SONGFABLE · 1966

Mas Que Nada

SÉRGIO MENDES · 1966

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Mas Que Nada - Sérgio Mendes (1966)

TL;DR: Lagu yang terdengar seperti undangan pesta tropis ini sebenarnya adalah jeritan kecil seseorang yang menolak diganggu — sebuah seruan ringan yang bisa diartikan "ah, sudahlah" atau "jangan ganggu aku" di tengah hentakan samba yang justru tak bisa dilawan kakimu.

Sebuah judul yang artinya hampir "terserah"

Coba dengarkan lagi melodi pembuka "Mas Que Nada" itu — suara vokal yang seakan memanggil-manggil, lalu piano yang masuk seperti orang berjalan santai di trotoar Rio de Janeiro yang panas. Hampir semua orang menebak lagu ini bercerita tentang cinta tropis, pantai Copacabana, dan koktail di tepi laut. Tebakan itu meleset.

Frasa "mas que nada" dalam bahasa Portugis Brasil bukanlah kalimat puitis. Ini ungkapan sehari-hari yang kira-kira berarti "ah, masa sih", "yang benar saja", atau bahkan "minggir, jangan halangi jalanku". Ada nada protes ringan di dalamnya, semacam gerutuan jenaka. Lirik aslinya, yang ditulis oleh penyanyi-pengarang Brasil bernama Jorge Ben (kelak dikenal sebagai Jorge Ben Jor), pada dasarnya adalah seruan seseorang yang minta diberi jalan — biarkan samba ini lewat, jangan menghalangi iramanya. Jadi lagu yang terdengar seperti rayuan ternyata lebih dekat ke pernyataan tegas: aku mau menari, dan tidak ada yang boleh menghentikanku.

Itulah ironi indah dari lagu ini. Sebuah judul yang nyaris berarti "terserah" justru menjadi salah satu lagu Brasil paling abadi yang pernah menembus telinga dunia. Dan yang menjadikannya legenda dunia bukanlah si pencipta lagu, melainkan seorang pianis muda yang membawanya ke Amerika dan mengubahnya menjadi fenomena global: Sérgio Mendes.

Pianis Brasil yang menaklukkan Amerika

Sérgio Mendes lahir di Niterói, kota di seberang teluk dari Rio de Janeiro, pada 1941. Ia awalnya belajar piano klasik, bermimpi menjadi musisi konser. Tapi pada akhir 1950-an, gelombang baru menyapu Brasil: bossa nova. Aliran ini, yang lahir dari perkawinan samba dengan harmoni jazz yang lembut, mengubah arah hidupnya. Mendes pun tenggelam dalam dunia klub malam Rio, bermain bersama tokoh-tokoh seperti Antônio Carlos Jobim, sang arsitek bossa nova.

Ketika bossa nova meledak di Amerika Serikat lewat lagu "The Girl from Ipanema", Mendes melihat peluang. Ia pindah ke Amerika pada pertengahan 1960-an, mencoba peruntungan di tengah industri musik yang waktu itu dikuasai rock, soul, dan pop. Banyak yang menasihatinya untuk menyanyi dalam bahasa Inggris saja agar laku. Tapi Mendes punya rumus sendiri.

Ia membentuk grup bernama Brasil '66, dan kunci formulanya cerdik: ia memadukan irama Brasil yang autentik dengan dua vokalis perempuan yang menyanyi dalam harmoni manis ala pop Amerika. Salah satunya, Lani Hall, kelak menjadi figur penting — ia bahkan kemudian menikah dengan Herb Alpert, pemilik label A&M Records yang menaungi Mendes. Dengan kombinasi inilah Mendes menyajikan "Mas Que Nada" kepada dunia pada album debut Brasil '66 di tahun 1966.

Yang luar biasa: lagu ini dinyanyikan dalam bahasa Portugis, bukan Inggris. Di tengah pasar Amerika yang biasanya menolak lagu berbahasa asing, "Mas Que Nada" justru menembus tangga lagu Billboard. Itu hampir tak terdengar masuk akal pada masanya — sebuah lagu samba berbahasa Portugis, dinyanyikan oleh orang Brasil, laku di radio Amerika. Konon Mendes sendiri sempat ragu, tapi Herb Alpert meyakinkannya untuk mempertahankan keaslian itu.

Sebuah jembatan ke telinga Indonesia. Bagi pendengar Indonesia, ada benang merah yang menarik di sini. Bossa nova punya tempat istimewa di hati penikmat musik Tanah Air — dari kafe-kafe di Jakarta dan Bandung sampai radio jazz yang memutar lagu-lagu lembut di sore hari. Musisi seperti Andien, Tompi, hingga generasi penyanyi jazz Indonesia banyak menyerap nuansa bossa nova ini. Irama Brasil yang santai tapi punya groove kuat itu terasa akrab dengan selera musik tropis Indonesia, yang juga menghargai melodi yang mengalir dan ritme yang mengundang gerak. Ketika Anda mendengar "Mas Que Nada", Anda sebenarnya sedang menyentuh akar dari banyak musik lounge dan jazz ringan yang mengiringi sore-sore santai di kota-kota besar Indonesia.

Apa yang sebenarnya dikatakan lagu ini

Mari kita bongkar maknanya tanpa mengutip satu baris pun. Inti dari lirik Jorge Ben adalah ajakan — atau lebih tepatnya, perintah halus — untuk memberi ruang bagi samba agar bisa lewat. Bayangkan barisan karnaval yang sedang melaju di jalan, dan ada seseorang yang berseru pada kerumunan: minggir sedikit, biarkan iramanya mengalir, jangan menghalangi. Ada energi keras kepala yang menyenangkan di sana, semacam penolakan untuk berhenti bergembira.

Lirik itu juga melukiskan kegembiraan kolektif, sukacita menari bersama, dan keyakinan bahwa samba adalah sesuatu yang harus dirayakan tanpa rasa malu. Tidak ada kisah cinta yang patah, tidak ada drama romansa. Yang ada hanyalah perayaan murni terhadap ritme dan kehidupan — sebuah filosofi yang sangat Brasil: bahwa di tengah kesulitan apa pun, musik dan tarian tetap menjadi hak yang tak bisa dirampas.

Menariknya, makna "mas que nada" sebagai gerutuan ringan justru memperkaya pesannya. Ungkapan itu seakan berkata: "Ah, jangan rewel, ayo menari saja." Ada penolakan terhadap segala yang terlalu serius, terlalu kaku, terlalu menghambat. Inilah sebabnya lagu ini terasa begitu membebaskan — ia menertawakan halangan, mengangkat bahu pada masalah, dan memilih bergerak mengikuti irama. Versi Mendes, dengan harmoni vokal perempuan yang berlapis dan dorongan piano yang penuh percaya diri, menerjemahkan semangat keras kepala yang riang itu menjadi sesuatu yang universal, bahkan bagi pendengar yang tak paham satu kata pun bahasa Portugis.

Dari Rio ke seluruh dunia — dan tak pernah pergi

"Mas Que Nada" tidak sekadar sukses sesaat. Lagu ini menjadi semacam paspor budaya Brasil ke panggung dunia. Selama beberapa dekade, ia diputar di mana-mana: di iklan, film, acara olahraga, dan pesta. Ada sesuatu dalam pembuka vokalnya yang langsung dikenali siapa pun, bahkan oleh orang yang tak tahu judulnya.

Konon ini adalah lagu berbahasa Portugis pertama yang benar-benar menembus pasar musik Amerika dalam skala besar — sebuah pencapaian yang membuka pintu bagi musik Brasil di kancah internasional. Sérgio Mendes sendiri menjadi semacam duta tak resmi musik negaranya, terus berkarya selama puluhan tahun.

Yang membuat lagu ini benar-benar abadi adalah kemampuannya untuk lahir kembali di setiap generasi. Pada 2006, empat puluh tahun setelah versi aslinya, Mendes merekam ulang "Mas Que Nada" bersama grup hip-hop The Black Eyed Peas, dengan will.i.am sebagai produser. Versi baru itu memperkenalkan lagu tersebut kepada anak-anak muda yang belum lahir saat aslinya dirilis, dan sekali lagi membuktikan bahwa groove samba itu tahan zaman. Bagi banyak pendengar muda di seluruh dunia — termasuk di Indonesia — perkenalan pertama mereka dengan lagu ini justru lewat versi 2006 itu, sebelum mereka menelusuri kembali ke aslinya dari 1966.

Lagu ini juga sering dipakai sebagai semacam simbol keceriaan Brasil di mata dunia, terutama menjelang Piala Dunia dan Olimpiade yang diselenggarakan di Brasil. Saat Olimpiade Rio 2016, Sérgio Mendes tampil membawakan lagu ini, melengkapi lingkaran penuh: lagu yang lahir di Rio, menaklukkan dunia, dan kembali pulang sebagai kebanggaan nasional.

Mengapa masih terus bergema hari ini

Kenapa lagu berusia hampir enam puluh tahun ini masih terdengar segar? Salah satu jawabannya ada pada perasaan yang ditawarkannya. Di dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, "Mas Que Nada" menawarkan izin untuk melepaskan diri sejenak — untuk mengangkat bahu pada beban dan membiarkan tubuh bergerak. Semangat "ah, sudahlah, ayo menari" itu terasa relevan di segala zaman.

Ada juga daya tarik dari keasliannya. Di era ketika banyak musik pop terdengar dipoles habis-habisan, kehangatan organik rekaman 1966 ini — piano yang hidup, perkusi yang bernapas, harmoni vokal yang manusiawi — terasa seperti seteguk udara segar. Lagu ini mengingatkan kita pada masa ketika groove diciptakan oleh manusia yang benar-benar bermain bersama di satu ruangan.

Bagi penikmat musik Barat di Indonesia, "Mas Que Nada" adalah pintu masuk yang sempurna ke dunia bossa nova dan musik Brasil yang lebih luas. Dari sini, Anda bisa menjelajah ke Jobim, ke João Gilberto, ke Astrud Gilberto, dan menyadari betapa dalam pengaruh aliran ini terhadap musik lounge dan jazz yang kita dengar di kafe-kafe Indonesia hingga sekarang. Lagu ini juga membuktikan sesuatu yang menggembirakan: musik yang autentik dan berakar kuat pada budayanya sendiri justru bisa menjadi paling universal. Sérgio Mendes tidak perlu mengubah lagu Brasil menjadi lagu Amerika untuk menaklukkan Amerika — ia cukup mempercayai keaslian iramanya. Sebuah pelajaran yang relevan bagi siapa pun yang ingin membawa budayanya sendiri ke panggung dunia.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

Cara terbaik memahami lagu ini adalah mendengarkannya berdampingan dengan lautan musik Brasil yang melahirkannya. Mulailah dari album debut Brasil '66 yang memuat versi ikonik ini, lalu rasakan bagaimana groove samba bertemu harmoni pop Amerika.

📚 Mengikuti kisahnya

Untuk memahami betapa beraninya membawa lagu Portugis ke pasar Amerika, ada baiknya membaca sejarah bossa nova dan gelombang musik Brasil yang menyapu dunia pada 1960-an.

🌍 Mengunjungi tempatnya

Lagu ini lahir dari semangat Rio de Janeiro — kota pantai, karnaval, dan irama yang tak pernah berhenti. Membayangkan tempat asalnya akan memperdalam apresiasi Anda.

🎸 Mencobanya sendiri

Tak ada cara lebih baik memahami sebuah lagu selain memainkannya. Irama bossa nova dan samba punya pola yang khas dan memuaskan untuk dipelajari.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
60s