SONGFABLE · 1978

One Way or Another

BLONDIE · 1978 · NEW YORK CITY, USA

TL;DR: Riff yang terdengar seperti anthem genit penuh percaya diri ini sebenarnya lahir dari pengalaman Debbie Harry dibuntuti seorang penguntit obsesif di New Jersey. Ia membalik rasa takut yang sangat nyata menjadi lagu pop-rock yang seolah-olah si pemburu justru sang vokalis.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Yang Tidak Pernah Kamu Sadari Tentang Lagu Ini

Selama puluhan tahun, "One Way or Another" diputar di pesta-pesta, film, iklan, dan acara olahraga sebagai lagu yang terdengar seperti perayaan obsesi romantis yang menyenangkan. Suara Debbie Harry yang lincah, riff gitar yang menempel di kepala, dan pengulangan judul yang seolah berkata "dengan satu cara atau cara lain, aku akan menemukanmu" terasa seperti deklarasi cinta yang berani dari seorang perempuan yang tahu apa yang ia mau.

Tapi kenyataannya jauh lebih gelap, dan justru di situlah letak kejeniusannya. Lagu ini, menurut Debbie Harry sendiri dalam berbagai wawancara selama bertahun-tahun, terinspirasi dari pengalaman nyata ketika ia dikejar dan dibuntuti seorang penguntit yang obsesif saat masih tinggal di New Jersey. Bayangkan: seseorang yang benar-benar pernah ketakutan karena diintai, lalu menulis lagu yang membalik posisi sepenuhnya. Dalam lagu ini, bukan dia yang menjadi korban, melainkan dia yang memegang kendali sebagai pihak yang memburu. Itu adalah trik psikologis yang luar biasa, sebuah cara untuk merebut kembali kekuatan dari pengalaman yang membuatnya merasa tak berdaya.

Itulah sebabnya lagu ini terasa begitu kuat. Energi yang kamu dengar bukan sekadar keceriaan pop, melainkan semangat balas dendam emosional yang dikemas dengan begitu cerdas sehingga sebagian besar pendengar tidak pernah menyadarinya.

Latar Belakang: New York yang Kumuh dan Punk yang Lahir di CBGB

Untuk memahami lagu ini, kita harus kembali ke New York City pada pertengahan hingga akhir 1970-an. Ini bukan New York yang glamor seperti sekarang. Kota ini sedang bangkrut, kotor, penuh grafiti, dan berbahaya. Tapi justru dari kekacauan itulah lahir salah satu scene musik paling berpengaruh dalam sejarah: punk dan new wave yang berpusat di sebuah klub kecil bernama CBGB di kawasan Bowery, Manhattan.

Blondie dibentuk pada 1974 oleh Debbie Harry dan gitaris Chris Stein, yang juga adalah pasangan dalam kehidupan nyata pada masa itu. Mereka tumbuh bersama band-band legendaris seperti Ramones, Talking Heads, dan Television di panggung-panggung kecil CBGB. Debbie Harry, dengan rambut pirang platinanya yang ikonik dan kharisma panggung yang luar biasa, dengan cepat menjadi salah satu wajah paling dikenal dari era itu. Nama "Blondie" sendiri konon berasal dari sapaan iseng para sopir truk yang meneriaki Debbie di jalan.

"One Way or Another" muncul di album ketiga mereka, Parallel Lines (1978), yang menjadi terobosan besar band ini. Album itu diproduseri oleh Mike Chapman, seorang produser asal Australia yang dikenal piawai membuat lagu-lagu pop yang renyah dan komersial. Chapman dilaporkan mendorong band untuk merekam dengan presisi dan disiplin yang ketat, dan hasilnya adalah album yang menjadi salah satu rekaman new wave paling penting sepanjang masa. Lagu ini ditulis Debbie Harry bersama Nigel Harrison, bassis band.

Bagi penggemar musik di Indonesia, ada koneksi budaya yang menarik di sini. Era new wave dan post-punk akhir 1970-an hingga 1980-an sangat memengaruhi perkembangan musik di Indonesia, terutama lewat radio dan kaset bajakan yang beredar luas. Generasi yang tumbuh dengan lagu-lagu band seperti Blondie, The Police, dan Duran Duran kemudian melahirkan scene musik new wave dan pop kreatif lokal. Suara gitar yang bersih namun bertenaga, melodi vokal yang catchy, dan estetika "keren tapi pemberontak" yang dibawa Blondie menjadi cetak biru yang ikut membentuk selera banyak musisi dan pendengar Indonesia di dekade berikutnya.

Makna di Balik Lirik: Membalik Posisi Pemburu dan Buruan

Inti dari lagu ini adalah sebuah pernyataan tekad yang tak henti-henti. Sang narator bersikeras bahwa, dengan satu cara atau cara lain, ia akan menemukan, mengejar, dan akhirnya menangkap sasarannya. Ia menggambarkan dirinya akan mengintai, mengikuti, mengamati gerak-gerik si target, bahkan membayangkan momen ketika ia berhasil mendekat tanpa terdeteksi sampai akhirnya menyergap.

Jika kamu membaca kembali deskripsi itu tanpa konteks melodi yang ceria, kamu akan menyadari betapa menyeramkannya sebenarnya. Ini adalah gambaran perilaku seorang penguntit: kegigihan yang tidak sehat, pengawasan terus-menerus, dan keyakinan bahwa target tidak punya pilihan selain akhirnya tertangkap. Dan memang, itulah yang sebenarnya dialami Debbie Harry, hanya saja dari sisi sebaliknya.

Inilah yang membuat lagu ini begitu cerdas. Debbie Harry mengambil rasa takut dari pengalaman dibuntuti, lalu menulisnya kembali dari sudut pandang si pemburu. Dengan menempatkan dirinya di kursi pengemudi, ia secara simbolis merebut kembali kendali. Trauma yang membuatnya merasa kecil dan rentan diubah menjadi posisi kuasa. Dalam wawancara, ia dilaporkan menjelaskan bahwa lagu ini sebagian adalah caranya menertawakan dan mengusir pengalaman buruk itu, mengubah ketakutan menjadi sesuatu yang bisa ia kendalikan dan bahkan nyanyikan dengan senyum.

Ada juga lapisan tambahan dari kepribadian panggung Debbie Harry. Sepanjang kariernya, ia memainkan persona yang menggoda namun tak terjamah, perempuan yang sadar betul akan kekuatan seksualnya namun tidak pernah menyerahkan kendali kepada siapa pun. "One Way or Another" cocok sempurna dengan persona itu. Suaranya terdengar genit dan percaya diri, tapi ada sisi yang menggertak, hampir mengancam. Itulah ketegangan yang membuat lagu ini hidup: di antara keseruan dan ancaman, di antara permainan dan keseriusan.

Konteks Budaya dan Warisan yang Tak Lekang

Parallel Lines menjual lebih dari 20 juta kopi di seluruh dunia dan menjadikan Blondie salah satu band paling sukses di akhir era 1970-an. Meski single terbesar dari album itu adalah "Heart of Glass", "One Way or Another" tumbuh menjadi salah satu lagu yang paling abadi dan paling sering didengar dari katalog mereka, terutama di Amerika Serikat di mana ia menjadi hit besar.

Yang menarik, riff dan struktur lagu ini begitu kuat sehingga ia hidup terus melewati banyak generasi. Selama puluhan tahun ia menjadi favorit untuk dipakai di film, serial televisi, iklan, dan acara olahraga. Energinya yang langsung memompa adrenalin membuatnya jadi pilihan sempurna untuk adegan apa pun yang butuh suntikan semangat. Ironisnya, makna gelap di balik lagu ini hampir tidak pernah disebut dalam penggunaan-penggunaan komersial itu, sebuah bukti betapa sukses Debbie Harry menyamarkan trauma menjadi euforia.

Pada 2013, grup vokal One Direction membawakan ulang lagu ini, menggabungkannya dengan lagu "Teenage Kicks" dari The Undertones, untuk kampanye amal Comic Relief di Inggris. Versi itu memperkenalkan lagu ini kepada generasi remaja yang sama sekali baru, banyak di antaranya bahkan tidak tahu bahwa itu adalah lagu Blondie, apalagi mengetahui kisah gelap di baliknya. Ini sekaligus menunjukkan dua hal: betapa fleksibelnya lagu ini, dan betapa mudahnya makna asli sebuah karya tergerus oleh waktu dan reinterpretasi.

Blondie sendiri kemudian dilantik ke dalam Rock and Roll Hall of Fame pada 2006, sebuah pengakuan atas pengaruh besar mereka yang menjembatani punk, new wave, disko, pop, bahkan elemen-elemen awal hip-hop lewat lagu "Rapture". Debbie Harry tetap menjadi ikon mode dan musik hingga usia senjanya, sosok yang membuktikan bahwa perempuan bisa memimpin band rock dengan kekuatan dan kecerdasan yang setara dengan siapa pun.

Kenapa Lagu Ini Masih Bergema Hari Ini

Hampir setengah abad setelah dirilis, "One Way or Another" tetap terasa segar dan relevan. Sebagian karena alasan musikal sederhana: riff itu menempel di kepala dengan cara yang nyaris mustahil dilupakan, dan vokal Debbie Harry memancarkan energi yang menular. Tapi ada alasan yang lebih dalam mengapa lagu ini tetap penting di masa kini.

Di era ketika percakapan tentang keselamatan perempuan, stalking, dan pelecehan menjadi sangat terbuka, kisah di balik lagu ini terasa makin bermakna. Apa yang dilakukan Debbie Harry adalah bentuk awal dari apa yang sekarang kita sebut memberdayakan diri dari pengalaman traumatis. Ia tidak menyembunyikan atau membiarkan rasa takut menguasainya. Sebaliknya, ia mengubahnya menjadi seni, menertawakannya, dan menempatkan dirinya kembali sebagai pihak yang berdaya. Itu adalah pelajaran tentang ketahanan yang masih bisa diteladani siapa pun yang pernah merasa menjadi korban.

Ada juga ironi yang terus mengundang renungan. Lagu yang lahir dari ketakutan kini menjadi simbol kepercayaan diri. Pesan aslinya yang menyeramkan dibungkus melodi yang riang sehingga ia bisa berarti apa pun bagi siapa pun, dari anthem motivasi sebelum bertanding hingga lagu tema untuk mengejar mimpi. Mungkin di situlah letak keajaiban karya seni yang besar: ia cukup luwes untuk menampung makna baru, tapi cukup dalam untuk tetap menyimpan rahasia bagi mereka yang mau menggali.

Bagi pendengar Indonesia yang mencintai musik Barat, lagu ini adalah pintu masuk yang sempurna ke dunia new wave dan punk era 70-an, sekaligus pengingat bahwa lagu paling ceria sekalipun kadang menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks daripada yang terdengar di permukaan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
70s