SONGFABLE · 1997

Bittersweet Symphony

THE VERVE · 1997

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Bittersweet Symphony - The Verve (1997)

TL;DR: Sebuah lagu megah tentang menjadi budak rutinitas hidup yang tak bisa kita ubah — dan ironisnya, selama hampir 22 tahun The Verve sendiri tidak boleh menikmati sepeser pun royaltinya gara-gara sampel string sepanjang beberapa detik yang berujung salah satu sengketa hak cipta paling terkenal dalam sejarah musik.

Bayangkan menciptakan mahakarya, lalu tak boleh memilikinya

Ada satu kebenaran pahit yang menempel pada lagu ini, dan kebenaran itu justru lebih getir daripada lirik mana pun di dalamnya. "Bittersweet Symphony" adalah salah satu lagu terbesar dekade 1990-an — diputar di radio seluruh dunia, dipakai di film, iklan, dan acara televisi — tetapi selama lebih dari dua dekade, vokalis sekaligus penulisnya, Richard Ashcroft, secara resmi tidak diakui sebagai pemilik penuh ciptaannya sendiri. Royalti lagu itu mengalir ke pihak lain: ke katalog penerbitan milik Mick Jagger dan Keith Richards dari The Rolling Stones.

Penyebabnya? Sebuah dawai orkestra yang melengking di awal lagu — fondasi yang membuat seluruh komposisi terasa epik dan tak terlupakan — diambil dari aransemen orkestra atas lagu The Rolling Stones. Dan klaim atas potongan kecil itu cukup untuk merampas hampir seluruh kepemilikan lagu dari tangan orang yang menulis melodi vokal dan liriknya. Jadi ketika Anda mendengarkan "Bittersweet Symphony", Anda sebenarnya sedang mendengarkan sebuah lagu yang temanya — terjebak dalam sistem yang tak bisa kita kalahkan — terbukti benar di kehidupan nyata penciptanya sendiri. Sulit menemukan ironi sebrilian itu di seluruh sejarah musik populer.

Manchester, mimpi besar, dan band yang nyaris bubar

The Verve lahir di Wigan, dekat Manchester, Inggris, pada akhir 1980-an. Mereka tumbuh di era ketika Britania Raya sedang mengalami ledakan kreatif yang kelak dikenal sebagai Britpop — gelombang band gitar yang mengembalikan kebanggaan musik Inggris, dipimpi oleh nama-nama seperti Oasis dan Blur. Tetapi The Verve sebenarnya agak berbeda. Mereka lebih psikedelik, lebih melamun, lebih cenderung berkelana ke ruang suara yang luas dan halus ketimbang menulis lagu anthem stadion yang lugas.

Menariknya, menjelang album ketiga mereka, Urban Hymns (1997), band ini justru baru saja bubar dan berkumpul kembali. Hubungan antara Ashcroft dan gitaris jenius mereka, Nick McCabe, dikabarkan penuh ketegangan. Banyak yang menyangka The Verve sudah tamat. Lalu lahirlah "Bittersweet Symphony", dan segalanya berubah. Lagu ini melambungkan mereka dari band kultus yang dipuja kritikus menjadi fenomena global dalam semalam.

Bagi pendengar musik Barat di Indonesia, ini era yang akrab. Pertengahan hingga akhir 1990-an adalah masa keemasan MTV Asia. Generasi yang tumbuh menonton MTV di kamar atau di rumah teman pasti pernah melihat klip video ikonik itu: Ashcroft berjalan tegap menyusuri trotoar London sambil menabrak orang-orang yang lewat, tak peduli, terus melangkah lurus tanpa pernah berhenti. Bagi banyak penggemar musik Indonesia, video itu adalah salah satu citra paling melekat dari era MTV — sebuah simbol pemberontakan diam yang dimengerti lintas bahasa. Lagu ini juga menjadi langganan kompilasi-kompilasi rock Barat yang beredar luas di Indonesia kala itu, ikut membentuk selera satu generasi pendengar di sini.

Apa yang sebenarnya dibicarakan lagu ini

Inti "Bittersweet Symphony" sebetulnya bukan kisah cinta, dan bukan pula lagu penyemangat. Ia adalah perenungan getir tentang nasib manusia modern yang merasa terperangkap di dalam roda kehidupan yang berputar tanpa belas kasihan.

Ashcroft menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang terombang-ambing dalam arus eksistensi — sosok yang harus terus bergerak maju menjalani hidup, padahal sebenarnya ia merasa hanya sedikit yang benar-benar berada dalam kendalinya. Ada perasaan bahwa kita semua diperbudak oleh uang, oleh tuntutan untuk bekerja, oleh kebutuhan terus-menerus untuk mengubah diri demi memenuhi harapan dunia di sekitar kita. Lagu ini menyentuh kegelisahan yang sangat manusiawi: keinginan untuk menjadi diri sendiri, sambil sadar bahwa masyarakat terus-menerus menuntut kita berubah menjadi orang lain.

Yang membuat lagu ini begitu kuat adalah keseimbangan antara kepasrahan dan ketegaran. Di satu sisi ada penerimaan yang nyaris fatalistik — pengakuan bahwa hidup memang begini, manis dan pahit sekaligus, sebuah "simfoni" yang indah justru karena penuh penderitaan. Di sisi lain ada nada perlawanan halus, semacam tekad untuk tetap melangkah lurus meski seluruh dunia mendorongmu ke samping. Persis seperti adegan Ashcroft berjalan menabrak orang di video itu: ia tidak menang, tetapi ia juga menolak menyerah.

Ada pula sentuhan kontemplasi yang lebih gelap, semacam kesadaran akan kefanaan — pengingat bahwa pada akhirnya kita semua menuju titik yang sama, dan bahwa kekayaan maupun status tidak akan ikut terbawa. Justru kesadaran inilah yang membuat lirik lagu terasa begitu dalam meski dibungkus aransemen yang megah dan menghentak. "Bittersweet Symphony" tidak menawarkan jawaban; ia hanya mengajak kita duduk sejenak bersama pertanyaan-pertanyaan besar tentang makna, kebebasan, dan keterbatasan.

Konteks budaya dan sengketa hukum yang melegenda

Di sinilah cerita lagu ini menjadi sungguh dramatis. Untuk menciptakan dawai orkestra yang ikonik itu, The Verve menggunakan sampel dari rekaman orkestra The Andrew Oldham Orchestra — sebuah versi instrumental atas lagu "The Last Time" milik The Rolling Stones. The Verve dikabarkan sudah mengantongi izin penggunaan sampel tersebut. Namun setelah lagu meledak menjadi hit raksasa, pihak penerbit musik The Rolling Stones, ABKCO yang dikelola Allen Klein, menyatakan bahwa The Verve menggunakan lebih banyak dari yang disepakati.

Hasilnya brutal. The Verve dipaksa menyerahkan 100 persen royalti penerbitan lagu itu, dan nama Mick Jagger serta Keith Richards ditambahkan sebagai penulis lagu — meski melodi vokal dan seluruh lirik yang membuat lagu itu hidup sepenuhnya karya Richard Ashcroft. Selama bertahun-tahun, Ashcroft kabarnya hanya menerima sangat sedikit dari mahakaryanya sendiri. Ia pernah menyebut situasi itu sebagai salah satu lagu terbaik yang pernah ditulis dalam dua puluh tahun terakhir, yang ironisnya bukan miliknya. Yang lebih menyakitkan, ketika lagu itu dipakai dalam iklan Nike, persetujuan datang bukan dari Ashcroft melainkan dari pemegang hak yang lain.

Baru pada tahun 2019, lebih dari dua dekada kemudian, terjadi rekonsiliasi. Dilaporkan bahwa Jagger dan Richards dengan sukarela menyerahkan kembali hak penerbitan dan kredit penulisan kepada Ashcroft. Ashcroft mengumumkan kabar itu dengan penuh haru, menyebutnya sebagai sikap yang sangat murah hati dan luar biasa dari kedua legenda Rolling Stones tersebut. Akhir yang manis untuk lagu yang selama ini terlanjur pahit. Kisah ini sejak itu menjadi bahan kuliah wajib di banyak diskusi tentang sampling, hak cipta, dan keadilan dalam industri musik.

Mengapa lagu ini tetap menggetarkan sampai hari ini

Hampir tiga dekade berlalu, dan "Bittersweet Symphony" sama sekali tidak terdengar usang. Sebagian alasannya tentu pada aransemennya yang abadi: lingkaran dawai yang berulang itu punya kualitas seperti mantra, membangun ketegangan emosional tanpa pernah benar-benar lepas. Ada rasa megah dan agung di dalamnya, semacam keindahan sinematik yang membuat lagu ini cocok mengiringi momen-momen besar dalam hidup — itulah kenapa ia begitu sering muncul di adegan klimaks film dan acara televisi.

Tetapi alasan yang lebih dalam adalah temanya yang tak lekang waktu. Perasaan terjebak dalam rutinitas, tekanan untuk terus mengejar uang, keinginan untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang menuntut kita berubah — semua itu justru semakin relevan di era media sosial, hustle culture, dan kecemasan ekonomi yang melanda generasi muda hari ini. Pendengar muda di Indonesia yang merasa lelah dengan tuntutan untuk selalu produktif, selalu tampil, selalu berubah, akan menemukan gema perasaan mereka di dalam lagu ini, meski lagu ini ditulis sebelum sebagian dari mereka lahir.

Dan ada lapisan makna ekstra yang hanya dimiliki lagu ini: kisah di baliknya. Ketika Anda tahu bahwa lagu tentang merasa diperbudak sistem ternyata membuat penciptanya benar-benar kehilangan kepemilikan atas ciptaannya, lagu itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar — sebuah kebenaran hidup yang menjelma nyata. Lirik dan takdir nyata bertemu menjadi satu. Itulah sebabnya "Bittersweet Symphony" bukan sekadar lagu hit nostalgia; ia adalah dongeng modern tentang seni, keadilan, dan harga sebuah karya. Manis dan pahit, sampai sekarang.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

Untuk benar-benar merasakan kekuatan lagu ini, dengarkan album penuhnya, bukan hanya single-nya. Urban Hymns punya banyak permata lain seperti "The Drugs Don't Work" dan "Lucky Man" yang memperlihatkan sisi melankolis The Verve. Vinil album ini terasa istimewa karena lapisan-lapisan dawai dan gitar McCabe terdengar lebih hidup di format analog.

📚 Mengikuti kisahnya

Cerita di balik sengketa hak cipta lagu ini adalah salah satu drama industri musik paling menarik. Buku-buku tentang Britpop dan tentang bisnis musik membantu Anda memahami betapa kejamnya dunia di balik lagu yang terdengar indah. Bacaan tentang sejarah sampling juga membuka mata soal bagaimana hukum hak cipta membentuk musik yang kita dengar.

🌍 Mengunjungi tempatnya

Video ikonik lagu ini direkam di jalanan London, dan kota itu adalah jantung dari seluruh gerakan Britpop. Berjalan menyusuri trotoar London sambil mendengarkan lagu ini terasa seperti memasuki adegan video itu sendiri. Manchester dan Wigan, kampung halaman band, juga jadi ziarah wajib bagi penggemar musik Inggris era ini.

🎸 Mengalaminya sendiri

Bagian dawai yang ikonik itu bisa dipelajari di biola atau di keyboard, sementara struktur lagunya yang berulang sebenarnya cukup ramah bagi gitaris pemula. Mencoba memainkannya sendiri membuat Anda menyadari betapa jeniusnya kesederhanaan loop yang berputar tanpa henti itu.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
90s