Someone You Loved
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu galau paling terkenal di dunia yang sebenarnya bukan lagu putus cinta
Ada ironi yang manis di balik "Someone You Loved". Lagu ini sudah dipakai jutaan orang sebagai soundtrack patah hati: dinyanyikan di kamar kos jam dua pagi, dijadikan latar video TikTok tentang mantan, diputar di mobil sambil pura-pura ada debu di mata. Tapi Lewis Capaldi sendiri, dalam banyak wawancara, mengatakan bahwa titik berangkat lagu ini bukan seorang mantan pacar, melainkan neneknya yang meninggal dunia — dan perasaan aneh yang muncul setelahnya: bahwa ada seseorang yang selama ini menahan kamu agar tidak jatuh, dan tiba-tiba tangan itu tidak ada lagi.
Perbedaan itu penting, karena ia menjelaskan kenapa lagu ini terasa jauh lebih berat daripada lagu galau biasa. Lagu putus cinta umumnya berbicara tentang rindu, cemburu, atau penyesalan. "Someone You Loved" berbicara tentang sesuatu yang lebih struktural: hilangnya fondasi. Ini bukan "aku kangen kamu", melainkan "aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berdiri". Itulah sebabnya lagu ini bisa dipakai oleh orang yang baru diputusin, orang yang baru kehilangan orang tua, orang yang ditinggal sahabat, bahkan orang yang sedang berjarak dengan dirinya sendiri. Satu lagu, banyak jenis kehilangan.
Dan justru di situ letak kejeniusan tak sengajanya. Capaldi menulis sesuatu yang cukup spesifik untuk terasa jujur, tapi cukup terbuka untuk kamu isi dengan wajahmu sendiri.
Anak Bathgate bersuara serak yang tidak terlihat seperti bintang pop
Lewis Capaldi lahir tahun 1996 dan besar di Bathgate, sebuah kota kecil di West Lothian, Skotlandia — bukan London, bukan Los Angeles, melainkan kota yang oleh orang lokal sendiri sering dijadikan bahan bercandaan. Ia mulai manggung di pub sejak usia sangat belia, membawakan lagu-lagu orang lain di depan penonton yang setengahnya lebih peduli pada bir mereka. Latar itu terdengar jelas di suaranya: serak, sedikit pecah di ujung, tidak pernah terdengar seperti hasil pelatihan vokal mahal. Ia menyanyi seperti orang yang sudah pernah menyanyi sampai capek.
Bagian yang paling disukai publik adalah kontrasnya. Di atas panggung ia menyanyikan lagu-lagu yang membuat orang menangis; begitu lagu selesai, ia langsung melawak dengan humor Skotlandia yang blak-blakan dan sering kali agak kotor. Di media sosial ia mengolok-olok dirinya sendiri tanpa henti — soal penampilannya, soal fakta bahwa ia dikenal sebagai "penjual lagu sedih", soal betapa absurdnya hidupnya berubah. Kombinasi itu membuat pendengar merasa ia manusia biasa yang kebetulan bisa menyanyi, bukan produk industri yang dipoles.
"Someone You Loved" dirilis pada November 2018 sebagai bagian dari EP Breach, lalu menjadi tulang punggung album debutnya Divinely Uninspired to a Hellish Extent (2019) — judul yang, seperti biasa, adalah lelucon Capaldi tentang dirinya sendiri. Lagu ini ditulis bersama tim penulis lagu Inggris; struktur produksinya sangat sederhana: piano, penumpukan lapisan yang pelan-pelan naik, lalu satu ledakan emosi di bagian akhir. Tidak ada trik. Yang menjual justru keputusan untuk tidak menyembunyikan cacat suara.
Hasilnya di luar dugaan siapa pun. Lagu ini bertengger di puncak tangga lagu Inggris selama berminggu-minggu, kemudian merangkak naik di Amerika Serikat hingga menempati posisi nomor satu Billboard Hot 100 pada akhir 2019 — sebuah pencapaian langka untuk penyanyi Skotlandia yang setahun sebelumnya masih relatif tidak dikenal. Lagu ini juga memenangi Brit Award untuk Song of the Year dan masuk nominasi Grammy kategori Song of the Year, panggung yang biasanya diisi nama-nama raksasa.
Buat pendengar di Indonesia, koneksinya terasa sangat wajar. Kita punya tradisi panjang mencintai lagu mellow yang lirih dan personal — dari era balada radio, lagu-lagu galau yang jadi ritual pasca putus, sampai gelombang penyanyi kontemporer yang menjadikan kesedihan sebagai bahasa utama. "Someone You Loved" masuk ke ekosistem itu seperti pulang ke rumah. Ia menjadi lagu wajib di daftar karaoke, materi favorit untuk cover akustik di YouTube dan Instagram, pilihan aman untuk musisi kafe di Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta, dan — ini yang menarik — sering juga dipakai di acara pernikahan, meski maknanya sama sekali bukan tentang bahagia selamanya. Barangkali karena di telinga banyak orang, lagu ini terdengar seperti pengakuan betapa besar peran satu orang dalam hidup kita. Dan itu, di konteks Indonesia yang sangat menghargai keluarga dan kebersamaan, terasa relevan bahkan tanpa perlu memahami setiap kata bahasa Inggrisnya.
Membedah maknanya: kehilangan pijakan, bukan sekadar kehilangan pacar
Kalau kamu membaca liriknya baik-baik (tanpa perlu saya kutip di sini), kamu akan sadar bahwa lagu ini sebenarnya bercerita tentang periode setelah — bukan momen perpisahannya sendiri. Tidak ada adegan pertengkaran, tidak ada tuduhan, tidak ada penjelasan siapa salah siapa. Yang ada adalah deskripsi tentang bangun pagi di dunia yang bentuknya sudah berubah, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba kehilangan alasan, tentang perasaan mati rasa yang datang bergantian dengan rasa sakit yang tajam.
Inti emosionalnya berputar di satu gagasan: si penutur menyadari bahwa selama ini ia bersandar pada seseorang jauh lebih dalam daripada yang ia sadari. Orang itu bukan sekadar pelengkap kebahagiaan, melainkan semacam penyangga yang membuat hidupnya tetap tegak. Ketika penyangga itu dicabut, yang runtuh bukan hanya hubungan, tapi juga rasa aman, rutinitas, bahkan identitas. Ini kesedihan tipe kedua — bukan "aku sedih karena kamu pergi", melainkan "aku tidak tahu siapa aku tanpa kamu di sana".
Ada juga nuansa pengakuan bersalah yang halus. Penutur seperti sedang menyesali bahwa ia baru mengerti nilai orang itu setelah semuanya terlambat, bahwa ia terlalu banyak menerima dan terlalu sedikit menyadari. Perasaan semacam ini sangat khas dalam duka kehilangan anggota keluarga: rasa bersalah karena tidak cukup sering menelepon, tidak cukup sering pulang, tidak cukup sering bilang terima kasih. Itulah kenapa penjelasan Capaldi tentang neneknya membuat lagu ini tiba-tiba masuk akal secara berbeda — dan jauh lebih menyakitkan.
Struktur musiknya memperkuat itu. Lagu dibuka nyaris kosong, hanya piano dan suara yang setengah berbisik, seolah penutur belum punya tenaga untuk bicara keras. Lalu drum masuk, lapisan menumpuk, dan bagian klimaks meledak dengan suara Capaldi yang sengaja dibiarkan terdengar tegang dan hampir habis. Banyak penyanyi akan meminta take ulang untuk menghilangkan keretakan itu. Di sini keretakan itu justru pesannya: orang yang benar-benar hancur memang tidak bernyanyi dengan rapi.
Video klip yang mengubah percakapan, dan warisan yang tak direncanakan
Salah satu keputusan paling berani seputar lagu ini ada di video musiknya. Alih-alih membuat drama percintaan, timnya membuat cerita tentang seorang pria yang berduka setelah kehilangan istrinya, dan tentang seseorang lain yang hidup berkat donor organ. Yang membintanginya adalah Peter Capaldi — aktor Skotlandia yang dikenal luas lewat Doctor Who dan The Thick of It, dan yang kabarnya masih berkerabat jauh dengan Lewis. Video ini dibuat bekerja sama dengan pihak yang mengampanyekan donor organ di Inggris, di periode ketika undang-undang terkait persetujuan donor sedang menjadi perbincangan publik.
Efeknya melampaui musik. Lagu yang semula dibaca sebagai balada patah hati mendadak punya lapisan kedua yang jauh lebih besar: tentang kematian, tentang apa yang tersisa dari seseorang setelah ia pergi, tentang kemungkinan bahwa kehilangan satu orang bisa menjadi awal hidup orang lain. Untuk sebuah lagu pop nomor satu, itu bukan pilihan aman.
Warisannya kemudian tumbuh dengan cara yang jarang terjadi. "Someone You Loved" menjadi salah satu lagu paling banyak diputar di layanan streaming sepanjang dekade, dengan angka pemutaran menembus miliaran. Ia menjadi materi audisi wajib di kompetisi menyanyi di banyak negara, termasuk Indonesia. Ia dipakai di ruang tunggu rumah sakit, di video peringatan kepergian seseorang, di kompilasi kelulusan sekolah — konteks yang tidak ada hubungannya dengan asmara, tapi semuanya berhubungan dengan perpisahan.
Sementara itu, Capaldi sendiri menjalani perjalanan yang tak kalah berat. Ia terbuka soal kecemasan dan serangan panik, dan kemudian mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis sindrom Tourette. Pada 2023 ia mengambil jeda dari dunia musik untuk memulihkan kesehatan mentalnya, setelah penampilan di sebuah festival besar di Inggris yang berakhir dengan penonton menyanyikan lagunya untuknya ketika ia kesulitan melanjutkan. Momen itu, bagi banyak orang, menjadi gambar paling jujur tentang hubungan antara seorang musisi dan lagunya: kali ini penontonlah yang menjadi penyangga.
Kenapa lagu ini masih nyangkut sampai sekarang
Pertama, karena lagu ini menolak menjadi spesifik. Tidak disebut nama, tidak disebut kota, tidak disebut penyebab perpisahan. Ruang kosong itu adalah undangan. Kamu bisa menaruh mantanmu di sana, atau kakekmu, atau sahabat yang pindah negara, atau versi dirimu sebelum semuanya berubah. Lagu-lagu yang bertahan puluhan tahun biasanya punya sifat ini: cukup jelas untuk dipercaya, cukup lapang untuk ditempati.
Kedua, karena ia jujur soal ketergantungan. Budaya modern sering mendorong narasi "kamu tidak butuh siapa-siapa untuk bahagia". Lagu ini melakukan hal sebaliknya — ia mengakui bahwa manusia memang saling menopang, dan bahwa kehilangan penopang itu benar-benar melumpuhkan. Ada kelegaan tersendiri ketika sebuah lagu berani bilang "iya, kamu memang serapuh itu, dan tidak apa-apa".
Ketiga, karena suaranya tidak sempurna. Di era ketika hampir semua rekaman bisa dipoles sampai licin, keretakan suara Capaldi terdengar seperti bukti. Bukti bahwa ada manusia di balik mikrofon, bukan mesin. Bagi generasi pendengar yang tumbuh dengan kecurigaan terhadap segala hal yang terlalu rapi, ketidaksempurnaan justru menjadi mata uang kepercayaan.
Dan keempat — mungkin yang paling penting di Indonesia — karena lagu ini sangat bisa dinyanyikan bersama. Melodi refrainnya sederhana, jangkauan nadanya menantang tapi tidak mustahil, dan puncaknya memberi ruang untuk berteriak. Di karaoke, di acara kantor, di gitaran depan kosan, lagu sedih yang dinyanyikan ramai-ramai berubah fungsi: dari ratapan pribadi menjadi ritual kolektif. Kesedihan yang dibagi dengan sepuluh orang bukan lagi kesedihan yang sama.
Barangkali itulah kesimpulan paling manis dari lagu tentang kehilangan penyangga ini. Dalam praktiknya, ia justru menjadi penyangga baru bagi jutaan orang yang menyanyikannya — termasuk, pada satu malam di Inggris, bagi orang yang menulisnya.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Rendam telingamu dalam suaranya
- Album debut Lewis Capaldi "Divinely Uninspired to a Hellish Extent" dalam bentuk fisik — Mendengarkan "Someone You Loved" sendirian di playlist itu satu hal; mendengarnya sebagai bagian dari album penuh adalah pengalaman berbeda. Lagu-lagu di sekitarnya memperlihatkan bahwa Capaldi bukan penulis satu tema, dan bahwa humor gelapnya juga menyusup ke dalam musiknya.
- Headphone over-ear untuk mendengar detail vokal dan dinamika lagu — Kekuatan lagu ini ada di transisi pelan menuju ledakan di bagian akhir. Dengan speaker laptop, kamu hanya mendengar melodi; dengan headphone yang layak, kamu mendengar napas, keretakan suara, dan lapisan yang menumpuk satu per satu.
- Kompilasi balada piano modern dan lagu-lagu sedih terbaik — Untuk memahami di mana posisi lagu ini dalam tradisi balada piano, dengarkan berdampingan dengan karya-karya sejenis. Kamu akan cepat sadar apa yang membuat versi Capaldi terasa lebih kasar dan lebih manusiawi.
📚 Ikuti ceritanya
- Buku tentang sejarah musik pop Inggris modern — Kemunculan Capaldi tidak terjadi di ruang hampa. Buku-buku ini menjelaskan bagaimana Inggris berulang kali melahirkan penyanyi-penulis lagu bersuara mentah yang tiba-tiba menguasai tangga lagu dunia, dan kenapa polanya terus berulang.
- Buku tentang seni menulis lagu dan struktur lagu populer — "Someone You Loved" adalah studi kasus yang nyaris sempurna soal bagaimana kesederhanaan struktur bisa mengalahkan kerumitan. Membaca teorinya membuatmu mendengar lagu ini dengan telinga yang berbeda selamanya.
- Buku tentang duka, kehilangan, dan proses pulih — Karena lagu ini berakar pada duka kehilangan anggota keluarga, membaca literatur tentang berkabung memberi konteks yang tak bisa diberikan oleh analisis musik mana pun. Banyak pembaca menemukan bahwa perasaan yang mereka kira aneh ternyata sangat umum.
🌍 Kunjungi tempatnya
- Panduan perjalanan Skotlandia dan wilayah sekitar Glasgow — Bathgate, kota tempat Capaldi tumbuh, terletak di antara Glasgow dan Edinburgh: wilayah kota kecil yang tidak glamor tapi punya karakter kuat. Membaca panduannya membantu membayangkan pub-pub tempat ia dulu manggung sebagai remaja.
- Buku foto dan lanskap Skotlandia — Ada sesuatu dalam cuaca dan cahaya Skotlandia yang cocok dengan nada lagu ini. Melihat foto-fotonya sambil mendengarkan lagunya adalah kombinasi yang mengejutkan efektif.
- Peta dan perlengkapan perjalanan untuk menjelajah Britania Raya — Kalau kamu tipe yang suka menyusun rute musik, jalur Glasgow–Bathgate–Edinburgh bisa jadi perjalanan sehari yang menyenangkan, lengkap dengan venue-venue kecil yang masih aktif sampai sekarang.
🎸 Rasakan sendiri
- Buku partitur dan chord lagu-lagu pop untuk piano — Progresi akor lagu ini termasuk yang paling ramah pemula, dan itu bagian dari rahasianya. Memainkannya sendiri di piano membuatmu langsung paham kenapa bagian akhirnya terasa seperti dilepas dari genggaman.
- Gitar akustik untuk pemula sampai menengah — Versi akustik lagu ini sudah menjadi standar di panggung kafe mana pun, termasuk di Indonesia. Dengan beberapa akor dasar dan satu capo, kamu sudah bisa membawakannya di depan teman-teman.
- Mikrofon dan perangkat rekaman rumahan untuk cover lagu — Lagu ini adalah salah satu materi cover paling populer di internet karena menantang tapi tidak mustahil. Kalau kamu ingin merekam versimu sendiri, perangkat sederhana sudah cukup — yang menentukan tetap kejujuran penyampaiannya.
-
Jadi sebenarnya lagu ini tentang mantan pacar atau tentang neneknya?
Capaldi dalam beberapa kesempatan menyebut bahwa perasaan yang mendasari lagu ini berakar pada kepergian neneknya, meski publik terlanjur membacanya sebagai lagu putus cinta. Kemungkinan besar keduanya bercampur — penulis lagu jarang menarik dari satu sumber saja. Yang jelas, lagu ini sengaja dibiarkan tanpa nama dan tanpa detail, sehingga siapa pun bisa menempatkan kehilangannya sendiri di dalamnya. -
Kenapa video klipnya bercerita tentang donor organ, padahal lagunya tidak menyinggung itu sama sekali?
Video itu dibuat bekerja sama dengan kampanye donor organ di Inggris pada masa isu tersebut sedang jadi perbincangan publik, dan dibintangi aktor Peter Capaldi yang kabarnya masih berkerabat jauh dengan Lewis. Pilihan itu menggeser makna lagu dari perpisahan romantis ke perpisahan karena kematian. Hasilnya, lagu ini punya dua lapisan tafsir yang sama-sama sah. -
Kenapa lagu ini begitu populer di Indonesia dibanding banyak lagu pop Barat lain?
Selain melodinya yang mudah diingat, lagu ini cocok dengan tradisi kita mencintai lagu mellow yang lirih dan sangat personal, dari era balada radio sampai gelombang penyanyi galau masa kini. Ia juga sangat ramah untuk karaoke dan cover akustik — dua ekosistem yang di Indonesia sangat hidup. Kesedihan yang bisa dinyanyikan ramai-ramai selalu punya umur panjang di sini.