SONGFABLE · 2018

Someone You Loved

LEWIS CAPALDI · 2018

TL;DR: Semua orang mengira ini lagu putus cinta paling menyayat abad ini, padahal Lewis Capaldi berkali-kali bilang lagu ini lahir dari duka kehilangan neneknya — tentang bagaimana rasanya kehilangan orang yang selama ini diam-diam menjadi penopang hidupmu, bukan sekadar kekasih yang pergi.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu galau paling terkenal di dunia yang sebenarnya bukan lagu putus cinta

Ada ironi yang manis di balik "Someone You Loved". Lagu ini sudah dipakai jutaan orang sebagai soundtrack patah hati: dinyanyikan di kamar kos jam dua pagi, dijadikan latar video TikTok tentang mantan, diputar di mobil sambil pura-pura ada debu di mata. Tapi Lewis Capaldi sendiri, dalam banyak wawancara, mengatakan bahwa titik berangkat lagu ini bukan seorang mantan pacar, melainkan neneknya yang meninggal dunia — dan perasaan aneh yang muncul setelahnya: bahwa ada seseorang yang selama ini menahan kamu agar tidak jatuh, dan tiba-tiba tangan itu tidak ada lagi.

Perbedaan itu penting, karena ia menjelaskan kenapa lagu ini terasa jauh lebih berat daripada lagu galau biasa. Lagu putus cinta umumnya berbicara tentang rindu, cemburu, atau penyesalan. "Someone You Loved" berbicara tentang sesuatu yang lebih struktural: hilangnya fondasi. Ini bukan "aku kangen kamu", melainkan "aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berdiri". Itulah sebabnya lagu ini bisa dipakai oleh orang yang baru diputusin, orang yang baru kehilangan orang tua, orang yang ditinggal sahabat, bahkan orang yang sedang berjarak dengan dirinya sendiri. Satu lagu, banyak jenis kehilangan.

Dan justru di situ letak kejeniusan tak sengajanya. Capaldi menulis sesuatu yang cukup spesifik untuk terasa jujur, tapi cukup terbuka untuk kamu isi dengan wajahmu sendiri.

Anak Bathgate bersuara serak yang tidak terlihat seperti bintang pop

Lewis Capaldi lahir tahun 1996 dan besar di Bathgate, sebuah kota kecil di West Lothian, Skotlandia — bukan London, bukan Los Angeles, melainkan kota yang oleh orang lokal sendiri sering dijadikan bahan bercandaan. Ia mulai manggung di pub sejak usia sangat belia, membawakan lagu-lagu orang lain di depan penonton yang setengahnya lebih peduli pada bir mereka. Latar itu terdengar jelas di suaranya: serak, sedikit pecah di ujung, tidak pernah terdengar seperti hasil pelatihan vokal mahal. Ia menyanyi seperti orang yang sudah pernah menyanyi sampai capek.

Bagian yang paling disukai publik adalah kontrasnya. Di atas panggung ia menyanyikan lagu-lagu yang membuat orang menangis; begitu lagu selesai, ia langsung melawak dengan humor Skotlandia yang blak-blakan dan sering kali agak kotor. Di media sosial ia mengolok-olok dirinya sendiri tanpa henti — soal penampilannya, soal fakta bahwa ia dikenal sebagai "penjual lagu sedih", soal betapa absurdnya hidupnya berubah. Kombinasi itu membuat pendengar merasa ia manusia biasa yang kebetulan bisa menyanyi, bukan produk industri yang dipoles.

"Someone You Loved" dirilis pada November 2018 sebagai bagian dari EP Breach, lalu menjadi tulang punggung album debutnya Divinely Uninspired to a Hellish Extent (2019) — judul yang, seperti biasa, adalah lelucon Capaldi tentang dirinya sendiri. Lagu ini ditulis bersama tim penulis lagu Inggris; struktur produksinya sangat sederhana: piano, penumpukan lapisan yang pelan-pelan naik, lalu satu ledakan emosi di bagian akhir. Tidak ada trik. Yang menjual justru keputusan untuk tidak menyembunyikan cacat suara.

Hasilnya di luar dugaan siapa pun. Lagu ini bertengger di puncak tangga lagu Inggris selama berminggu-minggu, kemudian merangkak naik di Amerika Serikat hingga menempati posisi nomor satu Billboard Hot 100 pada akhir 2019 — sebuah pencapaian langka untuk penyanyi Skotlandia yang setahun sebelumnya masih relatif tidak dikenal. Lagu ini juga memenangi Brit Award untuk Song of the Year dan masuk nominasi Grammy kategori Song of the Year, panggung yang biasanya diisi nama-nama raksasa.

Buat pendengar di Indonesia, koneksinya terasa sangat wajar. Kita punya tradisi panjang mencintai lagu mellow yang lirih dan personal — dari era balada radio, lagu-lagu galau yang jadi ritual pasca putus, sampai gelombang penyanyi kontemporer yang menjadikan kesedihan sebagai bahasa utama. "Someone You Loved" masuk ke ekosistem itu seperti pulang ke rumah. Ia menjadi lagu wajib di daftar karaoke, materi favorit untuk cover akustik di YouTube dan Instagram, pilihan aman untuk musisi kafe di Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta, dan — ini yang menarik — sering juga dipakai di acara pernikahan, meski maknanya sama sekali bukan tentang bahagia selamanya. Barangkali karena di telinga banyak orang, lagu ini terdengar seperti pengakuan betapa besar peran satu orang dalam hidup kita. Dan itu, di konteks Indonesia yang sangat menghargai keluarga dan kebersamaan, terasa relevan bahkan tanpa perlu memahami setiap kata bahasa Inggrisnya.

Membedah maknanya: kehilangan pijakan, bukan sekadar kehilangan pacar

Kalau kamu membaca liriknya baik-baik (tanpa perlu saya kutip di sini), kamu akan sadar bahwa lagu ini sebenarnya bercerita tentang periode setelah — bukan momen perpisahannya sendiri. Tidak ada adegan pertengkaran, tidak ada tuduhan, tidak ada penjelasan siapa salah siapa. Yang ada adalah deskripsi tentang bangun pagi di dunia yang bentuknya sudah berubah, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba kehilangan alasan, tentang perasaan mati rasa yang datang bergantian dengan rasa sakit yang tajam.

Inti emosionalnya berputar di satu gagasan: si penutur menyadari bahwa selama ini ia bersandar pada seseorang jauh lebih dalam daripada yang ia sadari. Orang itu bukan sekadar pelengkap kebahagiaan, melainkan semacam penyangga yang membuat hidupnya tetap tegak. Ketika penyangga itu dicabut, yang runtuh bukan hanya hubungan, tapi juga rasa aman, rutinitas, bahkan identitas. Ini kesedihan tipe kedua — bukan "aku sedih karena kamu pergi", melainkan "aku tidak tahu siapa aku tanpa kamu di sana".

Ada juga nuansa pengakuan bersalah yang halus. Penutur seperti sedang menyesali bahwa ia baru mengerti nilai orang itu setelah semuanya terlambat, bahwa ia terlalu banyak menerima dan terlalu sedikit menyadari. Perasaan semacam ini sangat khas dalam duka kehilangan anggota keluarga: rasa bersalah karena tidak cukup sering menelepon, tidak cukup sering pulang, tidak cukup sering bilang terima kasih. Itulah kenapa penjelasan Capaldi tentang neneknya membuat lagu ini tiba-tiba masuk akal secara berbeda — dan jauh lebih menyakitkan.

Struktur musiknya memperkuat itu. Lagu dibuka nyaris kosong, hanya piano dan suara yang setengah berbisik, seolah penutur belum punya tenaga untuk bicara keras. Lalu drum masuk, lapisan menumpuk, dan bagian klimaks meledak dengan suara Capaldi yang sengaja dibiarkan terdengar tegang dan hampir habis. Banyak penyanyi akan meminta take ulang untuk menghilangkan keretakan itu. Di sini keretakan itu justru pesannya: orang yang benar-benar hancur memang tidak bernyanyi dengan rapi.

Video klip yang mengubah percakapan, dan warisan yang tak direncanakan

Salah satu keputusan paling berani seputar lagu ini ada di video musiknya. Alih-alih membuat drama percintaan, timnya membuat cerita tentang seorang pria yang berduka setelah kehilangan istrinya, dan tentang seseorang lain yang hidup berkat donor organ. Yang membintanginya adalah Peter Capaldi — aktor Skotlandia yang dikenal luas lewat Doctor Who dan The Thick of It, dan yang kabarnya masih berkerabat jauh dengan Lewis. Video ini dibuat bekerja sama dengan pihak yang mengampanyekan donor organ di Inggris, di periode ketika undang-undang terkait persetujuan donor sedang menjadi perbincangan publik.

Efeknya melampaui musik. Lagu yang semula dibaca sebagai balada patah hati mendadak punya lapisan kedua yang jauh lebih besar: tentang kematian, tentang apa yang tersisa dari seseorang setelah ia pergi, tentang kemungkinan bahwa kehilangan satu orang bisa menjadi awal hidup orang lain. Untuk sebuah lagu pop nomor satu, itu bukan pilihan aman.

Warisannya kemudian tumbuh dengan cara yang jarang terjadi. "Someone You Loved" menjadi salah satu lagu paling banyak diputar di layanan streaming sepanjang dekade, dengan angka pemutaran menembus miliaran. Ia menjadi materi audisi wajib di kompetisi menyanyi di banyak negara, termasuk Indonesia. Ia dipakai di ruang tunggu rumah sakit, di video peringatan kepergian seseorang, di kompilasi kelulusan sekolah — konteks yang tidak ada hubungannya dengan asmara, tapi semuanya berhubungan dengan perpisahan.

Sementara itu, Capaldi sendiri menjalani perjalanan yang tak kalah berat. Ia terbuka soal kecemasan dan serangan panik, dan kemudian mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis sindrom Tourette. Pada 2023 ia mengambil jeda dari dunia musik untuk memulihkan kesehatan mentalnya, setelah penampilan di sebuah festival besar di Inggris yang berakhir dengan penonton menyanyikan lagunya untuknya ketika ia kesulitan melanjutkan. Momen itu, bagi banyak orang, menjadi gambar paling jujur tentang hubungan antara seorang musisi dan lagunya: kali ini penontonlah yang menjadi penyangga.

Kenapa lagu ini masih nyangkut sampai sekarang

Pertama, karena lagu ini menolak menjadi spesifik. Tidak disebut nama, tidak disebut kota, tidak disebut penyebab perpisahan. Ruang kosong itu adalah undangan. Kamu bisa menaruh mantanmu di sana, atau kakekmu, atau sahabat yang pindah negara, atau versi dirimu sebelum semuanya berubah. Lagu-lagu yang bertahan puluhan tahun biasanya punya sifat ini: cukup jelas untuk dipercaya, cukup lapang untuk ditempati.

Kedua, karena ia jujur soal ketergantungan. Budaya modern sering mendorong narasi "kamu tidak butuh siapa-siapa untuk bahagia". Lagu ini melakukan hal sebaliknya — ia mengakui bahwa manusia memang saling menopang, dan bahwa kehilangan penopang itu benar-benar melumpuhkan. Ada kelegaan tersendiri ketika sebuah lagu berani bilang "iya, kamu memang serapuh itu, dan tidak apa-apa".

Ketiga, karena suaranya tidak sempurna. Di era ketika hampir semua rekaman bisa dipoles sampai licin, keretakan suara Capaldi terdengar seperti bukti. Bukti bahwa ada manusia di balik mikrofon, bukan mesin. Bagi generasi pendengar yang tumbuh dengan kecurigaan terhadap segala hal yang terlalu rapi, ketidaksempurnaan justru menjadi mata uang kepercayaan.

Dan keempat — mungkin yang paling penting di Indonesia — karena lagu ini sangat bisa dinyanyikan bersama. Melodi refrainnya sederhana, jangkauan nadanya menantang tapi tidak mustahil, dan puncaknya memberi ruang untuk berteriak. Di karaoke, di acara kantor, di gitaran depan kosan, lagu sedih yang dinyanyikan ramai-ramai berubah fungsi: dari ratapan pribadi menjadi ritual kolektif. Kesedihan yang dibagi dengan sepuluh orang bukan lagi kesedihan yang sama.

Barangkali itulah kesimpulan paling manis dari lagu tentang kehilangan penyangga ini. Dalam praktiknya, ia justru menjadi penyangga baru bagi jutaan orang yang menyanyikannya — termasuk, pada satu malam di Inggris, bagi orang yang menulisnya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Rendam telingamu dalam suaranya

📚 Ikuti ceritanya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s