Money
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Money - Pink Floyd (1973)
TL;DR: "Money" terdengar seperti himne perayaan kekayaan, padahal sebenarnya ini adalah sindiran pedas tentang bagaimana uang merusak manusia dan menjadikan keserakahan sebagai akar dari semua kemunafikan, dibungkus dalam irama 7/4 yang sengaja dibuat janggal.
Sebuah lagu anti-uang yang justru menghasilkan banyak uang
Ada ironi besar yang menggantung di balik "Money". Lagu ini adalah single utama dari The Dark Side of the Moon, album yang bertahan di tangga lagu Billboard selama lebih dari 900 minggu dan terjual puluhan juta kopi di seluruh dunia. Artinya, sebuah lagu yang isinya mengejek obsesi manusia terhadap uang justru menjadikan Pink Floyd salah satu band terkaya dalam sejarah musik rock. Roger Waters, sang penulis lirik, sepenuhnya sadar akan ironi ini, dan kabarnya ia menikmatinya dengan senyum getir.
Tapi inilah yang membuat "Money" begitu cerdas. Banyak pendengar pertama kali menangkapnya sebagai lagu yang seolah-olah membanggakan gaya hidup mewah. Suara mesin kasir yang berdenting di pembukaan, bunyi koin yang berjatuhan, irama bas yang funky dan percaya diri, semuanya terasa seperti undangan untuk berpesta. Padahal kalau kita simak baik-baik, Waters sedang menulis dari sudut pandang seorang manusia rakus yang membenarkan keserakahannya sendiri, lalu membongkar betapa busuk dan munafiknya cara berpikir itu.
Yang lebih menarik lagi, "Money" dibangun di atas birama 7/4, sebuah pilihan ritme yang sangat tidak biasa untuk lagu rock arus utama. Ketukan yang ganjil ini membuat pendengar merasa ada sesuatu yang "tidak pas", seolah uang sendiri adalah sesuatu yang membuat hidup terasa tersendat dan tidak pernah benar-benar nyaman. Itu bukan kebetulan. Itu desain.
Latar belakang: band yang baru saja kehilangan kompasnya
Untuk memahami "Money", kita perlu mundur sedikit ke kondisi Pink Floyd di awal 1970-an. Band ini lahir di London pada era psychedelic, dengan Syd Barrett sebagai pemimpin kreatif awal yang brilian namun rapuh. Ketika kesehatan mental Barrett memburuk akibat penggunaan narkoba, ia terpaksa keluar dari band, dan David Gilmour masuk menggantikannya. Tragedi Barrett ini meninggalkan luka mendalam yang kelak menjadi tema besar di seluruh The Dark Side of the Moon.
Album itu sendiri adalah upaya ambisius untuk membahas hal-hal yang membuat manusia "menjadi gila": tekanan waktu, kematian, konflik, kesepian, dan tentu saja, uang. Pink Floyd merekamnya di Abbey Road Studios, studio legendaris tempat The Beatles dulu bekerja, sepanjang 1972 hingga awal 1973. Mereka memanfaatkan teknologi rekaman multi-track terbaru dan eksperimen suara yang pada masanya terdengar futuristik.
Bagian pembuka "Money" yang ikonik itu, deretan suara mesin kasir, koin, dan kertas yang dirobek, dibuat oleh Roger Waters sendiri. Konon ia merekam berbagai bunyi terkait uang di rumahnya, lalu memotong-motong pita rekaman dan menyambungnya menjadi satu loop ritmis yang sempurna selaras dengan birama 7/4. Di era sebelum komputer dan sampling digital, ini adalah pekerjaan tangan yang sangat telaten, secara harfiah menggunting dan menempel pita magnetik.
Di sinilah ada jembatan menarik bagi pendengar Indonesia. The Dark Side of the Moon dan lagu seperti "Money" menjadi salah satu pintu masuk utama bagi generasi penggemar rock progresif di Tanah Air pada era 1970-an hingga 1980-an. Pada masa itu, banyak anak muda Indonesia mengenal Pink Floyd lewat kaset bajakan maupun kaset impor yang beredar di toko-toko musik di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sound system rumahan, kumpul-kumpul mendengarkan album secara utuh dari awal sampai akhir, dan obrolan panjang soal "arti sebenarnya" dari lirik Floyd menjadi ritual tersendiri. Band-band progresif lokal pun banyak yang mengaku terpengaruh atmosfer dan ambisi konseptual Pink Floyd. Jadi ketika orang Indonesia bilang mereka "besar dengan musik barat", Floyd hampir selalu ada di daftar itu.
Makna inti: potret seorang munafik yang sedang membela diri
Kalau kita bedah pesan liriknya tanpa mengutip satu baris pun, "Money" pada dasarnya adalah monolog batin seorang manusia yang telah jatuh cinta total pada uang. Di bagian-bagian awal, sang tokoh terdengar membanggakan diri: ia menjelaskan bagaimana ia ingin menyimpan kekayaannya, menjauhkan tangan orang lain dari miliknya, dan menikmati segala kemewahan yang bisa dibeli, mulai dari mobil mahal hingga tim sepak bola pribadi. Nada bicaranya angkuh, penuh hak, seolah memiliki banyak uang adalah pencapaian moral.
Tapi Waters menulisnya dengan licik. Semakin lama sang tokoh berbicara, semakin kelihatan betapa busuk logikanya. Pada bagian akhir, ia mulai berbicara tentang sisi gelap uang: bagaimana uang adalah akar dari kejahatan, bagaimana orang akan saling menjegal demi keuntungan. Namun, dan inilah pukulan telak Waters, sang tokoh tetap saja merasa dirinya benar dan menolak membagi sedikit pun kepada orang lain. Ia mengkhotbahkan bahaya uang sambil menggenggamnya erat-erat. Itulah potret kemunafikan yang sempurna.
Inilah kejeniusan lagu ini. Waters tidak menulis ceramah moral yang menggurui dari atas mimbar. Ia justru masuk ke kepala si serakah dan membiarkan kita mendengar pembenaran-pembenarannya sendiri, sampai akhirnya kita merasa jijik bukan karena diberitahu, melainkan karena kita menyaksikan sendiri kebusukannya. Pendengar diajak untuk awalnya bersimpati pada gaya hidup yang menggoda itu, lalu perlahan menyadari bahwa mereka sedang menertawakan, atau bahkan mengkhawatirkan, diri sendiri.
Aransemen musiknya memperkuat pesan ini. Birama 7/4 yang ganjil tadi menciptakan ketegangan yang terus-menerus, seolah-olah hidup yang dikendalikan uang tidak pernah benar-benar mengalir mulus. Lalu di tengah lagu, ada momen menarik: musiknya tiba-tiba beralih ke birama 4/4 yang lebih konvensional dan "normal" saat solo gitar David Gilmour meledak dan solo saksofon Dick Parry mengalun. Sebagian penafsir membaca pergeseran ritme ini sebagai sesaat kebebasan, ledakan emosi murni di tengah sistem yang kaku, sebelum lagu kembali terjebak lagi ke ritme 7/4 yang janggal. Apapun maksud pastinya, efeknya luar biasa: lagu ini terasa hidup, gelisah, dan penuh dinamika.
Konteks budaya dan warisan yang abadi
Ketika The Dark Side of the Moon dirilis pada Maret 1973, dunia sedang berada di ambang gejolak ekonomi besar. Krisis minyak akan meletus tak lama setelahnya, inflasi merajalela di banyak negara Barat, dan ketimpangan ekonomi menjadi topik panas. "Money" datang pada saat yang tepat, menyuarakan kecurigaan yang mulai tumbuh terhadap kapitalisme dan obsesi materialisme.
Lagu ini menjadi single besar pertama Pink Floyd di Amerika Serikat, menembus tangga lagu dan membuka pintu pasar AS yang luas bagi band asal Inggris ini. Yang menarik, kesuksesan komersial "Money" justru mempertegas ironinya: lagu anti-keserakahan ini menjadikan para personelnya kaya raya. Roger Waters bahkan kelak menggali tema uang, ketenaran, dan keterasingan ini lebih dalam lagi di album-album berikutnya seperti Wish You Were Here dan The Wall, yang banyak mengkritik industri musik dan dunia bisnis yang serakah.
Warisan teknisnya pun tak kalah penting. Loop suara mesin kasir di pembukaan "Money" menjadi salah satu intro paling dikenal dalam sejarah rock, sebuah "tanda tangan suara" yang langsung dikenali hanya dari beberapa detik pertama. Para musisi dan produser hingga hari ini masih mempelajari bagaimana Pink Floyd dan insinyur suara Alan Parsons menyusun lapisan-lapisan audio album ini, yang dianggap sebagai salah satu rekaman terbaik secara sonik sepanjang masa.
Bagi banyak pendengar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, "Money" juga menjadi semacam batu ujian. Album The Dark Side of the Moon sering disebut sebagai album yang harus didengarkan secara utuh, dari lagu pertama hingga terakhir, dengan headphone yang bagus, sebagai pengalaman yang menyeluruh. Di era streaming yang serba potong-potong sekarang, banyak penggemar tua mengenang masa ketika mendengarkan Floyd adalah ritual yang khusyuk, bukan sekadar lagu latar.
Mengapa lagu ini masih menggema sampai sekarang
Lebih dari setengah abad setelah dirilis, "Money" terasa makin relevan, bukan makin usang. Kita hidup di era di mana kekayaan dipamerkan tanpa malu-malu di media sosial, di mana flexing menjadi budaya, dan di mana kesenjangan antara yang super kaya dan yang berjuang sehari-hari semakin menganga. Pesan Waters tentang bagaimana uang membuat manusia rakus sekaligus munafik terdengar seperti komentar atas zaman kita sendiri.
Yang membuat lagu ini bertahan adalah kejujurannya yang tidak nyaman. "Money" tidak berpura-pura bahwa kita semua suci dan tidak peduli pada uang. Sebaliknya, ia mengakui daya tarik uang yang luar biasa, menggoda kita dengan irama funky dan suara koin yang menyenangkan, lalu memaksa kita merenungkan apa yang kita rela korbankan demi mengejarnya. Itu sebabnya lagu ini tidak pernah terasa seperti khotbah, melainkan seperti cermin.
Bagi penggemar musik di Indonesia yang tumbuh dengan musik barat, "Money" adalah salah satu lagu yang membuktikan bahwa rock bisa menjadi sastra. Liriknya bisa dibedah, ritmenya bisa diperdebatkan, dan maknanya berubah seiring kita bertambah dewasa. Didengarkan saat remaja, mungkin terasa keren dan funky. Didengarkan saat sudah bekerja dan tahu betapa rumitnya hubungan manusia dengan uang, lagu ini menjadi jauh lebih dalam dan menusuk. Dan mungkin itulah penanda sebuah karya agung: ia tumbuh bersama kita.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Larut dalam suaranya
Cara terbaik menikmati "Money" adalah mendengarkan keseluruhan album yang menjadi rumahnya, bukan lagu tunggal saja. Album ini dirancang untuk didengar dari awal sampai akhir sebagai satu pengalaman yang utuh dan mengalir.
- The Dark Side of the Moon vinyl Pink Floyd — Versi piringan hitam memberikan kehangatan suara analog yang sesuai dengan semangat album ini saat pertama dibuat. Cocok untuk ritual mendengar yang khusyuk.
- Pink Floyd headphones audiophile — Detail loop mesin kasir dan panning suara antara kiri-kanan baru benar-benar terasa lewat headphone berkualitas. Album ini terkenal sebagai bahan uji perangkat audio.
📚 Telusuri kisahnya
Di balik "Money" ada cerita panjang tentang ambisi, ketegangan internal band, dan filosofi Roger Waters tentang dunia modern. Membaca latarnya membuat lagu ini terdengar berbeda.
- Pink Floyd biography book — Banyak buku biografi yang membahas proses pembuatan The Dark Side of the Moon secara mendetail, termasuk perselisihan kreatif yang nantinya memecah band.
- Roger Waters book — Untuk memahami sudut pandang penulis lirik utama lagu ini, kisah hidup dan pandangan politik Waters sangat membantu menjelaskan kemarahannya terhadap keserakahan.
🌍 Kunjungi tempatnya
"Money" lahir di Abbey Road Studios, London, jantung sejarah musik rock dunia. Menelusuri tempat-tempat ini membuat lagu terasa lebih nyata.
- London travel guide book — Panduan kota London akan membantu merencanakan ziarah ke landmark musik seperti Abbey Road dan toko-toko rekaman bersejarah di sana.
- Pink Floyd poster art — Sampul prisma ikonik album ini adalah karya desain legendaris dari studio Hipgnosis, sempurna untuk menghias ruang dengar di rumah.
🎸 Rasakan sendiri
Salah satu cara paling memuaskan memahami "Money" adalah mencoba memainkannya, terutama merasakan betapa janggalnya birama 7/4 itu di tangan sendiri.
- bass guitar beginner — Riff bas "Money" adalah salah satu garis bas paling dikenal sepanjang masa dan menjadi latihan klasik bagi pemain bas pemula maupun mahir.
- electric guitar starter kit — Solo gitar David Gilmour di tengah lagu adalah salah satu solo paling ekspresif dalam rock, target impian banyak pegitar yang baru belajar.
🤖 Tanyakan lebih lanjut:
- Kenapa Pink Floyd memilih birama 7/4 yang aneh untuk "Money"?
- Apa hubungan antara "Money" dan tema besar album The Dark Side of the Moon?
- Lagu Pink Floyd lain apa yang juga membahas uang dan industri musik?