanyikan sebuah lagu yang dibuka dengan perkenalan paling sopan dalam sejarah musik populer — sebuah perkenalan dari sosok yang mengaku sebagai pria kaya dan berselera tinggi.

Tapi sosok ini bukan pengusaha. Bukan bangsawan. Dia mengaku telah hadir di Yerusalem ketika Kristus mengalami keraguannya, hadir ketika dinasti Romanov mengalami kehancuran berdarah, hadir ketika perang-perang besar pecah di Eropa. Dia adalah Iblis itu sendiri — atau setidaknya, itulah yang ingin Jagger sampaikan kepada pendengar. Dengan iringan ritme samba Brasil yang dipadukan dengan piano boogie Nicky Hopkins, gitar fuzz Keith Richards, dan paduan suara backing vokal yang terdengar seperti pesta voodoo, "Sympathy for the Devil" memasuki dunia bukan sebagai lagu, melainkan sebagai pertanyaan moral yang dibungkus dalam selubung groove.

Pertanyaan itu sederhana, namun mengganggu: jika iblis benar-benar ada, dan jika dia menanyakan namamu dengan sopan, apakah kamu cukup berbudi luhur untuk menebak siapa dia? Dan lebih jauh lagi — apakah kamu yakin bahwa kejahatan-kejahatan besar dalam sejarah benar-benar pekerjaannya, atau pekerjaan tanganmu sendiri?

Background

Awal 1968, The Rolling Stones sedang berada dalam fase yang aneh. Album sebelumnya, "Their Satanic Majesties Request" (1967), adalah eksperimen psychedelic yang mencoba mengejar warisan "Sgt. Pepper" milik The Beatles — dan dianggap gagal oleh kritikus maupun penggemar. Brian Jones, sang pendiri band, mulai tenggelam dalam kabut narkotika dan paranoia. Mick Jagger dan Keith Richards menyadari bahwa untuk bertahan, band ini harus kembali ke akar bluesnya, namun dengan ambisi baru yang lebih literer.

Pada saat yang sama, Marianne Faithfull — kekasih Jagger waktu itu — sedang membaca sebuah novel Rusia berjudul "The Master and Margarita" karya Mikhail Bulgakov. Novel yang ditulis pada era Stalin dan baru terbit secara penuh pada 1967 ini bercerita tentang kunjungan iblis bernama Woland ke Moskow modern, di mana dia berinteraksi dengan birokrat Soviet dengan sopan, jenaka, dan menakutkan. Faithfull menyodorkan buku itu kepada Jagger, dan benih lagu mulai tumbuh.

Demo pertama lagu ini direkam dengan tempo folk yang lambat, hampir seperti balada Bob Dylan. Bisa didengar di film dokumenter "Sympathy for the Devil" karya sutradara Prancis Jean-Luc Godard (juga dirilis dengan judul "One Plus One"), yang menangkap proses rekaman lagu ini di Olympic Studios secara real-time. Dalam film itu, terlihat bagaimana lagu ini bertransformasi melalui puluhan take — dari folk muram menjadi rock psychedelic, dan akhirnya menjadi pesta samba yang penuh perkusi. Keith Richards-lah yang mengusulkan ritme samba; dia bermain bass dengan keyakinan yang menggebu, sementara perkusi conga ditangani oleh Rocky Dijon. Brian Jones, sang multi-instrumentalis legendaris, hampir tidak hadir dalam rekaman — sebuah pertanda bahwa eranya di band sudah berakhir.

Vokal latar "whoo whoo" yang ikonik itu — yang kemudian akan dinyanyikan oleh jutaan orang di stadion di seluruh dunia — bukan ide yang direncanakan. Itu muncul secara spontan dari Anita Pallenberg, Marianne Faithfull, dan beberapa kawan yang kebetulan ada di studio. Sebuah momen kebetulan yang menjadi salah satu hook paling dikenali dalam sejarah rock.

Lagu ini menjadi pembuka album "Beggars Banquet", yang dirilis Desember 1968 — sebuah album yang menandai kelahiran kembali The Rolling Stones sebagai band rock paling berbahaya dan paling literer di dunia.

Real meaning

Mitos pertama yang harus dibongkar: "Sympathy for the Devil" bukan lagu setanis. The Rolling Stones bukan band pemuja iblis, dan Jagger tidak pernah menjual jiwanya di persimpangan jalan seperti Robert Johnson. Tuduhan satanik yang melekat pada band ini sebagian besar adalah hasil paranoia kultural — terutama setelah tragedi Altamont 1969, ketika seorang penonton ditikam mati oleh anggota Hells Angels persis ketika band membawakan lagu ini. Sejak saat itu, banyak orang menganggap lagu ini sebagai kutukan, atau bahkan undangan kepada kekuatan jahat.

Tapi bacaan yang lebih cermat menunjukkan hal yang berbeda. Narator lagu ini — sang "pria kaya dan berselera tinggi" — memang mengaku sebagai iblis. Namun, klaim-klaim yang dia ajukan menarik untuk dicermati. Dia mengaku hadir di kematian Yesus, namun yang membunuh Yesus sebenarnya adalah Pontius Pilatus dan kerumunan yang berteriak. Dia mengaku ada di balik Revolusi Rusia dan eksekusi keluarga Tsar, namun yang menarik pelatuk adalah para Bolshevik. Dia mengaku menyaksikan Perang Seratus Tahun dan pertempuran-pertempuran besar, namun yang menumpahkan darah adalah para jenderal dan tentara manusia.

Yang menarik adalah bahwa lagu ini awalnya memiliki baris yang menyebut "John F. Kennedy" sebagai korban — namun ketika Robert F. Kennedy dibunuh di tengah-tengah proses rekaman, Jagger mengubahnya menjadi bentuk jamak "the Kennedys". Sebuah penyesuaian kecil yang menunjukkan bahwa lagu ini ditulis dalam dialog langsung dengan peristiwa-peristiwa kontemporer.

Inilah trik retoris yang brilian dari Jagger: dengan membuat iblis mengambil kredit atas kejahatan-kejahatan besar manusia, dia sebenarnya sedang menggugat manusia. Iblis di sini bukan kekuatan supranatural yang menggoda manusia ke dalam dosa — dia adalah cermin, atau lebih tepatnya, alibi. Setiap kali manusia melakukan kekejaman, ada godaan untuk mengatakan "setan yang membuatku melakukannya". Lagu ini menertawakan alibi tersebut.

Dalam bait penutupnya, narator menantang pendengar untuk memiliki "courtesy" dan "sympathy" — kesopanan dan empati — untuk menebak namanya. Tapi sesungguhnya, dia sedang meminta sesuatu yang lebih dalam: pengakuan bahwa kejahatan manusia adalah produk manusia itu sendiri. Setan hanyalah konsep yang kita ciptakan untuk meletakkan tanggung jawab moral di tempat lain.

Ini sangat sesuai dengan tradisi sastra yang mempengaruhi lagu ini. Bulgakov dalam "The Master and Margarita" memang menampilkan iblis sebagai karakter, namun iblisnya jauh lebih sopan dan rasional dibanding birokrat Soviet yang ditemuinya. Goethe dalam "Faust" — yang juga menjadi referensi tak langsung — menampilkan Mephistopheles sebagai roh yang ingin melakukan kejahatan namun selalu menghasilkan kebaikan. Jagger berdiri dalam tradisi ini: iblis sebagai pembongkar topeng moral manusia.

Dalam wawancara kemudian, Jagger menjelaskan bahwa dia ingin menulis lagu yang seperti "Pieces of Eight" milik Baudelaire — sebuah meditasi puitis tentang kejahatan dalam tradisi simbolisme Prancis. Dia berhasil. Lagu ini bukan tentang iblis; ini tentang kita.

Cultural context for Indonesian listeners

Bagi telinga Indonesia, "Sympathy for the Devil" memiliki resonansi yang unik. Pertama, karena ritme dasarnya — samba dengan perkusi conga — terasa akrab bagi siapa pun yang pernah mendengarkan musik tropis. Indonesia, dengan tradisi gamelan, dangdut, dan keroncong, memiliki kepekaan terhadap groove perkusi yang membuat lagu ini bisa diterima bahkan oleh pendengar yang tidak terbiasa dengan rock Barat. Bukan kebetulan bahwa lagu ini sering menjadi favorit jamming di kafe-kafe Jakarta dan Bandung.

Tapi resonansi yang lebih dalam terletak pada substansi liriknya. Slank, salah satu band rock terbesar Indonesia, telah lama dianggap sebagai "Rolling Stones-nya Indonesia" — bukan hanya karena ketergantungan estetika mereka pada blues rock 70-an, tapi juga karena sikap mereka yang sering kritis terhadap kemunafikan moral. Album "PISS" (1998) yang dirilis di tengah krisis moneter dan kerusuhan Mei adalah dokumen rock politik yang berdiri sejajar dengan "Beggars Banquet" dalam semangatnya — merekam momen ketika sebuah negara seolah-olah dimasuki oleh iblis, padahal iblis itu adalah refleksi dari ketamakan dan kekuasaan manusia itu sendiri.

Iwan Fals, sang folk singer-songwriter yang menjadi suara kritis Orde Baru, juga berbagi DNA dengan tradisi Jagger. Lagu-lagu seperti "Bento" atau "Bongkar" tidak menunjuk setan supranatural — mereka menunjuk manusia berdasi yang mengeksploitasi rakyat kecil. Iwan Fals memahami bahwa lagu protes paling tajam bukan yang berteriak "setan!", tapi yang menertawakan bagaimana kekuasaan selalu mencari kambing hitam untuk kejahatannya sendiri.

Dewa 19, terutama pada era mereka memasuki fase eksperimen-spiritual dengan album "Laskar Cinta" (2004), juga menggali tema-tema serupa — bagaimana cinta dan kebencian, kebaikan dan kejahatan, sering kali tinggal di rumah yang sama dalam diri manusia. Ahmad Dhani, dengan ambisi liriknya yang kadang berlebihan namun selalu ambisius, jelas terpengaruh oleh tradisi rock literer yang dipionirkan oleh Jagger dan Richards.

God Bless, band rock legendaris yang dipimpin Achmad Albar, mungkin adalah jembatan paling langsung antara semangat hard rock 70-an Barat dan panggung Indonesia. Lagu "Kehidupan" mereka memiliki keberanian eksistensial yang serupa dengan "Sympathy for the Devil" — mempertanyakan apa artinya hidup, mati, dan moralitas di tengah dunia yang absurd. Tidak mengejutkan jika lagu Rolling Stones ini sering masuk dalam playlist generasi rocker Indonesia yang besar dengan God Bless.

Java Jazz Festival, yang setiap tahun di Jakarta menyatukan musisi jazz, fusion, dan rock dari seluruh dunia, juga menunjukkan bagaimana ritme samba dan groove poliritmis yang menjadi fondasi "Sympathy for the Devil" tetap relevan. Banyak musisi muda Indonesia, dari Indra Lesmana hingga generasi baru seperti Barasuara, memahami bahwa rock yang paling kuat sering kali tidak terdengar seperti rock — dia bisa terdengar seperti samba, seperti jazz, seperti gamelan, asalkan ide di baliknya cukup berani.

Dan akhirnya, ada konteks historis yang lebih dalam. 1968, tahun lagu ini dirilis, adalah tahun ketika Indonesia juga sedang berada di tengah transisi traumatis. Tragedi 1965-1966 masih segar, dan pertanyaan tentang kejahatan kolektif — siapa yang bertanggung jawab atas pembantaian massal? Siapa setan dalam cerita itu? — adalah pertanyaan yang hingga hari ini belum terjawab sepenuhnya di Indonesia. Mendengar Jagger menyanyi tentang iblis yang mengaku hadir di setiap pembantaian dalam sejarah, pendengar Indonesia yang reflektif tidak bisa tidak memikirkan ladang-ladang di Jawa Tengah, Bali, dan Sumatera di mana pertanyaan moral serupa terkubur bersama jenazah.

Why it resonates today

Lebih dari setengah abad setelah dirilis, "Sympathy for the Devil" terus menemukan pendengar baru di setiap generasi. Mengapa? Karena pertanyaan moral yang diajukannya tidak pernah usang.

Di era media sosial, di mana algoritma mendorong polarisasi dan setiap kelompok melihat lawannya sebagai "setan", lagu ini menjadi pengingat yang menusuk. Setiap kali sebuah komunitas online berteriak "musuh kami adalah iblis", Jagger berbisik dari tahun 1968: lihat tanganmu sendiri. Kejahatan kolektif jarang membutuhkan iblis untuk mengoperasikannya — manusia, dengan ketakutan, ketamakan, dan kepatuhan buta mereka, sudah cukup.

Di era perubahan iklim, lagu ini juga menemukan dimensi baru. Siapa "iblis" di balik krisis ekologis? Bukan satu sosok jahat. Itu adalah jutaan keputusan kecil, jutaan tangan yang menandatangani kontrak ekstraksi, jutaan konsumen yang terus membeli. Sang iblis dalam lagu Jagger akan tertawa: lihat, bahkan untuk membakar planetmu sendiri kalian tidak butuh aku.

Di Indonesia khususnya, di mana wacana publik sering kali terjebak antara pemujaan tokoh dan demonisasi lawan, lagu ini menawarkan jalan ketiga. Politik bukan pertarungan antara malaikat dan setan. Politik adalah pertarungan antara manusia dan manusia, di mana setiap pihak memiliki kapasitas untuk kebaikan dan kejahatan. Mengakui hal ini bukan relativisme moral — ini adalah kedewasaan moral.

Secara musikal, lagu ini juga terus mengejutkan. Produksi Jimmy Miller menciptakan dinamika yang luar biasa — dari pembukaan perkusi yang misterius, naik ke crescendo gitar fuzz Keith Richards yang menjerit (salah satu solo gitar paling singkat namun paling berkesan dalam sejarah rock), hingga outro yang seolah-olah pesta tidak pernah berakhir. Setiap kali lagu ini diputar di stadion — entah di Hyde Park 1969, di Glastonbury 2013, atau di salah satu konser reuni mereka — kerumunan tetap menyanyikan "whoo whoo" bersama-sama, seolah-olah menjawab pertanyaan iblis dengan sopan: ya, kami tahu siapa kamu.

Karena pada akhirnya, "Sympathy for the Devil" bukan lagu tentang iblis sama sekali. Ini lagu tentang cermin. Dan setiap kali kita mendengarnya, kita melihat siapa kita sebenarnya — bukan korban dari kekuatan jahat di luar diri kita, tapi penulis cerita kita sendiri, dengan segala kemuliaan dan kebrutalan yang menyertainya.

Cara menyelami lebih dalam

🎧 Dengarkan

Beggars Banquet (The Rolling Stones) Album penuh tempat lagu ini berada — sebuah karya rock literer yang juga memuat "Street Fighting Man" dan "Salt of the Earth", merekam semangat revolusioner sekaligus muram tahun 1968. → Search

PISS (Slank) Album Slank tahun 1998 yang merekam Indonesia di ambang reformasi, dengan blues rock kasar dan lirik yang berani menunjuk kemunafikan kekuasaan — saudara spiritual dari "Beggars Banquet" dalam konteks Asia Tenggara. → Search

📚 Baca

The Master and Margarita (Mikhail Bulgakov) Novel Rusia yang menginspirasi langsung lagu ini — sebuah satir tentang kunjungan iblis ke Moskow Soviet, di mana iblis ternyata lebih beradab daripada birokrat manusia. → Search

Life (Keith Richards) Otobiografi Keith Richards yang mendetailkan proses kreatif di balik era "Beggars Banquet", termasuk konflik dengan Brian Jones dan kelahiran groove samba lagu ini. → Search

🌍 Kunjungi

Olympic Studios, London Studio rekaman legendaris di Barnes, London, tempat lagu ini direkam. Kini menjadi bioskop dan kafe yang masih mempertahankan suasana historisnya — ziarah wajib bagi penggemar rock klasik yang berkunjung ke Inggris. → Search

Rolling Stones Exhibitionism / Music Tour Jakarta Pameran dan tur memorabilia Rolling Stones yang sesekali singgah di Asia Tenggara. Cek juga konser-konser tribute di venue Jakarta seperti M Bloc Space atau Hard Rock Cafe. → Search

🎸 Coba sendiri

Gitar elektrik untuk pemula plus efek fuzz Solo Keith Richards di lagu ini menggunakan fuzz tone klasik. Beli paket gitar elektrik dan pedal fuzz untuk merasakan langsung suara yang membakar studio Olympic tahun 1968. → Search

Conga atau djembe perkusi Ritme samba di lagu ini didorong oleh conga. Belajar memainkan instrumen perkusi tangan akan membuka pemahaman bagaimana groove poliritmis menggerakkan rock paling berani. → Search


🎵 Listen on all platforms

🤖 Pertanyaan lanjutan:

  1. Bagaimana tragedi Altamont 1969 mengubah persepsi publik terhadap lagu ini, dan mengapa The Rolling Stones sempat berhenti memainkannya selama bertahun-tahun?
  2. Apa perbedaan filosofis antara penggambaran iblis dalam "Sympathy for the Devil" dan dalam tradisi musik blues Mississippi yang menjadi akar Rolling Stones?
  3. Jika Iwan Fals atau Slank menulis versi Indonesia dari "Sympathy for the Devil", siapakah "iblis" yang akan mereka biarkan memperkenalkan dirinya, dan peristiwa sejarah mana yang akan diklaim olehnya?
Tags
60s