SONGFABLE · 1969

Something

THE BEATLES · 1969

TL;DR: "Something" adalah lagu cinta paling tenang yang pernah ditulis George Harrison. Bukan ledakan, bukan deklarasi — hanya pengakuan pelan bahwa ada sesuatu pada seseorang yang sulit dijelaskan, tapi tak bisa kau abaikan. Frank Sinatra menyebutnya sebagai lagu cinta terhebat dalam 50 tahun terakhir. Dirilis di album Abbey Road (1969), inilah momen ketika murid yang selama ini berdiri di belakang Lennon dan McCartney akhirnya melangkah ke depan — dengan tenang, tanpa minta izin. Untuk pendengar Indonesia, lagu ini terasa seperti surat yang ditulis tangan di tengah hujan sore Bandung. Tidak ramai, tidak buru-buru, tapi setiap baris tinggal lama.

Hook: Sebuah lagu yang masuk lewat pintu belakang

Kamu tahu, ada lagu-lagu yang masuk ke hidup kita dengan menggebrak — drum yang menghentak, gitar yang berteriak, vokal yang langsung menyergap di detik pertama. Lalu ada lagu seperti "Something." Lagu yang masuk lewat pintu belakang, melepas sepatunya pelan-pelan, dan duduk di sofa seolah-olah sudah lama tinggal di sana.

Saya selalu berpikir, lagu pembuka Abbey Road sisi B ini adalah salah satu intro paling sederhana dalam sejarah pop. Empat nada gitar. Itu saja. Tapi entah kenapa, begitu jarum vinil menyentuh alur itu, ruangan berubah. Pernah merasakan itu? Ketika sebuah lagu seakan menurunkan suhu ruangan dua derajat, dan tiba-tiba kamu jadi lebih tenang tanpa tahu kenapa.

George Harrison menulis lagu ini, kamu tahu. Bukan John, bukan Paul. Si "diam" itu. Si "Quiet Beatle" yang selama bertahun-tahun harus mengantre untuk memasukkan satu atau dua komposisinya per album. Dan ketika akhirnya ia berhasil — di album terakhir yang mereka rekam bersama — ia tidak datang dengan tinju terkepal. Ia datang dengan bisikan. Dan bisikannya menjadi single Beatles pertama yang ditulis bukan oleh Lennon-McCartney yang dirilis sebagai sisi A.

Background: Bagaimana lagu ini lahir

Ceritanya begini. Tahun 1968. The Beatles sedang merekam The White Album di Abbey Road. Harrison, yang sedang istirahat di studio sebelah, mulai memainkan beberapa akor di piano. Ia teringat sebuah frase dari lagu James Taylor — "Something in the Way She Moves" — yang baru saja dirilis di label Apple milik Beatles sendiri. Frase itu menempel di kepalanya. Bukan untuk dicuri, tapi sebagai jangkar. Sebagai titik awal.

Saya selalu suka cerita ini karena menunjukkan bagaimana lagu sering kali bukan datang dari ledakan inspirasi, melainkan dari frase kecil yang nyangkut. Seperti benang yang tertarik dari sweter — kamu tarik sedikit, lalu seluruh sweter terurai jadi lagu.

Harrison sendiri sempat ragu apakah lagu itu cukup baik. Ia menawarkannya ke Joe Cocker, lalu ke Jackie Lomax. Versi Cocker bahkan dirilis lebih dulu, di album Joe Cocker! tahun 1969. Baru kemudian Harrison memutuskan untuk merekamnya sendiri bersama The Beatles, di sesi-sesi terakhir mereka yang penuh ketegangan di Abbey Road Studios pada musim semi dan musim panas 1969.

Yang menarik — dan ini sering luput dari pembicaraan — adalah peran Billy Preston dan terutama Paul McCartney di lagu ini. Bass line McCartney di "Something" itu, kalau kamu dengarkan dengan headphone yang bagus, hampir seperti lagu kedua yang berjalan paralel. Melodis, bergerak, hampir nakal. Beberapa kritikus menyebutnya terlalu sibuk. Harrison sendiri konon merasa bass-nya agak berlebihan. Tapi saya pikir, justru di situ letak keajaibannya — bass yang gelisah di bawah vokal yang tenang, seperti hati yang berdegup di balik wajah yang santai.

George Martin memberi sentuhan orkestrasi yang halus. String yang masuk di bridge tidak meledak — ia hanya membuka ruang sedikit lebih lebar. Dan solo gitar Harrison di tengah lagu, sekitar dua menit, adalah salah satu solo gitar paling dinyanyikan dalam sejarah rock. Bukan teknik kilat. Setiap nadanya seperti dipikirkan dua kali sebelum dipetik.

Lagu ini dirilis sebagai single double A-side bersama "Come Together" pada Oktober 1969. Mencapai nomor 1 di Billboard Hot 100. Menjadi lagu Beatles yang paling banyak di-cover kedua, setelah "Yesterday" — dengan versi dari Sinatra, Elvis, Ray Charles, Smokey Robinson, James Brown, sampai Tony Bennett. Setiap penyanyi besar abad ke-20 seakan ingin menyentuh lagu ini setidaknya sekali.

Makna sebenarnya: Cinta yang tidak yakin tentang dirinya sendiri

Banyak orang mengira "Something" adalah lagu cinta yang lurus. Surat cinta Harrison untuk Pattie Boyd, istrinya saat itu. Dan memang ada elemen itu — Pattie sendiri mengakui dalam memoarnya bahwa ia merasa lagu ini ditulis untuknya, meskipun Harrison di kemudian hari memberikan jawaban yang bermacam-macam. Kadang ia bilang lagu itu tentang Krishna. Kadang tentang seorang wanita secara umum. Kadang ia hanya tersenyum dan tidak menjawab.

Tapi kalau kita dengarkan baik-baik — tanpa mengutip liriknya, karena saya tidak akan melakukan itu — ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar lagu cinta. Lagu ini penuh keraguan. Penuh pertanyaan yang tidak dijawab. Penulisnya berkata, ada sesuatu pada orang ini yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak yakin apakah perasaan ini akan bertahan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu, untuk sekarang, ia ingin tinggal.

Inilah yang membedakan "Something" dari lagu cinta tipikal era itu. Lagu cinta tahun 60-an biasanya berisi sumpah selamanya, janji kekal, deklarasi yang dramatis. "Something" menolak semua itu. Ia mengakui ketidakpastian sebagai bagian dari cinta. Dan justru karena itu, ia terasa jauh lebih jujur.

Saya pikir, dan ini cuma pendapat saya, lagu ini sebenarnya tentang dewasa. Tentang momen ketika kamu menyadari bahwa cinta bukan tentang kepastian — cinta adalah tentang memilih untuk tetap berdiri di samping seseorang meskipun kamu tidak punya jaminan apa-apa. Harrison menulis ini di usia 25, di tengah pernikahan yang akan retak (Pattie kelak meninggalkannya untuk sahabatnya, Eric Clapton), di tengah band yang sedang bubar. Ia tahu betul tentang ketidakpastian.

Dan inilah sebabnya lagu ini bertahan. Karena ia tidak berbohong.

Konteks budaya: Kenapa lagu ini terasa dekat dengan telinga Indonesia

Sekarang, kenapa saya merasa "Something" punya tempat khusus di telinga pendengar Indonesia? Pernah dengar lagu-lagu Iwan Fals yang lebih tenang — bukan yang protes, tapi yang reflektif seperti "Aku Bukan Pilihan" atau "Kemesraan"? Ada kesamaan emosi di sana. Cinta yang dibungkus dengan kesederhanaan. Cinta yang tidak berteriak.

Atau ambil lagu-lagu lambat Dewa 19 di era Bintang Lima — komposisi Dhani yang berisi keraguan dan pengakuan diam-diam. Atau Sheila on 7 di album debutnya tahun 1999, ketika Eross dan Duta menulis tentang cinta SMA dengan kelembutan yang sebenarnya sangat Harrison-esque. "Dan…" atau "Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki" — coba bandingkan kekonsistenan emosionalnya dengan "Something." Kamu akan dengar benang yang sama.

Bahkan kalau kita melompat lebih jauh ke belakang, Koes Plus — yang menyerap pengaruh Beatles secara terang-terangan di akhir 60-an dan awal 70-an — sebenarnya sedang belajar dari kosa kata musikal yang sama. "Kembali ke Jakarta" atau "Bujangan" mungkin punya tempo berbeda, tapi pendekatan harmoni dan melodi pop yang catchy tapi rendah hati itu sangat berhutang pada zaman Abbey Road.

Dan inilah, saya pikir, mengapa Indonesia punya hubungan istimewa dengan Beatles secara umum. Di toko-toko vinil Pasar Tanah Abang yang lama, atau di lapak-lapak Jalan Surabaya di Jakarta, Abbey Road selalu jadi salah satu album yang paling sering ditanyakan. Saya pernah dengar cerita dari seorang kolektor di Bandung — di kawasan Cihampelas — yang bilang bahwa untuk generasi 70-an, mendengarkan Beatles adalah cara diam-diam untuk merasa terhubung dengan dunia luar, di tengah masa yang penuh batasan.

Dan untuk generasi yang lebih muda — yang mungkin pertama kali dengar "Something" lewat playlist Spotify atau soundtrack film — lagu ini menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di pop kontemporer: kesabaran. Lagu ini tidak terburu-buru. Tidak ada drop. Tidak ada hook yang dipaksa muncul setiap 8 detik. Hanya tiga menit pelan yang mengizinkan kamu untuk berpikir.

Kenapa lagu ini masih beresonansi hari ini

Saya pikir alasannya begini. Kita hidup di era yang sangat ramai. Pemberitahuan tanpa henti. TikTok yang memotong perhatian jadi 15 detik. Bahkan lagu pop kontemporer sekarang jarang yang lebih dari tiga menit, dan biasanya hook-nya muncul sebelum detik kedua puluh karena algoritma menuntutnya.

"Something" adalah anti-tesis dari semua itu. Ia membuka dengan empat nada. Ia membiarkan jeda. Ia mengizinkan kamu untuk tidak terburu-buru. Dan dalam dunia yang terus-menerus berteriak, kemampuan untuk berbicara pelan menjadi kemewahan.

Lebih dari itu, lagu ini berbicara tentang sesuatu yang tetap relevan: tentang cinta yang tidak pasti, tentang perasaan yang tidak bisa dinamai, tentang kerinduan akan kehadiran tanpa janji. Bukankah ini juga tema-tema yang muncul di lagu-lagu Hindia, atau .Feast, atau Pamungkas? Pemain-pemain muda Indonesia yang menulis tentang cinta dengan ambiguitas yang lebih jujur ketimbang melodrama era 2000-an.

Ada sesuatu yang berputar kembali. Dan saya pikir generasi sekarang menemukan kembali Beatles bukan karena nostalgia — mereka tidak punya nostalgia untuk era itu — tapi karena mereka mengenali sesuatu yang familiar di dalamnya. Sebuah kejujuran emosional yang dibutuhkan kembali.

Satu hal lagi yang menarik. "Something" adalah lagu George Harrison. Si pria yang selama bertahun-tahun berdiri di belakang dua bintang yang lebih besar darinya. Dan ada pelajaran di situ untuk siapa pun yang merasa berada di bayang-bayang — untuk junior di kantor, untuk adik di keluarga, untuk siapa pun yang merasa suaranya kalah keras. Kadang, kalau kamu cukup sabar dan cukup jujur, suara yang paling pelan justru yang paling lama didengar.

Cara menyelam lebih dalam

🎧 Dengarkan

📚 Baca

🌍 Kunjungi

🎸 Rasakan


🤖 Dengarkan di platform pilihanmu: https://song.link/i/1441164704

Tiga pertanyaan untuk dipikirkan:

  1. Kalau "Something" ditulis hari ini oleh seorang musisi Indonesia muda, siapa yang menurutmu bisa membawakannya dengan rasa yang tepat — dan kenapa?
  2. Harrison selalu berada di bayang-bayang Lennon-McCartney. Apakah ada momen dalam hidupmu ketika kesabaran "menunggu giliran" justru menghasilkan karya terbaikmu?
  3. Apa makna "cinta yang tidak pasti tapi tetap memilih untuk tinggal" untukmu? Apakah ini kekuatan, atau kelemahan?
Tags