SONGFABLE · 1979

Another Brick in the Wall

PINK FLOYD · 1979

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Another Brick in the Wall - Pink Floyd (1979)

Sebuah anthem disko-rock yang menyamar sebagai protes anak sekolah, "Another Brick in the Wall" adalah arsitektur sonik Roger Waters tentang trauma masa kecil yang dibangun bata demi bata. Di balik paduan suara anak-anak London Utara dan riff gitar David Gilmour yang dingin, tersembunyi kritik tajam terhadap sistem pendidikan Inggris pasca-perang—dan, lebih dalam lagi, tentang bagaimana institusi membentuk isolasi mental yang mengkristal menjadi tembok. Lagu ini menjadi nomor satu di Inggris pada Natal 1979 dan, secara paradoks, dilarang di Afrika Selatan apartheid karena dinyanyikan oleh murid-murid hitam yang memboikot sekolah.

Hook

Ada sesuatu yang aneh ketika sebuah lagu protes terhadap sistem pendidikan menjadi hit disko global. Bayangkan: akhir tahun 1979, di lantai-lantai dansa dari New York hingga Jakarta, orang-orang menggoyangkan pinggul mengikuti groove four-on-the-floor yang digarap produser Bob Ezrin. Mereka menari mengikuti suara anak-anak sekolah yang menyanyikan tuntutan agar guru-guru membiarkan mereka sendiri. Sebuah anthem anti-otoritas yang dikemas sebagai produk pop yang sangat menjual—itulah ironi pertama dari "Another Brick in the Wall, Part 2."

Lagu ini, di permukaan, terasa sederhana. Sebuah riff gitar yang dimainkan David Gilmour dengan tone yang nyaris steril, bassline disko yang dipinjam dari kultur Studio 54, dan paduan suara murid-murid Islington Green School yang direkam tanpa sepengetahuan kepala sekolah mereka. Tapi di balik kesederhanaan itu tersembunyi sebuah konsep album yang ambisius—sebuah rock opera tentang seorang musisi bernama Pink yang membangun tembok psikologis di sekitar dirinya, bata demi bata, setiap bata adalah trauma. Sekolah hanya salah satu bata. Kematian ayahnya di Perang Dunia II adalah bata. Ibunya yang overprotektif adalah bata. Istri yang tidak setia adalah bata. Industri musik yang eksploitatif adalah bata.

Yang membuat lagu ini bertahan lebih dari empat dekade bukanlah riff atau groove-nya, melainkan keberhasilannya menyuarakan sesuatu yang universal: perasaan bahwa institusi-institusi yang seharusnya membentuk kita justru sering kali menghancurkan sesuatu di dalam diri kita. Dan ironisnya, kita kemudian membangun pertahanan terhadap institusi-institusi itu menggunakan bata yang sama yang mereka berikan kepada kita.

Background

Untuk memahami "Another Brick in the Wall," seseorang harus memahami Roger Waters pada akhir 1970-an—seorang lelaki yang baru saja menjalani tur "In the Flesh" 1977 yang traumatis, di mana ia mengalami momen yang kemudian menjadi benih seluruh album. Di Stadion Olimpiade Montreal, di hadapan 80.000 penonton, Waters meludahi seorang fans yang menurutnya terlalu agresif di barisan depan. Pulang dari tur itu, ia merasa muak—muak terhadap audiens yang ia anggap tidak benar-benar mendengarkan, muak terhadap dirinya sendiri yang telah berubah menjadi sesuatu yang ia tidak kenali, muak terhadap industri yang telah mengubah Pink Floyd dari band psikedelik underground menjadi mesin stadion-rock.

Dari kemuakan itu lahirlah konsep "The Wall." Waters membayangkan sebuah konser di mana tembok fisik dibangun di atas panggung selama pertunjukan, secara harfiah memisahkan band dari penonton, mendramatisir alienasi yang ia rasakan. Tapi tembok itu, dalam imajinasinya, juga menjadi metafora untuk semua tembok psikologis yang dibangun oleh orang-orang yang trauma.

Album "The Wall" yang dirilis 30 November 1979 adalah double LP berdurasi 81 menit yang menceritakan kisah Pink—karakter fiksi yang merupakan amalgam dari Waters sendiri, mendiang Syd Barrett (anggota pendiri Pink Floyd yang menghilang ke dalam kegilaan), dan ayah Waters yang gugur di Anzio, Italia, ketika Waters baru berusia lima bulan. Kematian ayah itu adalah luka pertama, bata pertama. Ia muncul kembali sepanjang album, terutama di "Another Brick in the Wall, Part 1" yang lebih lembut dan akustik.

"Part 2"—versi yang menjadi single—adalah lanjutan tematik tentang sekolah-sekolah Inggris pasca-perang yang Waters pribadi alami. Ia bersekolah di Cambridgeshire High School for Boys, di mana, menurut kesaksiannya berulang kali dalam wawancara, para guru adalah "tiran kecil yang sadis" yang menghina dan mempermalukan murid-murid. Bagi Waters, sistem pendidikan Inggris tahun 1950-an adalah pabrik konformitas—sebuah mesin yang mengubah anak-anak menjadi warga negara yang patuh, kreativitas mereka dihancurkan demi kepentingan kelas penguasa.

Bob Ezrin, produser kelahiran Toronto yang juga bekerja dengan Alice Cooper dan Lou Reed, adalah orang yang mengubah lagu ini dari potongan album menjadi single hit. Waters awalnya menolak ide menjadikannya single—ia menganggap konsep album terlalu suci untuk dipotong-potong. Tapi Ezrin diam-diam menggandakan ayat lagu, menambahkan bagian disko, dan mengundang Alun Renshaw, guru musik di Islington Green School London Utara, untuk merekam paduan suara muridnya. Renshaw membawa sekitar 23 anak ke studio Britannia Row, dan mereka merekam vokal dalam beberapa kali pengambilan. Dengan trik double-tracking dan engineering, paduan suara itu terdengar seperti seluruh sekolah.

Kepala sekolah Margaret Maden marah ketika lagu itu menjadi hit dan baru kemudian mengetahui bahwa murid-muridnya menyanyikan tentang penolakan terhadap pendidikan. Otoritas pendidikan Inner London Education Authority kemudian melarang kerjasama serupa di masa depan. Anak-anak itu sendiri tidak menerima royalti hingga 2004, ketika sebuah firma hukum melacak mereka dan mengamankan pembayaran setelah hukum hak cipta Inggris berubah.

Real meaning

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang "Another Brick in the Wall, Part 2" adalah bahwa lagu ini adalah seruan anti-pendidikan secara umum—pemberontakan remaja yang menolak belajar. Membaca lirik dan konteks album secara keseluruhan, jelas bahwa Waters tidak sedang merayakan kebodohan atau kemalasan. Yang ia kritik bukanlah pendidikan, melainkan pengendalian pikiran yang menyamar sebagai pendidikan—sistem yang menggunakan ejekan, hukuman fisik, dan penghinaan publik untuk memaksa anak-anak menjadi unit-unit yang dapat dipertukarkan dalam mesin ekonomi pasca-perang.

Kata "bata" itu sendiri adalah metafora yang berlapis. Setiap pengalaman traumatis menambahkan satu bata ke tembok yang dibangun karakter Pink di sekitar jiwanya. Tembok itu awalnya adalah perlindungan—cara untuk tidak terluka lagi. Tapi pada akhir album, tembok itu menjadi penjara. Pink terisolasi total, kehilangan akal sehat, dan dalam halusinasinya berubah menjadi diktator fasis yang menyiksa para penggemarnya sendiri ("In the Flesh"). Inilah inti tragis dari "The Wall": mekanisme pertahanan yang sama yang menyelamatkan kita dari trauma juga adalah mekanisme yang mengubah kita menjadi monster.

Dalam konteks ini, sekolah bukanlah musuh utama. Musuh utamanya adalah cara institusi-institusi—keluarga, sekolah, industri musik, negara—mengajarkan kita untuk membangun tembok daripada memproses rasa sakit. Waters, seorang lelaki yang tumbuh tanpa ayah, dibesarkan oleh ibu yang protektif berlebihan, lalu masuk ke sistem pendidikan yang kejam, lalu menjadi bintang rock yang teralienasi—setiap tahap menambahkan bata. Pertanyaan album ini bukanlah "haruskah kita meruntuhkan sekolah?" melainkan "mungkinkah kita memilih untuk tidak membangun tembok?"

Ada juga lapisan politik yang sering diabaikan oleh pendengar yang hanya mendengar versi radio. Bagian instrumental yang dimainkan David Gilmour—dua solo gitar yang menggunakan tone yang nyaris dingin secara klinis—menampilkan diri sebagai antitesis dari kehangatan rock progresif klasik Pink Floyd. Gilmour, yang secara musikal sering bertabrakan dengan Waters tentang arah band, justru menciptakan solo yang mencerminkan kesepian institusional itu sendiri. Tone gitarnya seperti suara seseorang berbicara melalui dinding kaca.

Yang juga jarang dibahas adalah bagaimana lagu ini dipakai secara aktif oleh gerakan politik. Pada 1980, hanya beberapa bulan setelah perilisan, murid-murid sekolah hitam di Afrika Selatan mengadopsi lagu ini sebagai anthem boikot mereka terhadap pendidikan Bantu yang rasis. Pemerintah apartheid melarang lagu itu di radio dan menyita rekamannya. Waters, ketika diberitahu tentang ini, mengatakan bahwa ini adalah penggunaan paling membanggakan dari lagunya—bahwa anak-anak di Soweto telah memahami pesannya lebih dalam daripada audiens Barat manapun. Bagi mereka, "bata di tembok" bukanlah metafora tentang trauma personal, melainkan deskripsi harfiah dari sistem yang dirancang untuk memproduksi pekerja patuh berkulit hitam bagi ekonomi kulit putih.

Inilah kekuatan sebenarnya dari karya seni yang besar: ia melampaui niat penulisnya. Waters menulis tentang trauma kelas menengah Inggris, dan anak-anak Soweto mendengar di dalamnya gema pembebasan mereka sendiri.

Cultural context for Indonesia

Bagi pendengar Indonesia, "Another Brick in the Wall" memiliki resonansi yang sangat spesifik—dan sangat berbeda dari resonansinya di Barat. Lagu ini tiba di Indonesia di puncak Orde Baru, era ketika kritik terhadap "institusi" memiliki bobot yang berbeda. Bagi generasi yang tumbuh di era 1980-an dan 1990-an, Pink Floyd—bersama dengan band-band rock progresif lainnya seperti Genesis dan Yes—menjadi soundtrack ruang-ruang privat di mana orang-orang muda mempertanyakan dunia yang diberikan kepada mereka.

Hubungan musik rock Indonesia dengan tradisi protes terhadap institusi memiliki silsilah yang panjang dan rumit. Iwan Fals, mungkin musisi paling penting dalam tradisi ini, telah menulis lagu-lagu yang mengkritik sistem pendidikan, korupsi pejabat, dan ketimpangan sosial sejak akhir 1970-an—paralel langsung dengan periode "The Wall." "Galang Rambu Anarki," "Bento," "Bongkar"—semua ini adalah saudara spiritual dari "Another Brick in the Wall," meskipun datang dari tradisi musik balada folk daripada rock progresif. Ketika Iwan Fals menyanyikan tentang "guru oemar bakri" yang dilupakan negara, ia berbicara tentang sisi lain dari bata yang sama yang dikritik Waters: sistem yang menghancurkan baik murid maupun guru yang paling berdedikasi.

God Bless, band rock pelopor Indonesia yang dibentuk pada 1973, juga membawa estetika rock progresif Inggris ke dalam konteks Jakarta. Achmad Albar dan kawan-kawan bukan hanya mengimpor suara—mereka menerjemahkan etos. Album-album seperti "Cermin" (1980) menunjukkan ambisi musikal yang sejalan dengan Pink Floyd: panjang, konseptual, dengan permainan gitar yang melankolis dan lirik yang reflektif. Bagi banyak pendengar Indonesia, God Bless adalah pintu masuk ke estetika yang kemudian membuat "The Wall" terasa familiar.

Slank, yang muncul satu dekade kemudian, mengambil estetika protes itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih jalanan, lebih sehari-hari. Lagu-lagu mereka tentang korupsi, kemunafikan kelas atas, dan kehidupan generasi muda di Jakarta tahun 1990-an memiliki energi yang sama yang membuat "Another Brick in the Wall" beresonansi di kalangan murid-murid Soweto: pengakuan bahwa institusi-institusi yang seharusnya melayani kita sering kali adalah pabrik produksi bata-bata baru untuk tembok kita.

Dewa 19, sementara itu, mewakili sisi lain dari warisan rock progresif di Indonesia—sisi yang lebih literer, lebih filosofis. Ahmad Dhani dan kawan-kawan, terutama di era awal mereka dengan album seperti "Format Masa Depan" dan "Terbaik Terbaik," menunjukkan ambisi sonik yang berakar pada estetika rock progresif. Ada DNA Pink Floyd di dalam aransemen keyboard mereka, di dalam panjangnya lagu-lagu mereka, di dalam keinginan untuk mengangkat rock menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan.

Java Jazz Festival, yang dimulai pada 2005, mungkin terdengar jauh dari rock progresif. Tapi festival ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki audiens yang siap untuk musik yang menuntut, musik yang ingin didengarkan secara serius. Tahun-tahun ketika band-band internasional seperti Phil Collins, Tony Bennett, dan musisi-musisi jazz fusion datang ke Jakarta menunjukkan bahwa pendengar Indonesia tidak puas hanya dengan pop yang mudah dicerna. Mereka menginginkan tekstur, kompleksitas, ambisi—nilai-nilai yang sama yang menjadikan "The Wall" sebuah karya yang abadi.

Yang membuat "Another Brick in the Wall" terasa sangat relevan di Indonesia kontemporer adalah debat berkelanjutan tentang sistem pendidikan nasional. Diskusi tentang Ujian Nasional, kurikulum yang sering berubah, sistem hafalan yang masih dominan, kekerasan dalam pendidikan—semua ini adalah versi kontemporer dari kritik yang dilontarkan Waters empat dekade lalu. Ketika seorang siswa SMA di Jakarta atau Surabaya mendengarkan paduan suara anak-anak Inggris itu untuk pertama kalinya, ia mendengar gema dari realitas pendidikannya sendiri—seragam yang sama, hafalan yang sama, ketakutan yang sama terhadap guru tertentu.

Ada juga lapisan kelas yang menarik. Di Indonesia, mendengarkan Pink Floyd secara tradisional adalah penanda kelas menengah perkotaan yang terdidik—orang-orang yang membeli LP impor di pasar Glodok, atau kemudian, yang men-download diskografi lengkap dari napster dan kazaa. Pink Floyd bukan musik massa di Indonesia dengan cara yang sama seperti dangdut atau pop Melayu. Tapi paradoksnya, lagu ini—dengan kritik tajamnya terhadap sistem—dikonsumsi oleh kelas yang justru paling diuntungkan oleh sistem itu. Ini adalah ironi yang sama yang membuat "The Wall" beresonansi di lantai dansa New York 1979: kritik radikal yang dijual sebagai produk konsumsi kelas menengah.

Why it resonates today

Lebih dari empat puluh tahun setelah perilisannya, "Another Brick in the Wall" terus berkumandang di playlist Spotify, di kelas musik sekolah, di soundtrack iklan, dan di demonstrasi mahasiswa di seluruh dunia. Pertanyaannya: mengapa lagu yang sangat terikat pada konteks Inggris pasca-perang ini terus terasa segar?

Jawabannya, mungkin, ada dalam sifat tembok itu sendiri. Manusia tidak berhenti membangun tembok. Kita hanya mengubah bahan dan desainnya. Tembok kontemporer dibangun dari bata-bata baru: algoritma media sosial yang menyaring pengalaman kita, sistem pendidikan yang masih mengandalkan hafalan, ekonomi gig yang mengubah pekerja menjadi unit-unit yang dapat dipertukarkan, kapitalisme pengawasan yang mengukur setiap klik kita. Setiap era memiliki institusi yang merancang bata-bata sendiri untuk kita.

Yang membuat lagu Waters tetap relevan bukanlah kritiknya terhadap pendidikan secara spesifik, melainkan diagnosisnya tentang proses pembangunan tembok itu sendiri. Bagaimana trauma diakumulasi. Bagaimana isolasi dijustifikasi sebagai perlindungan. Bagaimana mekanisme bertahan hidup berubah menjadi penjara. Bagi generasi yang tumbuh dengan smartphone di tangan dan kecemasan iklim di pikiran, diagnosis ini terasa lebih akurat daripada sebelumnya.

Di Indonesia, di mana percakapan tentang kesehatan mental baru saja menjadi mainstream dalam dekade terakhir, lagu ini menemukan resonansi baru. Anak-anak muda Jakarta atau Bandung yang berbicara terbuka tentang burnout, depresi, kecemasan—mereka adalah generasi pertama dalam sejarah Indonesia yang memiliki vokabular publik untuk membahas pembangunan tembok internal yang dahulu disembunyikan. "Bata demi bata" bukan lagi metafora abstrak. Itu adalah deskripsi pengalaman harian.

Ada juga dimensi politis yang terus berkembang. Pada 2010-an, lagu ini diadopsi oleh gerakan-gerakan dari Hong Kong hingga Chile, dari Mesir hingga Belarusia. Setiap kali pemerintah mencoba mengontrol pikiran rakyatnya, ada audiens baru yang menemukan kembali bahwa lagu disko 1979 ini berbicara langsung kepada mereka. Roger Waters sendiri, kini di usia 80-an, telah menjadi figur politis yang kontroversial—pendukung gerakan BDS untuk Palestina, kritikus tajam politik luar negeri Amerika, seorang lelaki yang masih percaya bahwa rock bisa menjadi alat pembebasan. Tidak semua orang setuju dengan posisi politiknya, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang ia tanyakan empat dekade lalu masih menjadi pertanyaan kita.

Mungkin ujian terakhir dari relevansi sebuah lagu adalah apakah ia masih bisa membuat seorang remaja, mendengarnya untuk pertama kalinya pada 2026, berhenti dan berpikir. Berdasarkan jumlah streaming yang masih mencapai ratusan juta per tahun, dan berdasarkan video TikTok di mana anak-anak muda menggunakan sample lagu ini untuk membahas pengalaman sekolah mereka sendiri, jawabannya adalah ya. Tembok terus dibangun, dan setiap generasi harus belajar untuk mengenali bata-bata mereka sendiri sebelum mereka bisa memutuskan apakah akan menumpuknya atau meruntuhkannya.

Itulah warisan abadi dari "Another Brick in the Wall": bukan jawaban, melainkan pertanyaan. Bata jenis apa yang sedang Anda terima hari ini? Dan apa yang akan Anda lakukan dengannya?

Cara menyelami lebih dalam

🎧 Dengarkan

The Wall (Pink Floyd) Album lengkap di mana "Another Brick in the Wall" hanyalah satu episode dari rock opera 81 menit. Mendengarkan seluruh narasi—dari kelahiran Pink hingga pengadilan mental terakhirnya—mengubah pemahaman tentang lagu hit ini. → Search

Manusia Setengah Dewa (Iwan Fals) Album 2004 yang menunjukkan tradisi protes musikal Indonesia di puncaknya. Iwan Fals di sini adalah saudara spiritual Waters, dengan kritik sosial yang sama tajamnya tetapi dari konteks yang sangat berbeda. → Search

📚 Baca

Inside Out: A Personal History of Pink Floyd (Nick Mason) Memoar drummer Pink Floyd ini memberikan perspektif orang dalam tentang ketegangan kreatif yang melahirkan "The Wall," termasuk perselisihan antara Waters dan Gilmour yang akhirnya menghancurkan band. → Search

Pedagogy of the Oppressed (Paulo Freire) Karya filsuf pendidikan Brasil yang menjadi pendamping intelektual yang sempurna untuk lagu ini. Freire menganalisis bagaimana sistem pendidikan dapat menjadi alat pengendalian—atau pembebasan. → Search

🌍 Kunjungi

Berlin Wall Memorial (Bernauer Strasse), Jerman Roger Waters menggelar konser ikonik "The Wall Live in Berlin" di Potsdamer Platz pada Juli 1990, hanya beberapa bulan setelah runtuhnya Tembok Berlin. Mengunjungi sisa-sisa tembok itu memberikan dimensi fisik pada metafora Waters. → Search

Hard Rock Cafe Jakarta Meskipun bukan situs Pink Floyd secara langsung, kafe ini menjadi titik pertemuan komunitas penggemar rock klasik di Jakarta selama dekade-dekade, termasuk diskusi tentang warisan band-band seperti Pink Floyd, God Bless, dan Dewa 19. → Search

🎸 Coba sendiri

Gitar listrik dengan efek delay dan reverb Tone gitar David Gilmour adalah sebagian besar identitas Pink Floyd. Bereksperimen dengan pedal delay dan reverb dapat membuka pemahaman baru tentang bagaimana ruang sonik diciptakan. → Search

Buku partitur "The Wall" Mempelajari struktur akord dan progresi lagu ini—khususnya transisi dari ayat ke solo gitar Gilmour—mengungkapkan kecerdasan komposisi yang tersembunyi di balik kesederhanaan permukaan. → Search


🎵 Listen on all platforms

🤖 Pertanyaan lanjutan:

  1. Bagaimana hubungan antara "Another Brick in the Wall" dan tradisi musik protes Indonesia seperti Iwan Fals atau Slank dapat memberikan kerangka baru untuk memahami sejarah rock lokal?
  2. Mengapa lagu disko-rock 1979 ini diadopsi oleh begitu banyak gerakan politik dari Soweto hingga Hong Kong—dan apa yang membuat sebuah karya seni "dapat dipinjam" lintas konteks?
  3. Jika Roger Waters menulis "The Wall" hari ini, bata-bata apa yang akan ia gunakan untuk menggambarkan trauma generasi digital?
Tags
70s