SONGFABLE · 1980

Vienna

ULTRAVOX · 1980 · VIENNA, AUSTRIA

TL;DR: "Vienna" bukan lagu cinta tentang kota Wina — ia adalah elegi tentang kenangan yang memudar, sebuah momen indah yang kita tahu tidak berarti apa-apa lagi, dibungkus dalam synthesizer dingin dan drama opera. Dan ironisnya, lagu sebesar ini tidak pernah mencapai nomor satu di Inggris.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Nomor Dua Paling Terkenal dalam Sejarah Inggris

Ada satu fakta yang sampai hari ini masih membuat penggemar musik Inggris geleng-geleng kepala: "Vienna" — lagu yang megah, sinematik, dan nyaris sempurna ini — tertahan di posisi nomor dua tangga lagu Inggris selama empat minggu pada awal 1981. Apa yang menghalanginya dari puncak? Bukan karya agung lain. Bukan Queen, bukan David Bowie. Melainkan sebuah lagu novelty berjudul "Shaddap You Face" oleh Joe Dolce, komedi berlogat Italia-Australia tentang seorang ibu yang menyuruh anaknya diam.

Bayangkan: salah satu pencapaian artistik tertinggi era synth-pop dikalahkan oleh lagu lelucon. Kejadian ini begitu melekat di memori kolektif Inggris sampai-sampai pada tahun 2012, dalam sebuah polling resmi, "Vienna" dinobatkan sebagai "lagu nomor dua terfavorit sepanjang masa" — penghargaan yang manis sekaligus pahit. Midge Ure, sang vokalis, dilaporkan menanggapinya dengan humor khasnya: kalah dari Joe Dolce justru membuat lagunya lebih dikenang daripada banyak lagu yang benar-benar mencapai nomor satu.

Dan mungkin itulah kunci memahami "Vienna": ini lagu tentang sesuatu yang nyaris diraih, lalu lepas. Tentang keindahan yang tidak bertahan. Nasibnya di tangga lagu seakan menjadi cermin dari isi lagunya sendiri.

Band yang Bangkit dari Kematian

Untuk memahami betapa mustahilnya lagu ini lahir, kita perlu mundur ke tahun 1979. Ultravox saat itu, secara praktis, sudah mati. Vokalis sekaligus pendiri mereka, John Foxx, hengkang untuk bersolo karier. Label rekaman Island Records mendepak mereka. Tiga album sudah dirilis, tidak ada satu pun yang sukses komersial. Dalam logika industri musik, Ultravox adalah catatan kaki yang siap dilupakan.

Lalu masuklah Midge Ure — gitaris dan vokalis kelahiran Glasgow, Skotlandia, yang punya jalur karier paling aneh di musik Inggris. Ia pernah jadi idola remaja di band pop Slik, sempat bermain bersama Thin Lizzy, dan terlibat di proyek synth Visage bersama Steve Strange. Ketika Ure bergabung dengan Billy Currie (keyboard dan biola), Chris Cross (bass), dan Warren Cann (drum), kimia baru terbentuk: gabungan antara naluri pop Ure dan eksperimen elektronik yang sudah lama dibangun Ultravox.

Hasilnya adalah album Vienna (1980), direkam bersama produser legendaris Conny Plank di Jerman — sosok yang sebelumnya membidani karya Kraftwerk dan Neu!. Lagu pembuka kebangkitan mereka adalah single "Sleepwalk", tetapi mahkotanya adalah track berdurasi hampir lima menit yang oleh pihak label awalnya dianggap terlalu lambat, terlalu panjang, dan terlalu aneh untuk jadi single. Chrysalis Records dilaporkan menolak merilisnya sebagai single sampai band bersikeras. Sejarah membuktikan siapa yang benar.

Bagi pendengar di Indonesia, ada benang merah yang menarik di sini. Era awal 1980-an adalah masa ketika gelombang new wave dan synth-pop mulai merembes ke Indonesia lewat radio, kaset impor, dan kemudian kaset "bajakan resmi" yang legendaris itu — era ketika anak muda Jakarta dan Bandung mulai mengenal Duran Duran, Depeche Mode, dan Spandau Ballet. Estetika synthesizer yang dipelopori Ultravox inilah yang kemudian ikut mewarnai musik pop kreatif Indonesia era 80-an; jejak sound atmosferik dan penggunaan synth dramatis bisa dirasakan pada karya-karya musisi seperti Fariz RM atau Chrisye era Resesi dan Metropolitan. Tanpa pionir seperti "Vienna", peta sonik pop 80-an — termasuk yang sampai ke telinga Indonesia — akan terdengar sangat berbeda.

Apa Sebenarnya Arti Lagu Ini?

Inilah bagian paling mengejutkan: menurut pengakuan Midge Ure sendiri dalam berbagai wawancara, "Vienna" pada awalnya tidak benar-benar tentang kota Wina. Judul dan nuansa Eropa Tengah-nya datang belakangan, dilaporkan terinspirasi sebagian oleh film klasik The Third Man (1949) — film noir karya Carol Reed yang berlatar Wina pasca-Perang Dunia II, penuh bayangan, kabut, dan zither yang menghantui. Warren Cann konon melontarkan ide tentang suasana film itu, dan dari sana lagu ini menemukan jiwanya.

Secara naratif, lagu ini bercerita tentang sebuah kenangan romansa singkat — mungkin sebuah perselingkuhan liburan, mungkin satu malam yang terasa seperti keabadian — di sebuah kota Eropa yang dingin dan elegan. Sang narator mengenang sosok yang ia temui: bagaimana wajahnya muncul kembali dalam ingatan seperti gambar yang berkedip, bagaimana semuanya terasa luhur dan penuh gairah pada saat itu. Tetapi refrein lagu ini — bagian yang membuat jutaan orang merinding — justru berisi penyangkalan. Sang narator berkata pada dirinya sendiri bahwa momen itu kini tidak lagi punya makna baginya. Kenangan itu indah, tetapi sudah selesai. Itu hanya Wina. Hanya sebuah kota. Hanya masa lalu.

Yang membuat lagu ini jenius adalah kontradiksi antara kata dan musik. Liriknya mengklaim "ini tidak berarti apa-apa", tetapi musiknya — string yang membubung, piano yang megah, vokal Ure yang meledak penuh emosi di klimaks — berteriak sebaliknya. Setiap detik aransemennya membantah ucapan sang narator. Ini adalah potret seseorang yang berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sudah move on, padahal jelas-jelas belum. Siapa pun yang pernah berkata "aku sudah lupa kok" sambil diam-diam membuka galeri foto lama akan langsung paham perasaan ini.

Secara struktur, "Vienna" adalah keajaiban arsitektur sonik. Lagu dibuka dengan detak drum machine yang dingin dan sunyi — Warren Cann dilaporkan menggabungkan ketukan elektronik dengan permainan drum manual untuk menciptakan tekstur yang mekanis sekaligus hidup. Synthesizer masuk seperti kabut. Vokal Ure mula-mula nyaris berbisik, terkendali, beku. Lalu di tengah lagu, Billy Currie memainkan solo biola dan piano yang membawa kita ke dunia musik klasik Wina — gema Schubert dan kafe-kafe tua. Dan kemudian, ledakan itu: refrein terakhir di mana segala pengendalian diri runtuh. Dari bisikan menjadi opera. Dari penyangkalan menjadi pengakuan. Dalam lima menit, lagu ini menempuh perjalanan emosional yang kebanyakan album penuh pun gagal mencapainya.

Katedral Es Bernama New Romantic

"Vienna" dirilis tepat ketika Inggris sedang melahirkan gerakan budaya baru: New Romantic. Di klub-klub London seperti Blitz, anak-anak muda berdandan seperti bangsawan Eropa abad ke-19 — riasan dramatis, jas berkerah tinggi, estetika yang sengaja artifisial dan teatrikal. Ini adalah pemberontakan terhadap punk: jika punk berkata "kami jelek dan marah", New Romantic berkata "kami indah dan misterius". Dan "Vienna", dengan citra kota Eropa tua, kabut, dan romansa yang membeku, adalah lagu kebangsaan tidak resmi gerakan ini.

Video klipnya pun menjadi legenda tersendiri. Disutradarai Russell Mulcahy — yang kelak menyutradarai video "Video Killed the Radio Star" milik The Buggles dan film Highlander — video ini sebagian besar syuting di London, tetapi adegan-adegan kuncinya diambil sungguhan di Wina, termasuk di kemegahan Stadtpark dan sekitar bangunan-bangunan tua kota itu. Dengan estetika hitam-putih ala film noir, pesta topeng misterius, dan pencahayaan ekspresionis Jerman, video ini ikut mendefinisikan bahasa visual MTV bahkan sebelum MTV mengudara pada Agustus 1981. Banyak kritikus menyebutnya salah satu video musik paling berpengaruh sepanjang masa.

Warisan lagu ini menjalar ke mana-mana. Tanpa "Vienna", sulit membayangkan "Hungry Like the Wolf"-nya Duran Duran, balada-balada sinematik Tears for Fears, atau kemegahan dingin Depeche Mode era Violator. Gary Numan dan generasi synth sesudahnya berdiri di atas fondasi yang sama. Bahkan Midge Ure sendiri kemudian mengukir sejarah lebih besar: pada 1984 ia ikut menulis "Do They Know It's Christmas?" bersama Bob Geldof dan menjadi salah satu otak di balik Live Aid 1985 — konser amal terbesar dalam sejarah, yang siarannya dilaporkan ditonton hampir dua miliar orang di seluruh dunia, termasuk pemirsa di Asia Tenggara. Vokalis lagu tentang kenangan yang membeku itu ternyata juga membantu mencairkan hati dunia untuk Ethiopia.

Ada juga ironi geografis yang menggelitik: lagu ini sukses besar di banyak negara Eropa, dan kota Wina sendiri akhirnya memeluknya sebagai semacam ikon budaya pop tidak resmi — padahal lagu ini ditulis oleh orang Skotlandia, direkam di Jerman, dan menurut penciptanya sendiri awalnya bukan tentang Wina sama sekali. Kadang sebuah kota memilih lagunya sendiri.

Mengapa Lagu Ini Masih Menusuk Sampai Sekarang

Lebih dari empat puluh tahun kemudian, "Vienna" terdengar semakin relevan, bukan semakin usang. Kenapa?

Pertama, karena temanya universal dan abadi: kita semua punya "Vienna" masing-masing. Sebuah kota yang pernah kita kunjungi bersama seseorang. Liburan yang terasa seperti hidup yang lain. Masa KKN, semester pertukaran pelajar, perjalanan backpacking yang mengubah segalanya — lalu kita pulang, dan kehidupan nyata melanjutkan dirinya, dan kenangan itu perlahan jadi sesuatu yang kita klaim "sudah tidak berarti apa-apa". Lagu ini menangkap kebohongan kecil yang kita ucapkan pada diri sendiri itu dengan presisi bedah.

Kedua, di era media sosial, "Vienna" justru menemukan makna baru. Kita hidup di zaman ketika kenangan tidak diizinkan memudar — fitur "memories" di ponsel kita rajin menyodorkan kembali wajah-wajah dan tempat-tempat dari masa lalu, persis seperti gambar berkedip yang digambarkan dalam lagu ini. Pergulatan sang narator antara mengenang dan melepaskan adalah pergulatan harian kita semua di hadapan layar.

Ketiga, secara musikal, lagu ini adalah bukti bahwa musik elektronik bisa sangat manusiawi. Di tengah perdebatan hari ini tentang musik buatan AI dan produksi serba digital, "Vienna" berdiri sebagai monumen: mesin dan synthesizer di tangan yang tepat tidak mendinginkan emosi — justru membekukannya pada suhu yang membuatnya awet selamanya, seperti bunga dalam es. Generasi baru terus menemukannya: lagu ini kembali viral secara berkala, dipakai di film dan serial, dan tetap menjadi momen paling magis dalam konser-konser Midge Ure hingga kini, di mana ribuan penonton dari berbagai generasi ikut menyanyikan refreinnya dengan mata terpejam.

Dan keempat — mungkin yang paling sederhana — karena lagu ini berani lambat. Di era playlist dan algoritma yang menuntut hook dalam tujuh detik pertama, "Vienna" membuka dirinya dengan kesunyian dan detak yang sabar, membangun dunia selama hampir lima menit, dan mempercayai pendengarnya untuk bertahan. Itu kemewahan yang hampir punah. Mendengarkannya hari ini terasa seperti masuk ke katedral di tengah mal: tiba-tiba semuanya hening, dingin, dan agung.

Lagu nomor dua itu, pada akhirnya, memenangkan sesuatu yang jauh lebih langka daripada posisi puncak tangga lagu: keabadian.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Merasakannya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 [Tanya lebih lanjut]:

Tags
80s