SONGFABLE · 1997

Bitter Sweet Symphony

THE VERVE · 1997

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Bitter Sweet Symphony - The Verve (1997)

TL;DR: Sebuah lagu tentang merasa terjebak menjadi budak rutinitas dan uang sampai mati — yang ironisnya, justru kehilangan hampir seluruh royaltinya selama puluhan tahun gara-gara sampel orkestra sepanjang beberapa detik. Hidup dan lagunya sama-sama pahit-manis.

Lagu yang Membuat Penciptanya Tidak Dapat Sepeser Pun Selama 22 Tahun

Bayangkan kamu menulis salah satu lagu paling ikonik dalam sejarah musik rock Inggris. Lagu itu diputar di mana-mana — di iklan, di film, di stadion sepak bola, di radio dari Manchester sampai Manila. Tapi selama 22 tahun, kamu tidak menerima satu pun sen dari royalti penulisan lagu itu. Inilah kisah nyata di balik "Bitter Sweet Symphony" karya The Verve.

Inilah ironi yang membuat lagu ini terasa hampir seperti nubuat tentang nasibnya sendiri. Liriknya berbicara tentang manusia yang merasa hidupnya bukan miliknya sendiri — terikat pada sistem, pada uang, pada roda yang terus berputar tanpa belas kasihan. Dan kemudian, di dunia nyata, lagu itu sendiri "disita" oleh sistem hukum hak cipta. Seni meniru kehidupan, lalu kehidupan membalas dengan kejam. Banyak penggemar menyebut ini sebagai salah satu kebetulan paling menyedihkan sekaligus paling puitis dalam sejarah pop. Kalau kamu pernah merasa lagu ini punya aura melankolis yang dalam meski iramanya megah dan menggugah, mungkin kamu merasakan sesuatu yang nyata.

Manchester, Britpop, dan Sebuah Loop yang Tak Pernah Berhenti

Untuk memahami "Bitter Sweet Symphony", kita harus mundur ke pertengahan 1990-an di Inggris. Saat itu adalah era kejayaan Britpop — gerakan musik yang dipimpin band-band seperti Oasis, Blur, dan Pulp. Inggris sedang dilanda demam optimisme budaya yang kelak dikenal sebagai "Cool Britannia". Di tengah hiruk-pikuk persaingan Oasis melawan Blur, The Verve — band asal Wigan yang dipimpin vokalis berambut panjang nan karismatik bernama Richard Ashcroft — agak berbeda. Mereka lebih psikedelik, lebih melamun, lebih cocok untuk perjalanan batin daripada untuk berpesta di klub.

The Verve sebenarnya sempat bubar pada tahun 1995 sebelum bersatu kembali untuk merekam album ketiga mereka, "Urban Hymns". Album inilah yang akhirnya melambungkan mereka, dan "Bitter Sweet Symphony" adalah single pembukanya, dirilis pada Juni 1997. Lagu ini langsung menjadi fenomena dan dianggap banyak orang sebagai salah satu lagu terbaik dekade itu.

Yang membuat lagu ini begitu khas adalah aransemen senar orkestra yang megah dan terus berulang dari awal sampai akhir — seperti loop yang tak pernah berhenti, persis seperti tema liriknya tentang rutinitas yang tak ada ujungnya. Loop inilah yang menjadi sumber masalah. Aransemen senar itu konon diambil dari versi orkestra sebuah lagu The Rolling Stones berjudul "The Last Time", yang direkam oleh Andrew Loog Oldham Orchestra. The Verve sebenarnya sudah meminta lisensi, tapi pihak manajemen Rolling Stones — terutama mantan manajer mereka Allen Klein — menganggap The Verve menggunakan sampel itu melebihi kesepakatan. Hasilnya: 100 persen royalti penulisan lagu dialihkan kepada Mick Jagger dan Keith Richards, dan Ashcroft secara hukum bahkan tidak lagi diakui sebagai penulis tunggal lagunya sendiri.

Ada satu sambungan budaya yang menarik buat kita di Asia Tenggara. Pada era 1990-an dan 2000-an, MTV Asia dan radio-radio besar di Indonesia menjadi jembatan utama anak-anak muda kita mengenal musik Barat. "Bitter Sweet Symphony" adalah salah satu lagu yang sering muncul di rotasi tersebut, dan video klipnya — Ashcroft berjalan menabrak orang di trotoar tanpa peduli — menjadi salah satu gambar paling diingat dari era itu. Bagi banyak penggemar musik Barat di Indonesia, lagu ini adalah pintu masuk ke dunia Britpop yang lebih luas, sebelum akhirnya mereka menyelami Oasis, Radiohead, dan band-band Inggris lainnya.

Roda yang Terus Berputar: Membongkar Makna Liriknya

Inti dari "Bitter Sweet Symphony" adalah perasaan terjebak dalam keberadaan yang sudah ditentukan sejak lahir. Liriknya menggambarkan seorang manusia yang menyadari bahwa ia hanyalah sekrup kecil dalam mesin raksasa masyarakat. Ia merasa hidupnya didikte oleh uang — bahwa ia hanya bisa "menjadi apa adanya", terikat pada peran yang sudah dipaksakan kepadanya, dan tidak punya kebebasan sejati untuk berubah.

Ada nada perlawanan sekaligus kepasrahan yang berjalan beriringan sepanjang lagu. Di satu sisi, sang narator menolak menjadi budak dari sistem dan menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Tapi di sisi lain, ia mengakui bahwa perubahan itu nyaris mustahil — bahwa roda kehidupan terus berputar entah ia suka atau tidak, dan satu-satunya kepastian yang menantinya di ujung jalan adalah kematian. Inilah "simfoni" yang dimaksud: melodi hidup yang indah namun pahit, sebuah keindahan yang tidak bisa dilepaskan dari penderitaan.

Yang membuat lirik ini begitu menggugah adalah kejujurannya. Ashcroft tidak menawarkan solusi murahan atau optimisme palsu. Ia tidak bilang semuanya akan baik-baik saja. Sebaliknya, ia menggambarkan kondisi manusia modern apa adanya: kita lahir ke dalam struktur yang tidak kita pilih, kita bekerja untuk uang yang tak pernah cukup, dan kita semua berjalan menuju akhir yang sama. Tapi di balik kepahitan itu, ada keindahan — ada momen-momen manis yang membuat semuanya layak dijalani. Itulah sebabnya lagunya tidak terasa nihilistik, melainkan justru memberdayakan secara aneh. Mengakui kepahitan adalah langkah pertama untuk menemukan rasa manisnya.

Banyak pendengar menafsirkan lagu ini sebagai meditasi tentang materialisme dan keterasingan di masyarakat kapitalis. Ada pula yang membacanya secara lebih spiritual — sebagai pergulatan jiwa yang mencari makna di tengah dunia yang dingin dan transaksional. Kedua tafsir itu sama-sama sah, dan justru ambiguitas inilah yang membuat lagu ini terus relevan lintas generasi.

Video Klip Ikonik dan Warisan Budaya yang Abadi

Tidak mungkin membicarakan "Bitter Sweet Symphony" tanpa menyebut video klipnya yang legendaris. Dalam klip itu, Richard Ashcroft berjalan menyusuri trotoar di Hoxton, London, dengan tatapan kosong dan tekad bulat, menabrak siapa pun yang menghalangi jalannya tanpa pernah melambat atau meminta maaf. Adegan satu pengambilan gambar yang terus-menerus ini menjadi simbol visual sempurna untuk lirik lagunya: seseorang yang menolak tunduk pada aturan sosial, yang terus berjalan lurus di tengah dunia yang ingin membentuknya. Konon ide klip ini terinspirasi dari video Massive Attack berjudul "Unfinished Sympathy", dan kini telah ditiru serta diparodikan tak terhitung kali, termasuk dalam beberapa episode acara komedi terkenal.

Lagu ini juga punya kehidupan kedua yang luar biasa luas. Ia digunakan dalam soundtrack film "Cruel Intentions" (1999) yang sangat populer di kalangan remaja seantero dunia, termasuk Indonesia. Ia juga dipakai dalam iklan, acara televisi, dan bahkan menjadi semacam lagu kebangsaan tidak resmi bagi tim sepak bola tertentu. Bagi sebuah generasi, melodi senar pembukanya itu seketika membangkitkan nostalgia akan akhir 1990-an.

Dan kemudian, ada babak terakhir yang manis dari kisah ini. Pada tahun 2019, setelah lebih dari dua dekade, Mick Jagger dan Keith Richards akhirnya secara sukarela menyerahkan kembali seluruh hak penulisan lagu kepada Richard Ashcroft. Ashcroft mengumumkan hal ini sambil menyebutnya sebagai gestur yang murah hati dan benar dari kedua legenda Rolling Stones tersebut. Setelah 22 tahun, sang pencipta akhirnya diakui dan diberi hak atas mahakaryanya sendiri. Sebuah akhir pahit-manis yang sesuai dengan judulnya — penantian panjang yang akhirnya berbuah keadilan.

Mengapa Lagu Ini Masih Menggetarkan Hati Hingga Kini

Hampir tiga dekade setelah dirilis, "Bitter Sweet Symphony" tetap terasa relevan, dan mungkin justru semakin relevan. Kita hidup di era ketika perbincangan tentang "tikus pacuan" — orang-orang yang terus berlari mengejar uang dan status tanpa kebahagiaan sejati — menjadi semakin keras. Generasi muda di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bergulat dengan pertanyaan tentang makna kerja, tekanan finansial, dan keinginan untuk hidup secara autentik di tengah dunia yang menuntut konformitas. Tema-tema inilah yang dinyanyikan Ashcroft pada 1997, dan tema-tema itu tidak pernah pudar.

Ada juga daya tarik universal pada cara lagu ini menyatukan kemegahan dengan kesedihan. Aransemen senarnya begitu agung dan menggetarkan sehingga membuatmu ingin mengangkat kepala dan terus melangkah, persis seperti Ashcroft dalam videonya. Tapi liriknya menjaga kakimu tetap menapak bumi, mengingatkanmu bahwa perjuangan itu nyata. Kombinasi keindahan musikal dan kejujuran emosional inilah yang membuatnya melampaui label "lagu Britpop tahun 90-an" dan menjadi karya yang abadi.

Bagi penggemar musik Barat di Indonesia, lagu ini juga menjadi semacam batu pijakan budaya. Ia menghubungkan kita pada momen ketika musik alternatif Inggris mencapai puncaknya, dan ia tetap menjadi salah satu lagu pertama yang direkomendasikan kepada siapa pun yang ingin memahami apa itu Britpop. Setiap kali intro senar itu mengalun, ada sesuatu di dalamnya yang berbisik tentang kebebasan, keterbatasan, dan keindahan menjalani hidup yang tidak sempurna. Itulah sihir yang tak lekang oleh waktu.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
90s