SONGFABLE · 1973

Time

PINK FLOYD · 1973

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Time - Pink Floyd (1973)

"Time" adalah meditasi rock progresif Pink Floyd tentang bagaimana hidup mengalir begitu saja sementara kita sibuk menunggu sesuatu yang lebih besar terjadi. Direkam untuk album The Dark Side of the Moon tahun 1973, lagu ini membungkus kecemasan eksistensial dalam pembukaan jam-jam alarm yang terkenal dan solo gitar David Gilmour yang menggema seperti panggilan bangun yang datang terlambat. Lebih dari setengah abad kemudian, kegelisahannya tentang waktu yang terbuang terasa semakin tajam di era notifikasi tanpa henti.

Hook

Bayangkan masuk ke studio Abbey Road pada pertengahan 1972, dan yang pertama menyambut bukan suara band, melainkan paduan suara jam beker, lonceng dinding, dan jam saku yang berdentang serentak selama hampir setengah menit. Rekaman itu bukan efek studio — itu adalah hasil kerja keras insinyur muda bernama Alan Parsons, yang berjalan ke toko jam antik di London dengan mikrofon stereo Nagra dan merekam setiap jam satu per satu untuk demonstrasi suara quadraphonic. Pink Floyd tidak meminta rekaman itu untuk "Time"; mereka menemukannya, mendengarnya, dan tiba-tiba intro yang sebelumnya hanya berupa detak rototom Nick Mason yang menggantung di udara mendapat pintu masuk yang sempurna.

Inilah yang membuat "Time" tetap menjadi salah satu pembukaan paling diingat dalam sejarah rock: ia tidak mulai dengan musik, ia mulai dengan kepanikan kolektif terhadap waktu itu sendiri. Ketika dentangan jam akhirnya mereda dan bass Roger Waters bergulir masuk seperti detak jantung yang lambat, pendengar sudah berada dalam keadaan waspada — seperti orang yang baru saja terbangun dengan perasaan terlambat untuk sesuatu, tapi tidak ingat untuk apa.

Lagu ini, secara teknis, ditulis oleh keempat anggota Pink Floyd — kasus yang sangat langka dalam diskografi mereka. Liriknya milik Waters, yang waktu itu baru menginjak usia 29 tahun dan, menurut wawancaranya bertahun-tahun kemudian, baru menyadari bahwa hidup tidak akan menunggunya untuk siap. Realisasi sederhana itu — bahwa masa muda bukan ruang tunggu menuju kehidupan "sebenarnya" — menjadi inti emosional album yang akan menjual lebih dari 45 juta kopi di seluruh dunia.

Background

The Dark Side of the Moon lahir dari serangkaian latihan panjang di Decca Studios pada akhir 1971. Pink Floyd, yang baru saja keluar dari fase eksperimental pasca-Syd Barrett, mencari sesuatu yang lebih kohesif — sebuah album konsep tentang tekanan yang membuat orang gila. Waters mengusulkan tema-tema yang langsung: uang, perang, agama, kematian, dan waktu. Dari kelima pilar itu, "Time" mungkin yang paling personal karena ia tidak menyalahkan sistem eksternal; ia menatap ke dalam.

Proses penulisannya tidak mulus. Demonstrasi awal lagu ini, yang dimainkan di tur tahun 1972 dengan judul kerja Eclipse: A Piece for Assorted Lunatics, terasa lebih kaku — lebih dekat ke jazz fusion daripada rock atmosferik. Yang mengubah segalanya adalah ketika Richard Wright menambahkan progresi akor minor yang menggantung di bagian "breathe" — sebenarnya itu adalah reprise dari lagu sebelumnya — dan tiba-tiba "Time" memiliki dua wajah: bagian pertama yang gelap dan tegang, dan coda yang lembut dan resignatif.

Solo gitar David Gilmour, yang sering dimasukkan dalam daftar solo terbaik sepanjang masa oleh majalah seperti Guitar World, direkam dalam beberapa take. Gilmour kemudian mengakui bahwa ia tidak puas dengan teknik solo itu; menurutnya, solonya untuk "Comfortably Numb" jauh lebih terstruktur. Tapi yang membuat solo "Time" istimewa justru ketidakteraturannya — bending yang sedikit liar, vibrato yang tidak konsisten, jeda yang terasa seperti seseorang menarik napas sebelum mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Vokal lagu ini dibagi antara Gilmour dan Wright. Gilmour mengambil bagian-bagian yang lebih konfrontatif, suaranya yang biasanya hangat menjadi hampir menggurui — seperti versi lebih tua dari diri sendiri yang sedang memarahi versi muda. Wright, dengan suara yang lebih lembut, menyanyikan bagian akhir tentang pulang ke rumah dan mendengar bel yang memanggil orang beriman untuk berlutut. Pembagian ini bukan kebetulan: dua suara, dua perspektif tentang waktu — yang satu menuduh, yang lain menyerah.

Album ini direkam dengan teknologi 16-track yang revolusioner pada masanya, dan engineer Parsons menggunakan teknik panning stereo yang ekstrem untuk membuat dentangan jam terasa seperti mengelilingi pendengar. Ketika The Dark Side of the Moon dirilis pada 1 Maret 1973, ia langsung naik ke puncak tangga Billboard 200 dan tetap di sana — secara kumulatif — selama lebih dari 900 minggu, sebuah rekor yang mungkin tidak akan pernah dipecahkan di era streaming.

Real meaning

Pada permukaan, "Time" terdengar seperti khotbah klasik tentang carpe diem — manfaatkan waktumu, jangan menunggu, hidup itu pendek. Tapi membacanya sebagai pesan motivasional adalah kesalahpahaman yang sama besar dengan membaca Hamlet sebagai cerita detektif.

Waters menulis lagu ini dari posisi seseorang yang menyadari bahwa dirinya telah lama menunggu — menunggu kehidupan "dewasa" dimulai, menunggu momen ketika semuanya akan masuk akal, menunggu izin untuk hidup sepenuhnya. Lirik tentang membunuh waktu dengan menendang-nendang kantong kosong di tanah rumah adalah gambaran spesifik tentang remaja Inggris di pinggiran kota — anak-anak yang tumbuh setelah Perang Dunia Kedua, di lingkungan suburban yang aman dan membosankan, yang mengisi sore hari dengan tidak melakukan apa-apa karena tidak ada yang memberi tahu mereka bahwa "tidak melakukan apa-apa" sebenarnya adalah hidup itu sendiri.

Yang membuat lagu ini begitu kuat secara filosofis adalah bagaimana ia bergulat dengan paradoks waktu Heideggerian tanpa pernah menyebut nama filsuf Jerman itu. Martin Heidegger, dalam Being and Time (1927), menulis bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar akan kematiannya sendiri, dan kesadaran ini — yang disebut Sein-zum-Tode, "being-toward-death" — sebenarnya yang membuat hidup memiliki makna. Tanpa batas akhir, tidak akan ada urgensi, tidak ada pilihan yang benar-benar berarti.

"Time" mengartikulasikan persis intuisi ini dalam bahasa rock. Pengulangan tentang matahari yang sama yang ditiru setiap hari tetapi pelari yang menjadi semakin pendek napasnya bukan sekadar metafora kecemasan; itu adalah pengamatan fenomenologis tentang bagaimana rutinitas mengaburkan progres entropis. Setiap hari terasa sama, tapi kumulatif dari semua hari itu adalah penuaan yang tidak bisa diputar balik.

Bagian coda — yang lembut, hampir pasrah — adalah twist yang sering luput dari pendengar kasual. Setelah peringatan keras tentang waktu yang terbuang, narator tidak menawarkan solusi heroik. Ia hanya pulang ke rumah, ke tempat yang dikenal, dan mendengar lonceng kapel memanggil. Tidak ada janji bahwa ia akan menebus waktu yang hilang; hanya pengakuan bahwa ia sekarang berdiri di tempat yang sama, dengan kesadaran yang berbeda. Itu bukan kemenangan; itu kedewasaan dalam bentuknya yang paling sunyi.

Beberapa kritikus, termasuk Rob Sheffield dari Rolling Stone, telah berargumen bahwa "Time" sebenarnya bukan tentang waktu dalam pengertian abstrak, tetapi tentang depresi spesifik laki-laki Inggris kelas menengah pasca-perang — generasi yang dibesarkan oleh ayah-ayah yang trauma dan ibu-ibu yang menahan diri, yang tidak pernah diberi vokabulari emosional untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Dalam pembacaan ini, "membunuh waktu" bukan kelambanan; itu strategi bertahan hidup terhadap kekosongan yang tidak bisa dinamai.

Apa pun pembacaannya, satu hal yang jelas: Waters tidak menulis lagu pengajaran. Ia menulis lagu pengakuan. Dan inilah mengapa "Time" terus terasa relevan — karena pengakuan tentang waktu yang terbuang adalah pengalaman manusia yang berulang di setiap generasi, hanya dengan kostum yang berbeda.

Cultural context for Indonesian

Pink Floyd di Indonesia bukan sekadar band luar negeri yang dikenal — mereka adalah salah satu pilar dari apa yang sering disebut "rock progresif Indonesia" yang muncul di akhir 1970-an dan awal 1980-an. Untuk memahami bagaimana "Time" diterima di sini, kita perlu memetakan ekosistem musik yang membentuk telinga generasi pendengar Indonesia.

God Bless, yang dibentuk pada 1973 — tahun yang sama dengan rilis The Dark Side of the Moon — adalah jembatan paling langsung antara estetika Pink Floyd dan musik populer Indonesia. Achmad Albar, vokalis legendaris band ini, sering menyebut Pink Floyd sebagai salah satu pengaruh utamanya, terutama dalam pendekatan album sebagai sebuah keseluruhan konseptual daripada kumpulan single. Album Cermin (1980) God Bless, dengan struktur panjang dan ambisi liriknya yang filosofis, dapat dibaca sebagai respons Indonesia terhadap sensibilitas progresif yang dipopulerkan Pink Floyd. Ketika God Bless memainkan konser-konser arenanya di Stadion Senayan pada 1980-an, banyak fans datang dengan kaos Pink Floyd di bawah jaket denim — pertanda bahwa kedua band itu dianggap sebagai bagian dari kanon yang sama.

Iwan Fals, meskipun lebih dekat ke folk-rock dengan akar protes sosial, berbagi dengan Pink Floyd kecenderungan untuk memperlakukan lagu sebagai medium kontemplasi serius. Lagu-lagu seperti "Bento" atau "Bongkar" (1989) tidak meniru struktur musikal Pink Floyd, tetapi mereka berbagi keyakinan bahwa musik populer dapat menjadi kendaraan untuk komentar eksistensial dan politik. Bagi generasi yang tumbuh dengan Iwan Fals, lirik "Time" yang merenungkan waktu yang terbuang terasa familiar — karena Iwan sendiri sering bernyanyi tentang generasi yang dirampas masa mudanya oleh keadaan.

Slank, yang muncul di akhir 1980-an dan meledak pada 1990-an, membawa sensibilitas yang sedikit berbeda — lebih rock 'n' roll, lebih hedonis, lebih dekat ke Rolling Stones daripada Pink Floyd. Tapi dalam beberapa lagunya yang lebih reflektif, seperti "Terlalu Manis" atau "Bali Bagus", terdengar pengaruh dari tradisi rock yang mengakomodasi melankoli — tradisi yang Pink Floyd ikut bentuk. Bimbim dan Kaka dari Slank, dalam beberapa wawancara, telah menyebut The Dark Side of the Moon sebagai album yang mereka putar berulang kali di studio mereka di Gang Potlot.

Dewa 19, terutama dalam fase eksperimentalnya di album Bintang Lima (2000), mengambil pelajaran dari Pink Floyd tentang bagaimana memadukan lirik berat dengan melodi yang dapat diakses. Ahmad Dhani sering menyebut Pink Floyd dalam daftar pengaruhnya, dan lagu-lagu Dewa yang lebih panjang dan atmosferik — seperti "Air Mata" atau "Roman Picisan" dalam versi panjangnya — meminjam teknik dinamika tenang-ke-keras yang menjadi ciri khas Pink Floyd.

Java Jazz Festival, yang dimulai pada 2005 dan menjadi salah satu festival musik terbesar di Asia Tenggara, mungkin tidak secara langsung menampilkan tribute Pink Floyd, tetapi ia merepresentasikan ekosistem yang sama di mana musik kontemplatif memiliki ruang di Indonesia urban. Penonton yang membayar tiket untuk menonton Pat Metheny atau Bob James di Java Jazz adalah jenis penonton yang sama yang masih memutar The Dark Side of the Moon di vinyl pada Minggu pagi — pendengar yang memperlakukan musik sebagai pengalaman, bukan sekadar latar belakang.

Ada juga fenomena yang lebih spesifik: kafe-kafe di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta Selatan pada dekade 2010-an yang menjadikan Pink Floyd sebagai musik latar default. Di kafe-kafe seperti ini, "Time" sering diputar pada sore hari ketika cahaya matahari mulai miring melewati jendela — dan ada sesuatu yang sangat tepat tentang mendengar lagu tentang waktu yang berlalu di tempat di mana waktu memang terasa berlalu lebih lambat. Tradisi "nongkrong" Indonesia, dengan ritme yang santai dan kontemplatif, mungkin adalah konteks budaya paling pas untuk menikmati Pink Floyd dengan benar.

Why it resonates today

Lebih dari lima dekade setelah dirilis, "Time" terasa lebih relevan, bukan kurang. Alasannya tidak sederhana, tetapi salah satu yang paling jelas adalah ini: kita hidup di era di mana pengalaman waktu telah berubah secara fundamental, dan tidak selalu menjadi lebih baik.

Notifikasi smartphone, yang rata-rata diterima orang dewasa Indonesia sekitar 60–80 kali sehari menurut riset We Are Social 2024, telah menciptakan kondisi kesadaran terfragmentasi yang oleh psikolog disebut "continuous partial attention". Kita tidak pernah sepenuhnya hadir, tidak pernah sepenuhnya absen — selalu sedikit menunggu sesuatu, sedikit memeriksa sesuatu, sedikit ada di tempat lain. Dalam kondisi ini, peringatan "Time" tentang bagaimana hidup berlalu sementara kita sibuk menunggu menjadi diagnosis yang sangat akurat.

Algoritma media sosial juga memainkan peran. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts dirancang untuk memperpanjang sesi scroll dengan menukar waktu kita dengan dopamin kecil-kecilan. Hasilnya adalah fenomena yang oleh peneliti seperti Tristan Harris disebut "time blindness" — ketidakmampuan untuk merasakan berapa lama waktu telah berlalu. Lima belas menit yang dimaksudkan untuk istirahat berubah menjadi dua jam tanpa ingatan tentang apa yang ditonton. Pink Floyd, dengan cara yang hampir nubuat, menggambarkan kondisi ini setengah abad sebelum kondisi tersebut menjadi default.

Pandemi COVID-19, yang memaksa banyak orang untuk hidup dalam isolasi selama berbulan-bulan, memperkuat lagi resonansi lagu ini. Banyak orang Indonesia melaporkan pengalaman yang aneh di mana waktu terasa sekaligus terlalu lambat (hari demi hari yang sama) dan terlalu cepat (tiba-tiba dua tahun telah berlalu). Inilah persis paradoks yang diartikulasikan "Time": matahari yang sama, pelari yang semakin lelah.

Ada juga dimensi ekonomi. Generasi muda Indonesia hari ini menghadapi pasar properti yang tidak terjangkau, pasar kerja yang tidak stabil, dan tekanan untuk "membangun personal brand" yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Konsep "kehidupan dewasa" yang Waters keluhkan sebagai sesuatu yang ia tunggu-tunggu tanpa pernah datang menjadi semakin nyata: bagi banyak orang berusia 25–35 tahun, kehidupan "yang sebenarnya" — dengan rumah, stabilitas finansial, ruang untuk hobi — terus tertunda. Mereka membunuh waktu, tetapi waktu juga membunuh mereka secara perlahan.

Yang menarik adalah bagaimana "Time" tidak menawarkan solusi yang mudah. Ia tidak mengatakan "berhenti scrolling, mulai hidup". Ia mengatakan, dengan jujur, bahwa kesadaran tentang waktu yang terbuang sering datang terlambat — dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah pulang ke rumah, mendengarkan lonceng, dan menerima bahwa ini adalah hidup kita sekarang. Ada kelegaan yang dewasa dalam pesimisme yang lembut itu, kelegaan yang sulit ditemukan di buku-buku self-help atau aplikasi meditasi modern.

Mungkin itulah mengapa "Time" terus ditemukan kembali oleh setiap generasi baru, termasuk anak-anak muda Indonesia yang menemukan Pink Floyd melalui YouTube atau Spotify. Bukan karena lagu ini memberi jawaban, tetapi karena ia menamai pertanyaan dengan presisi yang membuat pertanyaan itu lebih mudah ditanggung. Dan di dunia yang penuh dengan kebisingan, kemampuan untuk menamai sesuatu dengan benar adalah hadiah yang langka.

Cara menyelami lebih dalam

🎧 Dengarkan

The Dark Side of the Moon ([Pink Floyd]) Album lengkap di mana "Time" berada. Mendengarkan "Time" terisolasi dari album seperti melihat satu lukisan dari triptych — bisa, tapi konteksnya hilang. Putar dari awal hingga akhir tanpa interupsi. → Search

Cermin ([God Bless]) Album rock progresif Indonesia 1980 yang sering disebut sebagai jawaban lokal terhadap sensibilitas Pink Floyd. Struktur panjang, lirik filosofis, dan ambisi konseptual yang sama. → Search

📚 Baca

Pink Floyd: The Black Strat ([Phil Taylor]) Buku tentang gitar Stratocaster hitam legendaris David Gilmour yang digunakan untuk merekam solo "Time". Bukan sekadar buku alat musik, tetapi narasi tentang bagaimana satu instrumen membentuk suara sebuah era. → Search

Being and Time ([Martin Heidegger]) Tulisan filosofis 1927 yang berbicara tentang kesadaran manusia akan kematian sebagai sumber makna. Sulit dibaca, tetapi memberikan kerangka untuk memahami mengapa "Time" terasa filosofis, bukan sekadar emosional. → Search

🌍 Kunjungi

Abbey Road Studios, London Studio tempat The Dark Side of the Moon direkam. Pengunjung tidak bisa masuk ke studio, tetapi bisa berjalan di zebra cross yang sama dengan The Beatles dan melihat tembok grafiti yang dipenuhi pesan dari fans Pink Floyd. → Search

Toko Vinyl di Pasar Santa, Jakarta Selatan Salah satu tempat terbaik di Indonesia untuk berburu pressing vinyl original Pink Floyd dari era 70-an. Komunitas kolektor di sini juga sumber informasi yang kaya tentang sejarah rock progresif. → Search

🎸 Coba sendiri

Gitar elektrik dengan delay pedal Solo "Time" sangat bergantung pada efek delay analog. Mencoba memainkan solo ini dengan gitar dan pedal delay sederhana adalah cara paling konkret untuk merasakan bagaimana Gilmour membangun teksturnya. → Search

Buku catatan untuk jurnal waktu Tantangan praktis: selama satu minggu, catat setiap kali merasakan "membunuh waktu" tanpa tujuan. Membaca lagi catatan di akhir minggu memberikan kesadaran yang persis seperti yang dijelaskan lagu ini. → Search


🎵 Listen on all platforms

🤖 Pertanyaan untuk direnungkan lebih lanjut:

  1. Apa perbedaan antara "menggunakan waktu" dan "menjalani waktu", dan bagaimana cara membedakannya dalam keseharian?
  2. Mengapa rock progresif tahun 70-an, seperti Pink Floyd, menemukan tanah subur di Indonesia ketika banyak negara Asia lain lebih condong ke pop?
  3. Jika "Time" ditulis hari ini di era TikTok dan algoritma, apa metafora yang akan digunakan untuk menggantikan "menendang kantong kosong di tanah rumah"?
Tags
70s