Some Might Say
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Some Might Say - Oasis (1995)
"Some Might Say" adalah lagu yang mendorong Oasis dari status band yang dipuja kritikus menjadi fenomena nasional yang menjajah puncak tangga lagu Inggris untuk pertama kalinya. Di balik dinding gitar yang menggelegar dan vokal Liam Gallagher yang mengejek langit, lagu ini sebenarnya bercerita tentang penerimaan terhadap absurditas hidup kelas pekerja — sebuah filsafat ketabahan yang dibungkus dalam bahasa peribahasa Inggris yang dipelintir Noel Gallagher menjadi mantra generasi.
Hook
Ada momen tertentu pada musim semi 1995 di Inggris ketika sebuah lagu seakan-akan mengubah suhu udara. "Some Might Say" dirilis pada 24 April 1995, dan dalam hitungan hari, lagu itu sudah berada di posisi nomor satu di UK Singles Chart — single pertama Oasis yang mencapai puncak. Itu bukan kebetulan kecil. Itu adalah momen yang ditandai dengan cermat oleh sejarawan musik sebagai titik di mana Britpop berhenti menjadi gerakan subkultur dan menjadi bahasa nasional.
Yang menarik dari lagu ini bukan hanya keberhasilannya secara komersial, melainkan cara ia mendapatkan keberhasilan itu. Tidak ada formula pop yang jelas. Tidak ada hook chorus yang dirancang oleh tim penulis profesional. Yang ada hanyalah Noel Gallagher menumpuk peribahasa rakyat Inggris — "anjing yang tidur sebaiknya dibiarkan tidur", "sungai memerlukan kapal" — di atas satu sama lain seperti seorang penyair pub yang sedang mabuk filsafat. Lalu Liam menyanyikannya dengan nada hidung yang kini menjadi tanda tangan generasi, seakan-akan ia tidak peduli apakah Anda mendengarkan atau tidak.
Bagi pendengar Indonesia yang mungkin mengenal Oasis dari era "Wonderwall" atau "Don't Look Back in Anger", "Some Might Say" sering kali terlewatkan. Padahal, ini adalah lagu yang menentukan trayektori band tersebut. Tanpa "Some Might Say", album monumental (What's the Story) Morning Glory? mungkin tidak akan memiliki landasan yang sama. Drummer asli Tony McCarroll bahkan dipecat tak lama setelah merekam lagu ini — menjadikannya kontribusi terakhirnya sebelum digantikan Alan White, dan dengan demikian menjadi semacam batu nisan untuk era pertama Oasis.
Background
Untuk memahami "Some Might Say", seseorang harus kembali ke Manchester, kota industri di utara Inggris yang pada akhir 1980-an dan awal 1990-an telah mengalami serangkaian pukulan ekonomi yang menghancurkan. Pabrik-pabrik tutup. Pengangguran mencapai angka yang menakutkan. Pemerintahan Margaret Thatcher telah mengubah lanskap sosial Inggris dengan cara yang masih dirasakan oleh keluarga kelas pekerja seperti keluarga Gallagher di lingkungan Burnage.
Noel Gallagher, sang penulis lagu, tumbuh di rumah yang penuh kekerasan domestik. Ayahnya, Thomas Gallagher, adalah seorang imigran Irlandia yang abusif. Ibunya, Peggy, akhirnya membawa anak-anaknya pergi pada tahun 1976. Noel bekerja di lokasi konstruksi pada usia belasan tahun, mengalami cedera kaki yang membuatnya tidak bisa melakukan pekerjaan berat, dan kemudian menjadi roadie untuk band Inspiral Carpets. Di sela-sela tugasnya membawa peralatan, ia menulis lagu di kamar hotel dan di belakang van tur.
"Some Might Say" lahir dari rangkaian sesi rekaman yang berlangsung pada akhir 1994 dan awal 1995, di studio Loco di Wales dan Rockfield Studios di Monmouthshire — studio pedesaan terkenal yang juga digunakan oleh Queen untuk merekam "Bohemian Rhapsody". Produser Owen Morris, yang dikenal dengan gaya "brickwall mastering" yang membuat semuanya terdengar sekeras mungkin, menumpuk lapisan gitar Noel hingga membentuk dinding suara yang nyaris monumental — terinspirasi sebagian dari teknik "Wall of Sound" Phil Spector tetapi diterjemahkan untuk era CD dan radio rock alternatif.
Yang sering tidak diketahui adalah bahwa "Some Might Say" dirilis sebagai single pertama dari album kedua mereka, bahkan sebelum album itu sendiri rilis pada Oktober 1995. Ini adalah strategi pemasaran yang lazim di era itu, tetapi juga merupakan taruhan — band tersebut mengirim lagu yang relatif aneh, dengan struktur yang tidak konvensional dan lirik yang tidak segera dapat dipahami, sebagai duta budaya mereka ke arus utama. Taruhan itu berhasil.
Real meaning
Mari kita bicarakan apa yang sebenarnya dimaksud lagu ini, karena di sinilah letak misteri sebenarnya. Permukaan lirik adalah kumpulan peribahasa dan pernyataan yang terdengar profetis. Beberapa orang akan mengatakan ini, beberapa orang akan mengatakan itu. Sungai-sungai dan kapal-kapal. Anjing-anjing tidur. Pemandangan yang mungkin dilihat seseorang dari jendelanya.
Tetapi ketika dibedah, lagu ini tidak benar-benar memberikan jawaban — ia mengumpulkan pertanyaan. Noel Gallagher pernah mengatakan dalam wawancara bahwa banyak liriknya tidak dimaksudkan untuk dipecahkan kodenya seperti puzzle. Ia tertarik pada suara kata-kata, pada bagaimana frasa tertentu terasa di mulut Liam ketika dinyanyikan keras-keras. Ini adalah pendekatan yang lebih dekat dengan Bob Dylan dalam fase "Subterranean Homesick Blues" daripada dengan tradisi penulisan lagu narasi konvensional.
Namun, jika ada tema yang bisa dipertahankan, ia berputar di sekitar gagasan tentang penerimaan dan ketabahan. Frasa berulang yang menjadi pusat lagu — gagasan bahwa "Anda pada akhirnya akan menemukan jalan keluar" — adalah pesan harapan yang dibungkus dalam ironi kelas pekerja. Ini bukan optimisme polos. Ini adalah keyakinan keras kepala yang lahir dari generasi yang tumbuh dengan menyaksikan komunitas mereka diabaikan oleh kebijakan ekonomi, tetapi tetap menolak untuk diam.
Dalam konteks 1995, ketika Tony Blair sedang mempersiapkan kemenangan New Labour 1997, ada nada politik yang halus dalam lagu ini. Bukan slogan kampanye, tetapi semacam suasana hati nasional. "Cool Britannia" sedang dalam pembentukan. Inggris sedang mencoba mengingat bagaimana rasanya merasa bangga, merasa muda, merasa seperti pusat sesuatu lagi. Oasis menyediakan soundtrack untuk pemulihan psikis itu.
Sisi B single ini — "Acquiesce", "Headshrinker", dan "Talk Tonight" — sebenarnya sering dianggap sama atau bahkan lebih kuat oleh penggemar berat. "Acquiesce" khususnya, dengan duet Noel dan Liam, menjadi metafora untuk hubungan persaudaraan yang penuh konflik antara kedua bersaudara itu, hubungan yang akhirnya akan menghancurkan band pada 2009. Ada ironi yang menyakitkan bahwa single yang membawa mereka ke puncak juga membawa sisi B yang meramalkan keruntuhan mereka.
Penting juga untuk dicatat bahwa di balik dinding gitar yang triumfan, ada elemen sinis. Noel menulis lagu ini sebagian sebagai kritik terhadap budaya selebriti yang ia rasakan mulai mengelilingi bandnya sendiri. Beberapa orang akan mengatakan apa pun untuk masuk ke koran. Beberapa orang akan mempercayai apa pun yang dicetak. Lagu yang membuat Oasis menjadi superstar adalah, dalam beberapa cara, ramalan tentang harga yang akan mereka bayar untuk menjadi superstar.
Cultural context for Indonesian
Bagi telinga Indonesia, "Some Might Say" tiba pada saat yang signifikan secara budaya. Pada pertengahan 1990-an, skena musik Indonesia sedang mengalami pergeseran besar. Era keemasan rock Indonesia — yang dipelopori oleh raksasa-raksasa seperti God Bless sejak 1970-an dengan album-album legendaris seperti Huma di Atas Bukit (1976) dan Cermin (1980) — sedang berinteraksi dengan gelombang baru musik alternatif global.
Dewa 19 baru saja merilis Format Masa Depan pada 1994, mencampurkan rock dengan sensibilitas pop yang melebar. Slank, yang akan menjadi salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik populer Indonesia, sedang mengukuhkan posisi mereka dengan album Generasi Biru (1994) dan kemudian Minoritas (1996). Ada paralel yang menarik antara Slank dan Oasis — keduanya band kelas pekerja, keduanya hidup keras, keduanya menjadi suara bagi generasi yang merasa tidak terwakili oleh arus utama, dan keduanya akhirnya menjadi institusi nasional yang dipuja melampaui logika kritik musik konvensional.
Iwan Fals, dewa balada protes Indonesia, telah lama membuktikan bahwa lagu populer bisa membawa beban politik. Sementara "Some Might Say" bukan lagu protes dalam arti yang sama, semangat ketabahan kelas pekerja yang menjiwainya akan terasa familiar bagi siapa pun yang tumbuh dengan mendengarkan "Bento" atau "Bongkar" Iwan Fals. Ada filosofi yang sama: dunia mungkin tidak adil, tetapi suaramu adalah milikmu, dan kamu akan tetap menyanyi.
Yang menarik dalam konteks Indonesia adalah bagaimana Britpop diserap. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, ketika MTV Asia masih menjadi penyalur budaya yang dominan, generasi muda Indonesia di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya menyerap Oasis bersama dengan Blur, Suede, dan Radiohead. Toko-toko CD di Aquarius Mahakam dan Disc Tarra adalah katedral kecil tempat anak-anak muda menabung untuk membeli album impor.
Pengaruh ini terlihat jelas di gelombang band Indonesia berikutnya. Sheila on 7, yang muncul pada 1996 dan meledak dengan album debut 1999, memiliki sensibilitas penulisan lagu yang sangat dipengaruhi oleh idiom Britpop. /rif, Padi, dan Cokelat semua memiliki DNA yang dapat dilacak ke gaya gitar berlapis-lapis yang dipopulerkan Oasis dan band-band sezamannya.
Festival juga memainkan peran penting. Java Jazz Festival, yang diluncurkan pada 2005, mungkin difokuskan pada jazz tetapi telah menjadi tempat di mana berbagai gaya musik bertemu, dan generasi pendengar yang dibesarkan dengan Britpop kini membawa kepekaan itu ke dalam apresiasi mereka terhadap musik secara umum. Hammersonic dan We The Fest melayani sisi rock yang lebih langsung. Ada ekosistem festival Indonesia yang kini berkembang pesat, dan banyak kurator festival itu adalah generasi yang membentuk telinganya pada lagu-lagu seperti "Some Might Say".
Tidak bisa diabaikan juga bahwa lirik "Some Might Say" memiliki kualitas peribahasa yang bisa diterjemahkan dengan baik ke dalam budaya Indonesia yang kaya akan pepatah dan ungkapan tradisional. Indonesia memiliki tradisi panjang menggunakan bahasa kiasan untuk menyampaikan kebijaksanaan praktis — "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian" tidak terlalu jauh dalam semangat dari peribahasa-peribahasa Inggris yang Noel Gallagher kumpulkan. Ada universalitas dalam cara budaya kelas pekerja di seluruh dunia mengandalkan ungkapan-ungkapan singkat untuk menavigasi kehidupan yang sulit.
Why it resonates today
Tiga puluh satu tahun setelah dirilis, "Some Might Say" memiliki kehidupan kedua, ketiga, dan keempat. Reuni Oasis yang diumumkan pada Agustus 2024 dan tur 2025 menjadi peristiwa budaya global. Tiket terjual habis dalam hitungan menit. Anak-anak yang lahir setelah lagu itu dirilis kini menghafal liriknya, banyak dari mereka mempelajarinya melalui TikTok, melalui film, melalui playlist algoritmik yang terus-menerus menyajikan kanon Britpop kepada pendengar muda.
Mengapa lagu ini bertahan? Salah satu jawabannya adalah karena ia melayani fungsi yang melampaui konteks aslinya. Di tengah era ketidakpastian ekonomi global, krisis biaya hidup, kekhawatiran perubahan iklim, dan polarisasi politik yang terus meningkat, pesan tentang ketabahan dan keyakinan keras kepala bahwa "Anda akan menemukan jalan keluar" memiliki bobot yang sama beratnya seperti pada 1995, jika tidak lebih berat.
Ada juga aspek estetika murni yang harus diakui. Produksi Owen Morris, dengan kepadatannya yang hampir berlebihan, terdengar seperti penangkal terhadap musik pop modern yang sering kali dirancang untuk speaker laptop dan earbud Bluetooth. "Some Might Say" diciptakan untuk diputar keras di radio mobil, di pub, di stadion. Dalam era ketika musik semakin dikonsumsi dalam isolasi melalui headphone, ada sesuatu yang membebaskan tentang lagu yang menuntut volume kolektif.
Di Indonesia, di mana skena indie rock terus berkembang dengan band-band seperti The Adams, Mocca yang reformasi, Pamungkas, dan generasi baru artis yang mencampur estetika global dengan akar lokal, warisan "Some Might Say" hidup melalui DNA penulisan lagu. Generasi yang sekarang membentuk skena musik Indonesia tumbuh dengan band-band ini sebagai referensi, dan dampak itu terus bergema dalam aransemen, dalam pendekatan vokal, dalam keyakinan bahwa lagu rock yang ambisius masih memiliki tempat.
Lagu ini juga menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang nostalgia. Kita hidup dalam era ketika nostalgia adalah industri besar — Spotify dan Apple Music memonetisasinya, Netflix membuat dokumenter tentangnya, merek fashion menjual kembali estetika 90-an kepada konsumen yang bahkan tidak lahir saat itu. "Some Might Say" adalah artefak utama dari nostalgia 90-an, tetapi ia juga menolak untuk menjadi sekadar artefak. Setiap kali dinyanyikan di stadion, oleh sekelompok orang asing yang bersatu hanya oleh pengetahuan kolektif tentang lirik, ia diaktifkan kembali sebagai pengalaman langsung.
Mungkin yang paling penting, "Some Might Say" mengingatkan kita pada momen ketika musik populer masih bisa menjadi peristiwa nasional. Ketika sebuah single bisa mencapai nomor satu bukan karena algoritma TikTok, tetapi karena cukup banyak orang yang masuk ke toko musik fisik dan membelinya pada minggu yang sama. Ada keajaiban dalam koordinasi budaya seperti itu yang sulit dipulihkan, dan setiap mendengar lagu itu sekarang adalah semacam ritual kenangan tentang kemungkinan tersebut.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
(What's the Story) Morning Glory? (Oasis) Album yang memuat "Some Might Say" dan menjadi salah satu album paling laris dalam sejarah musik Inggris. Mendengarkan keseluruhannya memberi konteks pada bagaimana lagu ini berfungsi sebagai gerbang menuju ambisi maksimalis band tersebut. → Search
Generasi Biru (Slank) Album 1994 yang menangkap roh Slank pada momen ketika mereka, seperti Oasis, sedang dalam transisi dari band kultus menjadi institusi nasional. Paralelnya dengan trayektori Oasis sangat instruktif. → Search
📚 Baca
Supersonic: The Complete, Authorised and Uncut Interviews (Simon Halfon) Buku pendamping dokumenter Oasis yang berisi wawancara mentah dengan Noel, Liam, dan tim kreatif mereka. Memberikan latar belakang penting tentang sesi rekaman Morning Glory. → Search
Musik Indonesia 1997-2001 (Denny Sakrie) Dokumentasi penting tentang skena musik Indonesia di era yang sama, menelusuri bagaimana pengaruh global termasuk Britpop diserap ke dalam ekosistem lokal. → Search
🌍 Kunjungi
Manchester, Inggris Kota asal Oasis. Tur jalan kaki Manchester Music Tour membawa Anda ke lokasi-lokasi penting termasuk Burnage, tempat keluarga Gallagher tumbuh, dan The Boardwalk, tempat band ini bermain show awal mereka. → Search
Potlot, Jakarta Selatan Markas Slank yang legendaris di Gang Potlot, Duren Tiga. Tempat di mana sejarah rock Indonesia ditulis dan masih menjadi tempat ziarah bagi penggemar musik dari seluruh nusantara. → Search
🎸 Coba sendiri
Epiphone Riviera atau gitar semi-hollow Noel Gallagher dikenal menggunakan gitar Epiphone untuk banyak rekaman era ini. Memiliki satu adalah cara untuk masuk ke dalam tekstur sonik yang menjadikan lagu ini istimewa. → Search
Buku akor gitar Oasis Mempelajari progresi akor "Some Might Say" mengungkap bagaimana Noel membangun lagu dari blok-blok sederhana — biasanya hanya empat atau lima akor — tetapi mengatur dinamika dengan brilian. → Search
🤖
- Mengapa hubungan Noel dan Liam Gallagher sering disebut sebagai metafora untuk dinamika kreatif paling produktif sekaligus paling destruktif dalam sejarah rock?
- Bagaimana Britpop berbeda secara filosofis dari grunge Amerika yang dominan pada awal 1990-an, dan mengapa perbedaan itu penting?
- Apakah ada band Indonesia kontemporer yang mewarisi semangat maksimalis Oasis, dan jika ya, bagaimana mereka menerjemahkannya ke dalam konteks lokal?