SONGFABLE · 2017

Best Part

DANIEL CAESAR · 2017

TL;DR: "Best Part" terdengar seperti lagu cinta paling manis di dunia, padahal inti sebenarnya adalah pengakuan ketergantungan: dua orang yang mengaku bahwa tanpa satu sama lain, versi terbaik dari diri mereka tidak akan pernah muncul. Itu bukan pujian romantis biasa, itu sebuah pertaruhan.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Hook: lagu paling lembut yang sebenarnya paling berani

Ada satu hal aneh tentang "Best Part". Lagu ini nyaris tidak punya apa-apa. Tidak ada drop, tidak ada beat yang menghentak, tidak ada chorus raksasa yang dirancang untuk stadion. Yang ada hanya gitar yang dipetik pelan, dua suara, dan ruang kosong yang dibiarkan bernapas. Secara produksi, ini adalah lagu yang berani karena ia menolak melakukan hampir semua hal yang biasanya dilakukan lagu hit modern.

Tapi keberanian yang sesungguhnya ada di liriknya, dan bukan pada bagian yang orang kira.

Kebanyakan pendengar mengingat "Best Part" sebagai lagu pujian. Kekasih dibandingkan dengan hal-hal alamiah yang menopang kehidupan, dan itu terdengar seperti gombalan tingkat dewa. Tapi kalau kamu dengar lebih pelan, pujian itu punya sisi lain yang jarang dibicarakan: Daniel Caesar dan H.E.R. sebenarnya sedang mengakui bahwa mereka tidak lengkap sendirian. Bahwa ada bagian dari diri mereka yang hanya bisa hidup kalau orang lain ada di sana.

Dalam budaya pop yang selama satu dekade terakhir mengagungkan kemandirian emosional, "aku baik-baik saja sendiri", "aku tidak butuh siapa-siapa", pengakuan seperti itu justru terasa subversif. "Best Part" adalah lagu yang dengan tenang berkata: aku butuh kamu, dan aku tidak malu mengatakannya. Itulah alasan lagu ini menempel begitu lama di kepala orang, jauh melebihi lagu-lagu yang jauh lebih ramai.

Latar: anak pendeta dari Oshawa yang membawa gereja ke kamar tidur

Daniel Caesar lahir dengan nama Ashton Simmonds di Oshawa, kota kecil di Ontario, Kanada, dari keluarga imigran Jamaika. Ayahnya seorang musisi gospel, dan rumah tempat ia tumbuh dipenuhi musik gereja. Ia bernyanyi di gereja sejak kecil, dan kalau kamu dengar cara ia memakai suaranya, cara ia membiarkan nada bergetar dan mengambang, akar gospel itu tidak pernah benar-benar hilang.

Yang menarik adalah apa yang terjadi setelahnya. Menurut berbagai wawancara, hubungannya dengan lingkungan yang sangat religius itu sempat retak. Ia dikeluarkan dari sekolah berasrama Kristen, pindah ke Toronto, dan sempat mengalami masa-masa sulit termasuk periode tanpa tempat tinggal yang tetap. Ia mengganti namanya menjadi Daniel Caesar, dua nama yang terdengar seperti dua penguasa dari dua dunia berbeda, satu nabi dan satu kaisar, dan mulai mengunggah musik sendiri.

Yang ia lakukan berikutnya adalah kunci untuk memahami "Best Part". Alih-alih membuang bahasa gereja, ia memindahkannya. Kekhusyukan yang biasanya ditujukan ke atas, ia arahkan ke seorang manusia. Struktur harmoninya, cara vokal latar menumpuk seperti paduan suara, ketenangan yang nyaris seperti doa, semuanya adalah kosakata gospel yang dipakai untuk lagu tentang seseorang yang tidur di sebelahmu. Itu sebabnya lagu ini terasa lebih besar dari sekadar lagu cinta: secara musikal, ia memang dibangun dengan bahan-bahan ibadah.

"Best Part" muncul di Freudian, album debut penuh Caesar yang dirilis Agustus 2017 lewat Golden Child Recordings, label independen yang dijalankan bersama teman-teman masa kecilnya. Album itu dibuat tanpa dukungan label besar, dan tetap meledak. Freudian kemudian mendapat nominasi Grammy, dan "Best Part" memenangkan Grammy untuk Best R&B Performance pada 2019.

Duetnya, H.E.R., saat itu masih sosok yang sengaja disembunyikan. Nama panggungnya adalah singkatan dari "Having Everything Revealed", dan di awal karier ia tampil dengan wajah tersamar, tanpa identitas yang diumbar. Gabriella Wilson, nama aslinya, membangun basis penggemar murni lewat musik. Kombinasi dua penyanyi yang sama-sama menolak bermain dengan aturan industri inilah yang membuat "Best Part" terasa jujur, bukan produk.

Buat pendengar Indonesia, ada satu jembatan budaya yang jarang disadari: cara "Best Part" bekerja secara emosional sangat dekat dengan tradisi lagu cinta Indonesia yang lembut dan penuh kesabaran. Dari Tulus sampai Kunto Aji, dari Payung Teduh sampai Hindia, ada garis yang sama, yaitu keyakinan bahwa lagu cinta tidak perlu berteriak untuk terasa dalam. "Best Part" masuk ke Indonesia dan langsung terasa akrab bukan karena ia asing dan eksotis, tapi justru karena ia berbicara dengan logika emosional yang sudah lama dipahami di sini. Lagu ini menjadi salah satu lagu paling sering dibawakan ulang di kanal YouTube musisi Indonesia, di kafe-kafe Jakarta dan Bandung, dan di sesi akustik pernikahan. Ia menjadi bagian dari repertoar bersama tanpa perlu diterjemahkan.

Makna inti: pujian yang sebenarnya adalah pengakuan kerapuhan

Kalau kamu bongkar isi "Best Part" tanpa mengutip satu barispun, strukturnya kira-kira begini.

Bait pertama, yang dinyanyikan Caesar, membangun serangkaian perbandingan alam. Kekasihnya disamakan dengan unsur-unsur yang membuat sesuatu tumbuh dan bertahan. Ini bukan perbandingan estetis, bukan "kamu cantik seperti bunga". Ini perbandingan fungsional. Yang ia pilih adalah hal-hal yang tanpanya kehidupan berhenti. Perbedaannya halus tapi menentukan: ia tidak sedang memuji penampilan, ia sedang menyatakan ketergantungan biologis.

Lalu H.E.R. masuk, dan di sinilah lagu ini melakukan sesuatu yang cerdas. Ia tidak sekadar menjawab dengan pujian balasan. Ia melanjutkan gambar yang sama dari sisi lain, sehingga dua bait itu menjadi satu sistem tertutup. Keduanya menjadi syarat hidup bagi satu sama lain. Tidak ada yang menjadi objek dan tidak ada yang menjadi subjek. Ini bukan lagu tentang seseorang yang memuja, ini lagu tentang dua orang yang saling menopang.

Bagian yang berulang, tempat frasa "best part" muncul, membalik logika waktu sehari-hari. Dalam pembacaan yang paling umum, yang dimaksud bukanlah bahwa hubungan ini adalah bagian terbaik dari hidup mereka secara umum, melainkan bahwa momen paling penting dalam satu hari adalah saat mereka bersama. Sisa hari, pekerjaan, perjalanan, kewajiban, hanyalah jarak yang harus dilalui untuk sampai ke sana. Ini adalah cara pandang yang sangat spesifik tentang cinta: bukan sebagai puncak dramatis, tapi sebagai titik tenang yang menjadi alasan menjalani seluruh sisanya.

Dan justru di situ letak keberaniannya. Menempatkan satu orang sebagai pusat gravitasi hidupmu adalah pertaruhan besar. Kalau orang itu pergi, seluruh struktur ikut runtuh. "Best Part" tidak pura-pura tidak tahu soal itu. Ada nada rentan di sepanjang lagu, terutama di cara Caesar menahan suaranya, seolah kalau ia bernyanyi terlalu keras, mantranya akan pecah.

Konteks album memperkuat pembacaan ini. Freudian dinamai dari Sigmund Freud, dan album itu secara keseluruhan menelusuri bagaimana cinta romantis bercampur dengan kebutuhan yang lebih tua, kebutuhan akan penerimaan, akan rumah, akan sesuatu yang dulu dicari di tempat lain. Kalau "Best Part" adalah pembuka album, lagu-lagu setelahnya menunjukkan apa yang terjadi ketika ketergantungan itu diuji. Diletakkan di posisi pembuka, "Best Part" berfungsi seperti janji yang akan dibongkar perlahan sepanjang album, dan itu membuatnya jauh lebih pahit daripada saat didengar sendirian.

Konteks budaya: momen ketika R&B memilih berbisik

Pertengahan 2010-an adalah masa yang aneh untuk R&B. Setelah bertahun-tahun didominasi produksi maksimal, muncul gelombang balik: Frank Ocean dengan Blonde, SZA dengan Ctrl, Solange dengan A Seat at the Table, dan sederet artis yang memilih ruang kosong daripada kepadatan. "Best Part" masuk tepat di gelombang itu, dan menjadi salah satu buktinya yang paling murni.

Yang membedakan Caesar adalah jalur distribusinya. Freudian dirilis lewat label independen milik sendiri, tanpa mesin promosi raksasa. Kesuksesannya adalah kesuksesan era streaming yang sesungguhnya, ketika sebuah lagu bisa menyebar lewat playlist, rekomendasi algoritma, dan mulut ke mulut, tanpa perlu radio atau anggaran iklan. Untuk banyak musisi independen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, model ini menjadi bukti nyata bahwa jalur alternatif itu ada dan bisa berhasil.

Ada juga dimensi lain yang jarang dibahas. Caesar adalah bagian dari gelombang musisi kulit hitam Kanada, bersama nama-nama seperti Drake, The Weeknd, dan Charlotte Day Wilson, yang mengubah Toronto menjadi pusat gravitasi baru dalam musik populer. Toronto punya karakter khas: dingin secara literal, dan sering menghasilkan musik yang terdengar seperti dinyanyikan di ruangan tertutup di malam yang panjang. "Best Part" punya kehangatan itu, kehangatan yang hanya masuk akal kalau di luar sedang dingin.

Warisan lagu ini bisa diukur dari satu hal sederhana: jumlah cover-nya. "Best Part" menjadi standar baru untuk duet akustik. Ia dinyanyikan di audisi, di pernikahan, di kanal YouTube dari Manila sampai Jakarta sampai Lagos. Sebuah lagu mencapai status semacam ini ketika ia cukup sederhana untuk dimainkan siapa saja, tapi cukup dalam sehingga tidak pernah terasa murah. Progresi akordnya bisa dipelajari pemula dalam satu sore, tapi merasakan dinamikanya dengan benar butuh waktu bertahun-tahun.

Kenapa masih terasa relevan hari ini

Hampir satu dekade setelah rilis, "Best Part" belum kehilangan tenaganya, dan alasannya berkaitan dengan perubahan besar dalam cara orang memandang hubungan.

Kita hidup di era ketika bahasa terapi masuk ke percakapan sehari-hari. Orang bicara tentang batasan, tentang red flag, tentang tidak menjadikan pasangan sebagai sumber kebahagiaan tunggal. Semua itu berguna dan sering menyelamatkan. Tapi ada efek samping: banyak orang jadi takut mengakui bahwa mereka benar-benar membutuhkan seseorang, seolah kebutuhan itu sendiri adalah kelemahan yang harus diobati.

"Best Part" berdiri di sisi berlawanan tanpa berdebat. Ia tidak menyerang gagasan kemandirian, ia hanya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa itu: ada momen ketika keberadaan satu orang mengubah kualitas seluruh harimu, dan menolak mengakuinya bukan kedewasaan, melainkan pengingkaran.

Ada juga alasan yang lebih sederhana. Lagu ini pendek, tenang, dan tidak menuntut apa-apa dari pendengarnya. Di tengah aliran konten yang tanpa henti berebut perhatian, sebuah lagu yang membiarkan hening menjadi bagian dari komposisinya terasa seperti kemewahan. Banyak orang memakainya sebagai penanda waktu, lagu untuk pagi sebelum kerja, untuk perjalanan pulang, untuk momen sebelum tidur. Ia telah menjadi semacam perabot emosional.

Dan mungkin yang paling penting: "Best Part" adalah lagu yang berubah makna seiring hidupmu berubah. Didengar saat jatuh cinta, ia terasa seperti deskripsi. Didengar setelah berpisah, ia terasa seperti kehilangan yang spesifik. Didengar setelah bertahun-tahun bersama seseorang, ia terasa seperti pengingat akan sesuatu yang mudah dilupakan karena terlalu biasa. Lagu-lagu yang bertahan puluhan tahun biasanya punya sifat ini, yaitu kemampuan menampung arti baru tanpa perlu berubah satu not pun.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s