SONGFABLE · 1969

Here Comes the Sun

THE BEATLES · 1969

TL;DR: "Here Comes the Sun" ditulis oleh George Harrison pada musim semi 1969, di kebun rumah temannya Eric Clapton di Esher, Inggris. Bukan di studio. Bukan di tengah rapat bisnis Apple Records yang membuatnya muak. Tapi di bawah pohon, dengan gitar pinjaman, setelah memutuskan membolos. Lagu ini sederhana — terlalu sederhana, kata sebagian orang — tapi justru di kesederhanaan itu letak kekuatannya. Tentang musim dingin yang akhirnya berlalu. Tentang harapan yang datang pelan-pelan, bukan tiba-tiba. Bagi pendengar Indonesia, lagu ini punya resonansi yang aneh — kita tidak punya musim dingin, tapi kita semua tahu rasanya menunggu sesuatu yang lama tidak datang. Hujan yang tak berhenti. Macet yang tak selesai. Kabar yang tak kunjung tiba.

Ada satu lagu, you know, yang kalau diputar di pagi hari — entah di kafe kecil di Kemang, atau di mobil di jalan tol Jagorawi saat matahari baru naik di balik Gunung Salak — rasanya seperti seseorang membuka tirai jendela yang sudah lama tertutup.

Saya pikir itulah yang dilakukan George Harrison saat menulis lagu ini. Dia membuka tirai.

Latar belakang: kebun, gitar, dan kelelahan

Tahun 1969 adalah tahun yang berat untuk The Beatles. Mereka sudah bukan empat anak muda Liverpool yang ketawa-ketawa di konferensi pers Amerika. Mereka sudah jadi perusahaan. Apple Records, label mereka sendiri, jadi semacam rumah sakit jiwa berjalan — penuh dengan akuntan, pengacara, ide bisnis yang gagal, dan rapat-rapat yang membuat George ingin pulang.

Pada satu pagi musim semi yang cerah, George memutuskan tidak datang ke kantor. Dia naik mobil ke rumah Eric Clapton di Esher, Surrey. Mereka berteman dekat — meski cerita pribadi mereka rumit, you know, soal Pattie Boyd dan sebagainya, tapi itu cerita lain. Hari itu mereka cuma dua musisi yang ingin lepas dari beban.

George mengambil salah satu gitar akustik Clapton — Gibson J-200, kalau saya tidak salah ingat — dan berjalan ke kebun. Inggris baru saja keluar dari musim dingin yang panjang dan kelabu. Matahari, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, terasa hangat di kulit.

Dan dalam waktu yang sangat singkat, mungkin tidak sampai satu jam, lagu itu lahir.

George menulisnya bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk pasar Amerika. Bukan untuk membuktikan dia bisa menulis lagu hit setelah selama ini dibayang-bayangi Lennon dan McCartney. Dia menulisnya karena matahari benar-benar datang, dan rasanya enak.

Itu, saya kira, kenapa lagu ini bertahan sampai sekarang. Lagu yang ditulis tanpa beban biasanya yang paling tahan lama.

Makna sebenarnya: musim dingin sebagai metafora

Permukaan lagu ini sangat sederhana. Matahari datang. Semuanya akan baik-baik saja. Senyum kembali ke wajah-wajah. Es mulai mencair. Tapi kalau kita gali sedikit lebih dalam, ada lapisan yang lebih personal.

George sedang bicara tentang dirinya sendiri.

"Musim dingin" yang dia maksud bukan cuma musim dingin Inggris yang panjangnya enam bulan dan langitnya selalu mendung. Itu juga musim dingin batinnya — tahun-tahun di mana dia merasa dikesampingkan dalam band, tahun-tahun di mana dia mencari sesuatu yang lebih besar (yang akhirnya membawanya ke India, ke Ravi Shankar, ke Hare Krishna), tahun-tahun di mana dia bertanya pada dirinya sendiri apakah The Beatles masih ada gunanya.

Dan kemudian, di kebun itu, dia menyadari sesuatu: musim dingin selalu berakhir. Tidak perlu dipaksa. Tidak perlu didoakan keras-keras. Cukup tunggu. Matahari akan datang lagi. Itu hukum alam.

Saya pikir inilah kedewasaan dalam lagu ini. Tidak ada janji bahwa semuanya akan sempurna. Tidak ada deklarasi bahwa rasa sakit sudah hilang selamanya. Hanya pengamatan tenang: hal-hal berubah, dan sekarang giliran yang baik.

Have you heard versi demo yang dia rekam sendirian? Suaranya hampir berbisik. Seperti orang yang baru saja sembuh dari sakit panjang dan tidak ingin terlalu keras berbicara, takut merusak ketenangan yang baru ditemukan.

Konteks kultural untuk pembaca Indonesia

Sekarang, lagu ini sampai ke Indonesia kira-kira tahun 1970-an awal, lewat album Abbey Road yang dibawa para mahasiswa yang pulang dari luar negeri, atau lewat radio Australia yang kadang bisa ditangkap di Bali.

Di Indonesia, generasi yang tumbuh dengan Koes Plus, God Bless, dan kemudian Slank, sebenarnya punya hubungan yang dalam dengan The Beatles. Koes Plus, you know, awalnya bahkan disebut "The Beatles-nya Indonesia" — Tonny Koeswoyo dan saudara-saudaranya membawa harmoni vokal ala Liverpool ke telinga Indonesia di tengah Orde Lama yang melarang musik "ngak-ngik-ngok". Mereka pernah dipenjara karena itu. Bayangkan: dipenjara karena memainkan musik Barat.

Jadi ketika "Here Comes the Sun" akhirnya bisa didengar bebas di Indonesia, lagu ini punya makna ganda. Tidak cuma tentang musim dingin Inggris yang berakhir, tapi juga tentang larangan yang berakhir. Tentang kebebasan yang akhirnya datang setelah lama ditunggu.

Dewa 19 di era 90-an, Sheila on 7 di era 2000-an awal — mereka semua, di tingkat tertentu, mewarisi DNA Beatles. Kesederhanaan melodi, kejujuran lirik, kepercayaan bahwa lagu pop yang baik bisa membicarakan hal-hal besar dengan kata-kata kecil. Lagu "Pelangi di Matamu" dari Jamrud, atau "Sephia" dari Sheila on 7 — keduanya menggunakan pendekatan yang sama dengan George: lagu pendek, gitar akustik, melodi yang nempel dalam tiga detik.

Iwan Fals, dalam karier panjangnya, juga punya momen-momen "Here Comes the Sun"-nya sendiri. Lagu-lagu seperti "Yang Terlupakan" atau bahkan "Bento" yang lebih sinis — semuanya bicara tentang menunggu perubahan, tentang musim yang harus berganti. Generasi yang tumbuh dengan Iwan Fals di tahun 80-an, saya pikir, akan langsung paham apa yang dimaksud George.

Dan kalau kita bicara skena Bandung — Mocca, White Shoes and the Couples Company, bahkan Pamungkas yang lebih baru — mereka semua punya estetika "pagi cerah setelah hujan semalaman" yang sebenarnya sangat dekat dengan apa yang dikerjakan George di kebun Clapton itu.

Kenapa lagu ini masih nyambung sampai sekarang

Tahun 2026 ini, lagu ini sudah berusia 57 tahun. Hampir enam dekade. Tapi tiap pagi, di Spotify global, lagu ini masih masuk top 50 most-streamed Beatles song. Mungkin nomor satu, malah.

Kenapa?

Saya pikir karena dunia kita sekarang penuh dengan musim dingin yang panjang. Pandemi yang baru saja kita lewati. Krisis iklim yang terasa makin nyata setiap kali Jakarta banjir atau Bandung kebakaran. Politik yang melelahkan. Media sosial yang membuat kita merasa harus marah sepanjang waktu.

Dan di tengah semua itu, lagu yang ditulis seorang pria berusia 25 tahun di kebun temannya pada tahun 1969 masih berkata hal yang sama: tunggu sebentar. Mataharinya akan datang. Tidak harus besok. Mungkin minggu depan. Tapi pasti datang.

Itu bukan optimisme murahan. Itu bukan toxic positivity. Itu pengamatan, you know. Pengamatan tenang dari seseorang yang sudah lama menunggu dan akhirnya melihat tanda pertama bahwa penantiannya tidak sia-sia.

Generasi TikTok pun merespon lagu ini dengan cara yang sama. Coba lihat berapa banyak video pagi hari, video bangun dari koma, video reuni keluarga, yang menggunakan intro arpeggio gitar khas George itu. Mereka mungkin tidak tahu siapa Eric Clapton, mungkin tidak tahu apa itu Apple Records, tapi mereka tahu rasa lagu ini. Rasa "akhirnya".

Cara untuk mendalami lebih jauh

🎧 Listen

📚 Read

🌍 Visit

🎸 Experience


Dengarkan di semua platform: https://song.link/i/1441164689

🤖

Tags