Stick Season
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Kejujuran yang tersembunyi di balik lagu yang terdengar riang
Ada satu trik yang membuat lagu ini menempel di kepala jutaan orang: musiknya berjalan cepat, ada tepukan, ada banjo, ada bagian yang membuat satu stadion penuh orang meneriakkannya bersama-sama. Tapi kalau kamu berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan apa yang diceritakan si narator, isinya adalah seseorang yang ditinggal, terjebak di kampung halaman yang tak pernah benar-benar ia cintai maupun benar-benar bisa ia tinggalkan, dan berulang kali menegaskan bahwa ia sudah baik-baik saja dengan nada orang yang jelas-jelas belum baik-baik saja.
Inilah yang kemudian populer disebut sebagai "sad banger": lagu sedih yang dikemas seperti lagu pesta. Kamu bisa melompat-lompat sambil menyanyikannya, dan baru sadar tiga bulan kemudian bahwa kamu sedang meneriakkan kalimat-kalimat paling menyakitkan yang pernah kamu setujui diam-diam.
Yang membuat "Stick Season" terasa berbeda dari ribuan lagu putus cinta lain bukan rasa sakitnya, melainkan lokasinya. Rasa sakit dalam lagu ini punya alamat. Ia punya jalan yang harus dilewati, punya rumah ayah, punya musim yang namanya tidak dikenal di sebagian besar dunia. Dan justru karena Noah Kahan menolak membuatnya universal, lagu ini malah menjadi universal.
Anak Vermont yang pulang dan menemukan lagunya di sana
Noah Kahan tumbuh di Strafford, sebuah kota kecil di negara bagian Vermont, Amerika Serikat. Populasinya hanya ratusan hingga seribuan orang. Ini bukan Amerika yang biasa kita lihat di film: bukan Los Angeles, bukan New York. Ini Amerika yang sunyi, dikelilingi hutan mapel, dengan tetangga yang mengenal namamu sejak kamu lahir dan tidak akan pernah berhenti memanggilmu dengan panggilan masa kecilmu.
Sebelum "Stick Season", Kahan sudah merilis album seperti Busyhead (2019) dan I Was / I Am (2021). Ia sempat diarahkan ke wilayah pop yang lebih licin dan lebih "aman" untuk radio. Karier berjalan, tapi belum meledak. Lalu datang periode pandemi, dan seperti banyak musisi lain, ia pulang ke kampung halamannya di Vermont.
Di situlah titik baliknya. Kabarnya, saat terjebak di rumah dengan pemandangan yang sama setiap hari, ia berhenti mencoba menulis lagu yang terdengar seperti lagu orang lain, dan mulai menulis tentang hal-hal yang paling spesifik dari hidupnya sendiri: dinginnya New England, obsesi kota kecil, keluarga, terapi, kecemasan, dan perasaan tertinggal saat teman-temanmu satu per satu pergi. Ia mulai memasukkan banjo, gitar akustik, dan struktur folk yang mengingatkan orang pada Mumford & Sons atau The Lumineers, tapi dengan lirik yang jauh lebih jujur dan lebih tidak sopan terhadap dirinya sendiri.
"Stick Season" dirilis sebagai singel pada pertengahan 2022 dan menjadi lagu judul album yang keluar pada Oktober tahun itu. Konon potongan lagunya sempat diunggah ke media sosial sebelum rilis resmi dan langsung mendapat respons besar, hingga akhirnya menyebar luas lewat TikTok. Album ini kemudian dirilis ulang dalam versi diperluas, Stick Season (We'll All Be Here Forever), pada 2023, dan mendorong Kahan ke nominasi Grammy kategori Best New Artist. Ada ironi manis di situ: seorang musisi yang sudah bertahun-tahun berkarya akhirnya disebut "artis baru" setelah ia berhenti berusaha terdengar seperti artis baru.
Buat pendengar Indonesia, ada satu jembatan yang membuat lagu ini terasa dekat meski Vermont ada di belahan dunia yang berbeda. Indonesia tidak punya musim gugur. Tapi Indonesia punya pancaroba: masa peralihan antara musim kemarau dan musim hujan, ketika langit tidak bisa diputuskan mau cerah atau mendung, angin bertingkah, dan hampir semua orang di sekitarmu tiba-tiba jatuh sakit. Pancaroba adalah musim yang tidak punya identitas, hanya punya status "sedang menuju". Itulah persis yang dimaksud stick season di New England, dan itulah kondisi batin si narator dalam lagu ini: sudah bukan siapa-siapa bagi orang yang ia cintai, tapi belum juga menjadi orang baru.
Membedah isi lagunya: pengakuan yang dibungkus penyangkalan
Ceritanya sederhana. Seseorang pergi. Si narator tinggal.
Tapi yang brilian adalah cara Kahan menyusun bukti-buktinya. Alih-alih menjelaskan perasaannya secara langsung, ia menyodorkan daftar hal-hal kecil yang tampak sepele: jalan yang ia lewati, rumah ayahnya, jendela, kabar tentang mantan kekasihnya yang kini menjalani hidup di tempat lain, kebiasaan-kebiasaan buruk yang katanya sudah ia tinggalkan. Ia bahkan menyinggung soal berhenti mengonsumsi sesuatu, soal urusan kesehatan mental, dan soal ambisi untuk keluar dari kota kecil itu.
Semua detail itu berfungsi seperti bukti di ruang sidang, dan si narator adalah pengacara yang buruk untuk kasusnya sendiri. Ia mengaku dirinya bebas, tapi seluruh isi kepalanya masih membangun ulang wajah dan kebiasaan orang yang pergi. Ia bilang ia lebih baik sendirian, lalu menghabiskan seluruh sisa lagu untuk membayangkan kehidupan yang sedang dijalani orang itu tanpa dirinya.
Ada satu lapisan lagi yang sering terlewat: lagu ini bukan hanya tentang kehilangan pasangan, tapi tentang kehilangan versi masa depan dirimu sendiri. Ketika seseorang pergi dari kota kecil dan kamu tidak ikut, yang hilang bukan cuma dia. Yang hilang adalah rencana bersama, kota lain yang harusnya kalian tinggali, kehidupan yang harusnya kamu jalani. Kamu tinggal di tempat yang sama, tapi tempat itu berubah maknanya: dari rumah menjadi ruang tunggu.
Musim menjadi metafora yang sempurna karena stick season punya sifat khusus. Ia tidak indah seperti musim gugur yang penuh warna, tidak dramatis seperti musim dingin bersalju. Ia hanya... telanjang. Pohon-pohon berdiri seperti ranting kering. Tanah berlumpur. Tidak ada yang bisa difoto. Tidak ada yang bisa dirayakan. Kamu hanya menunggu sesuatu terjadi, dan sementara itu semua yang biasanya tertutup dedaunan kini terlihat jelas, termasuk hal-hal yang selama ini kamu hindari.
Aransemennya memperkuat semua ini dengan cara yang licik. Tempo yang bergerak maju terus memberi kesan bahwa si narator sedang berjalan cepat, sibuk, produktif, sembuh. Tapi liriknya berputar-putar di tempat yang sama. Ada ketegangan antara gerak musik dan kemacetan emosi, dan ketegangan itulah yang membuat lagu ini terasa seperti seseorang yang lari sekencang mungkin di atas treadmill.
Kenapa lagu tentang kota kecil di Amerika bisa mendunia
Secara logika, lagu ini seharusnya tidak laku di luar New England. Istilah judulnya saja tidak dikenal oleh sebagian besar orang Amerika sendiri, apalagi pendengar internasional. Tapi justru di sinilah letak pelajarannya: kekhususan menciptakan keintiman.
Ketika seorang penulis lagu menyebutkan detail yang sangat lokal, pendengar tidak merasa terasing. Sebaliknya, otak pendengar otomatis menerjemahkan detail itu ke dalam versinya sendiri. Orang Inggris memikirkan kota industri kecil yang selalu hujan. Orang Irlandia memikirkan desa yang ditinggalkan generasi muda. Orang Indonesia memikirkan kampung halaman yang hanya ramai saat Lebaran, atau kos-kosan di Jakarta ketika teman seangkatanmu satu per satu pindah kota, menikah, atau pergi ke luar negeri.
Efeknya terbukti secara komersial. Lagu ini menyebar besar-besaran lewat TikTok, terutama saat November tiba di belahan bumi utara dan orang-orang mencari lagu untuk menemani suasana hati yang mendung. Kabarnya "Stick Season" bahkan mencapai posisi puncak tangga lagu singel di Britania Raya dan Irlandia pada awal 2024, lebih dari setahun setelah rilis pertamanya, sebuah pola yang sangat tidak biasa untuk industri musik modern yang biasanya melupakan lagu dalam hitungan minggu.
Album ini juga melahirkan ekosistem kolaborasi yang mengejutkan luasnya: versi-versi ulang bersama Post Malone, Hozier, Kacey Musgraves, Gracie Abrams, Sam Fender, Lizzy McAlpine, dan Brandi Carlile. Deretan nama itu memperlihatkan sesuatu: Kahan berhasil berdiri di persimpangan antara country, folk, indie, dan pop arus utama tanpa harus mengubah suaranya. Di luar musik, ia juga vokal soal kesehatan mental dan mendirikan inisiatif bernama Busyhead Project yang menyalurkan dukungan untuk layanan kesehatan mental, sesuatu yang membuat lirik-liriknya terasa bukan sekadar estetika kesedihan.
Dan ada satu warisan kecil yang lucu: berkat lagu ini, istilah "stick season" kini dikenal orang di Manila, Jakarta, Seoul, dan São Paulo, kota-kota yang seumur hidup tidak akan pernah mengalaminya.
Kenapa lagunya masih menempel sampai sekarang
Karena hampir semua orang, di satu titik, pernah menjadi orang yang tinggal.
Tinggal di kota yang sama saat teman-teman merantau. Tinggal di pekerjaan yang sama saat orang lain naik level. Tinggal di dalam satu hubungan yang sudah lama berakhir secara emosional tapi belum diumumkan. Tinggal di dalam versi dirimu yang sebenarnya sudah kamu lampaui, tapi belum kamu tinggalkan.
"Stick Season" memberi nama pada kondisi itu, dan pemberian nama adalah bentuk pertolongan yang paling sederhana. Ketika sesuatu punya nama, ia berhenti terasa seperti kegagalan pribadi dan mulai terasa seperti musim: sesuatu yang datang, berlangsung, dan pada akhirnya berganti.
Lagu ini juga jujur soal satu hal yang jarang diakui: pemulihan itu tidak lurus. Kamu bisa benar-benar merasa sudah selesai di pagi hari, lalu hancur lagi saat malam karena mencium bau yang mengingatkanmu pada seseorang. Narator dalam lagu ini tidak berbohong ketika bilang ia baik-baik saja; ia hanya sedang berada di jam-jam ketika ia mempercayainya.
Untuk pendengar Indonesia yang akrab dengan konsep merantau, ada resonansi tambahan. Lagu ini menangkap sisi lain dari cerita perantauan yang jarang diceritakan. Kita punya banyak lagu tentang orang yang pergi dan rindu kampung halaman. Jauh lebih sedikit lagu tentang orang yang tetap tinggal di kampung halaman dan merindukan orang-orang yang pergi. "Stick Season" adalah lagu dari sisi itu: dari sudut pandang orang yang melambaikan tangan di peron, lalu pulang ke rumah yang tiba-tiba terasa terlalu besar.
Dan mungkin itulah sebabnya lagu ini bertahan. Ia tidak menjanjikan bahwa salju akan turun. Ia hanya duduk bersamamu di tengah musim yang tidak punya nama, dan bilang bahwa berdiri telanjang seperti ranting di bulan November bukan berarti kamu mati. Itu hanya berarti kamu sedang menunggu.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Tenggelam dalam suaranya
- Noah Kahan Stick Season vinyl — Album ini dibuat untuk didengar utuh dari awal sampai akhir, bukan diacak. Format fisik memaksamu duduk dan mengikuti alur emosinya dari lagu pembuka sampai penutup, persis seperti membaca satu buku catatan harian orang lain.
- Hozier Unreal Unearth album — Hozier ikut menyanyikan ulang salah satu lagu di album versi perluasan Kahan, dan pendekatannya terhadap folk yang gelap dan sastrawi adalah tetangga terdekat dari dunia "Stick Season". Kalau kamu suka rasa dingin dan lembap dalam musik, ini langkah berikutnya.
- over ear headphone audiophile — Banyak keindahan lagu ini bersembunyi di detail: petikan banjo di latar, napas sebelum baris, lapisan vokal yang menumpuk di bagian akhir. Dengan headphone yang layak, lagu ini berubah dari lagu ramai menjadi percakapan berbisik.
📚 Mengikuti ceritanya
- Robert Frost poetry collection — Frost adalah penyair yang identik dengan New England, wilayah yang sama dengan kampung halaman Kahan, dan ia menulis tentang salju, hutan, serta jalan yang tidak diambil. Membacanya membuatmu paham kenapa lanskap sedingin itu melahirkan kesedihan yang begitu spesifik.
- seasonal affective disorder book — Lagu ini menyentuh soal suasana hati yang bergerak mengikuti musim dan cahaya, tema yang dibahas serius dalam literatur kesehatan mental. Bacaan semacam ini menjelaskan kenapa "bulan tertentu terasa lebih berat" bukan sekadar drama.
- songwriting craft book lyrics — Kekuatan "Stick Season" ada pada teknik: detail konkret mengalahkan pernyataan abstrak. Buku tentang kerajinan menulis lagu akan menunjukkan bagaimana trik sederhana itu bekerja, dan kenapa begitu banyak penulis melewatkannya.
🌍 Mengunjungi tempatnya
- Vermont travel guide book — Vermont adalah tokoh diam dalam lagu ini: hutan mapel, kota-kota kecil, jalan berlumpur di akhir musim gugur. Panduan perjalanan membantumu membayangkan skala kesunyian yang jadi latar cerita.
- New England fall foliage guide — Untuk memahami stick season, kamu perlu tahu apa yang hilang sebelumnya, yaitu ledakan warna daun yang menarik jutaan turis setiap tahun. Setelah pesta itu bubar, tinggallah musim yang jadi judul lagu ini.
- USA road trip planner map — Lagu ini penuh dengan gagasan tentang pergi dan tidak pergi, tentang jalan yang membawa orang keluar dari kota kecil. Merencanakan rute lewat kota-kota kecil timur laut Amerika adalah cara paling literal untuk merasakannya.
🎸 Mencobanya sendiri
- acoustic guitar beginner kit — Sebagian besar lagu ini bisa dimainkan dengan beberapa kunci dasar dan pola genjrengan yang stabil, itulah alasan lagu ini menyebar begitu cepat lewat video amatir. Gitar pertama sudah cukup untuk membuat ruang tamumu terdengar seperti Vermont.
- banjo 5 string starter — Warna khas album ini datang dari banjo yang berdenting di belakang vokal, instrumen yang membuat kesedihan terdengar seperti ajakan menari. Mencobanya sendiri akan mengubah cara kamu mendengar seluruh genre folk modern.
- guitar capo and picks set — Capo adalah alat rahasia musik folk untuk menyesuaikan nada dengan suaramu sendiri tanpa mengubah bentuk kunci. Dengan benda sekecil ini, lagu yang tadinya terlalu tinggi tiba-tiba jadi milikmu.
-
Apa sebenarnya arti "stick season" dan kenapa istilah itu terasa asing?
Istilah ini dipakai di wilayah New England, Amerika Serikat, untuk periode setelah daun-daun gugur habis tapi sebelum salju pertama turun, biasanya sekitar November. Pohon-pohon berdiri telanjang seperti ranting kering, tanah berlumpur, dan lanskapnya kehilangan warna sama sekali. Istilah ini nyaris tidak dikenal di luar wilayah tersebut, sehingga lagu inilah yang memperkenalkannya ke pendengar seluruh dunia. -
Kenapa lagu sesedih ini justru terdengar seperti lagu untuk melompat-lompat di konser?
Kontras itu disengaja dan menjadi ciri khas Noah Kahan, yang sering disebut sebagai pembuat "sad banger". Tempo cepat, tepukan, dan banjo memberi kesan gerak maju, sementara isi ceritanya berputar di tempat yang sama tanpa penyelesaian. Ketegangan antara musik yang bergerak dan emosi yang macet inilah yang membuat lagunya terasa hidup sekaligus menusuk. -
Adakah padanan rasa "stick season" untuk pendengar Indonesia yang tidak punya musim gugur?
Yang paling dekat adalah pancaroba, masa peralihan antara kemarau dan hujan ketika cuaca tidak bisa diputuskan dan suasana terasa menggantung. Sama seperti stick season, pancaroba bukan musim yang dirayakan, hanya musim yang harus dilewati. Secara emosional, itu persis kondisi narator dalam lagu ini: bukan lagi bagian dari masa lalu, tapi belum juga sampai ke masa depan.